
Melupakan itu butuh waktu bukan butuh seseorang yang baru. Sembuhkan lukamu, dan jangan melakukan tindakan yang akan menimbulkan luka baru.
Complicated Bubble
Sudah lima hari terhitung sejak Syafa tidak sadarkan diri dan dinyatakan koma. Dan selama itu, tidak ada tanda tanda Syafa untuk sadarkan diri, bahkan sudah selama itu juga, Rendra selalu berada di samping Syafa. Padahal, Rara, Rian, Dara dan Erlan setiap hari memaksa Rendra untuk istirahat dan pulang. Namun, Rendra keras kepala untuk terus menjaga Syafa, sampai pola makan dia tak teratur.
Sudah jam tiga sore, tapi Rendra belum sama sekali makan apapun dari semalam. Rendra terus memegang tangan Syafa, mengelus rambut Syafa, mengajaknya berbicara. Rara meringis melihat betapa hancur anak bungsungnya saat ini. Sasa menelpon Rendra dari luar. Menyuruhnya untuk keluar sebentar, awalnya Rendra memang tidak mau, tapi Rara juga keras kepala, akhirnya Rendra menuruti permintaan bundanya.
"Makan dulu, sayang, kamu belum makan hampir seharian ini," bujuk Rara. Rendra menggeleng lemah, "Rendra mau jagain Syafa terus Bun."
"Kan kamu makannya di sini, kamu juga bisa liat kondisi Syafa dari luar sini kan? Mama udah beliin nasi padang kesukaan kamu," ucap Rara sambil menyodorkan sebungkus nasi padang ke pada Rendra.
"Kalo kamu sakit, nanti yang jagain Syafa siapa hayo?" Benar juga apa yang dikatakan bundanya, kalau dia tidak menjaga pola makannya, lalu dia tiba tiba sakit, sudah pasti dia tidak bisa menjaga Syafa lagi.
"Tapi Bun, yang jagain Syafa di dalam siapa?"
"Ada gue, gue yang jagain Syafa sementara, lo makan aja," celetuk Shila.
Rara membenarkan ucapan Shila, Rendra mengangguk lalu membiarkan Shila menjaga saudara kembarnya di dalam. Rendra duduk samping Bundanya lalu memakan nasi padang yang dibawakan oleh bunda tercinta. "Bun, ada minum gak?"
Rara menepuk dahinya pelan, "Duh, Bunda lupa, Bunda ke kantin dulu ya, beli minum buat kamu." Rara sudah berdiri, namun Rendra memegang tangan Rara, mencegah Rara untuk pergi ke kantin, "Biar Rendra aja, Bunda duduk aja, Rendra tau Bunda capekan tadi abis ke depan beli nasi padang buat Rendra?"
Setelah itu Rendra berjalan ke arah kantin dan hilang di telan belokan koridor. Rara tersenyum, itu yang dia suka dari anaknya, tidak akan membiarkannya kecapekan.
Tapi senyum Rara memudar begitu saja, mendengar teriakan histeris dari Shila yang baru keluar dari ruangan yang memanggil Dokter.
"Ada apa, Shila?" tanya Dara yang terbangun dari tidur dalam dekapan suaminya di kursi tunggu.
"Detak jantung Syafa, gak terdeteksi!" histeris Shila, tangisnya pecah, semua orang yang ada di sana ; Dara, Erlan, dan Rara langsung berdiri, bertepatan itu dokter Ani datang, dokter Ani memasuki ruangan bersama dua suster. Awalnya mereka ingin masuk juga, namun suster melarang mereka. Dara kembali menangis, melihat kondisi anaknya yang semakin parah dari balik kaca.
Rendra datang, lalu dahinya mengkerut melihat semua orang berdiri dan menangis, bingung dengan apa yang terjadi, dilihatnya dari kaca ICU, Syafa tidak sendiri melainkan ada dokter dna suster juga di sana, "Syafa kenapa?" tanya Rendra kepada Shila dengan mata yang memanas. Perasaannya tidak enak saat ini.
Shila hanya diam dan menangis saja, Rendra mengulang pertanyaannya dengan penuh penekananan, sambil menguncangkan bahu Shila, "Gue. tanya. Syafa. kenapa?"
"Detak jatungnya gak ada," lirih Shila. Rendra menurunkan kedua tangannya dari bahu Shila, memberikan kantong plastik berisi air mineral kepada Shila denhan terburu buru sampai kantong platiknya hampir jatuh jika Shila tidak menangkapnya dengan cepat, Rendra berlari ke dalam ruangan.
