
Maaf. Bila hingga detik ini. Aku tak kunjung melupakan kenangan kita.
Complicated Bubble
Sesampainya Rendra di UKS, ia membaringkan Syafa di ranjang. Dan disambut pertanyaan oleh Hana.
"Syafa kenapa?"
"Dicekek."
"Hah? Kok bisa!?"
"Udah gak usah banyak tanya, sekarang tolongin dia dulu!"
"Iya-iya, santai mas." Hanna mengatur tabung oxigen dan memasangkan oxigen ke hidung dan mulut Syafa.
"Gue ke kelas dulu ya, gue gak mau ganggu. Nanti kalau 1 jam dia gak sadar-sadar, bilang ke gue, soalnya dokter Anisa lagi ada urusan di rumah sakit, kalau Amih lagi ngurusin urusan kelas."
Rendra hanya mengangguk lemah, Hana tersenyum sebelum keluar. Setelah dikira Hana sudah pergi, Rendra mengambil kursi dan dusuk di samping ranjang Syafa. Ditatapnya gadis itu lamat-lamat. Gadis itu makin bertambah cantik meskipun bibirnya pucat pasi. Rendra tersenyum kecil mengingat kejadiannya dengan Syafa pertama kali di UKS ini. Syafa yang menggemaskan.
Rendra mengaitkan tangannya dengan tangan Syafa. Tangan yang membuatnya nyaman. Rendra tersenyum kecut. Ia merasa bersalah dengan gadis ini. Sudah berapa dalam luka yang ia buat? Sudah berapa kali ia membuat gadis itu menangis? Sudah berapa banyak hal yang membuat gadis itu kecewa ?
"Maaf." entah Syafa mendengar atau tidak suara lirihannya. Rendra mendekatkan bibirnya di telinga Syafa. "Maaf aku tidak bisa menjadi malaikat penjaga yang baik untukmu."
Setelah itu, Rendra dengan tangan yang masih mengenggam erat tangan Syafa, ia menenggelamkan wajahnya di ranjang kemudian terlelap.
Tak terasa sudah satu jam lebih Rendra tertidur. Ia kecewa ternyata Syafa belum kunjung sadar. Rendra terlihat panik setelah mengetahui sudah satu jam lebih Syafa tak sadarkan diri. Ia segera menelpon Hana.
"Na, cepat ke sini, udah satu jam lebih Syafa gak sadar-sadar!"
"Iya, gue ke sana. Lo tenang Ren, jangan panik." Setelah mengatakan hal itu, Hanna mematikan sambungan telepon itu. Sedangkan Rendra kembali mengenggam tangan mungil itu. Ia berdoa semoga gadis itu akan baik-baik saja.
Hana datang ke UKS, Hana mencoba mengatur kembali oxigen, raut wajah Hana yang cemas membuat Rendra panik tak karuan. "Gimana Na?"
"Gue gak tahu, dokter lagi ada urusan di rumah sakit, Amih juga lagi bawa anak-anak kecelakan tadi."
"Emang lo gak bisa gitu apa kek apa kek?"
"Ck mana gue bisa, gue bukan dokter!"
"Lah emang gak diajarin di PMR?"
"Dodol PMR itu ngajarinnya pertolongan pertama bukan pertolongan medis!"
"Han..." suara parau milik Syafa mampu membuat kedua makhluk yang sedang berdebat menengok ke arahnya dan mendekat.
"Lo udah baikan Sya?"
"Alhamdulillah. Udah, thanks ya Han," jawab Syafa sambil tersenyum kecil.
"Lo mau minum?"
"Gak usah, gue gak haus."
"Yaudah, gue pergi dulu ya, cepat sembuh Sya."
"Iya, makasih Han." Setelah Hana pergi, Syafa kembali memejamkan matanya, ia tidak ingin melihat wajah Rendra.
"Sya," panggil Rendra.
"Sya, jawab aku," tangan Rendra mengenggam tangan Syafa, dan ditepis lemah oleh Syafa.
"Ren, aku mau sendiri."
"Tapi Sya..."
"Please," mohon Syafa.
"Gak. Aku mau jagain kamu."
"Kalau kamu mau jagain aku, ada syaratnya."
"Apa?"
__ADS_1
"Kita break."
***
Tersenyumlah kepada luka. Agar kau belajar tentang apa itu tegar.
Complicated Bubble
Hari ini, diadakan Class meeting. Mulai dari futsal, voli, basket, dance, lukis quotes, menghias mading, baca dan cipta puisi, tataboga, lukis pahlawan, bernyanyi, paskibra dan band. Setelah selesai upacara pembukaan di aula. Hari ini waktunya lomba baca dan cipta puisi, menghias mading, lukis quotes dan tata boga. Tata boga diadakan setelah lomba cipta puisi, menghias mading dan lukis quotes selesai. Semua orang yang mengikuti salah satu dari tiga mata lomba tadi, berkumpul di tempat berlangsungnya lomba.
