
Bersamamu, hal sederhana yang membuatku bahagia.
Complicated Bubble
"Gue boleh jadi malaikat penjaga lo?"
"Lo kan udah jagain gue."
"Hm, lupakan."
"Pulang sekolah jalan mau?" Syafa dengan segera melepaskan pelukannya.
"Yang bener?!" pekik Syafa girang, ya gimana gak senang, jalan sama cogan pulang sekolah.
"Iya."
"Gak php kan?"
"Enggak Sya."
Rendra yang gemas, refleks mencubit pipi chubby Syafa. Syafa yang diperlakukan seperti itu, melakukan aksi balas dendamnya, yaitu mencubit keras hidung mancung milik Rendra.
"Sakit Sya."
"Biarin, biar hidung lo kayak badut ancol."
Syafa tertawa lepas membuat Rendra terhipnotis oleh tawa indah dan tenang milik Syafa yang menjadi candu baginya.
"Tawa lo adalah melodi indah di hidup gue," batin Rendra, ia tenyuman tulus menatap Syafa yang begitu cantik menurutnya.
"Lo kok malah senyum-senyum sih?!"
"Kenapa emang?"
"Kan harusnya nangis hidung lo, gue jadiin merah kayak badut ancol."
"Hahaha."
"Kok ketawa! Gak ada yang lucu tau," Syafa melepaskan cubitannya dan melipat tangannya di dada. Layaknya orang ngambek.
"Gue cowo, gak akan nangis cuma gara-gara hidung."
"Justru gue senang hidung gue memerah karena lo, itu tandanya hidung gue malu dipegang sama lo."
"Dan itu tandanya si pemilik hidung sayang sama lo."
"Gue akan nangis kalau gue buat orang yang gue sayang nangis dan pergi ninggalin gue."
"Orang yang gue sayang itu lo, Syafa."
Tangan di dada Syafa menyurut, Syafa melihat Rendra yang tengah tersenyum tulus ke arahnya. Syafa ingin berteriak sekarang juga Ya Allah!
"Lo sayang gue?"
"Iya."
"Gue juga sayang lo!"
"Tumben gak gengsi?"
"Ih gengsi salah, gak gengsi salah! Gue selalu salah di mata lo." perkataan Syafa, membuat Rendra terkekeh pelan.
"Mau tau sesuatu?"
"Apa?" hati Syafa yang semula sebal, kini mulai meluluh dengan perkataan Rendra.
"Di mata gue, lo itu selalu indah, benar-benar indah, sampai mata gue menjadi pecandu wajah lo."
"Di telinga gue, suara lo itu kayak nada-nada indah yang memiliki harmoni tersendiri,"
"I love you, Syafa Sabila Amaradinka,"
I love u? Aku cinta kamu? Rendra cinta sama gue? pikir Syafa.
"Lo mau jadi kekasih hidup gue mulai detik ini?" Rendra mengambil kedua tangan Syafa dan menggenggamnya.
Deg. tubuh Syafa menengang mendengar pertanyaan Rendra. Cintanya terbalas? Cintanya tidak bertepuk sebelah tangan? Benarkah?
"Tapi, bukannya lo pacar Atika?"
"Enggak Sya, gue gak pernah suka sama dia,"
"Tapi pas itu...."
"Nanti gue ceritain, yang pasti gue gak pernah suka cinta apalagi pacaran sama Atika,"
"Bener?"
"Iya."
"Jadi?" tanya Rendra, lagi.
"Iya,"
"Iya apa?" bukannya menjawab perkataan Rendra, Syafa justru memeluk Rendra, membuat Rendra sedikit kaget.
"I love you too, Rendra,"
***
Mencintaimu. Bukan keinginanaku. Melaikan hak asasi hatiku.
__ADS_1
Complicated Bubble
"Rai," panggil Syafa kepada Raina yang sedang fokus terhadap novelnya.
"Atika gak sekolah?"
"******! Jawab apa gue!?" batin Raina.
"Atika lagi keluar kota," Rendra yabg tiba-tiba datang langsung bersuara. Raina menghela nafas, lega.
