
Ada yang perlu kamu tahu :
Janjimu menggantung di aksara. Sedangkan lukaku mengalungi dunia. Kutitipkan rindu yang menggebu pada angin sepoi yang berlalu.
Complicated Bubble
"Dengan lo, gue temukan cahaya di ujung hari," ucap Rendra sembari mengacak-acak rambut Syafa.
Sial, tubuh Syafa menengang, degupan jantung mulai tak karuan, pipinya mulai memanas, memancarkan semburat merah, membuat Rendra yang melihatnya terkekeh.
"Gausah ketawa!" ujar Syafa ketika melihat Rendra menertawainya.
"Kenapa?"
"Ga suka!"
"Terus sukanya apa?"
"MINION!"
"Pantas, lo kecil kek minion."
"Gatemen!"
"Emang ga temen," ucapan Rendra membuat Syafa mengerucutkan bibirnya kesal membuat Rendra gemas sendiri.
"Lo bidadari gue bukan teman gue."
"Cepat sembuh."
TUH KAN! Tadi bikin kesel, sekarang bikin terbang, awas aja kalau setelah ini dijatuhkan!
Setelah mengatakan hal itu, Rendra keluar dari ruangan. Benarkan! Baru juga diterbangin udah dijatuhin. Syafa yang malang ditinggal sendiri. Sendiri. Sendiri. Sekali lagi, sendiri.
"Astagfirullah insap sih gue suka sama tuh cowo."
"Seenak jidat kek bunglon beruba-ubah."
"Kadang manis, manis banget."
"Kadang cuek, cuek banget."
"Itu manusia atau protista!"
"Untung sayang."
"Sayang dia udah jadian sama sahabat lo Sya."
"Apalah daya hayati."
"Udah?" suara bass itu mengagetkan Syafa yang sedang berdialog dengan dirinya sendiri. Rendra dengar? ******! batin Syafa.
"Udah."
"Makan," Rendra menyodorkan semangkuk bubur ayam kepada Syafa.
"Ambil," perintah Rendra kepada Syafa yang hanya melihat mangkuk berisi bubur itu tanpa mengambilnya.
"Mau disuapin?"
"Sorry, masih punya tangan," akhirnya Syafa mengambil mangkuk itu dan memakannya dengan perasaan kesal.
'Jadi cowo romantis dikit kek.'
'Paksa disuapin kek apa kek.'
'Syafa kesel sama Rendra Ya Allah!' batin Syafa menggerunak.
"Uhuk...uhuk..uhuk...," Syafa tersedak, Rendra spontan mengambil air minum di meja. Tangannya menyodorkan gelas tepat di depan Syafa.
Syafa tak ambil pusing, ia langsung memegang tangan Rendra yang menyodorkan gelas, lalu meminumnya.
Setelah ia menyadari tangannya memegang tangan Rendra, ia menjauhkan gelas dari bibirnya lalu menatap Rendra. ******! Ternyata sedari tadi Rendra menatapnya!
Mereka saling menatap, tenggelam dalam tatapan dalam yang mereka lemparkan.
"Cantik," puji Rendra memecah keheningan.
Mendengar perkataan Rendra, Syafa tak sengaja menyiram wajah Rendra dengan air minum.
"Sorry sorry gak sengaja sumpah!" Syafa membersihkan air di wajah Rendra dengan tangannya.
__ADS_1
"Sorry Ren, jangan marah."
"Kalau marah gimana?" suara itu kembali dingin, membuat Syafa meringis kecil, tangan Syafa yang sedang mengusap wajah Rendra perlahan berhenti. Ia menunduk.
"Maaf," ucapnya, bersamaan dengan sebuah tangan memegang tangannya yang berada di wajah Rendra.
Syafa mendongakkan kepalanya, yang pertama kali ia lihat adalah senyum Rendra yang sangat manis.
"Gak marah kok, tenang aja."
"Bener?"
"Iya."
"Yaudah lepas."
"Apa yang dilepas?"
"Tangan."
"Kalau gak mau gimana?"
"Mau gak mau harus mau!"
"Yaudah,"
"Apa?"
"Lo harus mau gue peluk sekarang, mau gak mau."
Belum sempat Syafa menjawab perkataan Rendra, Rendra memeluknya sangat erat. Syafa merasakan Rendra mengusap rambutnya.
"Balas pelukan gue."
"Iya," tangan Syafa tertarik membalas pelukan Rendra.
"Gue kangen lo," bisik Rendra membuat bulu kuduk Syafa berdiri.
"Miss u Syafa Sabila,"
"RENDRA SYAFA!" teriakan bariton membuat Rendra melepaskam pelukannya. Ia berdecak kesal. Ganggu aja!
"Ups, kita ganggu putri ikan sama kurcaci."
"Huaaa mata gue udah gak suci! Awas gue mau ke kamar mandi, mau mandi besar khususan mata gue yang tercemar karena tuan putri ikan dan kurcacinya!" heboh Faiq berlari menuju kamar mandi.
Baru sedetik Faiq memasuki kamar mandi ia kembali berlari ke tempat semula sambil berteriak "RUMAH SAKIT NYA BELUM BAYAR LISTRIK YA? GAK ADA AIR!"
"DIEM CURUT!" teriak Fiza kesal.
"LO JUGA DIEM SENDAL JENNER!"
"KAMPRET LO SERING NYOLONG SENDAL SWALLAW GUE UDAH 5 KALI!"
