
Seseorang yang biasanya mengisi hari, lalu pergi. Pasti dikemudian hari akan membuat diri merindu sendiri.
Complicated Bubble
pulang sekolah akhirnya tiba, dengan senyuman yang mengembang Syafa berjalan ke arah parkiran. Rendra pasti sudah menunggunya.
Namun senyuman itu memudar sebelum akhirnya ia tersenyum kembali, ah tidak ada Rendra. Kemana dia? Okelah, Syafa akan menunggu lagipula motor Rendra masih berdiri nongkrong di parkiran, pasti sebentar lagi Rendra akan datang, pasti.
"Syafa," panggil Zaldi yang baru saja menginjakkan kakinya di parkiran.
Syafa menoleh, ia menautkan alisnya sebagai respon.
"Pulang bareng yo!" ajak Zaldi.
"Sorry, gue pulang sama Rendra."
"Rendra? Mana?"
"Belum datang."
"Lo yakin dia pasti datang?"
"Yakin."
"****. Dia pernah ninggalin lo malam-malam, dan lo masih percaya sama dia?"
"Ayolah Sya, pulang sama gue yang pasti."
"Lo mau nunggu sampai kapan? Sampe pagi?"
"Mending lo pulang sekarang deh Zal."
"Gue pulang sama lo."
"Tapi gue udah ada janji sama Rendra."
"Cowok brengsek kayak dia, gak bakal nepatin janji."
"Jaga ucapan lo."
"Itu fakta Sya!"
"Lo gak tau apa-apa!"
"Lo yang gak tau apa-apa!" Bentak Zaldi, membuat Syafa sedikit takut, pasalnya Zaldi tak pernah membentaknya, dan biasanya Zaldi selalu lembut padanya.
"Ck siapa sih lo, tiba tiba muncil di hidup gue?!" bentak Syafa.
"Bahkan lo gak ingat sama gue Sya!"
"Gue gak pernah kenal lo sebelumnya!"
"Ck. Ikut gue," Zaldi menarik tangan Syafa dengan lembut namun langsung disentak oleh Syafa.
"Gue gak mau!"
"Oke fine, gue pulang, hati-hati, semoga lo cepat sadar siapa gue," pasrah Zaldi lalu ia menaiki motornya dan pergi meninggalkan Syafa di parkiran.
Syafa kembali menunggu Rendra, tiba tiba saja ia haus akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke kantin, baru beberapa langkah Syafa berjalan, langkahnya terhenti, ah kasarnya ia tersandung batu di depannya.
Syafa meringis melihat lututnya yang kebaret. Tiba tiba saja perasannya tidak enak, pikirannya tertuju pada Rendra.
__ADS_1
Syafa berdiri meskipun kakinya nyeri, ia membuka lock hp lalu menelpon Rendra. Sial, tidak menjawab. Syafa mencoba melacak Rendra lewat handphonenya. Semoga bisa, harapnya.
Jalan Hiu? Tidak jauh dari sekolahnya. Jalan yang jarang dilewati orang-orang. Tanpa fikir panjang Syafa berlari menuju jalan Hiu, ia tidak memperdulikan kakinya yang ngilu, yang ia peduli adalah cepat datang ke jalan Hiu.
Sesampainya di jalan Hiu, Syafa terkejut bukan main pasalnya Rendra sedang berantem dengan 7 orang lelaki tak dikenal. Masalahnya lagi, peluang Rendra kalah sangat besar pasalnya 7 lawan 1 itu sangat tidak seimbang.
Benar saja, Rendra kini mendapat serangan balik dari berbagai penjuru membuat hati Syafa ngilu. Ia segera menelpon polisi ayolah....
"Pak, cepat ke jalan Hiu Pak! Teman saya dikroyok abis-abisan Pak!"
Setelah polisi mengatakan bahwa akan segera ke sana. Syafa mematikan telponnya dan kembali memerhatikan Rendra. Oh may God! Syafa membelalakan matanya, pasalnya Rendra sedang disodong pistol oleh salah satu orang. Syafa segera berlari menghampiri lalu ia memeluk Rendra dan sedikit memberi dorongan hingga mereka sama-sama jatuh ke aspal dan menggelundung hingga kepala Rendea membentur trotoar, dengan Syafa yang memeluk Rendra erat, dan tangan Rendra yang memegang kepala Syafa untuk melindunginya.
"Kamu tau dari mana aku di sini?" tanya Rendra.
"Ga penting."
"Kamu harusnya gak ke sini, bahaya Sya."
"Allah baik, coba aku gak ke sini, pasti kamu udah jadi mayat tau!"
"Tapi bahaya Sya. Aku gak mau kamu kenapa-kenapa."
"Kalo bahaya kenapa kamu ke sini, aku juga takut kamu kenapa-kenapa! Kamu ngerti gak sih, aku takut kamu pergi!"
"Maaf."
