
"Jangan menjauh. Nanti aku tambah rindu."
Complicated Bubble
Syafa sedang berada di dalam kelas, sendirian. Ia menemukan kotak biru kecil di tasnya. Sejak ulangan hingga sekarang, setiap harinya Syafa selalu mendapatkan kotak biru berisi surat yang isinya tidak jauh berbeda. Intinya, si pengirim kotak biru itu menyuruh Syafa melupakan Rendra dan memutuskan Rendra. Syafa menaruh kotak biru itu ke dalam tasnya, tak ingin membacanya sama sekali, karena ia tahu pasti isinya tidak jauh berbeda seperti kemarin. Syafa melipat tangannya di atas meja dan menenggalamkan wajahnya ke dalam lipatan yang ia buat.
Ia bingung dengan segalanya. Hubungannya. Cintanya. Perasaannya. Juga Rendranya.
Ia ingin menangis, sungguh. Dadanya sangat sesak ingin menumpahkan segalanya. Namun, entah mengapa ia tidak bisa menangis, hanya berkaca-kaca. Mungkin dirinya sudah terlalu sering menangis hingga air matanya mengering dalam lensa dengan sendirinya sebelum ia keluar.
Hidupnya terlalu banyak tekanan dan teka-teki. Ia harus menuruti segala apa kata ayahnya, selalu mengalah demi saudara kembarnya, mencintai seseorang yang sering melukainya, belum juga Zaldi yang tiba-tiba datang dalam kehidupannya. Apakah ia hidup untuk menghadapi semua itu? Ayolah, dia juga ingin bahagia seperti manusia lainnya.
"Lo kenapa?" tanya Gary yang baru datang.
"Ngantuk," jawab Syafa tanpa menoleh sedikitpun.
"Tumben?" heran Gary, pasalnya Syafa tidak pernah ngantuk di sekolah.
"Gue juga manusia, bisa ngantuk di sekolah."
"Iya-iya."
"Lo lagi sibuk?" tanta Gary.
"Menurut lo?"
"Enggak."
"Hm."
"Ke taman yuk?" ajak Gary.
"Ngapain?"
"Nyari setan."
"BODO-AMAT!" kesal Syafa, saking kesalnya ia duduk sempurna dan menatap Gary dengan tatapan sinisnya.
"Hahaha. Bercanda gue. Yakali nyari setan."
"Ha...ha...ha... lucu!"
"Oh mau? Yaudah yuk!" Gary menarik tangan Syafa.
"Eh!"
"Lepas biskuit! Gue bisa jalan sendiri!" Gary melepaskan tarikannya, ia tahu jika ia tidak melepaskannya maka Syafa pasti ngambek! Syafa itu sering ngambek kalau sama Gary.
"Lo apa gaya sih ngajak gue ke taman?"
"Emang harus gaya dulu?"
"Ish susah ngomong sama orang emak emak mah!"
"Gue bukan emak lo!"
"TAPI LO NENEK GUE!"
"NENEQUE PAHLAWANQUE!"
"DARI MUSEM DUREN HINGGA MUSEM RAMBUTAN!"
"Bukan itu lagunya dodol!" segah Gary, sembari menjitak kepala Syafa.
"Bodoamat sih, sama-sama wali ini yang nyanyi."
"******!"
"Lo!"
"Hahaha."
"Apa sih receh lo!"
"Dari pada lo pengemis jembatan mol!"
"BODO AH GUE NGAMBEK SAMA LO FIX!"
"Ngambek mulu lo!"
"Bodo!"
"Serem banget *****!"
"Bodo!"
"Cepet tua lo!"
"Bodo!"
__ADS_1
"Bodo mulu lo, bodo beneran tau rasa lo."
"POSITIF NGAMBEK GUE!" Syafa meninggalkan Gary sendiri di koridor, dan kembali ke kelas tanpa ada tanda-tanda Gary mengejarnya, tumben.
Syafa terkejut melihat Zaldi yang sudah tersenyum manis duduk di bangkunya. "Ngapain lo ke kelas orang?"
"Gue kan orang."
"Hahaha skakmat lo!"
"Kampreto kamparito."
"Lo hari ini marah-marah mulu. Capek?"
"Tuh kan lo mah sok tau mulu."
"Gue cuma nebak dan nanya."
"Tapi gak mungkin tebakan lo selalu benar."
"Karena kan kita satu hati."
"NAJIS!"
"Hahaha selaw mbaknya."
"Lo udah makan?"