Baru beberapa langkah dia masuk, kedua suster menariknya keluar, Rendra memberontak memaksa untuk melihat kondisi Syafa dari dekat, "JANGAN NGALANGIN GUE UNTUK KETEMU DIA!" teriak Rendra, dengan air mata yang kembali bercucuran, karena melihat Syafa yang berkali kali dadanya ditempeli oleh alat EkG namun detak jantungnya masih tidak terdeteksi.
__ADS_1
"Mas, tolong, pasien sedang dalam keadaan darurat, jangan teriak, itu bisa menganggu konsentrasi dokter," jelas suster.
"Tapi, gue mau ada di samping dia..." lirih Rendra.
"Mas bisa liat dari luar, dan doakan yang terbaik untuk pacar Mas," kata Suster, lalu menarik Rendra yang sudah lemas ke luar. Rendra terduduk bersandar pada pintu yang sudah ditutup. Mengacak rambutnya sendiri.
"Jangan hari ini Tuhan... Jangan ambil dia sekarang," batin Rendra.
Rara duduk di samping Rendra lalu memeluk anaknya. "Syafa gak akan pergi ninggalin Rendra kan, Bun?" Pertanyaan itu mencelos hati Rara begitu saja. Sasa tahu seberapa besar Rendra tidak ingin kehilangan Syafa. "Syafa selalu ada di hati kamu kan?" Tangis Rendra semakin pecah mendengar jawaban dari Rara.
Pintu terbuka, semua orang berdiri dan menghampiri dokter Ani, dokter Ani menyampaikan bajwa Syafa harus mendapatkan donor dari hari ini juga, kalau tidak, dokter Ani tidak bisa menjamin untuk hari esok. Setelah itu dokter Ani pergi, dan Rendra seorang diri berlari ke dalam dan memeluk Syafa yang masih belum membuka matanya. Rendra mengelus rambut Syafa dan juga mengelus pipi Syafa yang terasa sangat dingin. "Gue gak mau kehilangan lo, Sya..." Dan sialnya, air mata itu keluar lagi dan lagi.
Sementara itu di ruangan yang berbeda, seorang anak dan ibu sedang berdebat panjang, anak yang keras kepala dan ibu yang kekeh melarang kemauan anaknya. "Bu, aku mohon. Dia harus mendapatkan donor hari ini kan?"
"Iya Ibu tau, tapi gak senekat itu juga," kata wanita separuh baya. Membuat anak remaja itu kini memeluk ibunya, meyakinkan semuanya, "Aku yang salah, aku yang bikin dia disalahkan atas kepergian kakak dan omanya, dan aku yang bikin dia kehilangan fungsi ginjalnya, Bu, aku ingin menggantinya dengan ini," jelas remaja wanita berambut panjang itu.
"Aku juga sangat mencintai Rendra, Bu... Aku ingin hidup bersamanya, hanya dengan cara ini. Karena aku tahu, dia hanya mencintai gadis itu dan bukan aku," lirihnya. Sang Ibu membalas pelukan anaknya, bahkan ia menangis saat ini. "Jangan sayang, kamu gak mikirin nanti Ibu tinggal sama siapa selain kamu?"
"Dokter Ani..." panggil salah satu suster yang masuk ke ruangannya, Ani mengelap sisa air matanya dan melepas pelukan anaknya.
"Jika hari ini pasien yang berada di ICU tidak mendapatkan pendonor, bagaimana Dok?"
"Pendonornya sudah ada, kita lakukan operasi sekarang, siapkan semuanya." Suster tersebut langsung keluar dari ruangan melaksanakan perintah Ani.
Operasi di mulai, di dalam ruangan, semua dokter dan suster melakukan prosedur operasi dengan teliti, bekerja sama satu sama lain demi keberhasilan dan kelancaran operasi yang dilakukan ini. Sedangkan di luar ruangan, semua orang terlihat sedang berdoa agar operasi yang dilakukan berhasil.
Mendengar kabar ada seseorang yang berbaik hati yang mau mendonorkan ginjal dan paru parunya, mereka langaung mengucap syukur dan berharap setelah operasi ini, Syafa dapat berkumpul lagi bersama mereka dan menjalani aktifitas seperti biasanya.
Dua belas jam berlalu, Dokter lelaki bername tag Rahman keluar dari ruang operasi, dan menyatakan bahwa operasinya berhasil, Syafa pun akan dipindahkan ke ruang rawat.
