Complicated Bubble

Complicated Bubble
26. Museum Sejarah


__ADS_3

Mengingat sejarah 'kita' itu mudah. Namun entah mengapa, melupakan sejarah 'kita' itu yang susah.


Complicated Bubble


"Mau ke museum?" tanya Rendra selepas mereka puas mengelilingi Kota Tua menggunakan sepeda ontel.


"Museum apa?"


"Sejarah."


"Yaudah." Syafa mengiyakan pertanyaan Rendra. "Huft. Demi Rendra gue main sama sejarah," batin Syafa.


Kalau bukan karena Rendra, mana mungkin Syafa mengunjungi museum. Hello! Syafa pilih jurusan IPA karena tidak mau berurusan dengan yang namanya sejarah. Syafa kurang menyukai sejarah, terutama sejarah dengan mantan. Oke lupakan masalah mantan, Syafa gak mau mengingat mantan gemasnya yang sialan.


Sekarang Syafa akan mengunjungi museum setelah 4 tahun lamanya tidak mungunjungi museum. Terakhir kali, ia mengunjungi museum sewaktu kelas 7 SMP dalam rangka outing class. Oh! Good kuatkan otak Syafa dalam melihat sejarah-sejarah di dalam museum nanti.


Rendra berjalan terlebih dahulu menuju Museum Sejarah, yang disusul oleh Syafa di belakangnya. Setelah sampai di pintu utama Museum Sejarah. Rendra membalikan badannya ke arah Syafa.


"Kenapa?" tanya Syafa heran.


"Kamu bawa kartu pelajar?"


"Bawa."


"Sini." Syafa membuka tasnya dan mencari kartu pelajarnya, setelah mendapatkan barang yang ia cari, Syafa menyerahkan kepada Rendra. Lalu Rendra memberikan kartu pelajar serta uang lima ribu kepada petugas penjaga museum, kemudian petugas itu memberikan karcis kepada Rendra. Tak lupa, Rendra mengembalikan kartu pelajar kepada pemiliknya.


"Om, karcisnya bisa ngasih keamanan gak?" tanya Rendra.


"Keamanan?"


"Iya keamanan buat pacar saya, biar cowo-cowo gak deket-deket sama dia, dia cantik sih."


"Iya cantik."


"Tuh kan Om aja suka, inget istri di rumah Om."


"Kalau ketauan bisa di ceramahin bermalam-malam ih ngeri." Ucapan rendra itu, membuat om-om petugas terdiam.


"Ih Rendra gak boleh gitu!" sahut Syafa.


"Hahaha."


"Tapi bener kan Om?"


"Iya bener juga."


"Yaudah Om minjem pulpen dong."


"Buat apa?"


"Nyongkel hati dia Om, biar hatinya saya jaga, terus biar saya doang yang punya."


"Hee!" spontan Syafa memukul bahu Rendra hingga Rendra tertawa.


"Om  mana nih pulpennya? tagih Rendra lagi. Membuat 'Om' Petugas memberikan pulpen ke tangan Rendra. Rendra segera menulis kata-kata di karcis itu.


"Udah punya pacar." begitu kira-kira tulisan di karcis yang ditorehkan oleh Rendra.


"Om tahu kenapa saya nulis ini?" tanya Rendra.


"Biar kalau ada yang suka dia, saya bisa nunjukin kartu punya pacar ini Om."


"Hahaha." tawa Syafa menggelarkan dunia, membiat Rendra ikut tertawa melihatnya.


"Ayok masuk Ren, kasian Om nya kamu gangguin terus."


"Duluan ya Om."


"Ayo." Ajak Rendra. Syafa berjalan di belakang Rendra sembari menunduk. Matanya tidak kuat melihat sejarah dan barang antik itu terlebih banyak orang di sana. Syafa phobia berdiri di tengah orang banyak. Ujian atau musibahkah ini ya Allah? Jika ujian berilah Syafa pahala yang melimpah, jika musibah kuatkanlah hamba. Syafa insyaf ya Allah. Aamiin.


Syafa selalu mengekori Rendra yang tenggelam dalam museum sejarah. Memperhatikan setiap benda yang berada di sana. Rendra anak IPA tapi suka IPS juga, paket lengkap. Dengar-dengar dulu sewaktu Rendra SMP, Rendra menjuarai olimpiade IPS dan Fisika dalam bulan yang sama.


"Museum lebih menarik dari pacar rupanya, sabar, sabar, biar tambah cantik, Sya," batin Syafa.


Sementara itu, tiga orang lelaki yang lumayan dekat dengan Syafa memperhatikan Syafa dengan lekat seraya membicarakannya. Syafa yang menunduk bisa mendengar percakapan mereka. "Sat ada cewe cantik nganggur nih, kenalan yuk, siapa tau jodoh."


"Wuih, mulus, boleh juga, buat gue aja ya Ga?"


"Gue yang liat dulu, buat gue, lah."


"Tadi nyuruh gue kenalan gimana sih lo."


"Udah sana kalian kenalan, rebutan mulu nanti keburu diambil orang. Lagi juga siapa tau dia udah punya pacar."

__ADS_1


"Keliatannya sih masih single Vin."


"Tau darimana lo?"


"Nebak aja sih gue."


"Najis lo."


"Tapi serius, kalau dia punya pacar pasti pacarnya ada di sini lah."


"Banyak bacot lo pada, gue duluan nih yang kenalan." Salah satu lelaki itu berjalan mendekati Syafa.


Tiba-tiba saja, Syafa merasakan ada tangan yang merangkulnya. Jangan-jangan jamet tadi lagi! batinnya. "Jangan jauh-jauh dari aku."


