
Yang aku ingin adalah kamu hadir dan bersikap seperti dulu sebagai hadiah ulang tahunku, sehari saja, bisa?
Complicated Bubble
Seminggu sudah Syafa melakukan rawat intensif, dan hari ini Syafa diperbolehkan pulang. Hari ini juga tepat hari di mana umurnya bertambah, tapi seperti tahun biasanya, Syafa tak pernah menganggap hari ini adalah ulang tahunnya semenjak Kakak dan Omannya meninggal.
Erlan dan Dara sedang mengurus administrasi, Shila sedang menuju ke rumah sakit, tersisa Rendra dan Syafa di ruangan ini. Sekarang tepat pukul tujuh pagi, dan suster baru saja memberikan makanan khusus pasien, setelah makanan diterima oleh Rendra, suster kembali ke luar, tak lupa Rendra dan Syafa mengucapkan terima kasih kepada sang suster.
"Ayo, bayi gede, buka mulutnya, aaaa," ucap Rendra yang berniat menyuapi Syafa. Tapi Syafa menolak sendok berisi bubur yang ditodorkan Rendra, "Gak ah, udah mau pulang ini."
"Justru, mau pulang ini, lo harus makan makanan terakhir lo di rumah sakit, kapan lagi makan bubur tanpa rasa kayak gini kan?"
Syafa mendengus kesal, "Lo ngerayu atau ngeledek sih?"
"Dua duanya, maybe."
"Gak jelas! Ngambek nih gue!"
"Lah bodoamat."
"Bener ya?" tanya Syafa meyakinkan.
"Emang bisa ngambek sama gue?" ledek Rendra.
"Bisa!"
"Coba," perintah Rendra dengan kekehannya. Syafa menggeram kesal, ah mantanya ini semakin hari makin ngeselin, "Kok malah nyuruh sih?!"
Rendra tertawa, Syafa benar benar ngambek saat ini, Rendra berkali kali minta maaf dan menyuruhnya membuka mulut untuk makan, tapi Syafa mendiamkannya dan tidak mau melihat ke arahnya.
"Makan atau gue cium?"
Syafa sontak menatap Rendra dengan mata yang terbuka sempurna, Rendra menaruh mangkuk buburnya di meja, lalu menatap Syafa lekat. Syafa meneguk salivanya, Rendra mendekatkan diri ke arahnya.
Makin dekat, makin dekat, Syafa sontak menahan Rendra dengan mendorong bagian dada Rendra yang bidang itu. Matanya dan mata Rendra terkunci satu sama lain.
Tangan Rendra menyentuh salah satu pipi Syafa, mengelusnya pelan, Rendra makin memperkikis jaraknya dengan Syafa. Rendra meniup pelan mata Syafa, lalu kembali ke jarak semula. "Mata lo udah gak suci, jadi gue tiup hahaha."
"Ngeselin!"
"Mau dicium nih?"
"Heh! Gue gak ngarep dicium sama lo ya!" Elak Syafa, tidak terima dengan ucapan Rendra, dia melempar sendok ke arah Rendra, tapi sayangnya Rendra pandai menangkap. "Nanti ciumannya, nunggu malam pertama aja, biar sesuatu banget."
"Rendra! Geli tau dengernya!"
Rendra tertawa melihat ekspresi gadis di depannya. "Jadi, mau nih malam pertama sama gue? Jadi mau dong nikah sama gue?" Rendra tak berhenti menggoda Syafa, mungkin hobinya saat ini adalah menggoda gadis itu.
"Gamau! Maunya makan!" putus Syafa, dia tahu Rendra tidak akan berhenti menggodanya sebelum permintaan Rendra terpenuhi. Rendra tertawa, tangannya mengacak rambut Syafa, "Calon pasangan malam pertama Rendra memang pintar!" Setelah itu kembali mengambil mangkuk bubur dan menyuapi Syafa.
Setelah selesai makan, datanglah Shila, Erlan dan Dira, mereka mengabarkan bahwa Syafa pulang sekarang. Rendra dam Erlan sempat ke luar ruangan, karena Syafa ingin berganti pakaian.
__ADS_1
Setelah sedikit beres beres barang pribadi yang akan dibawa pulang, Erlan menyuruh Syafa untuk duduk di kursi roda, namun Rendra mencegahnya. "Syafa gak mau di kursi roda Om, maunya digendong sama Rendra."
Rendra berdiri tepat di depan Syafa yang tengah duduk di atas brankar. "Naik," perintah Rendra. Syafa hanya diam saja, tidak tahu ingin berbuat apa, pasalnya dia tidak pernah bilang ingin digendong lelaki satu ini.