Rendra bersujud syukur saat itu juga tak terkecuali orang orang yang ada di sana ; Dara, Erlan, Rara, Rian, Raina, Fiza, Faiq dan Wahyu pun mengucap syukur dan berpelukan satu sama lain. Syafa di atas brankar didorong oleh suster ke ruangan rawat. Dan tepat saat itu juga, dokter Ani yang menangis keluar bersama satu suster yang memeluknya.
"Sementara yang menjadi dokter khusus Syafa, adalah saya, pengganti dokter Ani," jelas dokter Rahman.
"Kenapa, Dok?" tanya Erlan.
"Anak dokter Ani meninggal."
__ADS_1
"Innalillahi..."
"Saya permisi," ucap Rahman sambil tersenyum lalu melenggamg pergi. Setelah itu semua yang ada di sana memasuki ruang rawat Syafa, menunggu Syafa siuman. Erlan mengelus rambut putrinya, berharap jika dia sadar, dia mau memaafkan kesalahannya selama ini. Erlan menutup matanya, dia menangis saat ini. "Papa..."
Erlan membuka matanya secara sempurna mendengar panggil itu, panggilan dari seorang putri yang dia tangisi, "Papa jangan nangis," kata Syafa, gadis itu tersenyum, menghapus air mata Erlan yang makin deras, Erlan memegang tangan putrinya, "Papa minta maaf ya sayang."
"Papa salah selama ini ke kamu, papa menyesal, papa minta maaf," tulus Erlan. Syafa hanya diam menatapnya, Erlan tahu kesalahannya sangat besar, dan dia tahu butuh waktu bagi Syafa untuk memaafkannya. Erlan tersenyum, mengangguk, "Papa ngerti," setelah itu Erlan berbalik berniat pergi, namun Syafa menahan tangannya, "Syafa sayang papa."
Speechless. Erlan memeluk Syafa dengan bercucuran air mata, "Papa juga sayang kamu, putri cantik." Syafa ikut menangis, baru pertama kali semenjak Kakaknya meninggal dia mendapatkan pelukan dan pujian dari Papanya. "Papa janji ya bakalan sayang sama Syafa terus?" tanyanya.
Erlan melepas pelukannya, "Selamanya Papa akan sayang sama kamu."
"Kiss?" tanya Erlan, Syafa mengangguk lalu menunjuk pipinya, Erlan tertawa lalu mencium pipi kanan, pipi kiri dan dahi Syafa. "Gantian dong..." bujuk Erlan. Syafa tertawa mengejek, "Ga ah, Papa bau, belum mandi, wle."
"Terus apa kabar sama lo yang belum mandi enam hari?" kekeh Shila. Syafa baru sadar, yang di sini bukan hanya Papanya saja, tapi juga sang mama, saudara kembarnya, Sasa dan Erlan. Tapi di mana Rendra?
"Lah? Gue enam hari kaga mandi? Kok masih wangi gini?"
Dara tertawa, putrinya yang satu ini masih saja mempunyai kepercayaan diri yang tinggi, "Mandi di alam mimpi kali kamu," celetuknya.
"Bidadari dong?" balas Syafa dengan kekehannya.
"Iya lo kan bidadari di hati gue," celetuk Rendra yang baru saja datang, Syafa menoleh ke arah Rendra yang kini tersenyum dan berjalan ke arahnya. "Kangen gue?" tanya Rendra.
"Duh, lo siapa ya gue gak inget," ejek Syafa.
Rendra mendengus kesal, "Om, Tante, anaknya dikasih makan apaan sih? Gemesin banget, jadi pengin cepet cepet dimilikin," ucap Rendra sambil mencubit pipi Syafa. Syafa meringis kecil lalu menonyor kepala Rendra. Rendra tertawa, namun tawanya berhenti ketika memdengar celetukan dari Erlan.
"Tau gak sih? Kayaknya ada yang cinta mati banget sama anak Om, sampai ikut ikutan belum mandi enam hari."
"Sialan, pake buka kartu segala." batin Rendra.
Kini, giliran Rendra yang ditertawai oleh semua orang di sini kecuali Syafa yang kebingungan, "Siapa, Pa?" Erlan hanya menatap Rendra dengan tatapan menggodanya.
***
Aku sudah tak ingin mengejar kamu, dan ditinggal olehmu membuatku sadar bahwa aku salah pernah mengejarmu. Sekarang, aku akan mengejar apa apa yang emang harus direalisasikan.
__ADS_1
Complicated Bubble