"Wah wah cewek cantik jadi pahlawan rupanya!"
"Pasti dia pacarnya Rendra!"
"Iya benar tuh!"
"Bangun lo!" bentak seseorang yang memegang pistol itu.
"Harusnya lo berterima kasih sama gue, karena kalo lo bunuh dia, sumpah lo masuk neraka!" sarkastik Syafa.
"Ha ha ha. Berani juga ya lo, untung cantik." Pemuda itu mendekatkan diri ke Syafa lalu memegang dagu Syafa dan langsung ditarik oleh Rendra.
"Gak boleh pegang pegang cewek gue!" sahut Rendra.
"Oh, dia cewek lo, kayaknya bentar lagi jadi mantan, karena lo akan mati sekarang," kata pemuda itu.
"Pengecut lo berantem pake senjati api!" remeh Rendra.
"Haha apa ada kata terakhir buat cewe lo yang cantik ini?"
"Brengsek!" Rendra memukul lelaki itu, dan dibalas pukulan lagi yang membuat Rendra tumbang.
"Udah! Stop!" air mata Syafa mulai mengalir melihat kondisi Rendra. Ia menatap pemuda itu. "Gue mohon berhenti, dia bisa mati!"
"Itu yang gue inginkan!"
"Gak! Gak boleh bunuh dia!"
"Kenapa? Kan nanti ada gue."
"Gue gak suka sama lo!" Syafa duduk ia memangku kepala Rendra di pahanya. Ia menangis, Rendra menatapnya, lalu tangannya memegang tangan Syafa. "Jangan nangis."
"Kamu gak boleh tinggalin aku!"
"Iya Sya, gak akan."
__ADS_1
"Cih, drama! Pegang cewek itu!"
Langsung saja teman temannya menjauhkan Rendra dan Syafa. Ia memegang Syafa dengan paksa. Rendra yang geram kembali berdiri. Ia tidak suka ada orang yang mengganggu Syafa!
Namun ia tumbang lagi karena pukulan pemuda tadi. Syafa berteriak kencang.
"Lepasin gue!" berontak Syafa.
"Lepas!" teriak Syafa ketika pemuda itu kembali menyondongkan pisaunya ke arah Rendra.
"Selamat tinggal."
'DOR!'
deg.
deg.
deg.
"Anda kami tangkap!" tiba tiba polisi datang menembakkan pistolnya tepat mengenai kaki pemuda itu sebelum pemuda itu melepaskan tembakkannya. Hati Syafa lega. Tepat waktu.
Syafa melepaskan diri lalu berlari menuju Rendra. Ia melihat Rendra yang lemah. "I love you." kata Rendra sebelum akhirnya ia menutup mata.
"Pak polisi, tolong telpok pihak medis, tolong..." pinta Syafa dan mendapat anggukan dari polisi yang merasa ibu tersebut.
Syafa makin menangis. Ia menekan hari telunjuk dan tengahnya tepat di leher pembuluh nadi Rendra selama 60 detik. Lemah.
Syafa mendekan dada Rendra untuk mengecek pernafasannya. Lambat.
Syafa menekan dahi dan mengangkat dagu Rendra agar ia dapat menghirup lebih banyak oksigen.
"Bangun hey," lirih Syafa. Air mata Syafa semakin deras ayolah Syafa ingin melihat senyuman itu menggembang lagi.
Tak lama, mobil ambulance datang, Rendra langsung di bawa ke dalam mobil dan segera di beri oxigen. Syafa duduk disamping Rendra, tangan kanannya memegang tangan Rendra dengan erat, ia masih menangis tak karuan.
"Ren... bangun," lirih Syafa.
Syafa tak henti-hentinya menangis dan berdoa. Hingga tak sadar, mereka sudah sampai do rumah sakit dan Rendra segera di bawa ke UGD. Syafa menelpon Raina agar menyuruh Faiq mengabarkan kepada pihak keluarga Rendra, karena handphone Rendra tak tahu kemana.
"Rai."
"Lo kenapa Sya!?" khawatir Raina di seberang sana mendengar isak tangis Syafa.
"Tolong bilang ke Kak Faiq, suruh telpon keluarga Rendra."
"Hah? Untuk apa?"
"Rendra masuk rumah sakit Greenal Stail, Rai..."
"Innalillahi, yaudah iya, lo tenang dulu, jangan nangis terus, gue sama yang lain ke sana."
Raina mematikan telponnya. Syafa duduk dan menutup wajahnya. Ayolah, ia sangat khawatir dengan Rendra.
Yang bisa Syafa lakukan saat ini adalah berdoa dan menangis.
"Jangan pergi, nanti aku bisa rindu sendiri.
Jangan pergi, nanti aku sendiri diam bersama ilusi.
Bertahanlah untuk orang yang kau sayangi
__ADS_1
Sadarlah untuk orang yang menyayangi
Bukalah matamu guna melihat aku lagi."