
"Bisa gak sih gak bikin aku khawatir. Aku khawatir kamu berubah. Aku khawatir kamu pergi."
Complicated Bubble
Waktu sudah memasuki jam pulang, Raina, Syafa, Gary dan Rafa sedang berada di kantin, hanya sekadar untuk memanjakan perut, karena Gary dan Rafa ada acara Ambalan, dan kebetulan hari ini Raina dan Naira ingin melakukam kerja kelompok, bagitu juga Syafa dan Fiza.
Di meja no 11, Gary dan Rafa sedang memakan nasi ayam suwir milik Syafa yang entah dari siapa. Raina sedang memakan soto kesukaannya. Sedangkan Syafa tertawa melihat betapa rakusnya gary dan Rafa. Dimana Naira dan Fiza? Mereka berdua sedang piket perpustakaan.
"Sya," panggil Raina pada Syafa yang asik mengabadikan moment kocak Gary dan Rafa.
"Apa?" sahut Syafa, tanpa menoleh sedikitpun. Melihat itu, Raina langsung mengambil handphone Syafa. Sedetik kemudian, pemilik handphone mengerucutkan bibirnya.
"Raina apaan sih! Balikin!" protes Syafa
"Gak bakal gua balikin, sebelum lo makan."
"Masih kenyang tau."
"Syafa belum makan Rai?" tanya Gary.
"Belum daritadi pagi, marahin Ga!" Gary langsung menajamkan matanya ke arah Syafa, Syafa yang ditatap seperti itu langsung cengat cengir watados.
"Biasa aja kali mukanya," ucap Syafa.
"Makan Sya!" pinta Gary.
"Gak mau, masih kenyang!"
"Kenyang makan apa lo?"
"Makan meja."
"Gue serius dodol."
"Makan gak!" pinta Gary lagi.
"Gue gak mau ya liat lo sakit."
"Ciee Gary perhatian banget si, gemay dede," sahut Rafa.
"Jijik *****!"
"Aku jijik sama mas!"
"Bodoamat asw."
"Mas gak boleh ngomong kasar, KDRT namanya."
"Diem kampret!"
"Galak amat Mas!"
"Bodo," kata Gary, lalu detik kemudian kembali menatap Syafa dingin. Syafa yang ditatap seperti itu, langsung berdiri dan berjalan menuju kedai kari ayam, setelah itu ia duduk kembali ke tempatnya.
"Gak usah natap kek gitu, serem! Gue udah mesen kari ayam," ucapnya pada Gary.
"Nah gitu dong."
"Hm."
"Gue sama Rafa mau ke ruang Ambalan dulu ya."
"Iya hati hati ya," ucap Raina.
"Hahahaha," tiba tiba terdengar suara tawa dari mulut Raina.
"Muka lo kocak banget Sya, gak boong!"
Ya, air wajah Syafa benar benar memerah ketakutan, bagaimana tidak? Tatapan Gary itu sangat tajam, ketos sangar. Tapi jangan salah, Gary kalau udah bercanda lucu kok (:
"Terus aja ketawa," sebal Syafa.
__ADS_1
"Gak lucu Raina, ish!"
"Aduh muka lo gakuna *****!"
"Gara-gara lo sih!"
"Suruh siapa gak mau makan."
"Ck, gue mulu."
"Emang lo."
"Balikin handphone tercintah gue!"
"Bajak ah!"
"Coba aja buka, kalau bisa," Raina membuka handphone Syafa, Sial pakai kode, batin Raina. Berkali kali Raina mencoba membuka kode handphone Syafa, tetapi tetap tak bisa.
"Pake kode kode amat, sih, Sya!"
"Bodoamat!"
"Apa kodenya?"
"Rahasia lah!"
Pembicaraan mereka terhenti, ketika seorang gadis remaja kelas 10, berjalan menuju meja mereka sambil membawa kari ayam.
"Ini Kak pesanannya."
"Oh iya, makasih ya," ucap Syafa sambil tersenyum kepada gadis itu.
"Kok lu yang ngasih?" curiga Raina
"Tadi ibu ibu kari ayam yang nyuruh saya Kak," setelah mengatakan hal tersebut, gadis itu pun pergi.
"Makan Sya," sahut Raina.
'Makan sampai habis Sya, rasakan sensasi racun di dalamnya, hahaha,' batin seseorang yang sedang tersenyum kemenangan dari jauh.
"Katanya kenyang, tapi cepet banget makannya," ucap Raina tertawa, Syafa tak begitu mendengar perkataan Raina. Kepalanya sangat pusing saat ini. Bayangan didepannya seperti berputar dan kabur.
"Sya!" ucap Raina sambil menguncangkan bahu Syafa.
"Are you okay?"
"I'm okay Rai," ucap Syafa.
"Raina! Syafa!" Teriak Fiza dan Naira bersamaan.
"Raina kuy ke rumah gue," ucap Naira.
"Kuy Nai, duluan yak Sya, Ja!"
"Iya, hati hati!" ucap Syafa. Raina dan Naira pergi meninggalkan mereka berdua di kantin. Syafa mengajak Fiza untuk segera ke cafe untuk melakukan kerja kelompok. Namun, Fiza berkata ingin membuang air terlebih dahulu, dan menyuruh Syafa lebih dulu pergi ke parkiran.
