Complicated Bubble

Complicated Bubble
8. Terhipnotis


__ADS_3

"Sedia payung sebelum hujan, kamu baperin saya tanpa ada kepastian."


Complicated Bubble


"Sya, Tik, tungguin gua piket, ya, please. Yang lain udah pada kabur, masa gua berdua doang sama Fiza," ucap Raina, memelas .


"Okay, tapi nanti gua ke rumah lo ya, bosan kalau pulang ke rumah, gak ada siapa-siapa."


"Baik deh, Syafa. Eh kalau lu, Tik?"


"Gua ada janji."


"Tumben? Sama siapa, Tik?" Tanya Raina


"Naira."


"Lah tumben? Acara apa?" Tanya Syafa


"Ck, bukan urusan lo," ucap Atika sinis, setelah itu pergi meninggalkan ruangan kelas 11 IPA 3.


"Dia kenapa sih, Sya?"


"Nanti aja di rumah lu, gua ceritain, Rai."


"Iya iya."


Raina dan Fiza pun menjalankan tugasnya, piket, sementara Syafa memainkan ponselnya, memanfaatkan wi-fi sekolah, hemat, katanya.


"Sya!" Panggil Fiza


"Wet."


"Tolong pinjamkan pel-an di kelas sebelah, dong! Sekalian sama embernya, ya!"


"Kenapa lo gak ambil sendiri aja, sih,"


"Gua lagi nyapu, Sya."


"Yaudah kalau gitu, kenapa gak Raina aja? Gua kan gak piket."


"Ih, lo gak liat apa, gua lagi ngangkatin bangku sama bersihin sampah-sampah di kolong, banyak banget, gila!" Celetuk Raina.


"Yeuh, b aja kali, Rai. Yaudah, karena hati gua seperti bidadari, gua ambilin, deh. Gua ngambil pel-an dulu ya, jangan kangen lho!"


"GE-ER HAHAHA"


a***


"Cinta boleh, asal jangan berlebihan. Takut gak sesuai harapan


Nanti sakitnya terlalu dalam."


Complicated Bubble


"SYAFA!"


Saat Syafa hendak melangkah kan kakinya menuju kelas 11 IPA 4, ada seseorang yang meneriaki namanya, Syafa pun memberhentikan langkahnya seraya menoleh ke sumber suara.


"Kiyya? Ada apa?"


"Lo lagi ngapain?"


"Nyari Pel-an, Ki."


"Pel-an banyak kok, di gudang, baru-baru lagi."


"Oh ya?"


"Iya, yaudah gua mau ke ruang eskul menjahit dulu, ya."


"Oke, thanks Ki."


***


"Nyaman itu tercipta ketika saya sedang bersamamu, jika tidak bersamamu,


saya merasa sesuatu yang kurang di hidup saya. Jadi tetaplah disini, jangan sekedar singgah."


Complicated Bubble


"Masuk gak ya? Gua kan parno-an sama hantu. Gudang, kan, gelap, kalau ada hantu gimana ya?" ucap Syafa, saat berada di depan pintu gudang sekolah.

__ADS_1


"Masuk aja, lah, bidadari pasti dijaga sama Allah."


Ketika Syafa membuka pintu gudang dan hendak masuk ke dalam gudang, ada sebuah tangan kekar melingkar pada tubuhnya, serta dagu yang menindihi bahu sebelah kanannya. Dua kata, hangat dan nyaman.


Setelah itu ada suara beda jatuh yang silih berganti, disertai bau amis.


'Siapa coba ini? Kalau kuntilanak gimana? Huaa Mama tolongin anakmu yang cantik ini! Itu suara apaan coba? Kek ada bau amis-amisnya. Eh, kok ada payung sih?' batin Syafa bermonolog, sambil melihat pegangan payung yang ada di sisi kanannya.


Syafa memberanikan dirinya, menengok ke arah kiri untuk melihat siapa yang memeluk Syafa dari belakang dengan dagu yang berada di bahu kanannya.


'Rendra?' Batin Syafa, setelah melihat Rendra yang sedang memejamkan matanya.


Syafa berdiri tegap, tangan rendra kiri Rendra megang payung, tangan kanan Rendra meluk tubuh Syafa, dagu Rendra menempel di bahu kanan Syafa.


'Kalau dilihat-lihat, ganteng juga nih, cowo. Eh sadar, Sya! Cowo laknat mana ada yang ganteng,' batin Syafa.


"Ren," panggil Syafa


Merasa dipanggil, Rendra pun membuka matanya dan menengok kearah Syafa. Hingga jarak mereka dekat, sangat dekat.


"Lo cantik."


"Kamu kalau blushing, lucu," ucap Rendra yang melihat pipi chubby Syafa memerah.


"Lepas Ren, gak boleh peluk-peluk."


"Kalau gua lepas, nanti salah satu dari kita kena telur sama tepung, Sya."


"Telur sama tepung?"


"Iya, lumo tuli ya? Dari tadi kan bunyi telur yang pecah di payung gue  kedengeran."


"Jadi itu suara telur?"


"Iya, coba liat lantai,"


Syafa melihat lantai di depannya, benar-benar menjijikan, telur pecah dan tepung berserakan dilantai.


