Complicated Bubble

Complicated Bubble
50. Senja [End]


__ADS_3

Gak perlu jauh jauh untuk ngerasain bahagia. Cukup ada kamu, itu udah bikin bahagia banget. Terima kasih sudah memberi warna di kertas monokrom kehidupan ini.


Complicated Bubble


Di hari yang sama, namun di waktu yang berbeda, Syafa dan Rendra sedang berada di pantai ancol, hanya berdua. Tadi, selepas acara kejutan ulang tahunnya, Rendra mengajak Syafa untuk bermain di pantai. Syafa pun langsung mengiyakan, dia ingin melihat matahari terbenam di pantai setelah sekian lama tidak melihatnya. Jam masih menunjukkan pukul empat, masih ada satu jam lebih untuk menunggu senja tiba.


"Ren... mau kelapa," rajuk Syafa tiba tiba saat melihat seseorang menyedot air kelapa dari buahnya langsung.


"Beli sendiri sana, udah gede juga."


"Kebiasaan! Nyebelin! Katanya tadi janji mau nurutin semua permintaan Syafa! Ga sesuai janji mulu!"


Syafa kesal bukan main, dia berlari ke bibir pantai, meninggal Rendra yang tersenyum tipis melihat tingkah gadisnya. Dia sengaja berkata seperti itu, hobbynya kan membuat gadisnya kesal.


Rendra berjalan ke arah pedangang yang menjual es kelapa utuh, lalu dia memesannya. Setelah memesan dia membawa dua kelapa muda, dan menemui Syafa yang sedang duduk di bibir pantai.


"Sya..." panggil Rendra, dia duduk di samping Syafa.


Syafa tidak menoleh, "Syafa masih marah, ya! Gak usah deket deket!"


"Nanti kalau gak deket, ada yang kangen sama aku lagi."


"Enggak, Syafa gak bakal kangen!"


"Emang yang bilang kamu bakal kangen aku siapa? Aku gak nyebut nama kamu perasaan," kekeh Rendra.


Syafa menoleh, berniat untuk mencubit Rendra yang kini membuatnya geram. Namun dia urungkan karena Rendra menyodorkan es kelapa tepat di hadapannya.


"Tada... Es kelapa untuk orang gila," celetuk Rendra.


"Ngasih yang bener! Masa orang gilaaaa!" Kesal Syafa, dia kembali merajuk, tidak ingin menatap lelaki satu ini yang tadi mengatakan bahwa dia gila. Apa apaan?!


"Jangan marah dong, hey," kata Rendra dia menoel noel pipi Syafa namun Syafa selalu menghindar. Rendra menangkup wajah Syafa, mau tak mau Syafa menoleh ke arah Rendra. Rendra membuat pipi Syada layaknya squisy sekarang. Syafa memegang tangan Rendra mencoba untuk melepaskannya, "Lepas ihhh nanti nambah chubby kalau digituin!"


"Gapapa biar tambah gila lucu sama imutnya."


Pipi Syafa memanas, dia menahan senyumnya saat ini, dia menarik tangan Rendra paksa lalu kembali menoleh ke samping kanan, tidak ingin melihat Remdra yang berada di samping kirinya. Dia malu dengan pipinya yang kini merona. Jadi, maksud Rendra yang gila itu lucu dan imutnya?


"Jangan marah lagi dong..."


"Gapapa! Rendra, kan, orang sinting ngeselin!"


"Iyaiyaa aku sinting ngeselin."


"Emang, wle!" Syafa memeletkan lidah ya dan menoleh ke arah kanan. Rendra menepuk kepala Syafa pelan, lalu memberinya es kelapa, "Minum es kelapanya, biar gak ngambek terus, wle."


Syafa menerima es kelapa itu lalu mengambil satu es kelapa lagi yang tergelek di pasir, yang dia yakini pasti itu punya Rendra. "Kamu gak boleh minum es kelapanya, biar gak ngeselin terus!" Ujar Syafa, kini ia menyodot kedua es itu dalam waktu bersamaan.


"Ren."


"Heum?"


"Aku kangen deh sama sahabat kecil aku, namanya Alvaro, dulu aku sama dia sering berenang di sini, Alvaro sama kakak aku yang ngajarin aku renang pertama kali," kata Syafa, dia menatap pantai dengan tatapan lurus seolah sedang mengingat masalalunya.


"Terus Alvaro sekarang ke mana?" tamya Rendra, dia sengaja tidak menanyakan soal kakaknya, karena dia sudah tau semua tentang kakak dan omanya.