"SENDAL LO JELEK INI KEK ORANGNYA!"
"HE SEMENA MENA ENTE! SWALLAW JUGA MAHAL 12 RIBU. UDAH 5 KALI. 12 KALI 5 SAMA DENGAN 60 RIBU FAEQ GEBLEK BISA BUAT BELI MUKBANG NASI GORENG RIA RICIS!"
"BERISIK GANGGU ROMEO DAN JULIET!" ucap Wahyu dan Naira serempak membekap mulut Faiq dan Fiza.
"Dosa apa gue punya temen kek kalian."
"Besok-besok Syafa insap ya Allah."
"Cabut yuk Sya, di sini banyak orang gila."
Akhirnya, Rendra dan Syafa pun pergi meninggalkan orang gila yang sedang berkeliaran karena telah kabur dari RSJ!
"Bagus bunganya," ucap Rendra ketika mereka sudah sampai di taman.
"Iya, cantik banget!"
"Tapi bunganya kalah cantik sama lo," ucapan Rendra menarik kepala Syafa 90 derajat ke arahnya.
Mata Syafa berbinar, ia melihat boneka anjing anggora putih di tangan Rendra.
"Buat Gue?" tanya Syafa.
"Bukan," jawaban Rendra itu membuat wajah Syafa merah padam, antara malu karena kepedeannya dan juga pernyataan Rendra yang membuat dirinya merasa jatuh sejatuh jatuhnya!
"Buat lo," ucapan Rendra kali ini tidak dingin, tapi panas, ralat hangat di telinga Syafa, terlihat senyum ketulusan di wajah Rendra yang sshh, sangat tampan.
__ADS_1
"Serius?" mata Syafa kembali berbinar, Rendra mengangguk, dengan spontan ia menggambil boneka itu dan memeluk Rendra sekilas. Syafa tak bisa menahan bibirnya untuk tidak tersenyum. Mulai detik ini dia akan menyukai boneka anjing putih!
"Makasih!" Rendra terkekeh geli melihat reaksi Syafa yang senang seperti itu, tangannya terangkat untuk membenarkan rambut-rambut kecil yang menutupi wajah cantik Syafa yang sedang tersenyum.
"Senyum lo kayak mentari, menghangatkan hati gue,"
"Jangan hilangkan senyum itu dari wajah lo, nanti gue rindu."
"Apasih geli tau!"
"Hahaha, sini gue gelitikin biar tambah geli."
"Coba aja, gak bakal bisa!" Syafa menjurkan lidahnya kemudian berlari, disusul oleh Rendra yang mengejar Syafa. Mereka saling tertawa dan berkejar-kejaran memutari taman. Bagaimana dengan infusannya? Sudah dilepas dan diperbolehkan oleh dokter, awalnya, sih, dilarang, namun Syafa memaksa dan keukeh untuk tidak memakai infusan.
Namun tawa itu tiba-tiba terhenti, ketika Syafa berhenti berlari. Ia membungkukan badannya, tangannya memegang perutnya. Rendra bisa melihat jelas wajah Syafa yang memucat.
"Lo kenapa?" terdengar nada khawatir di sana.
"Gak papa, cuma sakit perut biasa kok, paling diare," setelah mengucapkan itu, Syafa kembali berlari.
"Ayok kejar gue lagi!"
***
Aku, gadis yang setiap detik merindukan pria penoreh luka.
Complicated Bubble
"Raina," panggil Syafa ketika Rendra pulang.
"Apa?"
"Mamah gak tau kan gue di rumah sakit?" tanya Syafa.
"Iya gak tau, sesuai permintaan lo, tapi emak lo nanyain lo ke gue."
"Apa katanya?"
"Ya nanya lo di mana, gue jawab aja kita lagi camping bareng di bukit, pinter kan gue?"
"Bagus, makasih Raina pinter."
"Lo kenapa sih gak mau ngasih tau keluarga lo?"
"Gue gak mau mereka khawatir terus ngelarang gue ini itu, ga mau dan ga banget."
"Rendra kesini lo pulang."
"Kata siapa?"
"Rendra."
"Sip sip oke."
Tiba-tiba rasa sakit menyerang perut Syafa lagi, membuat Syafa meringis sambil memegangi perutnya.
"Lu kenapa?"
"Mencret, gue ke kamar mandi dulu ya."
"*****! Kirain apaan!"
"Gausah panik, segitu sayangnya lo sama gue?"
"Bating! Udah sana boker!"
"Santai Bang gausah ngegas!"
***
Kamu tahu apa yang sedang aku lakukan malam ini? Menunggu kabar darimu.
Complicated Bubble
Setelah mengantarkan Syafa pulang dengan selamat, Raina dan Rendra izin pulang kepada orang tua Syafa.
Lagi lagi perutnya itu sakit, kini Syafa sedang sendiri di kamar, ia memegangi perutnya yang sakit. Ini bukan sakit diare sama sekali bukan!
Syafa meringis pelan, Nafasnya sesak, dengan sekuat tenaga, ia berjalan menuju brankas dan mengambil gelas disana lalu meminumnya.
Setelah itu, Syafa berbaring di kasur, ia meremas remas perutnya, dan sesekali menepuk-nepuk dadanya yang sesak. Sakit perutnya kali ini lebih sakit dari sebelumnya, ia pun kewalahan untuk bernafas.
__ADS_1
Pandangannya yang buram kemudian menjadi gelap.