Complicated Bubble

Complicated Bubble
41. Aku Cinta Kamu


__ADS_3

Cintaku mengikhlaskan, merelakan, menyatukan. Maksudku bukan menyatukan cintaku dengan dia. Tetapi, menyatukan dia dengan orang yang dia cintai."


Complicated Bubble


"Syaa!" teriak Raina. Syafa berlari menuju Raina dan langsung memeluknya. Di sana sudah ada Raina, Faiq, Rara--bunda Rendra dan Rian--ayah Rendra.


"Lo gak papa?" tanya Raina.


"Gue gak papa, tapi Rendra Rai..." jawab Syafa.


"Udah jangan nangis, kalo Rendra nangis karena dia, dia bakan benci dirinya sendiri," kata Raina.


"Salahin mata gue yang gak bisa berhenti nangis," sesegukan Syafa.


"Huft. Yaudah, cerita sama gue, kenapa Rendra bisa masuk rumah sakit?"


"Tadi pas pulang sekolah."


"Gue janjian pulang bareng sama dia."


"Tapi di parkiran dia gak ada Rai."


"Terus gue nelpon dia."


"Gak diangkat."


"Gue lacak handphonenya."


"Ada di jalan Hiu."


"Gue ke sana."


"Dan Rendra barantem sama 7 orang Rai," cerita Syafa sembari sesegukan.


"Gue telpon polisi."


"Selesai itu, gue liat dia hampir dibunuh pake pistol, gue samperin dia, gue dorong."


"Kita jatuh ke aspal, tapi bodohnya gue ga ngelindungin kepala dia pake tangan gue, sedangkan dia lindungin kepala gue pake tangannya."


"Kepala Rendra kena trotoar terus berdarah." Syafa terus bercerita, ia sesegukan dan justru tambah menangis tersedu-sedu. Membuat Raina tidak kuat mendengarnya.


"Udah udah, gak usah di terusin."


"Rai... gue takut Rendra kenapa-kenapa."


"Dia akan baik-baik aja Sya. Udah jangan nangis. Malu sama mertua ellah."


Syafa melepas pelukannya. Ia mulai mengontrol tangisannya. Ia baru sadar, ada orang tua Rendra di sini.


Syafa tersenyum meskipun ia masih sesegukan.


"Tante, om," sapa Syafa, ia menyalimi kedua orang tua Rendra.


"Sama gue gak salim?" goda Faiq.


"Mana mau dia sama lo. Dia mau salimnya sama calon imamnya si Rendra lah, lo mah buluk," timpal Faiq


"***** lo!" kesal Raina.


"Kak Faiq gak boleh kasar sama cewek!" sahut Syafa


"Iye iye Sya iye."


Syafa melirik Faiq dengan malas.


"Syafa ya?" tanya Rara.


"Eh, iya Tante."


"Oalah, ini yang namanya Syafa. Cantik."


"Makasih Tante, tante jauh lebih cantik."


"Hahaha, bisa aja kamu."


"Hehe tapi fakta kok Tante, wajar punya anak ganteng banget, ups~"


"Hahaha ganteng dong, kan ayahnya ganteng,"


"Hahaha bisa aja Bunda," sahut Rian.


"Hahaha."


"Tante boleh peluk kamu?"


"Boleh Tante," jawab Syafa, Rara langaung memeluk Syafa dengan lembut. Ah sangat nyaman.


"Tante maafin Syafa ya."


"Untuk apa Sayang?"


"Ga bisa jaga Rendra."


"Eh, Rendra itu cowo, harusnya Rendra yang jagain kamu cantik."


"Tapi Tante..."


"Ssst udah, jangan salahin diri kamu sendiri. Ini udah takdir, lagi juga biarin Rendra sekali-kali tidur di rumah sakit, biar pernah."


"Tante gak marah?"


"Enggak. Justru tante berterimakasih sama kamu."


"Untuk apa Tante?"


"Karena kamu, udah lindungin Rendra dari maut, tadi pas kamu cerita tante dengar."


"Yah... malu deh nangis depan Tante."


"Hahaha ngapain malu. Kan tante jadi tahu, kalau kamu itu cinta banget sama Rendra."

__ADS_1


"Iya Tante."


"Waduh Ayah dikacangin," kata Rian.


"Haha urusan cewek, Ayah gak boleh ikut campur," balas Rara.


"Urusan cewek kok ngomongin Rendra. Rendra kan cowo," timpal Rian.


"Hahaha iya deh sini Ayah ikutan," ujar Rara.


"Raina juga ikutan dong Tante,"


"Faiq juga!"


"Yeeeeee sapa lo ikut-ikut!" pekik Raina.


"Gue? Cowok terganteng lah!"


"Najis!"


"Najis-najis. Kayak lo cantik aja!"


"Cantik lah gue mah!"


"Yang cantik tuh bando lo!" Faiq mengambil bando Raina.


"Eh balikin!"


"Males."


"Balikin Faiq!"


"Kaga!" Faiq berlari disusul oleh Raina. Sedangkan Rara, Rian dan Syafa tercengang melihatnya.


"Hahahaha." tiba-tiba saja Rian tertawa.


"Kenapa Yah?" tanya Rara


"Anak muda zaman now."


"Gile.. gak anak gak bapak sama sama receh." batin Syafa.