"Alvaro sama keluarganya pindah ke Washington. Alvaro pernah janji sama aku bakal balik ke Indonesia dan ngajak aku ke pantai ini untuk berenang, tapi sampai sekarang, dia gak dateng dateng. Apa dia lupa ya sama aku?"

__ADS_1


Rendra mendekat, merangkul gadis itu, menyalurkan energi positif, "Gak ada yang bisa ngelupain orang secantik kamu termasuk semut sekalipun."


Tak lama, Rendra kembali memberi jarak lalu membuka bajunya, Syafa meneguk salivanya saat melihat abs milik Rendra untuk yang kedua kalinya.


"Mau ngapain?" tanya Syafa.


Rendra menatapnya, "Berenang."


Rendra berjalan dan bersiap menyelam.


"Ikut!!!" teriak Syafa, Rendra sudah menyelam lebih dulu, dan Syafa mengikutinya. Perlu kalian ketahui, Syafa ini hobby sekali berenang, sedangkan Rendra jago berolahraga di bidang apapun, termasuk renang.


"Ren, balap balapan yuk! Siapa yang duluan nyampe batu itu, dia yang menang, gimana?"


Rendra menerima tantangan dari Syafa, "Oke, hitungan ke tiga ya! One..." Baru berhitung satu, Syafa sudah lebih dulu berenang, "You said Three!!!" teriak Rendra, lalu dia berenang menyusul Syafa di depannya.


Di dalam air, Rendra mempercepat laju renangnya, saat dia sudah hampir sejajar dengan Syafa, Rendra melingkarkan tangannya di perut ramping gadis itu, Syafa dan Rendra sempat saling tatap hingga keduanya mengambil napas dengan menampakkan diri ke permukaan.


Syafa bersiap mengomel, namun Rendra sudah berenang terlebih dahulu, Syafa tidak jadi mengomel dia langsung kembali berenang, mengejar Rendra. Namun tetap saja tak terkejar, hingga mereka sampai di batu finish, dan sudha pasti, Rendra pemenangnya.


"Rendra curang!"


"Suru siapa curang juga tadi, makannya, jangan curangin orang yang jago curang," kekeh Rendra. Syafa mendengus pelan, lalu menerima kekalahannya.


Mereka melanjutkan berenang dan kembali ke bibir pantai. Dan duduk di temlat duduk yang sudah tersedia di sana lengkap dengan payung pantai.


Rendra menarik Syafa untuk duduk di depannya, Syafa menurut saja. Rendra mengambil handuk lalu mengelap rambut Syafa dengan handuk, sentuhannya sangat halus, dan Syafa bisa merasakan itu, lembut.


"Kamu kayaknya punya bakat jadi waria deh."


"Kalau waria kayak aku, cewe cewe pada sering ke salon."


"Punya alasan buat liat aku soalnya."


"Ih! Pede," kekeh Syafa.


"Sini gantian," kata Syafa. Mereka pun bertukar posisi, Rendra di depan dan Syafa di belakang, Syafa mengambil alih handuk lalu mengelap rambut Rendra.


"Kamu juga punya bakat Sya."


"Bakat jadi tukang salon?"


"Bukan."


"Terus?"


"Jadi istri yang terbaik buat aku."


Sementara itu, lelaki bertumbuh jakung dengan hoodie grey yang digunakannya, sedang berdiri sambil menatap wanita yang sedari tadi ingin dia temui. Ditatapnya dua pucuk amplop surat dengan warna blue dan pink di tangannya, "Gue harus kasih surat ini sekarang," ucapnya meyakinlan dirinya sendiri. Dia pun berjalan pasti ke arah gadis yang sedang tertawa bersama pacarnya.


"Sya," panggilnya.


Gadis itu menoleh, "Zaldi?"


"Mau apa lo?" ketus Rendra.


"Santai, gue cuma mau ngomong lima menit doang, gue cukup sadar diri kali."

__ADS_1


Zaldi menyodorkan surat kepada Syafa, "Buat lo." Syafa mengambil surat tersebut. "Yang warna biru dari gue, yang warna pink dari anaknya tante gue, dokter Ani."


"Gue gak butuh banyak waktu, gue harus ke bandara sekarang. Semoga, habis lo baca ini, lo bisa ngerti dan inget siapa gue, gue pamit, jaga diri lo baik baik."


Tanpa izin, Zaldi memeluk gadis di depannya, Syafa hanya diam saja tidak membalas pelukan Zaldi, pelukan itu terjadi sangat singkat, karena Rendra menatapnya dengan tatapan membara, jadi Zaldi melepas pelukan itu, sebelum Zaldi benar benar pergi, dia mengelus rambut gadis itu sekilas.