Itu suara Rendra! Syafa mendongkak dan benar saja, yang merangkulnya adalah Rendra. Syafa tersenyum senang. "Tuh kan udah punya pacar!" decak lelaki itu, dan kembali ke tempat teman-temannya.


"Ah masa sih?"


"Iya tuh dirangkul cowo."


"Abangnya kali."


Rendra menegok ke arah lelaki itu sembari tersenyum, Rendra berjalan ke arahnya dengan Syafa yang tetap berada di rangkulannya.


"Baca," ucap Rendra memberikan karcis mereka kepada lelaki tadi.


"Udah punya pacar?"


"Iya, gue pacar dia. Jangan diganggu, nanti pacarnya cemburu." setelah mengatakan hal itu, Rendra kembali mengamati museum.


"Sya, jangan jauh-jauh lagi, banyak orang, nanti kamu hilang."


"Kamu yang jalan ninggalin aku," kesal Syafa.


"Habisnya, museum lebih enak dipandang daripada kamu."


"Yaudah kalau gitu pacaran aja sama museum."


"Hahaha, gak gak aku bercanda." Rendra tertawa renyah, tangannya menoel hidung mancung mungil milik Syafa.


"Ih ga lucu tau bercandanya."


"Sengaja. Biar kamu gak ketawa."


"Lebay. Hahaha."


"Jangan ketawa, Sya."


"Kamu cemburu kalau mereka suka aku?"


"Cemburu sih, tapi aku tahu, cuma aku yang ada di hati  kamu."


"Iya, kamu yang menang, mereka kalah semua."


Rendra melepaskan rangkulannya, lalu menggengam tangan Syafa, seolah tidak ingin Syafanya diambil oleh orang lain. Rendra kembali melihat benda-benda yang di museumkan. Syafa melihat ke arah jam tangannya, sudah lumayan lama mereka berjalan-jalan di dalam museum. Lebih tepatnya Rendra mengamati museum sedangkan Syafa hanya mengikuti Rendra saja.


Lemas, itulah yang dirasakan Syafa saat ini, phobianya kambuh, kakinya pegal, kepalanya pening melihat benda-benda museum. Kalau ada kamera, pasti Syafa akan melambaikan tangannya saat ini juga. "Ren, masih lama?" tanya Syada pada akhirnya, ia sudah tidak kuat lagi berlama-lama dalam lingkaran sejarah.


"Kamu kenapa?"


"Gak papa, masih lama?"


"Mau keluar sekarang?"


"Terserah kamu, kalau kamu masih mau liat-liat gak papa."


"Kita keluar sekarang, muka kamu pucat." Rendra menarik halus tangan Syafa menuju pintu keluar. Mereka duduk lesehan di bawah pohon, lebih tepatnya Syafa yang langsung duduk di sana.


Rendra beranjak dari tempat duduknya, namun Syafa menahannya. "Mau ke mana?" tanya Syafa.


"Beli minum."


Lumayan lama Syafa duduk dengan kaki telentang seorang diri. Berasa jomblo  akut di bawah pohon sendiri yang lagi PDKT sama hantu penjaga pohon. Tak lama, Rendra datang dan menyodorkan air mineral dingin yang kemudian diminum oleh Syafa.


"Dia kenapa?"


"Kamu nanya sama siapa?" tanya Syafa heran ketika Rendra berbicara sendiri.


"Sama angin."


"Apa katanya?"


"Kata angin kamu lemes liat pangeran di samping kamu."

__ADS_1


"Terus terus?" Syafa berusaha menahan tawanya.


"Katanya kamu cantik. Dia suka."


"Oh ya?"


"Iya."


"Jangan suka sama dia," ucap Rendra kepada angin


"Kenapa?" tanya Syafa heran.


"Dia sudah punya pacar, nanti kamu kecewa angin."


"Hahaha." kali ini tawa Syafa meledak, meskipun jayus sih tapi menyenangkan bersama Rendra.


"Kamu kenapa?" tanya Rendra, lagi.


"Kamu nanya ke siapa?"


"Kamu."


"Mabok sejarah," jawab Syafa seadanya dan jujur tanpa unsur stand up comedy, tapi entah mengapa Rendra malah tertawa menanggapinya.


"Ketawa mulu dih."


"Hahaha. Masa iya ada orang yang mabok sejarah sih. Ngaco."


"Ada tau, aku buktinya sekarang mabok sejarah."


"Tapi masa iya cuma gara-gara mabok sejarah jadi lemas gitu?"


"Phobia."


"Kamu phobia sama sejarah?"


"Iya sama sejarah mantan."


"Serius Sya, kamu phobia apa?"


"Keramaian."


"Kok kamu gak bilang kalau kamu gak suka sejarah sama phobia keramaian?"


"Kalau aku bilang, gak jadi ngedate lama lama sama kamu," kata Syafa mengeluarkan cengiran khasnya. Membuat Rendra gemas sendiri yang pada akhirnya Rendra mencubit pipi Syafa, hobby cubit pipi orang cantik kayaknya.


"Dasar. Yaudah yuk ke monas aja."


"Ngapain?"


"Ngedate sama kamu."


"Nanti dulu."


"Sekarang aja, aku gendong."


"Gak mau!"


"Kenapa?"


"Malu."


"Jangan malu, ada aku."


"Lagi juga masa kamu malu digendong orang ganteng."


"Iya iya gak malu."


"Nah gitu dong, naik." Kini, Syafa tengah berada di punggung Rendra, lebih tepatnya sedang digendong pangeran pujaan hatinya.


"Ke cafe dulu ya," ucap Rendra.


"Ngapain?"


"Makan."


"Jangan di cafe ah."


"Terus di mana?"


"Aku maunya batagor pinggir jalan."


"Siap laksanakan Nyonya  muda!"

__ADS_1


__ADS_2