"Kemana?"
"Gatau."
"Lo ngapain ke kelas gue?"
"Mau ketemu peri pemilik hati, kangen,"
"Baru 2 jam gak ketemu, udah kangen aja, alay banget sih!" sahut Raina.
"Sirik aja lo, cari pasangan sana,"
"Gue lagi progress ya, sorry sorry aja,"
"Sya, gue mau latihan paskibra, lo istirahat sama Raina aja ya? Gak papa kan?"
"Raina ga ikut paskibra?"
"Itu lomba paskib putra,"
"Oh yaudah, gak papa kok,"
"Rai, gue titip Syafa, kalo ada apa-apa panggil gue,"
"Iya ngerti gue,"
Tangan Rendra mengacak-acak rambut Syafa lalu berkata "Gue latihan, jangan kangen."
Setelah itu Rendra berjalan keluar, namun langkahnya terhenti ketika tangannya dipegang oleh tangan mungil milik gadisnya.
Rendra membalikkan badannya ke arah Syafa dan tersenyum. Syafa menjijit lalu mendekatkan bibirnya di telinga Rendra.
"Semangat,"
Syafa langsung lari ke dalam kelas dan menutup pintu kelasnya. Ia malu, sangat malu!
"Kenapa lo? Dikejar kejar anjing?"
"Abis ketemu pangeran bukan anjing."
"Pangeran lo kan anjing."
"Pangeran gue gak anjing ya Rai."
"Mangkanya sekarang lo abis ketemu dia kayak abis dikejar anjing."
"Serah lo."
"Eh, perpus yuk," ajak Fiza
"Boleh."
"Gue ikut!!"
Raina, Fiza dan Syafa berjalan beriringan menuju perpustakaan. Mereka berjalan sambil sesekali tertawa bahkan tawa mereka meledak, ah tepatnya tawa Syafa dan Fiza melihat muka Raina yang malu-malu bebek saat tidak sengaja bertemu dengan Anggara, gebetannya, kakak kelas, Anggara cukup terkenal seperti Rendra, ia menduduki kursi di kelas 12 IPS 2, duduk ke empat dari depan, dekat tembok dan jendela.
Anggara Satria Maveen, cowok kece yang memiliki bibir merah, sampai-sampai Syafa, Fiza dan Raina mengira, sebelum berangkat sekolah Anggara selalu sarapan mie samyang.
Anggara juga kapten eskul sepak bola, jadi pantas dia digilai oleh banyak perempuan, ya karena ke gantengannya, belum lagi setiap wali kelasnya mengajar di kelas Syafa, Fiza dan Raina, banyak teman sekelas mereka yang menitipkam salam ke Bu Calista, wali kelas Anggara, untuk Anggara.
"***** bibir kak Anggara minta ditabok," kekeh Syafa.
"Bibirnya menggoda banget parah, ya gak Rai?" goda Fiza.
"Iya, bibir nganggurnya minta gue cium, hahaha," kecoh Raina.
"Najis lo, insyaf gue temanan sama lo," tawa Syafa kini meledak.
"Sosoan insyaf lo,padahal mah masi sering liatin abs Rendra."
"Hey... jaga ya!"
"Tapi kayaknya abs Rendra sexy deh."
"Sexy juga bibir kak Anggara, hahaha iya ga pija? Gue aja smpe terpesona."
"Kalo lo cium Anggara, nanti dia keburu muntah mie samyang, gak kuat sama lo."
"Ambigu lo ***** Pija!"
"Eh, Rai, kak Anggara liatin lo!" histeris Syafa. Membuat Raina melihat ke arah Anggara. Gila! Gans parah!
"SYA, JI, HA, KHO, GUE GAK KUAT!"
"*** GUE UDAH ADA DI CELANA!"
"GUE KEPECIRIT GARA-GARA LIAT TAMPANG ANGGARA YANG MINTA DIKASIH NAFKAH!"
"GUE TOILET!" setelah mengatakan hal itu, Raina bergegas lari ke arah toilet. Sedangkam Syafa dan Fiza cengo melihat Raina yang benar-benae kepicirit.
