
Ada saat nya manusia berada di titik terlelahnya. Yang dilakukannya hanya diam. Tak tahu harus berkeluh kesal pada siapa. Karena semuanya tak peduli dengan keadaannya. Dia yang selalu menjadi penghibur. Kadang saat sedang di titik terlelah, yang menghibur hanyalah dirinya sendiri.
Complicated Bubble
Hari ini pembagian raport. Banyak wali murid yang datang untuk mengambil raport siswa/i. Namun, berbeda dengan Syafa, ia hanya datang seorang diri. Seperti yang sudah-sudah. Menunggu terakhiran.
"Syafa." Panggil wanita paruh baya yang sedang berjalan ke arahnya, bersama sang Mantan. Siapalagi kalau bukan Rara (ibunda Rendra) dan Rendra.
Syafa tersenyum ke arah Rara, lalu mereka berpelukan, "Bunda kangen kamu."
Syafa terkekeh pelan, mendengar penuturan Rara. "Syafa juga kangen Bunda." Setelah itu, Rara melepaskan pelukannya, berganti dengan kecupan hangat di dahi Syafa.
"Orang tua kamu, mana? Bunda mau ketemu, deh."
Syafa tersenyum kikuk mendengar. Apa ia harus berbohong pada bunda? "Orang tua aku lagi sibuk, Bun. Jadi aku ngambil raport sendiri." Maafkan Syafa yang sedikit berbohong, Ya Allah.
"Jadi, kamu belum ngambil raport?"
Cengiran Syafa adalah balasan dari pertantaan Rara, "Belum Bun." Rara mengusap anak rambut Syafa sebentar, buat Syafa agak terkejud menerima perlakuan Rara yang tiba-tiba.
"Bunda boleh ngambil raport kamu?"
Mata Syafa berbinar mendengar tawaran Rara, ia mengangguk dengan senang hati. Sebelum Rara masuk ke kelas Syafa, ia sempat berkata pada Rendra, "Jagain Syafa, Bunda mau ambil raport Syafa dulu." Dan dibalas anggukan singkat oleh Rendra. Yap, Rara belum tahu tentang kandasnya hubungan mereka.
Mereka duduk dengan sedikit jarak di kursi koridor kelas. Syafa menyibukkan diri dengan handphonenya. Menggeser layar, membuka menu, membuka seluruh aplikasi dan menutupnya, lagi dan lagi.
Sedangkan Rendra sedang sibuk memperhatikan lekuk wajah Syafa. Syafa yang risih dengan sikap Rendra langsung menegurnya. "Gak usah liat liat!"
"Mubadzir kalo gak diliat."
Syafa mendesah pasrah dengan jawaban Rendra, ia kembali sibuk dengan handphonenya. Namun Rendra justru mendekatkan jaraknya. "Gak usah deket-deket, bisa?"
"Nggak bisa, rindunya udah numpuk soalnya."
"Tapi gue gak kangen sama lo."
"Rindu gue yang besar ke lo udah lebih dari cukup."
"Please Ren, kita udah gak ada apa-apa," kata Syafa sambil menundukkan kepalanya.
Rendra mendengus sekilas, lalu tiba tiba berjongkok di depan Syafa. Pupil Syafa membesar ketika melihat wajah Rendra yang tiba tiba muncul. Ganteng. Syafa akui itu. Hatinya tidak bisa bohong untuk kali ini.
"Please Sya, kasih gue satu kesempatan, gue mohon."
"Gue gak bisa."
"Tapi kenapa?"
"Gue punya otak yang harus digunain juga, gue bukan manusia yang bisanya cuma ngegunain hati."
"Otak lo tertuju ke gue? Iya kan?"
__ADS_1
"Lo emang gak tau diri ya, Ren. Lo tau gue gak bisa lupain lo. Tapi lo selalu dateng ngasih harapan yang buat gue tambah susah lepasin lo!"