Syafa berjalan seorang diri menuju parkiran, ia berjalan sambil memegangi kepalanya yang sangat pusing itu.
Sekolah bagian depan sangat sepi, dikarenakan sudah 30 menit bel pulang berbunyi, dan siswi yag eskul berada di halaman belakang sekolah.
Setibanya Syafa di parkiran, ia memilih untuk duduk di kursi. Namun, belum sampai semenit ia duduk, ia kembali berdiri ketika melihat gerombolan lelaki mengelilinya. Ia tak begitu bisa mendengar dengan jelas apa yang mereka ucapkan begitu pula wajah mereka.
Syafa yang panik ketika lelaki itu memegang tangannya dengan kasar, langsung mencoba untuk lari ke luar sekolah dan lari ke sembarang arah.
***
Waktu terasa begitu cepat berlari. Sepertinya, aku tidak sempat menghitung seberapa cepat waktu berlari. Karena setiap hari aku sibuk menghitung rindu.
Complicated Bubble
Di ruang ambalan, sedang ada rapat bulanan. Ketua Ambalan, Wahyu Pramudinata sedari tadi memerhatikan gerak gerik sahabatnya, Rendra yang tak karuan.
__ADS_1
"Lo kenapa Ren?"
"Perasaan gue gak enak."
"Coba telpon Bunda," perintah Wahyu.
"Udah, bunda sehat sehat aja."
"Mending lo pulang aja deh."
"Rapatnya?"
"Gapapa, pulang aja."
"Duluan bro, thanks," akhirnya, Rendra berjalan menuju parkiran. Disana terlihat gadis yang sedang mundar-mandir layaknya orang cemas.
"Kak," ujar gadis itu padanya. Rendra hanya mengangkat satu alisnya sebagai tanda "apa?"
"Kakak liat Syafa gak?"
"Syafa?"
"Iya, liat gak kak?"
"Kenapa,"
"Ha?" tanya gadis yang bername tag Fiza yang kebingungan dengan bahasa Rendra yanh ambingu antara pernyataan dna pertanyaan.
"Syafa kenapa?"
"Syafa hilang kak, saya nyuruh dia nunggu di parkiran, lalu ketika saya ke parkiran, hanya tasnya saja yang ada di parkiran," Rendra yang mendengar penuturan gadis di hadapannya ini langsung berlari ke dalam sekolah, dan mengunjugi semua ruangan guna mencari Syafa.
Nihil. Syafa tidak berada di sekolah, padahal Rendra sudah mencari Syafa di seluruh penjuru sekolah tanpa terkecuali.
Hari sudah malam ditambah hujan yang menyertai keadaan, Rendra menjadi semakin panik, lalu ia berlari menuju luar sekolah.
"Lo di mana Sya?" lirih Rendra. Kaki Rendra berlari ke sembarang arah mengikuti hatinya.
***
"Hujan hari ini berbeda dengan hujan kemarin. Gak ada kenangan indah yang terukir oleh rintiknya. Karena si pengukir rintik telah pergi ke angkasa. Si pengukir rintik itu, kamu,"
Complicated Bubble
"Papa, tolong Syafa, Syafa takut," ucap gadis yang sedang berada di pinggir jalan yang sepi , tak ada seorang pun yang berlalu lalang di sana. Ditambah disekelilig jalan itu dipenuhi dengan pepohonan yang rindang.
Karena kepalanya semakin berat, akhirnya ia memutuskan untuk duduk di bawah pohon rindang. Dinginnya malam dan hujan yang tercampur, membuat tubuhnya menggigil. Hujan kali ini tak seindah hujan kala itu.
Di sisi lain, Rendra yang ditemani oleh raut wajah yang memancarkan kehawatiran yang tersirat, berlari membelah derasnya hujan. Mata elangnya terfokus pada seorang gadis yang sedang duduk sendirian di bawah pohon. Alis tebalnya mengerut sekilas lalu ia segera berlari ke arah gadis itu. Gadis itu, Syafa Sabila Amaradinka.
"Rendra?" ucap Syafa, bibir pucatnya tersenyum ke arah Rendra yang kini berada di depannya.
Rendra mengabaikan ucapan Syafa, ia justru memeluk gadis itu dengan erat. Entahlah itu pelukan kerinduan, kehawatiran atau kemodusan.
"Gak papa?" tanya Rendra dalam pelukan itu.
"Apa?"
"Lo gak papa?
"Gak papa."
"Gue khawatir," setelah mengucapkan kalimat itu, Rendra melepaskan pelukannya lalu menangkup wajah Syafa.
"Lo bisa gak sih gak bikin gue khawatir?" tanya Rendra, sedangkan Syafa hanya tersenyum, pandangannya buram.
"Pulang sama gue. Udah malam, hujan, nanti lo sakit," setelah itu Rendra memegang tangan Syafa dan mengajak Syafa berdiri. Ketika berdiri, pandangan Syafa seakan berputar hebat, kepalanya terasa begitu berat.
"Sya, lo kenapa!?" tanya Rendra cemas, ah sangat cemas. Bagaimana tidak? Keadaan gadisnya kini bermuka pucat.
Belum sempat menjawab pertanyaan Rendra. Pandangan yang semula berputar kini menghitam.
__ADS_1