Complicated Bubble

Complicated Bubble
45. Bogor


__ADS_3

"Hanya sekadar singgah, membahagiakan, lalu pergi, itu cara paling jitu untuk menorehkan luka. Perkara luka, lebih baik diobati bukan ditinggal pergi."


Complicated Bubble


Hari ini seharusnya Syafa pergi ke rumah sakit bersama Zaldi, namun sengaja Syafa batalkan, karena bertepatan dengan hari ini adalah hari di mana dia dan teman temannya berlibur ke Bogor, seharusnya sih, hanya berdua dengan si mantan, tapi kalau ramean bisa, kenapa enggak?


Sekarang jam menunjukkan pukul enam pagi, dan mereka semua ; Syafa, Shila, Rendra, Raina, Fiza, Wahyu, Faiq sudah berada di halaman rumah Syafa dan Shila. Terlihat tatapan sendu dari mata Syafa ketika melihat Mama dan Papanya yang begitu mencemaskan saudara kembarnya, mereka pun kerap kali memeluk Shila dan mengingatkan untuk tidak boleh ini itu, sedangkan dirinya? Dimasabodokan.


Rendra yang awalnya ingin berbincang mengenai tempat wisata yang akan mereka kunjungi, mengurungi niatnya ketika melihat Syafa lesu seperti ini. "Lo lesu banget, abis putus dari gue gak bisa moveon ya?" Syafa mengalihkan pandangannya ke arah Rendra yang sedang tersenyum menggoda dirinya, "Itu sih, lo," cibir Syafa.


"Gue bukan ga bisa moveon, tapi gak bisa kalau cinta sama orang lain, maunya cinta sama lo terus."


Syafa bergaya lagaknya orang muntah, padahal dalam hatinya sudah jingkrak jingkrak gagal moveon, "Geli iyuhhh hahaha."


Rendra tersenyum mendengar tawa hangat Syafa, dia sengaja mengalihkan perhatian Syafa agar tidak terlihat murung seperti sebelumnya. "Lo kalo gitu, jelek!"


"Hello!!! Sokap banget sih, primadoma sekolah!"


"Oh iya dong jelas, emangnya lo, bibi kantin sekolah!"


"Heh, tanpa bibi kantin lo kelaperan!"


"Enak aja, gue kelaperan kalau gak ada makanan!"


"Rendra ish, ngeselin tau gak!" Syafa menginjak kaki Rendra dengan kedua kakinya menggunakan tenaga penuh, hingga Rendra meringis kesakitan, "Ampun ampun mbah dukun ampun!"


Syafa melototkan matanya, "Apa kata lo?" Rendra dengan tampang polosnya mengulang kalimatnya dengan nada mengejek sambil menjulurkan lidahnya, "Mbah dukun, lo mbah dukun, wle."


Awalnya Syafa ingin menginjak Rendra lebih kencang lagi, baru saja di bercancang ancang menginjak, Rendra lebih dulu memegang kaki Syafa. Awalnya Rendra hanya ingin mengerjai Syafa, taunya Syafa justru kehilangan keseimbangan, buru buru Rendra melepas memegang kaki Syafa, Syafa yang refleks takut jatuh, memeluk tubuh Rendra secara spontan. Kejadian itu terlalu cepat, tanpa sadar pelukan itu membuat mereka sama sama nyaman. Syafa yang sadar akan hal itu, langsung melepas pelukannya, "Gara gara lo sih, megang megang kaki gue!"

__ADS_1


"Bilang aja lo mau peluk gue, susah amat."


Syafa membuka mulut, ingin membalas ucapan Rendra, namun tidak jadi, karena Erlan--papanya lebih dulu menyela, "Rendra, kan?" tanya Erlan.


Rendra mengangguk lalu menyalimi tangan Erlan, "Iya, Om." Erlan mengangguk lalu menatap Syafa sekilas sebelum kembali berbicara pada Rendra, "Nanti di sana, jagain Shila ya, anak itu suka ceroboh, jadi om titip dia ke kamu, pokonya kamu gak boleh jauh jauh dari Shila, bisa?"


Rendra menatap Syafa, Syafa mengangkat bahu pertanda tidak tahu. Toh, bukan urusan dia. Semua keputusan ada di Rendra, dan Syafa gak berhak mengaturnya.


"Rendra usahakan, ya, Om."


"Kalau bisa, jaga jarak dari Syafa, kasian Shila cemburu liat kamu sama dia," ucap Erlan sambil melirik ke adah Syafa. Buat hati yafa serasa di remas mendengarnya.


"Tenang, Pah, Syafa yang bakal jaga jarak," celetuk Syafa, kemudian dia pergi menemui Raima dan Fiza di mobil. Rendra tak percaya dengan apa yang ia lihat dan dengar barusan.


