
Seberapa banyak kamu menyakitiku. Aku tetap akan mencintaimu. Sebuta itukah kau 'cinta'?
Complicated Bubble
Syafa terbangun, ia mengerjapkan matanya berkali-kali lalu melihat ke arah jam dinding 05.00 sudah pagi, Syafa baru menyadari bahwa ia ketiduran di depan tidur sehabis menangis. Lalu ia membuka tasnya dan mencari handphonenya. Terdapat panggilan masuk dan SMS dari Rendra.
72 Panggilan Tak Terjawab
13 Pesan Masuk
Dan itu semua bernama kontak "Rendrazha Di Hatiku"
Syafa tersenyum ketika melihat pesan masuk dari Rendra.
Sya, kamu di mana?!
Aku lama ya?
Maaf Sya
Maafin pangeran ya please!
Pangeran sedihnih:(
Syaaaaaaaaaaaaaaaaa
Pangeran di depan rumahmu nih.
Pangeran digigitin nyamuk huhu:'(
Yaudah deh, kamu marah ya? Maaf yaaa
Pangeran sedih princess marah:""
Katanya kamu udah tidur, aku pulang ya
Pangeran pulang ya
Goodnight, jangan marah lagi, mimpiin aku ya.
Syafa hanya membaca pesan itu, toh, nanti ia bisa bicara langsung dengan Rendra. Syafa berdiri dan berjalan menuju kamar mandi, lalu bersiap-siap berangkat ke sekolah. Setelah itu ia pergi ke dapur untuk menyiapkan bekal, Syafa kira keluarganya sudah berangkat kerja dan sekolah seperti biasanya. Namun Syafa lupa, bahwa ada Shila, jadi mereka pasti berangkat agak siang. Syafa duduk di samping Shila lalu menyiapkan bekal seperti biasa.
"Aku berangkat," ucap Syafa kepada anggota keluarganya, belum sempat mereka merespon, Syafa langsung pergi, bukannya apa-apa ia malas beradu mulut dengan Papanya. Namun, ketika Syafa sudah berada di ambang pintu, Shila menahannya.
"Lo berangkat sama gue."
"Gue bisa naik angkot," tolak Syafa.
"Sya, please, gue kangen lo."
Syafa menarik nafas panjang lalu menghembuskannya dengan berat "Yaudah," kata Syafa pada akhirnya.
Mereka memasuki mobil pribadi milik Shila, dan berangkat menuju SMA Moonstar. Di dalam mobil tidak ada percakapan sama sekali. Hening. Canggung. Awkwkard. Syafa yang tak suka keadaan ini langsung memecang keheningan. "Lo kok pulang?" tanya Syafa.
"Udah selesai ulangan kemarin, jadi gue pulang."
"Lo kapan ulangan?" tanya Shila.
"Senin depan."
"Pertukaran pelajar udah selesai, nanti gue bakal balik ke sekolah."
"Gak nanya gue."
"Syafa masih aja nyebelin!"
"Udah nyetir yang benar gue belum tau rasanya dikasih mahar jadi gue gak mau mati sekarang."
"Bucin lo," sahut Shila terkekeh pelan.
__ADS_1
"Eh BTW thanks ya," ucap Shila.
"For?" heran Syafa.
"Udah bikin papa gak kecewa sama gue."
"Gue kira apaan. Udahlah, gak papa Shil."
"Tapi papa makin marah sama lo. Maaf Sya."
"Santuy aja kali, gue gak mau Papa kecewa sama lo, toh kalo gue gak ngundurin diri, Papa juga gak bakal bahagia."
"Tapi Sya..."
"Udah jangan dibahas ah. Yang penting lo bahagia."
"Gue lakuin itu, karena gue sayang lo Ci," batin Syafa.
"Udah sampai," kata Shila setelah mobilnya sampai di depan gerbang SMA Moonstar, yailah masa di kuburan.
"Thanks ya," ucap Syafa sebelum akhirnya ia keliar dari mobil dan bergabung dengan kerumunan makluk berbaju batik hijau berpadu dengan bawahan putih.