"Gue gak suka ditanya 'udah makan belum?' 'lagi ngapain?' Pokonya yang kayak gituan gue gak suka!"
"Yaudah," Zaldi mengenggam tangan Syafa, membuat Syafa keheranan. "Eh? Ngapain lo ?"
"Ke kantin. Gue traktir."
"SERIUS?" tanya Syafa histeris, dan dijawab anggukan serta senyuman oleh Zaldi.
Mereka berdua berjalan beriringan dengan tangan yang saling terikat. Seperti biasa banyak para Siswa yang membicaran kedekatan Rendra dan Kaira. Gosip Rendra dan Syafa putus yang sebenarnya itu hoax. Ditambah sekarang mereka membicarakan dan meledek Syafa yang tengah berjalan bersama Zaldi.
"Eh eh liat tuh Syafa, gila hidupnya enak banget putus dari Rendra langsung dapat cogan baru!"
"Gak usah heran, dia pake pelet, yakali muka kayak gitu diminati banyak cogan. Dianya aja kehenitan, cewek jablay."
"Tapi dia cantik lagi."
"Cantikan juga gue!"
"Eh eh emang benar ya Syafa sama Rendra udah putus?"
Oke itu sedikit dari sekian banyak yang Syafa dengar. Syafa hanya bisa tersenyum menanggapinya. Ia fikir jika ia menanggapi mereka dengan kata-kata, maka ia sama saja dengan mereka.
"Gak usah didengerin."
"Udah denger kan gue punya kuping."
"Pake." Zaldi memberikan aerphone kepada Syafa.
"Pasang di hp lo, dengerin musik aja," jelas Zaldi.
"Thanks."
Mereka sudah sampai di kantin, Syafa duduk sedangkan Zaldi memesan makanan. Syafa merasa ada orang yang memperhatikannya, akhirnya Syafa menoleh dan benar saja, Rendra sedang menatapnya. Syafa langsung meluruskan pandangannya lagi kemudian menunduk, dadanya kembali sesak melihat Rendra.
"Nih, makan," suruh Zaldi.
"Iye cerewet banget sih lo!" Syafa memakan nasi gorengnya dengan lahap.
"Lucu banget si!" Zaldi mencubit kedua pipi Syafa, yang langsung mendapatkan pukulan ditangannya. "Gue lagi makan oneng!"
"Hahaha."
"Udah gak usah ketawa lo!"
Syafa benar-benar lahap memakan nasi gorengnya hanya dalam waktu 3 menit! "Gue ke kelas, thanks ya,"
Zaldi mencekal tangan Syafa. "Apaan?"
"Gue anter."
"Gue bisa sendiri," jawab Syafa melepas cekalan itu dan pergi dari kantin, tetapi ia harus mengelilinya setengah kantin baru keluar dari kantin, bukan memilih jalan yang cepat, alasannya kenapa? Ada Rendra.
Rendra yang melihat sikap Syafa, mendadak hatinya sakit, ia menghela napas panjang, ia tahu ia salah. Tapi haruskah Syafa menghindarinya? Ternyata ini yang dirasakan Syafa ketika ia menghindari gadis itu, rasanya perih. Tapi, Rendra tetap melewati Syafa meskipun ia tidak menegurnya bahkan tersenyum, ia hanya ingin melihat wajah cantik itu. Bahkan ketika Kaira mendekatinya, ia memilih tempat yang tidak disukai Syafa, di koridor dekat kamar mandi guru. Karena apa? Ia tidak ingin melihat Syafa menangis ketika Kaira mendekatinya. Oh tuhan, Rendra sekarang rindu Syafa.
***
Kau tak perlu tahu berapa luka yang telah kau torehkan. Yang perlu kau tahu adalah, aku masih mencintaimu dalam diam lukaku.
Complicated Bubble
kenapa sih banyak banget orang yang menghampirinya di kelas? Kini terlihat Kaira yang sedang mengusir beberapa teman Syafa, dan mengunci pintu kelasnya, entah dapat darimana. Teman-teman Kaira menutup gorden kelas Syafa lalu mereka berjalan menuju Syafa.
__ADS_1
"Hai kak Syafa. Masih kenal gue?"
"Iya, Kaira."
"Kakak sama gue pinteran siapa sih?"
"Lo," jawab Syafa tanpa menghilangkan senyumnya.
"Kakak sama gue cantikan siapa sih?"
"Lo,"
"TERUS KENAPA LO GAK NGACA!"
"Tiap pagi gue ngaca kok."
"Lo tuh cabe atau jablay sih!"
