Complicated Bubble

Complicated Bubble
7. Terhipnotis


__ADS_3

Kamu dan senja itu kembar, indahnya hanya sebentar.


Complicated Bubble


"Eh gue ke perpustakaan dulu,ya, mau minjam buku sekalian mau setor hafalan jurnal. Mau ikut nggak Sya?" ajak Atika yang sudah membawa buku saku jurnalnya. SMA Starmoonlight memiliki penilaian agama sesuai agamanya masing-masing. Bagi yang muslim pasti menghafal ayat suci Al-Qur'an.  Kelas 11 IPA harus menyetor hapalan pada guru yang sekaligus menjaga di perpustakaan, sudah ditentunkan sewaktu pertama kali  semester satu berjalan.


"Gak, belum hafal Tik, lo duluan ajak," tolak Syafa lengkap dengan alasannya. Atika mengangguk paham, pasalnya Syafa memang jarang terlihat menghapal jurnal. Atika berganti menatap Raina, "Kalau lo Rai, ikut ga?"


"Ga dulu Tik, belum hafal jurnal juga gue."


"Yaudah, gue duluan, ya, bye."


Atika pergi ke perpustakaan ditemani buku jernalnya. Baru saja Atika pergi,  sudah terdengar suara nyaring bak toa masjid kampung durian runtuh menggelebar di kelas ini, mengejutkan setiap manusia yang ada di dslam sana termasuk Syafa dan Raina.


"RAINA! DITUNGGUIN GA DATENG-DATENG, TERNYATA LAGI NGADEM DI KELAS!" teriak Anita, dipanggil Tata. Suara khasnya terdengar seperti suara pekikan doraemon. Semua orang tahu tanpa melihat siapa yang berteriak yaitu Tata. Gadis yang aktif dalam organisasi Paskibra itu sudah sering kali berteriak, dulu dia ingin sekali menjadi danton, sayang suara cemprengnya tidak mendukung.


"Lah? Emang siapa yang nungguin gue? Emang ada apa?" heran Raina, niatnya tadi adalah tidur di kelas dengan nyaman. Semalaman menghabiskan waktu menonton drama Korea mengakibatkan waktu tidurnya terkuras.


"Astaga! Rai, sekarang, kan latihan Paskibra buat lomba, jangan pura-pura lupa, *****!"


Raina menepuk dahinya, bagaimana bisa dia melupakan latihan Paskibra? Huh, mungkin karena masih terbayang Ro Woon SF9 yang berpapasan menjadi Haru di drama Extraordinary You. Raina menarik tangan Syafa ke lapangan, menyuruh temannya untuk menunggunya latihan, agar tidak kembali ke kelas untuk pergi ke kantin bersama.


Semula, Syafa menolak keras ajakan Raina, memilih untuk tidur di kelas, namun Raian menawarkan sesuatu yang tak bisa ditolak, "Gue traktir, deh."


"SERIUS?" Mata bulatnya terbuka lebar mendengar penawaran traktir Raina. Raina mengangguk mengiyakan. Sebelum pergi ketengah lapangan untuk latihan, terlebih dahulu menyuruh Syafa untuk menunggunya di dekat lapangan, tepat nya di depan kelas 11 IPA 4 yang memang  jaraknya terpaut dengan dengan lapangan dan koridor menuju tangga kantin, di sana juga terdapat kursi.


***


"Entah ini perasaan cinta atau bukan,


yang pasti, setiap didekatmu, saya merasakan sesuatu yang berbeda."


Complicated Bubble


Syafa sudah duduk agak lama di sini, memutuskan untuk berdiri hanya sekadar untuk mengubah posisi agar tidak terkesan sedang menunggu seseorang. Badannya menyendor pada tembok, membiarkan dingin tembok menyentuh pakaiannya, "Uh, malu kan gue di sini sendirian, mana diliatin lagi sama orang-orang, kalau bukan karena ditraktir, kaga mau gue nunggu-nunggu kayak gini."


Tak berselang lama, jantungnya yang semula berdebar normal mendadak bergetar lebih cepat dari biasanya. Bulu kuduknya terangkat. Syafa meneguk salivanya, perasannya mulai tidak enak. Syafa pun menoleh ke arah kanan. Tidak ada siapa-siapa, lebih tepat jika dikatan dia tak melihat penampakan hantu yang dia kira sedang berdiri di sampingnya. Namun saat Syafa menoleh ke kiri. Jatungnya semakin berpacu dengan cepat.


Di samping kirinya berdiri Rendra yang juga menyender pada tembok, sambil menatap lekat Syafa. "HANTU!" teriak Syafa sambil menampar pipi Rendra, bergegas lari menuju kelas.


"*****, gue ditampar! Eh, dia malah kabur lagi. Woi Sya!" ucap Rendra. Rendra ikut berlari mengejar Syafa. Karena kecepatan larinya lebih cepat, Rendra berhasil mengejar sekaligus menggenggam tangan Syafa, agar Syafa tidak kabur, pikirnya.


"Apaan sih lepas!"


"Gak mau."


"Lepas, Rendra!"


"Ngapain lo nampar-nampar muka ganteng gue?" ucap Rendra mengalihkan topik.


"Abisnya lo kayak hantu, tiba-tiba ada disamping gue."