**
Awan. Terasa dekat memang. Namun nyatanya jauh sekali. Kayak kamu.
Complicated Bubble
"Syaaaaa!" teriak Qiqi memasuki kelas Syafa, ya, ini sudah istirahat, baru saja bu Calista mengajar, eh, Qiqi teriak udah kayak bom nagasakhi. Mengancurkan telinga.
"Eh kutil wirog, suara lo cempreng banget dah kak, santai aja kali, budeg nih kuping gue!" ujar Raina.
"Ye... gue manggil Syafa yang nyahut nenek lampir!"
"Ih kakak jahad sama akyu, kakak menuduhku yang tidaq-tidaq," kata Raina dengan nada mimi peri lengkap dengan qolqolah kubra, biasa, dia anak mimi peri.
"Sya, lo betah temenan sama anak mimi peri?" tanya Qiqi bergidik ngeri, antara ngeri dan jijik sih sebenarnya. Pertanyaan Qiqi sontak membuat Syafa, Fiza tertawa.
"Iya Kak, lagian ya kak, faktanya adalah, Raina itu orang gila yang disekolahkan, jadi maklumin aja." Fiza menempuk-nepuk bahu Qiqi.
"PIJA BASI GUE BAKAR SENDAL LO, YA!" Raina mengambil sendal swallaw berwarna biru milik Fiza yang tersimpan di kolong meja Fiza tentunya. Raina lari ke luar kelas, entahlah mau ke mana ia pergi.
"SENDAL TERCINTA GUE!" histeris Fiza, ia ngacir ke luar kelas, mengejar Raina yang mengambil sendal ke 7 nya. -Aduh, jadi inget super7 dong, yah, masa cogan disamain sama sendal sih!
"Maafin teman-teman gue yang otaknya nyangkut di rahim emaknya, ya, Kak, btw ada apa?"
"OH MY GOD GUE HAMPIR LUPA KAN! UNTUNG LO NGINGETIN, RENDRA---"
Belum sempat Qiqi meneruskan kalimatnya, terdengar suara Rendra dari pengeras suara di kelasnya.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Konichiwa! Namae Rendra Rajanya Ratu Syafa. Jadi teman teman yang berbahagia, gue butuh bantuan kalian, panggilkan Syafa panggilkan Syafa!" ucap Rendra dengan gaya dora yang memanggil peta.
"Korban dora banget sih," batin Syafa ia ingin tertawa, namun ia tahan.
Langsung saja, teman sekelas Syafa memanggil namanya dengan nada kartun "Shiva". Syafa berdecak kesal pasalnya, namanya Syafa not Syifa apalagi Shiva!
"Rendra di mana Kak?" tanya Syafa kepada Qiqi.
"Ruang musik, dia udah nunggu lo. Udah sana cepetan ke ruang musik, sebelum sekolah kita kena gempa mercon mulut tawon."
"KURANG KERAS TEMAN TEMAN!" ujar Rendra lagi.
Semua orang meneriakan nama Syafa dengan nada yang sama, kali ini bukan teman sekalasnya saja, namun juga orang orang di luar, Syafa berlari menuju ruang musik. Sepanjang koridor yang ia lewati, orang-orang meneriaki namanya. Sangat sangat berisik.
"Terkutuk kau Rendra!" umpat Syafa dalam batinnya.
Syafa berjalan masuk ke dalam ruang musik yang sudah di penuhi oleh banyak orang. Rendra melihat Syafa yang sedang menyalip-nyalip orang agar memasuki ruang musik itu langsung berbicara lagi. "Oke terima kasih teman atas bantuannya! Karena guest Start di hati gue udah datang, jadi gue mau nyanyi lagu spesial untuk guest start yang gue maksud yaitu pacar gue, Syafa gadis paling cantik se-dunia. Tapi sebelum gue mengeluarkan suara perak berlian gue, gue mau panggilin Avengers! Oh Avengers keluarlah!"
Tiba tiba munculah orang-orang berpakaian Avengers, mulai dari iroman, superman, dll. Mereka berbaris rapih kemudian mengeluarkan kertas HVS warna warni yang berisikan satu huruf tiap kertas. Mereka memegang kertas sesuai urutan hingga membentuk kata S-Y-A-F-A P-L-E-A-S-E F-O-R G-I-V-E H-I-M.