"Temen lo Ja?"
__ADS_1
"Bukan temen gue."
"Kita beliin dia otak yuk Ja, kesian gue sama dia otak nya udah mesum."
"Tapi ada syaratnya?"
"Apaan?"
"TEMUIN SENDAL SWALLAW GUE YANG NYANGKUT DI KAKI BULE!"
"Pendetektif Raja Sendal menuju ke toilet, untuk mencari Raina dan melakukan misi rahasia!"
"Siap laksanakan!"
Mereka berdua ala-ala detektif berjalan menuju toilet, sesampainya di toilet, mereka bertemu Raina yang sedang merapihkan rok nya.
"Kenapa lo pada?"
"Nyari kaki bule yang pake sendal swallaw gue."
"Kita akan mendetektif raja sendal Pija!"
"Eittss, bentar, gue mau nanya."
"*** gue kok mirip muka kak Anggara?!"
"***** cogan dimiripin sama ***."
"Tainya udah lo siram?" tanya Syafa.
"Udahlah."
"Nyesel lo."
"Kenapa deh?"
"Harusnya tainya lo cium dulu! Kan tainya mirip kak Anggara!"
***
Sahabat gue itu emang gak punya otak. Tapi sahabat gue punya seribu kuas untuk melukis hari gue menjadi lebih menarik.
Complicated Bubble
Setibanya di perpustakaan, Syafa, Raina dan Fiza memilih tempat paling pojok tertutup oleh rak buku, dan di sana terdapat bantal-bantal hasil curian sofa di depan meja penjaga perpustakaan. Percayalah, Syafa melakukannya dengan cara mengendap-endap. Kalau sampai ketahuan habis dimarahi oleh bu Sari!
"Baca apa lo Ja?" tanya Raina kenapa Fiza yang sedang tidur sambil membaca novel berwarna ungu.
"Cinta Dalam Diam dia mah, bentar lagi juga nangis-nangis gak jelas," kekeh Syafa.
"Diem lo pada, ganggu gue aja, lagi baca cerita Fatimah sama Ali versi kini!"
"Santai Mba, gue doain sendal lo hilang lagi."
"RAINA!"
"Diem ******, lo mau disembur sama ludahnya bu Sari?"
Setelah mengatakan hal itu, Raina, Syafa dan Fiza sibuk dengan kegiatannya membaca buku. Selain mereka sedeng, ternyata mereka masih ingat sama otak dan suka membaca buku, ya... meskipun buku fiksi sih, setidaknya mereka masih menggunakan otak mereka untuk berimajinasi.
"Eh ada kodok lagi mojok."
"Kodok?" batin Syafa.
"Lo kodok," seorang lelaki berwajah bule kearaban duduk di samping Syafa yang sedang keheranan dan tampakmya sedang berfikir keras. Sok sokan berfikir keras, kalau pelajaran ekonomi lintas minat yang di ajar oleh bu Friska, jawabannya salah semua! Ujung-ujungnya berakhir dengan ocehan panjang bu Friska dan menyuruh mereka membaca tasbih di mana pun dan kapan pun!
"Lo masih suka novel?" tanya lelaki itu, sok akrab, bahasa 2k15 nya sih SKSD! Bule SKSD, keren juga.
"Sok kenal banget sih lo, Zal." Zal? Ya, lelaki berparas bule itu adalah Zaldi, si produsen air kencing manis.
"Gue kan cenayang."
"Najis."
"Hahaha."
"Kenapa lo ketawa?"
"Muka lo mirip kodok Sya beneran!"
"Kampret lo, gue ini manusia tercantik di muka bumi."
"Menurut lo sendiri."
"Enggak!"
"Oh, menurut papa mama lo?"
"Menurut orang spesial lah."
"Menurut gue gak."
"Asal kan kau bahagia bule."
"Gue emang bule."
"Bule apaan lo?"
"Bule Sumatra-Jakarta."
"NAJIS!"
__ADS_1
"Najis najis juga nanti lo suka."