Tiba tiba saja dokter keluar. Membuat Rian dan Rara serta Syafa menoleh dan langsung mendekat.


"Gimana kondisi anak saya Dok?" tanya Rara, di situlah Rara menampakkan kecemasannya. Ya, Rara itu tipe yang seolah tak mengkhatirkan tapi sangat mengkhawatirkan anaknya.


"Pasien sudah siuman, ia cedera cukup parah karena pukulan dan benturan, sehingga butuh pemulihan selama dua hari."


"Syukurlah." Kompak mereka bertiga.


"Pasien juga sudah bisa dijenguk. Saya duluan."


"Terima kasih Dok."


Mereka bertiga pun memasuki ruangan. Terlihat Rendra yang tengah tersenyum simpul ke arah mereka.


"Kamu gak papa Dek?" tanya Rian.


"Hahaha."


"Belajar gombal dari mana kamu Dek? Hahaha," tanya Rara.


"Dari Bunda."


"Eh."


"Bunda kan yang sering gombalin Adek kalau disuruh gak mau."


"Hahahaha."


"Hahaha liat tuh Syafa jadi ketawa," sahut Ayah.


"Manis ya Yah?"


"Iya."


"Ayah gak boleh naksir. Inget Bunda."


"Selalu, kan hati ayah udah di culik sama Bunda, iya kan Bun?"


"Hahaha dasar cowok cowok genit," ledek Rara.


"Genit sama mahramnya mah gak papa Bun."


"Emang Syafa istri kamu?"


"In syaa Allah Bun, liat aja nanti."


"Hahaha udah udah Dek, liat tuh Syafa udah merah semua," tawa Rian.


"Gak papa Yah, biar tambah lucu, gemesin!" Rendra mencubit pipi Syafa dengan kasih sayang.


"Apasi Ren, lagi sakit masih aja gitu," kesal Syafa.


"Gitu gimana?"


"Ya gitu."


"Lihat Bun, Yah, Syafa suka bikin aku gemes, gimana aku gak makin cinta coba?"


"Hahaha."


"Ih apa si. Mending kamu makan deh biar gak ngoceh mulu," kata Syafa.


"Suapin."


"Sama bunda?" tanya Syafa.


"Sama kamu."


"Hah?"

__ADS_1


"Kalo sama Bunda, nanti ada yang cemburu," jawab Rendra sembari menaik turunkan alisnya ke arah Rian.


"Dasar Adek, kita makan berdua aja yuk Bun di kantin, biar gak kalah sama si Adek."


"Siap Yah! Bunda sama ayah mau pacaran dulu ya Dek."


"Iya Bun, bawain oleh-oleh bayi buat Adek," pesan Rendra.


"Udah pensiun."


"Hahahaha."


Rian dan Rara pun pergi. Membuat Syafa dan Rendra berdua di sini.


"Ayo suapin."


"Iya," Syafa menyuapi Rendra bubur rumah sakit. Rendra yang awalnya tersenyum manis kini tersenyum kecut.


Rendra menunjuk baskom di atas nakas. Syafa mengerut bingung. Rendra menunjuk mulutnya dan baskom hingga Syafa sadar jika Rendra ingin memuntahkan bubur itu.


Syafa mengambil baskol itu dan Rendra memuntahkan isi mulutnya.


"Kok dimuntahin si?"


"Gak enak. Gausah makan ah Sya."


"Gak boleh. Harus makan!"


"Tapi Sya..."


"Makan Rendra."


Rendra rela tidak rela menerima suapan dan menelan bubun tak berasa itu.


"Udah ah."


"Eits harus makan!"


"Gak enak tau Sya."


"Enak Rendra, pola pikir kamu aja yang bilang gak enak."


"Yaudah iya aku makan lagi."


"Nah gitu dong," Syafa tersenyum lalu kembsli menyuapi Rendra.


Rendra tersenyum melihat Syafa tersenyum. "Enak kan?"


"Enak, kan liat kamu."


"Apasi jiji tau!"


"Hahaha tapi senang kan?"


"Dih. Kata siapa?"


"Kata hati kamu."


"Hahaha emang kedengeran?"


"Iya lah aku punya alat buat dengar hati kamu."


"Ngaco dih!"


"Hahaha berarti benar dong."


"Apa?"


"Kamu senang."


"Sok tau!"


"Tadi kamu bilang sendiri."


"Bilang apa?"


"Bilang 'hahaha emang kedengeran?' Berarti kamu senang beneran."


"Iyaaa aku senang."


"Tanya coba, aku senang tau gak."


"Abisin dulu makannya."


"Iya deh," pasrah Rendra. Syafa kembali menyuapi Rendra hingga suapan terakhir lalu minum. Setelah itu Rendra menagih janjinya.


"Cepat bilang."


"Kamu senang?"


"Enggak."


"Bodo Ren Bodo!"


"Enggak tahu kenapa gemes liat kamu ngambek! Hahaha." Rendra dengna usilnya mencubit hidung Syafa hingga merah.


"Ih kamu mah!" Syafa balas dengan menjewer kuping Rendra.


"Hahaha. Telinga kamu kayak gajah!"


"Hidung kamu kayak badut ancol!"


"Heh!"


"Hahahaha."


"Males ah!"


"Aku cinta kamu."


"Eh?!"

__ADS_1


__ADS_2