
Mencintaimu adalah pilihan. Pilihan antara berjuang atau bertahan.
Complicated Bubble
"Sya, pulang bareng gak? Tapi gue mau nonton liga futsal, kelas 12 IPS 2 main, ikut gak?" ajak Raina kepada Syafa.
Gadis itu sedang merapihkan buku-buku di mejanya yang sangat berantakan! Bisa di bilang, meja Syafa itu paling berantakan se-sekolah! Meja yang dikhususkan untuk satu murid, adalah porsi yang kecil, namun di atasnya terdapat banyak buku novel-novel yang dia pinjam dari perpus, dan menidurkannya di meja berhari-hari. Syafa tidak ingin membawa novel itu ke rumah dan membacanya. Karena, di rumah waktunya untuk bersenang-senang membaca novel.
Baginya, dunia fiksi itu indah, bisa melupakan dunia nyata yang sangat sulit untuk Syafa tanjaki. Di sekolah Syafa membaca novel-novel di perpustakaan.
"Gak deh Rai, gue ada janji sama Rendra," jawab Syafa dengan jujur dan seadanya.
"Main jalan-jalan aja lo, pacar aja bukan, kasian gue sama lo kena HTS," kekeh Raina.
"Yang sabar ya Bos!"
Syafa hanya mendesis dan melirik Raina dengan lumayan sinis, memang benar Syafa belum memberitahu kepada Raina jika dia dan Rendra sudah resmi pacaran. Syafa tak ingin memberitahu teman-temannya, biar Rendra saja yang bilang. Toh, jika dia mengatakan dia sudah jadian dengan Rendra, mana mungkin mereka percaya.
"Sya," suara khas milik Rendra terdengar di telinganya. Rendra menjemputnya.
"Tuh udah dijemput abang go-jek."
"Sirik aja lo nenek lampir mesum."
"Gue gak sirik, gue kan mau nonton Anggara main futsal!" histeris Raina, membuat Syafa, Fiza, Naira dan Faiza (kembaran Fiza) langsung menoyor kepala Raina. Malangnya Raina, sudah otaknya mesum, dijitak, tambah gesrek, deh. Ucapkan turut berduka cita pada otak Raina.
"OTAK GUE!" Raina memegang kepalanya, dramatis, ya memang Raina ini jago akting, dia memilih eskul teater sejak kelas 10.
"Nanti gue beliin yang baru, gue cabut dulu, turut berdua cita atas kemiringan otak lo," kekeh Syafa sebelum akhirnya ia hilang di telan pintu kelas.
"SYAFA KAMPRET!" teriakan Raina, membuat Syafa yang sedang memakai sepatu tertawa, lebih tepatna ngakak. Syafa bisa membayangkan muka Raina saat ini.
"Lo buruk dalam hal mengikat sepatu," ucap Rendra, lelaki itu berjalan ke arah Syafa yang tengah duduk dengan tangan yang mengikat tali sepatunya.
Rendra duduk di depan Syafa lalu mengambil alih tali sepatu Syafa dari tangan gadis itu. "Biar gue yang ikatkan." Syafa menatap lekat Rendra yang sedang mengikatkan tali sepatunya. Syafa akui memang pacarnya ini sangat tampan.
"Udah." Rendra mendongakan kepalanya, melihat Syafa yang sedang menatapnya, membuat Rendra tersenyum. Ia mencubit pelan pipi Syafa.
"Thanks," kata Syafa setelah sepatunya dengan nyaman terpasang.
"Apapun untuk lo."
"Udah puas liatin pacarnya?" goda Rendra dengan sedikit terkekeh, membuat Syafa malu. Ia keciduk. Ucapkan turut berciduk cita kepada Syafa.
"Udah."
"Yah. Kok udah. Kalo belum liatin aja lagi, gak papa. Padahal pacar ikhlas banget diliatin bidadari."
"Apaan sih." Syafa dengan gemas nya menampar pipi Rendra dengan halus, mulus, tak terasa soalnya pakai perasaan cinta.
"Hahaha. Lo lucu. Gue suka."
"Jadi kita mau kemana?" tanya Syafa, ia berusaha menutupi kegugupan dan kesenangannya dengan menanyakan hal itu kepada Rendra.
"Ke mana pun, yang pasti ke tempat yang akan kita lewati bersama."
"Serius gue."
"Emang tampang gue kurang serius apa?" Rendra mendekatkan wajahnya ke arah Syafa dengan mimik yang sangat serius, datar, tanpa senyuman namun sangat tampan.
__ADS_1
"Lo cantik."
Syafa yang berjuang setengah mati menutupi degupan di dadanya sudah tidak kuat dengan perlakuan Rendra. Lebay memang, meski sudah sering Rendra mengatakan hal itu, tetap saja bersama Rendra membuat jantungnya berolahraga.
"Udah serius belum tampang gue?"
"CRINGE!" Syafa mendorong pelan tubuh Rendra, membuat Rendra mengubah mimik wajahnya. Rendra tersenyum menahan tawa melihat Syafa yang berteriak, lucu, menurutnya.
"Gue nanya serius tentang ke mana kita jalan bukan serius gue cantik atau gak!"
"Gak usah pake muka datar kalo deket gue, gue gak suka!"
Rendra tertawa sebentar sebelum akhirnya dia memeluk tubuh mungil Syafa. Membuat Syafa yang semila mengoceh kini terbungkam, diam. "Mulai detik ini gue akan senyum terus sama lo, senyuman khusus untuk lo, Syafa."
