Complicated Bubble

Complicated Bubble
39. Dicintai


__ADS_3

Kamu tahu? Selama ini aku merindukanmu.


Complicated Bubble


"Tangan kamu merah, kita ke UKS," kata Rendra, keduanya berjalan beriringan menuju UKS.


Sesampainya di UKS yang sepi, tumben gak ada penjaga UKS, eh bukan setan ya tapi manusia.


Rendra mengompres tangan Syafa dengan air dingin, biasa ngambil dari air dispenser. Syafa menatap Rendra yang tengah serius mengompres tangannya. Ia merasa bersalah, sungguh. Air matanya mengalir, ia mengigit bibir bawahnya, menahan isakan dari bibirnya.


"Masih sakit?" Rendra mendongkakan kepalanya, terlihatlah Syafa yang tengah menangis itu.


"Hey... udah jangan nangis lagi," tangan Rendra memegang tangan Syafa.


"Maaf."


"Kamu gak salah."


"Aku salah, aku lupa sama janji aku."


"Aku salah, bikin kamu berantem tadi."


"Aku gak papa Sya, kamu gak salah."


"Gak, kamu itu lagi kenapa-kenapa!"


"Sok tau dih hahaha," tawa Rendra menderai melihat wajah cute milik Syafa yang sedang menangis tapi juga marah-marah.


"Di film-film kan kalau kepalanya di pukul pake kayu gitu, cowoknya kesakitan!"


"Hahahaha, korban filmnya keciri banget."


"Tapi benar kan!? Itu pasti sakit, kalau aku yang kena pasti aku udah nangis tau!"


"Untung aku yang kena."


"Ih kok untung? Kan jadinya aku nangis gara gara kamu dipukul tadi!"


"Kenapa kamu nangis?"


"Aku gak mau kamu kenapa-kenapa!"


"Selama ada kamu, aku akan baik-baik saja, sangat baik."


"Gombal mulu!"


"Marah-marah mulu, tapi lucu," kata Rendra ia kembali tertawa melihat Syafa mengerucutkan bibirnya.


"Peluk boleh?" tanya Rendra.


"Ada syaratnya."


"Kok pake syarat sih Sya?"


"Suka suka, mau peluk gak ?"


"Ya, mau lah."


"Habis peluk, kamu harus tidur di UKS, harus istirahat."


"Iya Sya."


"Janji?"


"Janji."


Tanpa aba-aba, Syafa langsung saja memeluk Rendra, sedangkan Rendra hanya terkekeh geli, Rendra kembali memeluk Syafa dengan erat. Sungguh, ia rindu pelukan ini, setelah sekian lama.


"Kamu tahu? Selama ini aku merindukanmu, selama tak bersamamu kemarin, sangat menyiksa diriku."


"Lebay, hahaha." Di balik pelukan itu, keduanya saling tersenyum bahagia.


"Udah ah pelukannya," kata Syafa, melepas pelukannya.


"Sekarang kamu tidur,"


"Tapi ditemenin kamu kan?"


"Iya."


Rendra mencubit pelan pipi Syafa. "Untuk ngapus cubitan Zaldi," kata Rendra sebelum akhirnya ia berjalan menuju kasur dan berbaring. Jujur sebenarnya kepalanya sedikit pusing.


Syafa berjalan menghampiri Rendra yang tengah berbaring dan memejamkan matanya. Ah Rendra sangat tampan ternyata jika sedang tidur. Syafa yang tengah memperhatikan wajah tampan Rendra lumayan terkejut karena sebuah tangan mengenggamnya, dan tangan itu adalah tangan Rendra. Syafa tersenyum lalu duduk di kursi disamping kasur. Tanpa sadar Syafa ikut tertidur dengan posisi duduk.


...


"Sya!" teriak Fiza ketika Syafa baru saja menginjakkan kaos kakinya di lantai kelas.


"Akhirnya lo datang!"


"Menanti amat kedatangan gue."


"Ini genting stadium akhir!"


"Lebay!"


"Serius gua!"

__ADS_1


"Apa?"


"Lo ganti baju olahraga, nih punya Raina."


"Lah buat apa?"


"Lo gantiin Naira lomba tata boga."


"Hah? Kenapa?"


"Dia mendadak sakit."


"Dih gak lah, gue gak bisa masak."


"Ah ayolah temenin gue, masakan lo enak kok, please please please."


"Sistemnya gimana?"


"1 menit ngambil bahan-bahan terus 1 jam masak, itu ngambil barang-barangnya kayak di dapur mama seru, tau kan lo?"


"Heum... Emang masak apa?"


"Apa aja, yang berbahan dasar daging."


"Daging apa?"


"Bebas."


"Terus lo masak apa?"


"Masak nugetĀ  yang pernah lo bikin, gue terinspirasi dari lo."


"Najis lo, muji-muji ada maunya doang!"


"Hehehe, tapi serius gua."


"Iya iya, terus minumnya apa?"


"Es teh magic."


"Anjay, keinget SMP gue."


"Hahaha sama. Udah cepat ganti baju."


"Iye bawel!"


Syafa pergi menuju kamar mandi ditemani oleh Fiza untuk mengganti pakaiannya. Tepat setelah selesai berganti baju, berkoarlah panitia memanggil peserta tata boga dari speaker.


"Ayo Sya, ke lapangan," ajak Fiza.


"Pak you, gue bukan emak tiri lo penyu," kata Fiza menarik tangan Syafa agar bergegas ke lapangan.


"Hahaha selaw mak, marah marah mulu, heran."


