
"Malam ini, bulan terlihat malu-malu menampakkan diri. Bintang pun berusaha mengasingkan diri. Aku memandang langit tanpa arti.Hanya angin malam yang setia menemani.
Dulu, kamu selalu mengisi hari dan membuat lembaran hariku penuh arti. Kini, kamu pergi. Tanpa memperdulikan aku di sini yang tengah terkurung dalam ruang hampa tak bermelodi, sepi, sendiri.
Aku ingin berteriak tepat di telinga aksara "Aku rindu!" Namun apadaya, daku hanya mampu menyampaikan rindu melalui perantara do'a di sepertiga malamku
Sepi, sunyi, namun melegakan hati."
Complicated Bubble
Syafa melirik jam tangan biru, miliknya. Masih jam 06.10, masih terlalu pagi. Ia menyelusuri koridor sekolah sambil berimajinasi di dalam hati, mengukir senyum di bibir mungilnya sambil bersenandung pelan, menghibur dirinya sendiri dan melupakan luka yang menyayat hati.
"SYAFAAAAA" suara cempreng bak petasan malam tahun baru, menggema di telinga Syafa, Syafa menutup telinganya dengan kedua tangannya. "Ganggu kedamaian pagi gua banget sih ini orang," dengus Syafa.
Si empu suara berlari mendekati wanita di depannya yang sedang menutup telinganya. Derap langkahnya terdengar di koridor. Ia menepuk pundak wanita yang tadi ia panggil sambil menyengir. Sedangkan, wanita yang panggil tadi, memasang wajah kesalnya.
"Rai, bisa gak sih pagi-pagi gak usah teriak!" kesal Syafa.
"Habis, daritadi gue panggilin lo nya gak denger, yaudah gue keluarin jurus suara emas bak bidadari."
"Serah lo," sinis Syafa.
"Biasa aja kali matanya!" Raina mengusap mata Syafa sambil tertawa. Sedangkan si pemilik mata memutarkan kedua bola matanya.
"Karaokean yuk Rai!"
"Nah gitu dong! Yuk!"
"Lagu apa?"
"ABDULLAH!"
"Anjirrr!" Syafa tertawa terbahak-bahak.
"Nyanyi lagu Abdullah aja Sya, properti alat musiknya pake botol minuman gue, please," Raina memasang puppy eyes nya, Syafa bukannya iba malah jijik melihatnya, teman biadab (:
"Jijik tau Rai!"
"Ish Syafa, please!"
"Yaudah, tapi jangan di sini, di kelas aja,"
"Yaudah kuy ke kelas!" Raina memengang tangan Syafa lalu berlari kencang, membuat Syafa mata tak mau ikut berlari mengikuti Raina.
"Udaah sampe kelas Sya! AYO KITA KARAUKE LAGU ABDULLAH!" teriak Raina, antusias, sedangkan Syafa duduk lesehan di lantai, ngos-ngosan.
__ADS_1
"Oh, mau nyanyi sambil lesehan? Yaudah yuk lah! Gua video-in pake handphone gue ya!" tanya Raina, Syafa menganggukan kepalanya.
"1...2...3... mulai!"
"Saya akan menyanyikan lagu Abdullah," suara dan gaya bicara Raina mengikuti gadis legend yang viral karena menyanyikan lagu Abdullah (:
"Abdullah nama ayahnya
Aminah ibundanya
Abdul mutholib kakeknya
Abu tholib pamannya,"
"Main yuk!" ucap Syafa sambil tertawa lepas melihat eskpresi Raina yang benar-benar persis dengan video originalnya.
Tawa itu seketika berhenti, matanya fokus pada dua orang di depan pintu kelasnya, Atika dan Rendra.
"Khodijah istri setia
Fatimah..."
Raina yang melihat kejadian itu juga langsung berteriak.
"***** *** LO DUGONG!" teriak Raina sambil melempar botol Aqua ke arah Rendra, dan tepat sasaran.
"Gak papa Tik, aku ke kelas ya, belajar yang rajin okay!" ucap Rendra lembut seraya mengacak-acak rambut Atika. Rendra pergi begitu saja, tanpa melihat Syafa yang terpaku melihat perubahan Rendra.