"Kok gua baru nyadar ya?"


"Lu terkagum-kagum kali liat muka gua yang ganteng ini dari deket, plus di peluk lagi."


"Oh ya? Tapi gua ganteng kan?" bisik Rendra tepat di kuping Syafa membuat Syafa merinding.


"Hmm, Ren, udah peluknya, udah gak ada suara telur lagi, takut dilihat guru,"


Renda pun melepaskan pelukan, menaruh payungnya.


"Lo mau ngapain disini?" Tanya Rendra


"Nyari pel-an. Lah lu ngapain kesini?"


"Gak sengaja lewat, terus lihat ember di atas pintu gudang, tadinya gue mau pergi, tapi saat gua liat lu jalan ke arah gudang, gua ambil payung di tas gue, terus langsung lari dan meluk lo, biar lo gak basah kena air yang ada di ember, karena gua fikir embernya berisi air. Eh, taunya bukan air, melainkan telur dan tepung, payung gua jadi kotor, deh! Ganti rugi!"


"Gak ikhlas banget sih, nolongnya,"


"Daripada gak gue tolongin, pasti lo udah kotor sekarang, bilang makasih kek udah gue tolongin, marah-marah mulu,"


"Yasudah, makasih."


"Jangan bilang makasih doang, tapi ingat, harus ganti rugi."


"Berapa sih, harganya?"


"Bukan pakai uang, tetapi lo harus lakuin satu permintaan gue."


"Ck, yaudah iya, apa?"


"Tumben nurut."


"Gue gak mau lama-lama deket sama lo, jadi gue iya-in aja biar cepat."


"Tetapi sayangnya, mulai besok dan sebulan kedepan, setiap pagi, lo harus bawain gue susu kotak full cream dan sari roti isi keju, nanti gue kasih uangnya setiap pulang sekolah buat beli susu sama rotinya."


"Kalau gue gak mau gimana?"


"Ditambah jadi dua bulan."


"Yah jangan, deh. Seminggu aja, ya, Ren, please."


"Yaudah seminggu, tetapi nanti malam minggu, enam hari lagi, lu temenin gua jalan-jalan."

__ADS_1


"Ke mana?"


"Rahasia."


"Yahdah iya, tetapi nanti gua kasih susu sama rotinya dimana?"


"Lo ke kelas gue."


"Ck, yaudah iya."


"RENDRAZHA FAUZAN! SYAFA SABILA! KALIAN NGAPAIN? KENAPA JADI BERANTAKAN GINI?!"


"Eh, Bu Rini, jangan marah-marah bu, nanti nambah keriput, lho!"


"SYAFA!"


"Maaf, Bu, saya bercanda, kok."


"KENAPA DISINI BERANTAKAN?"


"Gak tahu Bu," ucap Rendra.


"Kok tidak tahu?"


"Ya emang, kita gak tau, Bu," jawab Syafa


"BERSIHKAN SEKARANG!"


"Yah, Bu, kan bukan salah saya," ucap Syafa, memelas.


"Oh, gak mau ngebersihin, ya?!"


"Mau kok, Bu, kita akan bertanggungjawab membersihkannya sampai bersih."


"Tap---"


"Sstt... udah lakuin aja, daripada nanti ditambah hukumannya," bisik Rendra.


"Ada apa bisik-bisik?"


"Enggak kok, Bu. Iya kita akan membersihkannya."


"Yasudah, ibu pergi, nanti harus bersih, jangan kabur!"


"Siap, Bu."


"Gara-gara lo, sih," ucap Rendra setelah bu Rini pergi.


"Kok gue sih?"


"Iya, kalau lo gak ke gudang, gak bakal seperti ini jadinya."


"Halah, lo aja modus meluk-meluk gue,"


"Lo juga pasti kesenengan kan, dipeluk gue? Gimana sensasinya?"


"Gak ada sensasinya!"


"Gak ada ya? Kalau gini gimana?" ucap Rendra seraya memeluk Syafa lagi, tetapi kali ini dari depan, bukan dari belakang.


"Udah kerasa belum sensasinya?"


"Kok diam saja, sih?" ucap Rendra


"Lepas, Ren."


"Gue nyaman seperti ini, Sya,"


'Gue juga,' batin Syafa


"LEPAS WOI!" teriak Syafa sambil mendorong tubuh Rendra, berusaha melepaskan pelukan, lebih tepatnya. Otomatis kedua tangannya memegang dada bidang Rendra.


'Rendra deg-degan juga ternyata,' batin Syafa, terukir senyum di wajahnya.


"Ih, lepas Rendra! Lo tuh di suruh bersihin lantai bukan malah peluk gua!"


"Kalau gue pengennya meluk lo, gimana?"


"IH GAUSAH BANYAK OMONG! LEPAS!" Teriak Syafa, karena kalau lama-lama dipeluk Rendra dan mendengar ucapannya, bisa-bisa dia tidak bisa tidur nanti malam, pikirnya.


'Ih kok mereka malah peluk-pelukan sih? Harusnya, kan, Syafa udah  kotor badannya. Ih kesel! Liat aja, besok lebih dari ini, Sya,' batin seseorang.

__ADS_1


__ADS_2