"Ayo, kan lo sendiri yang bilang mau digendong gue." Syafa mau tak mau melingkarkan tangannya di leher Rendra. Dalam hati, Syafa benar benar mengutuk Rendra saat ini. Rendra benar benar mengendong Syafa dari belakang.
Erlan, Shila dan Dara berjalan lebih dulu di depan, sedangkan Syafa dan Rendra di belakang, "Awas lo, ya," bisik Syafa tepat di telinga Rendra. Rendra bersikap pura pura tidak dengar saat ini. Dia justru berlari, Syafa mempererat pelukannya, "Rendra jangan ngajak mati gue!" teriak Syafa. Rendra hanya tertawa mendengarnya.
Setelah sampai di rumah, Rendra kembali menggendong Syafa, mengantarnya sampai kasur kamar gadis itu, lalu Rendra izin pamit ke pada Erlan dan Dara. Tapi, beberapa jam kemudian, Rendra kembali dengan tentangan plastik berlogo supermarket. Rendra mengajak Syafa untuk pergi ke dapur, hanya berdua.
Untungnya, selama Rendra pergi, Syafa sudah belajar berjalan dengan Shila di kamarnya, kakinya yang awalnya sedikit kaku karena sudah dua minggu tidak berjalan, kini sudah aktif seperti biasa.
"Mau ngapain sih?" tanya Syafa. Rendra yang sedang mengeluarkan isi plastiknya ke atas meja, menatap Syafa sekilas, "Mau bikin kue."
Syafa tertawa mendengarnya. Rendra mulai memulai membuat adonan, "Jangan ngeraguin. Gue jago bikin kayak ginian."
"Banci sih lo, jadi jago," ledek Syafa yang berbanding terbalik dengan faktanya. Rendra memegang sekilas pipi Syafa dengan tangannya yang penuh dengan tepung, alhasil pipi Syafa kotor dengan tepung sekarang.
"Awas ya lo!" Syafa meraup wajah Rendra dengan tangan penuh tepung.
"Hahaha muka lo kayak setan."
"Siap siap ya Nyonya besar," Rendra mengambil ancang ancang untuk membalas Syafa, namun Syafa berlari di lantai yang kini sudah penuh tepung akibat tersenggol Syafa saat mengabil tepung tadi, alhasil Syafa terpeleset.
Rendra dengan cepat memeluk Syafa, Syafa pun dengan refleks memeluk Rendra dengan erat, karena takut terjatuh. Jarak mereka sangat dekat, hidung dan dahi mereka bersentuhan, mata mereka saling menatap. Mata yang menantap, namun jatung yang bereaksi, mereka sama sama tenggelam dengan irama jantung masing masing dan tatapan mata yang begitu dalam.
"Selamat ulang tahun," ucap Rendra. Suara Rendra membuat bulu kuduk Syafa merinding, Syafa yang hendak melepas pelukan dan lari, justru menyebabkan Rendra terpeleset, Syafa yang berada di pelukannya ikut terjatuh.
Rendra tidak merasakan sakit saat seluruh badannya terbentur lantai, namun justru jantungnya makin berpacu sangat kencang. Karena, posisinya dengan Syafa saat ini. Rendra telentang, dan Syafa telungkup tepat di badan Rendra, telinga Syafa pun menempal pada dada Rendra. Hingga, Syafa lagi lagi bisa mendengar degub jantung yang berpacu sangat cepat sama seperti dirinya.
Syafa langsung berdiri saat mendengar suara Shila. Diikuti oleh Rendra yang menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Tadi gue..."
"Kalau mau, di kamar aja, biar lebih khusyu," kata Shila memotong ucapan Syafa, Shila tertawa mengejek lalu setelah mengambil segelas air, Shila pergi ke kamarnya.
"Lo sih!" ucap Syafa.
Rendra menunjuk dirinya, "Kok gue?"
"Emang lo!"
"Yaudah, karena gue cowok, gue salah."
"Jadi, gue bantuin lo bikin kuenya ngapain?" tanya Syafa. Rendra menarik Syafa dan memaksa Syafa duduk di kursi meja makan. "Lo duduk di sini aja, liatin gue bikin kue. Simpan tenaga lo buat jadi istri yang baik buat gue."
***
Aku mencintaimu tanpa alasan. Namun, kamu mencintaiku hanya sebagai pilihan.