__ADS_1
Syafa terkejut melihatnya, ia tersenyum ke arah Rendra yang sedang menatapnya.
Jari-jari Rendra dengan lihainya menari-nari di atas tuts piano, sebelum menyanyi, ia melihat ke arah Syafa dan tersenyum padanya.
"Dia indah meretas gundah
Dia yang selama ini ku nanti
Membawa sejuk, memanja rasa
Dia yang selalu ada untukku." Rendra menyanyikan lagu Tulus - Teman Hidup dengan suara yabg merdu, wajar Rendra kan, kombinasi Iqbaal dan Manu Rios.
"Di dekatnya aku lebih tenang
Bersamanya jalan lebih terang." Sebelum memasuki reff, Rendra menatap gadis itu, Syafa, lalu ia bernyanyi dan bermain piano dengan mata yang terus menatap gadis itu.
"Tetaplah bersamaku jadi teman hidupku
Berdua kita hadapi dunia
Kau milikku ku milikmu kita satukan tuju
Bersama arungi derasnya waktu.
Kau milikku, ku milikmu
Kau milikku, ku milikmu
Di dekatnya aku lebih tenang
Bersamanya jalan lebih terang
Bila di depan nanti
Banyak cobaan untuk kisah cinta kita
Jangan cepat menyerah
Kau punya aku, ku punya kamu, selamanya kan begitu
Tetaplah bersamaku jadi teman ---"
Belum sempat Rendra melanjutkan aksinya, teriakan bu Meti mampu membuat Rendra memberhentikan aksinya.
"ADA APA INI KENAPA KALIAN PAKAI BAJU SUPER HERO? GANTI SANA CEPAT!?" teriak bu Meta, membuat anak-anak yang memakai baju avengers itu pergi keluar, sebelumnya mereka tersenyum kaku kepada bu Meta ketika melewatinya.
"KALIAN JUGA BUBAR!" sepeeti sebuah sihir, kumpulan manusia itu langsung pergi meninggalkan ruang musik terkecuali Suafa yang masih berada di tempatnya.
"Ngapain kamu?!"
"Eh Ibu cantik, ibu kok nambah keriput sih Bu, gara-gara keseringan marah-marah ya Bu?" ucap Rendra, menyengir tanpa dosa.
"RENDRA!"
"Iya Bu Hadir!" sahut Rendra, mengangkat tangannya, seperti sedang di absen saja.
"KAMU INI YA TUMBEN MELAWAN SAYA.!" ujar Bu Meta, tangannya menjewer telinga Rendra, membuat Rendra meringis pelan. "Melawan gimana Bu? Saya gak nonjok Ibu kok, lepas atuh Bu, kupingnya kasian Bu gak salah apa-apa malah di aniaya."
"Kenapa kamu masih di sini? Sana masuk kelas!" perintah bu Meta ketika melihat Syafa yang sedang nyegir gak jelas.
"Tapi, kan belum masuk Bu," jawab Syafa dengan entengnya.
"Syafa kamu mau saya kasih hukuman?!"
"Kasih aja Bu saya ikhlas! Asal sama saya bu dihukumnya!" ujar Rendra dengan semangat, sedangkan Syafa melongo mendengar ucapan Rendra.
"Yasudah kalian bersihkan ruang musik ini sampai bersih!"
Ruang musik di sini cukup besar! Lebih besar dari aula, pasalnya ruang musik di Alkp sudah seperti studio bioskop. Ada panggung pentas seni dengan kursi bertingkat layaknya bioskop, dan di sampingnya tempat alat alat musik itu di simpan, alat alat musik di sini sangat lengkap. Kebayang seberapa besarnya? Kalau disuruh pilih, Syafa lebih baik membersihkan toilet daripada ruang musik sebesar ini!
__ADS_1
"Duh Bu, baiknya, makasih lho Bu. Yuk Sya, kita jalani hukuman bu Meta yang sangat cantik dan baik ini."