"Tapi Om, masalah jaga jarak dengan Syafa, Rendra gak bisa, dan gak akan pernah bisa. Maaf sebelumnya Om, Rendra permisi." Tapi sebelum Rendra pergi, Erlan sempat berbicara sesuatu kepadanya yang membuat dirinya dilema setengah mati.


Semua sudah berada di dalam mobil, mereka menggunakam dua mobil, mobil Rendra dan Wahyu. Jadi, yang berada di mobil Rendra yaitu Shila, Faiq, Rendra dan Fiza. Sedangkan di mobil Wahyu ada Syafa dan Raina. Ya, sengaja, posisi tersebut di atur oleh Rendra.


"Sya, lo gak sakit hati gitu liatnya?" bisik Raina yang entah sejak kapan berada di sebelahnya. Syafa dengan entengnya menggeleng, "Biasa aja," ucap Syafa sembari berjalan meninggalkan Raina.


"Syafa kok ninggalin sih!!!"


Agenda pertama yaitu beres beres di kamar masing masing ; Syafa dengan Shila. Raina dengan Fiza. Dan Rendra, Faiq, Wahyu satu kamar. Kamar mereka berdekatan, sama sama di lantai tiga.


Di kamar, Syafa sedang rebahan dan mempersilahkan Shila membereskan semua isi kopernya, sudah menjadi kebiasaan Shila memang yang lebih rajin membereskan barang dibanding Syafa. Kegiatan mereka terganggu karena ada yang mengetuk pintu, Suafa dengan malasnya berjalan ke arah pintu dan membukanya. "Cepet, ke bawah, kita mau pergi ke taman labirin bunga nusantara yang lain udah di bawah, Sya," ucap Wahyu.


"Iya, Kak, duluan aja, nanti gue sama Shila nyusul ke bawah."


Shila yang mendengar percakapan singkat anta mereka, langsung menarik tangan Syafa, "Ayo, ke bawah."

__ADS_1


"Eh, belum beres kan lo beres beresnya?"


"Udah, santai, bisa nanti."


Syafa pasrah ditarik oleh Shila, "Yaudah iya."


Ketika sudah sampai di ruang tengah, tersisa hanyalah Rendra yang memberitahu kepada sepasang saudara kembar untuk ke mobil agar segera pergi ke taman nasional bunga nusantara di Cipanas. Rendra berjalan beriringan dengan Syafa, sedangkan Shila pengintil di belakang mereka. "Sya, nanti di sana enaknya ngapain ya?" Tanya Rendra kepada Syafa.


"Gimana kalau challenge aja, di sama ada labirin terbesar se Indonesia kan? Nah pasang pasangan, siapa yang cepat keluar dari labirin itu yang menang, nanti salah satu yang gak kebagian pasangan jadi jurinya." ucap Shila yang tiba tiba menyempil di tengah tengah Syafa dan Rendra. "Gimana?" tanya Shila, memastikan. Rendra mengangguk, "Boleh, ide lo bagus juga."


"Gue sama lo ya, Sya," ucap Rendra. Syafa menatap Shila yang terlihat ingin sekali bersama Rendra, lagi juga kata Erlan dia harus jaga jarak dengan Rendra bukan? Jadi Syafa menolak ajakan Rendra. "Gue mau sama Raina aja, lo bau," ledek Syafa.


"Masih aja, ngeselin." Rendra awalnya ingin mencubit pipi Syafa, namun buru buru Syafa menepisnya. "Gue ngomong fakta."


"Yaudah, gue sama Shila, ya?"


"Kok nanya ke gue? Nanya ke Shilanya, dong."


"Gimana Shil?"


Shila mengangguk lalu berseru mau, Remdra terkekeh lalu mengacak pelan rambut Shila, di balas rengekan dari gadis itu. "Gue bakal jagain lo."


"Terus siapa yang jagain Syafa kalau lo jagain gue?" tanya Shila.


"Syafa bisa jaga diri sendiri, iya kan, Sya?"


Syafa hanya bisa mengangguk. Jujur, dalam hati kecil Syafa, Syafa belum bisa melepas Rendra, dan menghapus kenangan mereka selama ini. Rendra terlalu baik padanya, tapi dia juga terlalu baik pada semua wanita. Seperti tadi contohnya, ingin rasanya menangis sekarang, namun air matanya tercekat di hati, gak bisa dikeluarin, rasanya nyesek, mau nangis tapi air matanya udah kering. Jadi, gak ada yang bisa dikeluarin. Gak lega.


***

__ADS_1


Berpura pura biasa saja ketika melihatmu dengan orang yang kamu cinta, adalah hal yang biasa ku lakukan.


Complicated Bubble


__ADS_2