Complicated Bubble

Complicated Bubble
19. Rooftop


__ADS_3

Burung berkicau. Membuat kacau. Kucing mengeong. Merasa senang. Ayam berkokok. Berhasil menohok.


Suaramu ... Menarik guntur. Memberi efek gemuruh. Membawa petir. Menyengat hati. Memanggil kupu-kupu. Agar menari di tubuhku. Layaknya suara burung berkicau. Kau, membuatku kacau.


Suaramu ... Menenangkan. Layaknya narkoba. Memberi efek kecanduan. Membiusku dalam kehangatan. Memberi warna dalam kehidupan. Bagai suara kucing. Memberikanku rasa senang.


Suaramu ... Dulu memang menyenangkan. Namun, kini berbeda. Suara yang dulu menenangkan


Kata yang terlontar sangatlah indah. Berubah. Merefleksi. Layaknya pisau. Tajam. Layaknya ayam berkokok. Menohok!


Complicated Bubble


Pagi ini, Syafa dan Raina menjadi petugas PMR pada upacara bendera merah putih. Di bawah pohon rindang, Di situlah Syafa, Raina berdiri mengawasi dan berjaga-jaga jika ada siswa yang memerlukan bantuannya.


Matanya tak luput dari sosok lelaki yang sedari tadi merancaui fikiran dan hatinya, Rendra. Rendra terlihat fokus mendengarkan amanat upacara. Syafa memerhatikan lekuk wajah Rendra dari jauh.


Nikmat Tuhan mana lagi yang engkau dustakan?


Jujur, Syafa sangat merindukan Rendra. Ia tak mengerti mengapa Rendra mendadak berubah. Ia tak tahu alasannya, ia butuh alasan dan penjelasan dari semua ini.


"Cinta itu buta, ya," celetuk Raina, tangannya menyenggol lengan Syafa, hingga membuat si pemilik tangan memutarkan kepala ke arahnya.


"Ya kalau buta gak bisa liat mana yang tulus mana yang gak lah! Ngaco lo." 


"Tapi lo udah buta karena cinta, Sya."


"Hah?"


"Gue liat, lo tadi ngeliatin Rendra."


"Apaan, gak lah, gue aja gak tau Rendra di mana."


"Bohong lo, lo bisa bohongin semua orang, lo bisa bohongin diri lo sendiri, tapi ingat, lo.gak.bisa.bohongin.gue."


Syafa menatap mata Raina,  entah keinginan dari mana, Syafa memeluk Raina sangat erat, sekilas.


"Kesambet apaan lo? Meluk meluk gue," tanya Raina heran.


"Suka ya sama gue? Ciee Syafa suka sama Raina cieee," canda Raina sambil mencubit dan mencolek pipi Syafa.


"Gue gak LGBT ****!" sahut Syafa, bergidik geli, jijik.


"Woi petugas PMR mana nih!" teriak seseorang, membuat Raina dan Syafa menoleh ke arahnya. Terlihat di belakang, terdapat kerumunan orang, sehingga sedikit membuat gaduh upacara.


"Atika pingsan!"


Segera Syafa, Anggi dan Bulan mendekati kerumunan orang tersebut, sedangkan Raina mengambil tandu.


"Jangan dikerumunin,"

__ADS_1


"Raina! Cepet!" kata Syafa, membuat Raina mempercepat langkahnya.


"Sabar, sih," dengus Raina, ketika sampai di depan Syafa. Syafa mengabaikan ucapan Raina, karena kini ia sebagai petugas PMR yang harus menangani siswa, terlebih siswa itu adalah Atika, sahabatnya.


Dengan cekatan, petugas PMR membawa Atika ke ruang UKS dan membaringkannya di kasur.


"Kalian ke lapangan, biar gue aja yang di sini."


"Dasar aja mau ngadem lo!" sahut Anggi dan Raina, kompak, serempak. Setelah itu mereka pergi, karena mendapatkan tatapan Syafa yang cukup mengerikan.


Setelah mereka pergi, Syafa mulai melakukan pertolongan pertama untuk Atika. Ya, memang Syafa tidak terlalu mahir dalam bidang PP, tetapi ia mahir dalam bidang ASB (Ayo Siaga Bencana) dan RSPS (Remaja Sehat Peduli Sesama).


Hana pake acara gak sekolah lagi. batin Syafa.


Hana adalah salah satu anak PMR yang mahir dalam bidang PP (Pertolongan Pertama), karena hari ini Hana tidak masuk, jadi Syafa yang di tunjuk untuk menggantikan Hana di bidang PP, karena PP dan ASB saling berkaitan.


Syafa melihat luka di dagu Atika, mungkin karena tadi jatuh ketika pingsan, fikir Syafa. Setelah itu syafa berjalan menuju kotak P3K guna mengambil obat merah.


"Biar gue," suara dingin terdengar di indra pendengarannya. Syafa menoleh dan didapatinya Rendra yang berada tepat di sampingnya. Sekilas mereka saling menatap. Tatapan kerinduan.


Rendra segera mengambil obat merah, lalu mengobati Atika tanpa melirik Syafa yang kini terdiam sambil menatap Rendra.