"Iya gue hantu, hantu yang sekarang, besok dan seterusnya akan menghantui hati lo."


"Gausah kepede-an!" ucap Syafa sambil menampar Rendra lagi. Tetapi kali ini tamparnya pakai hati, tidak seperti tadi, pakai kekerasan.


"Lo modus ya nampar-nampar gue biar bisa merasakan halusnya muka ganteng gue, ya, kan?"


"Eh, lo kali yang modus berdiri disamping gue terus pake acara liatin gue, kenapa? Gue cantik?"

__ADS_1


"Udah berapa kali gue bilang ke lo, lo itu cewe ter-cantik, Sya. Gue gak kayak lo ya, yang ga pernah mengakui ketampanan gue."


"Ya karena emang muka lo gak ada ganteng-gantengnya."


"Ck, terserah lo deh, yang penting sekarang lo tanggung jawab!"


Syafa menghela napasnya. Berkali-kali dia menolak. Berkali-kali juga Rendra memaksanya untuk memimta maaf atas tamparan yang dia daratkan ke pipi Rendra dua kali.  Akhirnya, Syafa mengalah saja pada Rendra dan meminta maaf meskipun sangat tidak ikhlas.


"Sembuhin pipi gue," tambah Rendra.


"Caranya?"


"Pegang pipi gue."


"Gak mau!"


"Jangan dilepas, Sya." ucap Rendra, lembut, sambil memegang tangan Syafa yang ada dipipinya.


'Kok gue merasa dihipnotis, ya, sama ini orang? Mata lo bikin gue ketagihan untuk menatapnya, suara lo bikin hati ini damai saat mendengarnya," batin Syafa.


Jadi, posisi mereka itu saling hadap-hadapan satu sama lain. Tangan kiri Rendra memegang tangan kiri Syafa. Tangan kanan Syafa memegang pipi Rendra, dan tangan kanan Rendra memegang tangan Syafa yang ada dipipinya. Semua manusia yang melihat mereka saling berbisik satu sama lain.


"Lepas, Ren! Tangan gue gatel-gatel tau ga dipegang sama lo!" ucap Syafa.


"Gak mau!"


"Lepas! Diliatin orang-orang, gak enak."


"Berarti kalau di tempat sepi, lama-lama gapapa?"


"Apaan sih! Lepas, Rendra!"


"Gue gak akan pernah ingin melepas lo, karena gue udah cintai sama lo.


Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Rendra pun melepaskan pegangannya, setelah itu Syafa pun langsung lari dan masuk ke kelasnya dengan pipi yang memerah.


Sedangkan Rendra yang melihat Syafa seperti itu, bibirnya membentuk sebuah lekungan yang membuat dirinya semakin tampan.


***


Saya menyukai semua yang ada di dirimu,


Kecuali satu hal, yaitu


Kamu tau caranya bikin saya jatuh cinta,


Tapi kamu gak tau caranya memberi kepastian.


Complicated Bubble


"Eh, Tik, udah ke perpustakaannya?"


"Hmm."


"Ngafal jurnalnya udah?"


"Hmm."


"Di perpustakaan nyari buku apa?"

__ADS_1


"Novel."


"Wuih, ceritanya tentang apa, Tik?"


"Ck, berisik banget sih lo, Sya!"


"Lo kenapa sih, Tik? Tumben banget marah-marah kalau gue cerewet?"


"Harusnya gue yang nanya, lo kenapa, Sya!"


"Kenapa apanya, Tik? Emang gue kenapa? Gue kan dari dulu emang cerewet."


"Gausah pura-pura gatau deh, Sya!"


"Gua emang gatau, Tik, kenapa sih? Gue salah apa?"


"Pikir aja sendiri."


"Lah si Atika kenapa? Gak biasanya dia kayak gini. Apa gue udah ngelakuin kesalahan? Tapi kesalahan apa? Apa jangan-jangan...' batin Syafa.


"Tik, gue minta maaf."


"Buat?"


"Kesalahan yang udah gue lakuin."


"Atika, gue minta maaf."


"Tika ih, jawab," ucap Syafa sambil memegang tangan Atika.


"Ck apaan sih pegang-pegang."


"SYAFA! GUE CARIIN DIKANTIN JUGA! TAUNYA UDAH DI KELAS! LU KOK GA NUNGGUIN GUE SIH?"


"Hehe Sorry, Rai."


"Gue muter-muter ke kantin cuma buat nyari lo, taunya lo udah di kelas."


"Lah suruh siap muter-muter."


"Ih Syafa mah! Gak jadi traktir, nih!"


"Eh jangan dong, Raina cantik! Kuy ke kantin."


"Yaudah, karena lo bilang gue cantik, gue traktir, deh. Kuy!"


"Tik, ikut ga?" tanya Syafa.


"Ga, makasih," jawab Atika, datar.


"Yaudah duluan ya, Tik," ucap Syafa sambil tersenyum.


"Lah? Si Atika kenapa Sya?"


"Entah, ga biasanya dia kek gitu."


"Iya, biasanya dia paling semangat ke kantin, deh."


"Salah gue, Rai," Ucap Syafa sambil tersenyum miris.

__ADS_1


"Lo salah apa?"


"Nanti aja gue jelasin."


__ADS_2