Complicated Bubble
R
__ADS_1
endra baru saja selesai membuat kue tart berwarna biru putih, warna kesukaan Syafa. Tadi, sebelum dia menghias kuenya, Rendra menyuruh Syafa untuk duduk di ruang tengah. Dan Syafa menurutinya. Saat Syafa sedang asik menonton film di televisi, tiba tiba saja Rendra berjalan ke arahnya, membawa kue buatannya yang sudah ditambah lilin berangka 16, Rendra berjalan sambil bernyanyi Happy Birhday.
"Happy birthday Syafa. Happy birhday Syafa. Happy birhday, Happy birthday, Happy birhday to you."
"Jadi, kue ini buat gue?"
"Khusus dibuat dengan rasa cinta untuk Syafanya Mama dan Papanya yang nanti jadi Syafanya Rendra."
"Makasih. Lo orang pertama yang ngucapin," jujur Syafa.
"Coba lo balik badan," suruh Rendra.
"Ngapain?"
"Balik badan dulu."
Syafa pun membaliklan badannya. Dan betapa terkejutnya dia sekarang melihat orang yang mereka sayang ada di depannya sekarang dan memgucapkan selamat ulang tahun untuknya, setelah sekian lama.
"HAPPY BIRTHDAY SYAFA DAN WELCOME BACK TO HOME!" Teriak Dara, Erlan, Raina, Fiza, Sasa, Angga dan Shila dengan membawa boneka kucing berwarna biru putih selang seling; Posisinya mereka membentuk kerucut segitiga gitu, Dara di paling depan, disusul Erlan, Sasa, Angga, Raina, Fiza, Shila. Mereka pun menghias ruangan dengan balon berwarna putih.
Memang, Shila juga ulang tahun hari ini, namun mereka semua lebih memilih untuk memberikan kejutan kepada Syafa karema ada kejutan spesial berikutnya. Hitung hitung, ganti tahun tahun sebelumnya, di mana Erlan dan Dara hanya merayakan ulang tahun Shila saja.
Tiba tiba lampu mati, digantikan oleh lampu tumblr berwarna biru yang telah dihias sedemikian rupa, bahkan lampu yang memempel di tembok terangkai kata HAPPY 16 TH SYAFA. Dan juga balon yang semula putih, tiba tiba menyala berwarna biru.
Mereka bernyanyi, sambil berjalan mendekat ke arahnya, namun hanya sampai meja saja.
"Hari ini hari yang kau tunggu.
Bertambah satu tahun usiamu.
Bahagialah kamu."
Setelah selesai mereka bernyanyi hingga lagu selesai, lampu kembali menyala, namun lampu tumblrnya tidak dimatikan. Yang Syafa lihat yaitu, meja sudah dihias dengan kelopak bunga mawar biru dan mawar putih, dengan kue buatan Rendra di tengah tengahnya. Rendra pun sudah berada di depan meja tersebut. "Sini."
Syafa berjalan berdiri tepat di depan meja, berhapan dengan Rendra dan lainnya. "Make a wish." Syafa mengangguk, dia berdoa, lalu meniup lilinnya. Semuanya bernyanyi dan bertepuk tangan.
"Balikan yuk?"
Syafa menatap Rendra, "Lo ngajak anak kecil jajan sama ngajak balikan gak ada bedanya, heran."
"Yang gue mau denger itu jawaban iya dari lo."
"Iya iya gue mau," terima Syafa pada akhirnya.
"YES!"
Wahyu dan Faiq datang menghampiri Rendra dan meberinya mahkota bunga mawar berwarna biru dan selempang berwarna biru putih beruliskan "Queen In Rendra's Heart."
Rendra berjalan memutari meja dan berdiri di samping Syafa, ia memakaikan mahkota itu di kepala Syafa, dan juga selempang itu di tubuh Syafa. Bertepatan itu juga, tiba tiba berputar film berisikan foto foto Rendra dan Syafa di tembok yang masih kosong, dan Syafa melihat itu semua, disertai lagu Teman Bahagia - Jazz.
"CIEEE ADA YANG BALIKAN NIH EKHEM." Ledek semua orang di sana. Syafa menutup wajahnya, malu sekaligus terharu, dia menangis, melihat semua kejutan yang dia dapatkan hari ini.
__ADS_1
Rendra tersenyum, dia membuka tangan Syafa yang menutup wajahnya, tangannya menangkup wajah Syafa, "Hug?" tanyanya. Syafa tak menjawab, dia langsung memeluk Rendra, Rendra membalas pelukan Syafa.
"Thank you for everything."