
Jadi bayangan itu gak enak.Selalu berusaha mensejajarkan langkahmu. Namun ketika sejajar justru tak terlihat.
Complicated Bubble
"Kamu sih pakai acara kayak gituan, dihukumkan jadinya," kesal Syafa.
"Gapapa, aku senang."
"Kok senang sih!"
"Kan dihukumnya berdua, sama kamu," jawab Rendra, tanganya mencubit pelan pipi Syafa. "Untuk tadi malam, maaf ya," lirih Rendra penuh rasa bersalah.
"Gak papa, aku gak marah."
"Serius?"
"Iya, yaudah mending bersihin ruang musik sekarang deh."
"Ngapain? Udah bersih kali, lagian bu Meta yang gak pernah nonton pagelaran mau tau ini tempat kinclong banget, dia taunya tempat ini besar jadi ngehukum kita bersihin, padahal udah bersih."
"Lah terus kita ngapain di sini?"
"Main musik."
"Aku gak bisa main musik," jujur Syafa.
"Aku ajarin."
"Seriosly!?" ujar Syafa dengan sorot mata yang berbinar kesenangan, membuat Rendra tersenyum gemas dengan gadisnya ini.
"Iya, mau main alat musik apa?"
"Vibra!"
"Serius? Gak piano aja?"
"Aku maunya vibra! Dari dulu tuh mau banget masuk marching band dan megang alat vibra, tapi, gak dibolehin sama Mama, katanya kalau jalan santai pasti marching band yang ngiring, sedangkan aku kan phobia keramaian."
"Ya udah, aku ambil vibranya dulu." Rendra berjalan ke area tempat musik musik berjajar rapi, lalu ia kembali dengan mendorong sebuah alat musik bernama vibra itu. Rendra mengambil empat alat pemukul vibra, dua untuknya dan dua lainnya untuk Syafa. "Nih jadi gini cara pegangnya," ajar Rendra, tangan Rendra memengang stik pemukul vibra dengan kuku yang menekan bagian kayunya.
Syafa mencoba memegang stik dengan benar, namun Rendra tertawa "Haha, bukan gitu Sya."
"Terus gimana?" tanya Syafa dengan polosnya. Rendra menaruh stiknya di atas vibra, tangannya memegang satu tangan Syafa dan membenarkan cara memegang stik. "Nah gitu, kukunya neken ke stiknya."
"Oh, kayak gini?" tanya Syafa saat mencoba memegang stik di tangan yang satunya. "Iya gitu."
Kemudian Rendra mengajari Syafa cara memainkan akor dalam alat musik vibraphone ini.
"Thanks ya," ucap Syafa tulus.
"Anything for you," sahut Rendra, tangannya lagi lagi mencubit kedua pipi Syafa. Syafa mendesah pelan karena pipinya masih terasa sakit karena tamparan Papanya kemarin.
"Pipi kamu kenapa?" tanya Rendra, ketika menyadari sebelah pipi kanannya agak merah.
"Kamu mah cubit pipi aku terus," sebal Syafa, mengalihkan topik.
"Sya, jawab."
"Jawab apa?" ucapnya pura-pura tak tahu.
"Pipi kamu kenapa?"
"Gak papa."
__ADS_1
"Bohong!"
"Ih gapapa juga."
"Kok merah sih?"
"Pake blush on."
"Sejak kapan kamu ke sekolah make up kayak cabe-cabean?"
"Sejak aku suka kamu."
"Sya aku serius. Pipi kamu kenapa?" ulang Rendra, tangannya menyentuh pipi Syafa hingga membuat desahan kecil dari bibir Syafa.
"Tuh kan, kamu kesakitan padahal cuma aku sentuh, kenapa hey?"
"Ditampar?" selidik Rendra. Membuat Suafa bungkam seribu bahasa dan turunan dalam fisika.
"Siapa yang nampar kamu?"
"Gak ada Ren, aku gak ditampar siapa-siapa."
Rendra mendecak sebal karena Syafa yang tidak mengakui dan jujur kepadanya. "Kita ke UKS sekarang," kata Rendra, ia menarik tangan Syafa menuju UKS. Sesampainya di UKS Rendra mengompres pipi Syafa dengan es batu yang dibelikan oleh Hana, petugas PMR, lebih tepatnya disuruh Rendra ke kantin untuk membeli es batu guna mengompres pipi Syafa.
Rendra mengompres pipi Syafa penuh perasaan. Syafa menatap wajah Rendra di depannya deban tatapan yang sulit diartikan, antara tatapan kagum, senang, terharu, sedih. Kagum karena melihat ketampanannya, senang karena dia begitu tulus dan perhatian kepadanya, terharu karena dia selalu menjaganya, sedih karena ia belum bisa menceritakan semua kepadanya. Tuhan, jangan jauhkan Rendra darinya. Hanya dia satu-satunya yang selalu ada untuknya, membangkitkannya dari keterpurukan, mengingatkan cara tertawa dan bahagia. Memberitahu rasanya diperhatikan. Menumbuhkan rasa cinta yang telah lama hilang, kandas. Memahami artinya ketulusan.
"Kok kamu nangis?" histeris Rendra karena melihat air mata Syafa yang membasahi pipinya.
"Ah, emang iya ya?" kekeh Syafa sembari mengusap air matanya.