Syafa menggeser badannya dan menenggakkan kepalanya. Ia tak mau berlama-lama menatap Rendra. Sungguh.
"Lo juga gak tau diri, Sya. Lo tau gue cinta sama lo, tapi kenapa lo pergi dari kehidupan gue?"
"Karena sikap lo yang minta gue pergi."
Rendra mengangguk mengerti, lalu dengan tanpa permisi ia menarik tangan Syafa. "Ayo kita luruskan apa yang belum kita selesaikan."
Syafa awalnya ingin memberontak, tapi saat ia berdiri, seluruh bagian perutnya sakit, sakit yang sudah lama ia tak rasakan, kembali hadir. Syafa berusaha berfikir positif, 'Magh kali ya, kan gue belum makan,' batinnya.
"Duduk," ucap Rendra ketika mereka sudah berada di taman sekolah. Syafa langsung duduk, karena tak kuasa menahan sakit di perutnya. "Selesaiin apa sih? Kita udah selesai."
"Cinta gue ke lo gak akan pernah selesai, Sya."
"Hobby lo tukang kibul. Jadi ucapan lo kosong semua."
"Harus gimana sih, biar lo percaya kalo gue sayang sama lo?"
"Gak perlu repot-repot. Sikap lo nunjukin kalo lo sebenarnya gak sayang sama gue."
"GUE SAYANG SAMA LO! KENAPA LO GA PERNAH PERCAYA SIH!"
Syafa tersentak melihat Rendra berdiri dan langsung membentaknya. Syafa ikut berdiri, "Karena omongan lo itu, BULLSHIT!"
"Terserah! Lo mau percaya atau nggak. Tapi gue... gue kehilangan lo, Sya," tatapan dan suara Rendra melembut.
"Daripada dengerin lo ngoceh, lebih baik gue pergi," ucap Syafa pada akhirnya. Bukannya apa-apa, ia hanya tak ingin menghancurkan benteng pertahanannya.
Saat Syafa membalikkan badannya dan ingin berjalan. Ia membelakkan matanya melihat ranting pohon yang cukup besar ingin jatuh, dan tepat di bawahnya ada Kayra. Masih ingat Kayra, kan?
Syafa berlari sekuat mungkin, walaupun perutnya amat sakit sekarang. Saat sudah dekat, tanpa banyak omong, Syafa langsung mendorong Kayra.
Bugh.
Syafa yang akhirnya tertindih ranting pohon. Kayra yang semula menatap Syafa sinis karena lancang mendorongnya, kini berteriak heboh sambil mencoba mengangkat ranting yang menindihi tubuh Syafa. Syafa tersenyum meskipun matanya mulai berat, ternyata Kayra tak seburuk itu.
Untung saja, ranting pohon tadi tidak lancip, jadi tak ada luka dasar di tubuh Syafa.
Rendra yang melihat kejadian itu, berlari lalu mengangkat ranting pohon yang berani menyakiti gadisnya. Kayra menangis, melihat bahwa gadis yang pernah ia jahili justru kini menolongnya.
"Gak usah nangis, gue gak papa," ucap Syafa sebelum akhirnya ia menutup mata.
Setelah ranting itu terangkat sempurna dari tubuh kecil Syafa, Rendra dengan matanya yang memanas langsung menggendong Syafa dan membawa ke UKS.
Di sepanjang perjalanan, Rendra tak henti bersuara, meskipun ia tahu, gadis itu tak akan mendengar ucapannya.
"Lo kenapa sih, pake acara nolongin Kayra?!"
"Kenapa lo gak biarin aja sih?"
__ADS_1
"Kan, sekarang lo jadi kayak gini."
"Lo **** banget tau gak!"
"Terus aja bikin gue khawatir sama lo."
Sesampainya di UKS. Kebetulan ada dokter yang biasa menjaga di sana. Rendra membaringkan tubuh Syafa di brankar, dan dokter segera memeriksanya setelah mendengar penjelasan Rendra.