"Kita ada di langit yang sama, tapi di waktu yang berbeda. Lo matahari dan gue bulannya. Kalau kangen, tinggal panggil bintang aja. Biar dia yang menyampaikan rasa kangen itu." Zaldi pun pergi meninggalkan mereka berdua.


Syafa terkejut dengan perkataan Zaldi yang mengingatkannya dengan perkataan Alvaro lampau lalu yang juga mengakatan seperti itu sebelum dia pergi meninggalkannya. Cepat cepat dia membuka amplop berwarna biru itu, dan membuka suratnya.


Saat membuka surat, sebuah kertas yang dijepit oleh tiga jepitan terjatuh, Syafa mengambilnya.



Mata Syafa memanas, ini jepitannya yang diberi kepada Alvaro waktu kecil dulu. Buru buru dia membaca surat dari Zaldi.



Syafa menangis membaca surat dari Zaldi yang ternyata adalah Alfa yang selama ini dia cari. Bagaimana bisa? Dia tidak mengenal Alfa padahal Alfa selalu ada ketika dia sedih. Dia tidak peka dengan tanda tanda Zaldi yang selalu tahu tentang dirinya padahal dia tidak memberitahu apapun kepadanya. Dan, dia terlambat, Alfanya sudah kembai terbang ke Amerika.


"Ren... Aku bodoh banget ya?" tanya Syafa sambil sesegukan. "Zaldi itu Alvaro, dan aku gak sadar sama sekali."


Rendra menepatkan kepala Syafa menyadar di dadanya, dia menenangkan gadisnya, "Kamu gak salah."


"Aku salah, aku gak peka sama tanda tanda dia yang nunjukin kalo dia sahabat kecil aku." Tangis Syafa semakin deras, hingga menetes ke amplop warna pink di genggamannya, Syafa baru ingat ada satu surat lagi, dia mengelap air matanya dan membuka amplop itu.



Tangis Syafa semakin pecah saat itu nuga . Rendra mengambil alih surat itu dari tangan Syafa dan membacanya. "Jahat. Jahat. Jahat!" umpat Syafa sambil memukul mukul perutnya. Rendra memegang kedua tangan Syafa, menghentikannya.


"Aku jahat Rendra! Aku jahat!"


"Enggak, Sayang, kamu gak jahat."


"Harusnya aku yang mati bukan sahabat aku sendiri!"


"Harusnya kamu gak cinta sama aku! Harusnya kamu cinta sama dia! Harusnya aku gak cinta sama kamu!"


"Enggak Sya. Enggak. Denger aku, Hey. Denger aku," Rendra menangkup kedua pipi gadisnya, "Ini takdir Sya, Allah nakdirin aku cinta sama kamu dan kamu cinta sama aku. Dan soal kematian, itu semua udah ditulis kan sebelum kita lahir?"


"Tapi aku bodoh banget Ren..." lirih gadis itu, "****. ****. ****!" Syafa kembali memukul mukul kepalanya, Rendra langsung memeluk erat Syafa, memberhentikan tindakan gadis itu.


"Kenapa sih? Semua orang yang aku syaang, selalu ninggalin aku? Oma, Kak Ari, Alfa sama Atika," ucap Syafa dengan sesegukan.


"Kenapa Rendra kenapa?!!!"


"Karena Allah sayang kamu. Mereka semua ninggalin kamu, tapi nanti pasti ada orang baru yang bangkitin kamu lagi."


"Sya... denger aku. Kamu gak salah. Semua kejadian ini udah direncanain Allah, dan ini yang terbaik. Tugas kita cuma satu, jalani kehidupan dan lalukan yang terbaik."


Tangis Syafa pun mulai reda. yang dkkatakan Rendra memang benar adanya.


"Dan, jalani kehidupan bareng aku ya? Aku akan selalu di sini, di samping kamu, menemani kamu."


"Sejahat apapun kehidupan di luar sana, kalau kita lakuin sama sama, semua bisa kita taklukin, percaya sama aku."


Syafa melepas pelukannya. Dia menatap Rendra lama. "Janji bakal terus bareng bareng? Janji gak akan ninggalin aku?"

__ADS_1


"Janji." Tangan mereka berikatan, bersamaaan dengan matahari yang terbenam. Langit sore itu berubah menjadi orange kemerahan. Dan sore itu, mereka berdua kembali menikmati senja yang mereka nanti nanti. Menimmati senja dengan orang yang spesial, adalah paket lengkap bahagia untuk menyambut malam malam lemuh bintang.


-THE END-


__ADS_2