Syafa langsung duduk di bahteranya, mengeluarkan Al-Qur'an, untuk menenangkan hatinya yang sedang bergemuruh tak tentu.
"Baca Yasin aja Sya, ada setan soalnya!" ucap Raina sinis ke arah Atika.
"MAKSUD LO APA!" Atika menunjuk Raina.
"Sans napa, jari telunjuknya minta dipatahin," sahut Raina.
"Mau lo apa Rai! Nyindir-nyindir gue? Gue bukan setan!"
"Bukan setan? HAHAHA Ngakak! Gak nyadar kalau dirinya setan."
"Kalian kenapa sih? Pagi pagi udah adu mulut aja, jam 06.30. yuk sholat Syuruq," ajak Syafa.
"HALAH GAK USAH SOK SUCI LO!" Atika menampar pipi Syafa, keras. Raina yang melihat kejadian itu, ingin menampar Atika, namun di tahan Syafa yang tersenyum "Gak usah di balas Rai," sedangkan makhluk lain yang menonton kejadian itu cengo, tak menyangka melihat kejadian 3 sejoli ini bertengkar.
Namun, ada dua orang lelaki yang melihat kejadian itu, satu diantaranya menarik tangan Syafa. "Lepasin!" ucap Syafa. Tetapi lelaki itu tetap menarik tangan Syafa sampai masuk ke ruangan UKS. Lalu setelah itu ia mengambil air dingin dan sapu tangan yang ada di UKS. Lalu ia mengompres pipi Syafa, lembut.
__ADS_1
"Makasih," ucap Syafa menunduk. Rendra pergi begitu saja, meninggalkan Syafa seorang diri di UKS. Tanpa sepatah kata pun. Salah Syafa apa?
Syafa masih menunduk, menahan tangis, melihat perubahan Rendra yang begitu jauh. Syafa merindukan Rendra, Syafa rindu suara itu, rindu sikap manis darinya.
"Sya, gak papa?" Syafa mendongakkan kepalanya.
"Gak papa Rai,"
"Dasar ya Atika emang gak punya hati, kesel gue."
"Rai, liat video tadi sih," Syafa mengalihkan topik.
"BOLEH!" Raina mengeluarkan handphonenya lalu menyetel video yang tadi.
"Ngakak woi! Muka lo kaga biasa *****!"
***
Kamu, bayangan yang membisu. Mengurungku dalam ruang waktu yang tak tentu. Kamu, masa lalu. Menikamku dengan rasa rindu yang terlalu. Kamu, hilang di lembaran hariku. Bersamaan dengan senyuman terindahmu, kala itu.
Complicated Bubble
Syafa sedang berdiri di antara buku buku yang berjajar rapih, berteman dengan buku memang menyenangkan, berbicara pada kata pun melegakan. Saat Syafa sedang asik memilih buku. Ia mendengar suara yang tak asing baginya, suara yang ia rindukan, suara yang sudah lama tak ia dengar.
Di balik jejeran buku di depannya, ia melihat dari sela sela buku, ada seorang pria yang sedang berdialog dengan sahabatnya, Atika. Syafa bahagia melihat Rendra bahagia, meskipun bukan bersamanya. Bohong. Nyatanya hatinya sakit. Ia segera mengambil notebooknya lalu duduk di pojok, sendirian, jauh dari pemandangan yang membuat hatinya remuk. Sesekali ia melihat Rendra dan Atika yang sedang bersama, seakan dunia milik mereka berdua. Tertawa lepas hingga mereka tak menyadari ada hati yang diam-diam tersakiti.
Tangan Syafa mulai memengang bolpoin lalu bolpoin itu mulai menari-nari diatas selembar kertas yang kosong. Hingga, keetas itu sudah terisi dengan kata-kata yang telah menyatu pada buku.
"Berhenti,
Bukan berarti pergi
Namun, belajar tak peduli
Pada hati yang selalu memaki,
Merindukan kamu yang kini telah pergi
Aku, tak mau terus membelenggukan diri
Menunggu dirimu yang tak pernah peduli
Walaupun sebenarnya,
Hati ini masih tersurut akan kenangan yang kau beri.
__ADS_1
-syafasabila"