Dokter Ani yang sudah lama menerka segala apa yang Syafa ceritakan diam diam padanya tentang sakit perut yang ia alami selama ini. Akhirnya, dokter ani memutuskan untuk mencaritahu sekarang. Ani menekan perut sebelah kanan Syafa. Tidak apa-apa, tak ada respon dari Syafa.
Namun saat Ani menekan pelan perut bagian kori Syafa, Syafa langsung memuntahkan darah meskipun dalam keadaan mata yang terpejam. Dokter Ani dan Rendra sedikit terkejut melihatnya. Namun, dokter Ani berusaha mengontrol emosinya. Ia membersihkan muntahan Syafa lalu menyuntik Syafa, entah itu suntikan apa.
"Dokter, Syafa kenapa muntah gitu?!"
"Dok, dia gak papa kan?"
"DOK SYAFA KENAPA?!" Rendra mulai kalap melihat Ani yang menginpus Syafa dan memberikan Syafa oxigen yang berbeda, selangnya agak besar dibanding biasanya. Ya, fasilitas di UKS memang terbilang hampir sempurna.
Ani lagi lagi diam dan tetap memeriksa Syafa. "DOK JAWAB! SYAFA GAK PAPA KAN?!"
"Rendra, tolong jangan teriak. Ini UKS. Lebih baik kamu keluar daripada menganggu seperti ini."
Akhirnya Rendra keluar dari UKS. Ia menumpu kedua tangannya di kaca UKS untuk melihat Syafa. Air matanya tak berhenti mengalir melihat bagaimana kondisi Syafa saat ini.
"Rendra. Bunda cari kemana-mana, taunya di sini. Syafa mana? Bunda mau kasih tau nih. Dia ranking satu paralel lho. Hebat ya?" kata Rara yang baru saja datang. Rendra menatap Rara sendu dengan air mata yang tetap mengalir. "Lho kamu kenapa? Syafa mana?"
Bukannya menjawab pertanyaan sang bunda. Rendra justru memeluk Rara. "Syafa di UKS."
Rara mengerti, ia mengajak Rendra untuk duduk di kursi terlebih dahulu. "Syafa tadi ketimpa pohon Bunda. Dia nyelamatin Kayra. Kenapa sih? Pake acara super hero segala?"
Rara agak terkejut dan sedih mendengarnya. Namun bukan waktunya. Kini ia harus menenangkan putra bungsunya. "Syafa baik, kamu nggak salah pilih orang, Rendra."
"Dia terlalu baik Bunda! Dia nolongin Kayra yang pernah bikin dia hampir mati! Sekarang lihat Bunda! Syafa sakit lagi karena Kayra," ucapan Rendra kian melemah. Rendra berdiri di samping jendela dan menunjuk jendela. Rara mengelus punggung putranya menenangkan putranya yang sedang kalap.
Bersamaan itu dokter Ani keluar, "Dok gimana sama Syafa?!" Ani tersenyum kecut. "Syafa baik baik aja kan, Dok?!"
Rara menarik tangan Rendra, "Jangan emosi, sayang."
Ani akhirnya membuka suara, meskipun langsung berlalu pergi. "Syafa bisa di jenguk. Dia nggakpapa."
Rendra memasuki UKS dan duduk di samping brankar Syafa. Tangannya menggengam tangan Syafa. Ia mengecupnya berkali-kali. Air matanya menetes di tangan Syafa. "Bangun, hey..."
"Lo bisa gak, sekali aja gak bikin gue khawatir kayak gini?"
"Gue sayang sama lo."
"Kok diem? Biasanya bilang gak percaya kalo gue sayang sama lo."
"Ayo marahin gue."
"Marahin gue lagi aja. Nggak papa. Gue lebih milih lo marahin gue daripada lo diem kayak gini."
__ADS_1