Sesampainya di lapagan yang tengah tersedia alat dan bahan yang biasanya terdapat di dapur dan warung warung disertai pembatas antara peserta dengan penonton yang bejibun.


Raina dan Syafa berada pada stand no 9, pojok kanan dekat garis antara penonton dan peserta, tempat yang sangat strategis untuk telinga meledak.


Perlombaan pun dimulai dengan mebambil bahan masakan dalam waktu menit. Ah jangan tanya, Syafa dan Fiza mengambil bahan-bahan semuanya dengan sangat cepat, bahkan barang yang tak dibutuhkan pun mereka embat, dasar picik.


Bahan yang dibutuhkan :



Tepung roti


Brokoli


Tepung segitiga biru


Wortel


Keju


Ayam giling


Bunga telang kering


Lemon


Es batu


Air


Minyak goreng


Royko ayam


Telor



Dan sialnya, ayamnya gak ada yang udah digiling tapi adanya ayam yang masih utuh. Dan giling ayam itu gak gampang mas bro!


Waktu masak dimulai!


"Aduh Sya, kudu banget ya giling-giling ayam?!"

__ADS_1


"Gue gak bisa giling giling ayam."


"Bisanya giling cowo yang sukanya ninggalin."


"Ngoceh mulu lo, mending lo potongin wortel sama brokoli sana!"


"Iye iye embok!"


"Hey, jaga ya!" kata Syafa, ia melempar lempengan kol ke kepala Fiza dan tepat sasaran.


"Syafa!!!!!!"


Teriakan mau Fiza mampu menyihir mata semua orang hingga semuanya meihat ke arah mereka berdua.


"Ada apa stand no 9?" tanya salah satu panitia.


"Gak apa-apa kok," jawab Syafa menampakkan senyum kikuknya.


"Heheh sorry," sahut Fiza ketika mendapat tatapan maut dari Syafa.


"Gece kerja, ngoceh mulu lo kayak handphone barbie."


Syafa kembali fokus memotong ayam utuh itu menjadi beberapa bagian kecil, mengeluarkan tulangnya, membersihkan darahnya sebelum akhirnya daging ayam itu dimasukkan ke tempat penggilingan otomatis yang tersedia.


Tanpa Syafa sadari, Rendra tersenyum melihat Syafa yang serius menggiling ayam, Rendra pun tak lupa untuk mengabadikan momen itu.


Syafa telah selesai menggiling ayam, Fiza telah selesai memotong wortel, parutan keju dan brokoli serta membuat adonan nuget. Mereka pun mencampur semua bahan bahan tersebut hingga merata. Setelah itu menaruh adonan ke wadah yang telah di alasi plastik, setelah itu di kukus.


Selagi menunggu kukusan, mereka menyiapkan tepung roti, piring dan menghiasnya. Setelah kukusan matang, mereka memotong kukusan nuget menjadi ukiran nuget yang seperti biasa, menaruh kukusan nuget satu persatu ke dalam tepung biasa sebelum akhirnya ditutup oleh tepung roti dan digoreng. Selagi Syafa menggoreng nuget, Raina membuat teh magic.


Finally! Mereka selesai!


Semua makananan diletakkan dideretkan dengan nama stand tertampang jelas. Setelah selesai penilaian, sisa makanan dan minuman selain yang disediakan untuk juri, boleh dibawa ke kelas dan dimakan bersama!


"Hello!" kata Rendra tiba-tiba mengagetkan Syafa yang ingin berjalan menuju kelas bersama Fiza dengan membawa makanan.


"Ih kebiasaan, ngagetin mulu kerjaannya!"


Rendra tak menyahuti umpatan Syafa, namun ia justru mengambil nuget dan memakannya.


"Eh!" terkejut Syafa terheran-heran.


"***** lo nyuri satu nuget gue!" teriak Fiza.


"Aku tahu satu hal," kata Rendra menatap Syafa. Syafa mengangkat satu alisnya.


"Bodo ah, gue duluan, Bye!" ucap Fiza.


"Kamu masak pakai perasaan, sampai-sampai nugetnya suka sama kamu, jadinya rasanya enakkkk banget."


"Teori ngaco! Hahaha."


"Serius Sya, nugetnya mau dimakan sama kamu, coba makan nugetnya, pasti nanti dia senang.. aaaa." Rendra menyuapi Syafa dengan lembut, oh my God! Mereka jadi pusat perhatian sekarang.


"Gimana? Benarkan?"


"Apa yang benar?"


"Nugetnya senang dimakan sama kamu."


"Maybe."


"Selamat."


"Untuk?"


"Sudah bikin senang nugetnya."


"Hahaha, apasih gadanta tau!" tawa Syafa menderai, ia menampar gemas lembut dan oelan pipi Rendra, Rendra tersenyum lalu mengacak rambut Syafa gemas.


"Nugetnya udah dibikin senang, jadi gantian kamu bikin senang aku."


"Dengan cara? Dimakan?"


"Bukan."


"Hahaha. Terus apa dong?"


"Dicintai."


"Udah."


"Hahaha."


"Kok ketawa sih?"


"Senang dicintai oleh kamu."


"Apa banget! Hahaha."


"Kamu tahu?"


"Apa?"


"Kamu sudah terkunci dalam hatiku, nggak bisa diganggu gugat apalagi dicabut." Rendra memindahkan piring nuget yang berada ditangan Syafa ke meja stand terdekat. Setelah itu ia memegang satu tangan Syafa. Dan diletakkannya di dada bidangnya.


"Kamu selalu ada di sini, disetiap detik, disetiap nafas, selagi aku hidup, aku akan selalu mencintaimu."

__ADS_1


__ADS_2