"Manusia."
"Gak usah jawab lo!"
"Punya mulut harus digunain."
"Sialan ya lo! Gara-gara lo Rendra ngejauh dari gue lagi!" what? Bukannya karena Kaira, Rendra menjauh darinya?
"Aduh pusing ya nanggepin lo, to the point bisa?"
"Ngeselin juga ya lo! Oke kita to the point aja. Pertama. Gue gak suka lo deket-deket Rendra. Kedua. Gue benci sama lo. Ketiga. Gue mau lo ngerasain sakit yang gue rasain."
"Udah? Tenang, gue udah gak bakal berinteraksi sama Rendra."
"TAPI GUE BENCI SAMA LO!"
'plak'
"Ini untuk Rendra yang ngejauhin gue."
'plak'
"Ini untuk semua sakit yang gue rasain."
Kaira menampar bolak-balik pipi Syafa dengan kejam. Kemudian ia mendorong Syafa hingga tubuhnya membentur tembok. Sebenarnya Syafa bisa saja membalas karena dia jago karate waktu SMP, tapi ia tidak ingin menyakiti Kaira. Syafa masih tersenyum sembari menengakkan tubuhnya.
Kaira berhasil memojokkan Syafa. Ia tersenyum picik. "Kita lihat, apa setelah ini lo masih bisa tersenyum?" Kaira mencekik leher Syafa dengan kuat tanpa rasa kasihan.
"KAI UDAH KAI!" ucap salah satu temannya.
"Diem lo!"
"Lo udah kelewatan! Lo cuma janji mau nampar dia doang!"
"Dia bisa mati Kai!"
"Bodoamat!"
Kaira tetap mencekik Syafa sembari tersenyum licik melihat Syafa yang kesakitan.
"To-long," pinta Syafa, matanya tertuju pada kedua teman Kaira yang merasa kasihan kepadanya.
"Diem lo! Mau minta tolong ke siapa!? Gak gada yang mau nolongin cewek jablay kayak lo!" bentak kaira, ia menambah kencang mencekik leher Syafa. Syafa merasa sesak di dadanya, ia sulit mengambil napas. Disusul sakit perut yang sudah lama tak ia rasakan, sekarang kembali muncul.
Teman-teman kaira, Tasya dan Diara yang merasa iba, langsung membuka kunci kelas dan berlari menuju kantin. Tujuan utamanya adalah Rendra. Untungnya mereka bertemu Rendra di koridor.
"KAK RENDRA!"
"Ada apa? Kaira lagi?"
"Bukan Kak." jawab Tasya, membuat Rendra mengangkat alisnya, bingung.
"Kak Syafa," ucap Diara.
"Ada apa sama Syafa!?" Rendra terlihat begitu panik. Tadya dan Diara yang terlihat ngos-ngosan, membuat Rendra tidak sabaran.
"Kasih tahu gue, Syafa di mana!?"
"Di kelasnya Kak."
Rendra segera berlari kencang, mungkin ini adalah lari terkencangnya,coba pak Ubi liat, pasti nilai sprintnya 100. Pikiran Rendra saat ini dipenuhi dengan Syafa, Syafa dan Syafa. Ia sampai beberapa kali menabrak siswa tak dikenal. Bodoamat. Yang penting ia harus segera ke kelas Syafa.
Mata Rendra melotot sempurna melihat Kaira sedang mencekik Syafa tanpa ampun, di tambah wajah pucat yang ditampakkan Syafa.
"KAIRA STOP!" Rendra berlari ke arah mereka dan mencoba menarik tangan Kaira yang setia mencekik Syafa.
"LO GILA!" bentak Rendra ketika ia berhasil melepaskan cekikan itu.
Kaira yang dibentak oleh Rendra tak mampu membendung air matanya. Ia menangis, baru kali ini ia dibentak Rendra di tambah wajah merah Rendra yang tampak sangat marah padanya.
"PERGI LO!" suruh Rendra, Kaira pergi berlari. Kelas Syafa yang tadinya sepi kini sangat ramai.
__ADS_1
Rendra segera memeluk Syafa dan mengelus rambut gadis itu. Ia belum bisa membuka mulutnya untuk berbicara dengan gadis itu, lidahnya sangat kelu. Dirasakannya, tubuh gadis itu lunglai tak tegak. Rendra menyadari, Syafa pingsan! Rendra segera mengendong tubuh gadis itu menuju UKS.
Syafa... bangun. Aku rindu. Mohon Rendra dalam hatinya.