Menghias mading, di kelaa masing-masing, semua siswa di kelas harus ikut, kecuali yang mengikuti lomba lain.
Lukis quotes di ruang melukis, jumlah 2 orang, membawa papan dan alat melukis sendiri, memakai kaos olahraga.
Baca dan cipta puisi di aula. Hanya diperbolehkan membawa alat tulis, kertas disediakan oleh panitia.
Di sini lah Syafa berada di aula bersama para peserta lain dari berbagai kelas. Panitia membacakan juknis lomba, setelah itu panitia mempersilahkan peserta untuk membuat puisi dengan tema Pahlawan dalam waktu 30 menit.
Syafa fokus ke selembar HVS dan pulpen yang ia genggam. Ia mulai merangkai kata sebisanya. Setelah selesai membuat puisi ia melihat jam masih 15 menit lagi. Syafa kembali membaca puisi buatannya lagi dan lagi, hinga waktu telah usai.
Kini orang orang ramai di aula, ingin menyaksikan pembacaan puisi dari karya masing-masing peserta. Syafa kebagian no 7. Memang urutan tampilnya sudah dibagi dua hari sebelumnya.
No 1 sampai 4 sudah tampil sekarang giliran nomor urut 5. Dan kalian tahu siapa? Dia, Rendra. Syafa sekilas terkejut, Syafa kira Rendra ikut Futsal atau Lukis Quotes atau Band atau Basket. Namun Syafa menormalkan mimik wajahnya menjadi datar. Ia melihat Rendra yang sedang berada di atas panggung aula. Rendra menatapnya dan tersenyum.
Aku
Aku, Rendra
Memiliki hati dan jiwa
Dahulu aku terbang bebas tanpa tau arah
Kini aku terikat dengan sosok yang indah
Sebut saja, Dia
Jika kalian ingin aku mendeksripsikannya
Karena dia terlalu sempurna
Dia dengan segala yang ada di dirinya
Mampu mengikatku dalam medan cinta
Bersamanya membuatku bahagia
Namun kini dia tengah kecewa
Maaf
Maaf
Maaf
Maaf
Telah membuat kecewa
Semesta
Angin
Bintang
Bulan
Matahari
Katakan padanya, bahwa aku masih mencintainya, sangat.
Dia, Syafa, permaisuriku.
Semua yang berada di aula berteriak histeris. Rendra masih tersenyum dan menatap Syafa yang sedang menunduk malu. Tak tahu kah kalian? Dalam tundukannya, Syafa tersenyum mendengar puisi Rendra untuknya. Juri menggelengkan kepalanya, heran dengan lelaki itu, puisi lumayan, namun tidak sesuai tema.
__ADS_1
Rendra turun dari panggung dan duduk di sebelah Syafa. Syafa yang menyadari keberadaan Rendra menjadi gugup setengah mati. "Jangan nunduk melulu, aku kan mau liat wajah cantikmu," kata Rendra, membuat Syafa mendongkakan wajahnya.
"Puisi kamu bagus."
"Kan spesial untuk kamu, jadi aku buat pake hati," sahut Rendra, Syafa hanya tersenyum.
"Temanya pahlawan bukan cinta tau Ren," ucap Syafa, sedikit terkekeh.
"Kamu kan pahlawan hati aku."
"Hahaha. Geli tau."
"Kamu suka mimpiin aku?" tanya Syafa.
"Enggak."
"Kenapa?"
"Maunya ketemu kamu langsung, biar..." dengan sengaja Rendra mengantungkan ucapannya.
"Biar apa?"
"Biar bisa cubit pipi kamu," kata Rendra, ia mencubit pipi Syafa pelan.
"Kamu, Syafa kan?"
"Bukan," canda Syafa, ia terkekeh geli.
"Lalu siapa?"
"Permaisurinya Rendra."
"Rendra siapa?"
"Kamu."
"Hahaha. Jadi? Udah maafin aku?"
"Udah. Tapi kita masih break ya."
"Iya, aku tunggu."
"Habis lomba ini, kita ketemuan di taman, bisa?"
"Bisa."
"Oh iya! Sya, jangan tambah cantik."
"Kenapa?"
"Nanti semakin banyak yang liatin kamu."
"Termasuk kamu?"
"Jangan tanya aku."
"Kenapa?"
"Karena hobiku, melihat wajah cantikmu."
"Hobi aneh!"
"Iya, sampai aku jadi gila."
"Kenapa?"
"Lihat senyum kamu sekilas, buat aku senyum-senyum terus, sampai pak Ubi bilang aku orang sinting."
"Hahaha."
Panitia memanggil no urut 7, Syafa untuk maju ke depan.
"Ganbatte," ucap Rendra, dan dibalas senyuman Syafa.
__ADS_1