"Dan mulai detik ini, kita pake aku kamu ya, jangan lo gue, biar kayak orang pacaran beneran yang sah, sakinah mawadah warahmah."
"Iya."
"Ren...," panggil Syafa dalam pelukan itu.
"Iya apa Sya?"
"Makasih."
"Untuk?"
"Semuanya. Aku bahagia sama kamu."
"Aku juga bahagia sama kamu, lebih tepatnya sangat bahagia."
"Hari hari ku berubah menjadi cerah dan berwarna sejak ada kamu dalam kehidupanku."
"Kalo mau pelukan lama, ingat tempat, ini sekolah Rendra. Masih ingat kan ini sekolah?"
"Nggak. Kalo di dekat kamu bawaannya ingat dan mikirin kamu doang."
"Rendra lebay!"
"Lebay sama pacar, halal kan?"
"Tanya Mama Dede sana."
"Sip sip oke, yuk ke Mama Dede." Rendra menggengam tangan Syafa, jari mereka saling mengisi satu sama lain. Berjalan bersama, berdua, bahagia.
Setelah sampai di parkiran, seperti tadi pagi, Rendra memakaikan Syafa helm dan memasangkan tali helmnya, kemudian Rendra memakai helmnya sebelum ahirnya mereka menaiki motor merah milik Rendra. Motor merah ninja itu melaju ke arah gerbang, lalu hilang di telan tikungan. Dunia penuh dengan tikungan, jadi hati-hati ya, manusia.
"Kamu gak benar-benar ke Mama Dede, kan?" tanya Syafa kepada Rendra hang sedang mengendarai motornya dengan kecepatan normal. Mendengar pertanyaan Syafa, Rendra tersenyum ke arah kaca spion.
"Benar lah, kan mau nanya."
"IH RENDRA AKU MAU JALAN SAMA KAMU BUKAN MAU JALAN SAMA MAMA DEDE!"
"Mau banget ya jalan sama aku?"
"Iya iya iya."
"Hahaha, yaudah kita jalan berdua, besok baru ke Mama Dedenya."
"Benar?"
__ADS_1
"Iya."
Mendengar jawaban Rendra, spotan Syafa memeluk tubuh Rendra di depannya sekilas. "Kok sebentar sih peluknya?"
"Kapan-kapan, deh."
"Kok kapan-kapan?"
"Rendra maunya kapan?"
"Sekarang."
"Yaudah sekarang, biar Rendra senang."
Syafa kembali memeluk Rendra dihiasi senyuman yang tertampang jelas di bibirnya, membuat dirinya semakin manis.
"Iya aku senang sekarang, makasih Syafa."
***
Merindukanmu itu bukan mauku. Justru rindu yang menghantuiku.
Complicated Bubble
Siang menuju sore ini, kota tua lebih sepi dari biasanya. Mungkin, memang mereka pengertian kepada pasangan baru yang akan ngedate perdana hari ini di kota tua tepatnya.
"Ke kota tua?"
"Iya kita kan udah di sini."
"Ya, nanya doang sih."
"Kamu mau naik sepeda ontel gak?"
"Aku kan gak bisa naik sepeda," kesal Syafa, gadis itu mengembukan pipinya membuat Rendra tertawa terbahak-bahak. Pacar yang durhaka.
"Sekalian belajar lagi sama aku," tawar Rendra yang kini menaik-turinkan alisnya sembari menahan tawa. Benar benar pacar durhaka. Untung Rendra durhakanya sama pacar. Coba kalau Rendra durhaka sama bundanya. Udah jadi malin kundang milenial dan patungnya di museumkam di kota kuta.
"Gak mau! Nanti jatuh lagi, big no!"
"Yaudah aku bonceng, deh, mau?"
"Mau!" Rendra yang sedari tadi gemas dengan Syafa, tangannya tidak bisa ia tahan lagi untuk mengacak-acak rambut Syafa. Bukannya Syafa marah karena rambutnya acak-acakan, ia malah ikut tertawa bersama Rendra. Sepertinya, ia ketularan virus pea Raina, atau jangan-jangan kena azab otaknya jadi ikutan miring.
Rendra yang melihat Syafa tertawa. Hatinya menghangat, ia merapihkan rambut Syafa lalu berjalan menyewa sepeda ontel lengkap dengan topinya. Rendra memilik sepeda ontel berwarna biru. Warna kesukaan Syafa. Ya, Rendra tahu itu.
"Biru! Kok kamu tau sih aku suka warna biru?"
"Aku kan pedetektif segala hal tentang kamu."
"Kalo gitu nanti kamu jadi detektif sendal swallawnya Fiza, deh, mau?"
"Gak lah, nanti kamu cemburu."
"Hahaha."
"Udah naik."
Syafa duduk di jok belakang sepeda ontel, sebelumnya ia sudah memakai topinya, Syafa pun memakaikan topi di kepala Rendra. Awalnya Syafa menolak, namun setelah Rendra berkata "Gantian dong kamu yang pakaikan aku topi, kan tadi aku pakaikan helm." membuat Syafa mendengus pelan sebelum akhirnya Syafa mengalah dan memakaikan topi Rendra.
__ADS_1
Mereka mengelilingi kota tua dengan mengendarai sepeda ontal seperti anak-anak di sana. Mereka tertawa dan bercanda bersama di atas sepeda, dan terkadang mereka turun dari sepeda hanya untuk mengajak anak-anak mengelilingi kota tua bersama-sama. Bahagianya sore ini bersama Rendra.