"Kok lo bisa ke sini? Gak bisa baca? Hanya petugas PMR yang boleh memasuki ruangan," heran Syafa. Memberhentikan aktivitas Rendra, dan membuat Rendra berjalan kearahnya.


"Lo," tunjuk Rendra tepat di depan muka Syafa.


Hati Syafa mencelos mendengar perkataan Rendra, matanya memanas, ia membuat bendungan di kelopak matanya. Ia tidak boleh menangis, batinnya.


Setelah mengatakan hal itu, Rendra kembali mengobati Atika dengan lembut, Syafa bisa melihat itu dengan jelas. Ia tersenyum simpul, namun hatinya menangis.


"Ikut gue," ucap Rendra, mencekal lengan Syafa, kasar, dan membawa Syafa menuju rooftop.


"Lepasin!" ujar Syafa. Rendra melepas cekalannya dengan kasar. Membuat Syafa meringis kesakitan.


"Kita ngapain ke sini?" lirih Syafa. Rendra menatap Syafa tanpa berbicara. Syafa yang ditatap seperti itu menjadi sedikit, risih.


"Kalau gak bisa jadi petugas PMR, gak usah!" teriak Rendra, tepat di depan Syafa.


"Bacot!" jawab Syafa sambil mendorong bahu Rendra, pelan, bahkan sangat pelan. Ia tak sanggup kasar kepada Rendra, ia lemah, ia telah di butakan oleh cinta, ia bukan lagi Syafa yang dulu.


"Kalau semua anak PMR kek lo, rusak!" Rendra memajukan langkahnya, lalu tangannya mengunci badan mungil Syafa di tembok rooftop. Mata Rendra tak berkedip menatap mata Syafa.


"Lo kenapa sih!" akhirnya, kata itu keluar dari mulut Syafa, kata yang sedari kemarin ingin ia ucapkan pada Rendra.


"Salah gue apa?" ucap Syafa, pelan.


"Salah lo adalah telat nolongin pacar gue!"


Pacar? Atika pacar Rendra? Jadi ini alasannya? batin Syafa. Bendungan di kelopak matanya makin banyak, tetapi ia masih bisa membendungnya. Ia tidak boleh lemah.

__ADS_1


"Gue sayang Atika, dan kalau lo berlaku jahat ke Atika...," tangan Rendra melayang di udara.


"Apa? Kenapa gak jadi nampar gue? Tampar nih, Tampar, biar lo puas," kata Syafa menepuk pipinya sambil terkekeh pelan. Rendra menatap Syafa sebentar lalu pergi meninggalkan Syafa seorang diri.


Melihat Rendra yang telah pergi, Syafa terduduk, kakinya di tekuk, ia melipat kedua tangannya diaras lutut, lalu menenggelam wajahnya. Ia menangis. Benteng pertahanannya rubuh, bendungannya tak kuat menampung air lagi.


"Gue kangen lo yang dulu," lirih Syafa.


***


Cinta bak pelangi. Indah. Berwarna. Namun cinta pun berduri. Menyayat hati


Menusuk harapan. Menciptakan luka


Mengurai kepedihan. Mangalirkan duka. Menghisap luka. Berdarah. Melembam. Membiru


Aku terlanjur terkurung dalam cinta. Memasuki jurang nyaman. Menelusuri jalan . Mendayung perahu. Menjelajahi langit bersamamu.


Aku, bahagia bersamamu. Namun, sekarang kamu pergi. Mengejar bulan yang lain. Meninggalkan aku disini. Terus merindukanmu


Complicated Bubble


Bel berbunyi. Membuat Syafa berlari ke toilet guna membersihkan wajahnya. Ia melihat dirinya di kaca. Kacau. Ia segara merapihkan diri, menutupi bagian yang mencirikan ia habis nangis. Ia memakai kacamat hitam, ditambah memakai kertas pengangkat minyat di hidungnya, padahal ia sedang tidak berminyak, tetapi ia pakai guna menutupi hidungnya yang merah.


Setelah dikira rapi, Syafa berjalan menuju kelas. Sesampainya di kelas, ia langsung di wawancarai oleh sahabatnya, Raina.


"Syafa!! Lo abis ke mana sih? Gue cari-cari lo sampe ke lubang WC, gak ketemu-ketemu."


"Garing woi!" kekeh Syafa.


"Lo ngapain pake kacamata hitam si *****? Lepas woe dugong."


"Gak mau, biar keren lah."


"Halah, sampe emaknya Sueb punya anak bebek juga, lo mah gak bakal keren *****," celetuk Raina, membuat Sueb yang merasa terpanggil memberikan tatapan ganas kepada Raina.


"Selo napa Eb."


"Nama gue Surya bukan Sueb," ucap Surya a.k.a Sueb, dingin.


"Suka suka gue lah!"


"Serah."


Syafa melihat kotak makan dan tisu di laci menjanya, terdapat surat di atasnya.


Jangan nangis, gue gak suka. Hapus air mata lo, gue gak mau liat lo cengen, lo belum makan kan? Gue bawain nasi ayam suwir kesukaan lo, jangan lupa makan, gue gak mau lo sakit.


Dari siapa? fikir Syafa.

__ADS_1


__ADS_2