"Kamu kenapa sih Sya?"
"Gak papa, cuma senang bisa milikin hati kamu."
"Aku boleh minta satu permintaan?" lirih Syafa dalam pelukan itu.
"Apa?"
"Jangan pergi."
"Aku gak akan pergi, aku akan selalu di samping kamu, menjagamu."
"Thanks for everything."
"No promblem cause I love you."
"Hahaha apaan sih kok jadi mellow gini," kekeh Syafa melepaskan pelukannya. Rendra bisa merasakan bahwa gadisnya ini sedang tidak baik baik saja, namun ia tidak akan menanyakan hal itu padanya karena pasti gadis itu tak mau jujur, jadi dia akan mencari tahunya sendiri. Ya dia harus tau, yakin Rendra dalam hatinya.
***
Dari sekian juta cowo ganteng. Bodohnya, aku justru mencintaimu. Mencintai orang yang selalu melukai hatiku tanpa sadar.
Complicated Bubble
"Teman-temanku yang amat imut dan menggemaskan! Raina yang cantik latihan paskibra dulu ya! Bye curut warna warni kayak cabe-cabean!" histeris Raina, ia bergegas pergi keluar kelas sebelum teman-temannya itu beraksi gila kepadanya.
"RAINA TUNGGUIN GUE!" suara melengking milik Syafa mampu memberhentikan langkah Raina yang sudah berada di ambang pintu.
"SYAFA BISA GAK SIH GAK TERIAK! LO GAK KASIAN APA SAMA GUE, UDAH OTAK BUDEG ENTAR KUPING IKUTAN BUDEG DENGAR SUARA LO ITU!" teriak Raina.
"Najong, lo juga teriak cabe!" ujar Syafa sebal.
"RAINA ITU CABE TAPI RATUNYA CABE YA SYAFA LAH. SYAFA KAN NGANGON ITIK WARNA WARNI LENGKAP DENGAN---"
__ADS_1
"RAINA ADA ANGGARA!" teriakan Syafa memberhentikan ucapan Raina tadi, Syafa tersenyum picik melihat Raina yang celingukan mencara keberadaan Anggara degan pipi merah karena malu dengan tingkahnya, Syafa akhirnya keluar dari kelas dan memakai sepatu sebelum mendengar teriakan dari Raina, lagi.
"SYAFA LO BOHONG YA! DASAR SYAFA AL KADZAB!"
"Santai kali Rai."
"Lo bikin gue kesel mulu. Ngefans sama gue bilang!"
"Najong. Eh btw latihan paskibra putra putri?"
"Iya, latihan gabungan sekarang, lusa lombanya."
"Gue ikut ya! "
"Mau liat pacar?"
"Iyalah mau nyemangatin!"
"Najis, sahabat gak disemangatin giliran doi disemangatin. Laknat emang lo. Pacaran gak bilang-bilang lagi, lo utang traktiran titik!"
"Hahaha iya santai aja. Yuk ke lapangan."
Mereka berdua berhalan beriringan menuju lapangan. Namun langkah Syafa berhenti ketika melihat gadis di halte malam itu, Kanaya, Syafa ingat itu. Kanaya sedang tertawa bersama Rendranya.
"Kenapa lo?" tanya Raina heran.
"Enggak, lo duluan aja, gue beli minum buat Rendra, lo mau nitip apa? Gue bayarin."
"Aqua gak dingin aja, lagian gak boleh minum es kalau ketahuan bisa di marahin."
"Ya mana gue tahu, yaudah gue ke kantin dulu. Bye!"
Setelah membeli aqua botol, Syafa kembali berjalan menuju lapangan. Ia dapat mengetahui bahwa mereka sudah latihan, terdengar suara komandon dari danton paskibra. Syafa melihat Kanaya sedang duduk di depan lapangan. Secara tidak sengaja, Kanaya menatap Syafa yang sedang berjalan. Syafa tersenyum kepada Kanaya yang dibalas senyuman oleh gadis itu, Kanaya mengibaskan tangannya menyuruh Syafa duduk di sampingnya. Syafa pun menghampiri Kanaya duduk di sampingnya.
"Kanaya," ucap Kanaya sambil menyodorkan tangannya, Syafa dengan senang hati menerima jabatan tangan dari Kanaya "Syafa."
"Gue kelas 12 tapi gue sekolah di SMA Nusa Bangsa, gue ke sini mau lihat Rendra," sahut Kanaya menjawan sebuah pertanyaan yang tersimpan dalam batin Syafa.
"Lo ke sini ngapain? Bukannya pulang?" tanya Kanaya.
"Nungguin sahabat gue pulang Kak," jawab Syafa sedikit berbohong.
"Oh. Rendra kalau lagi paskibra jadi keren ya," puji Kanaya ketika melihat Rendra.
"Gue kangen deh sama Rendra," ucap kanaya lagi.
"Kakak siapanya kak Rendra?" akhirnya pertanyaan itu berani Syafa lontarkan.
"Oh, gue sahabatnya Rendra dari orok malah kayaknya hahaha."
"Cuma Rendra yang bisa ngertiin gue disaat semua orang gak ngerti sama keadaan gue."
"Rendra itu segalanya bagi gue, gue sayang dia, dia juga sayang sama gue."
"Kenapa gak pacaran aja Kak? Kan saling sayang?" tanya Syafa.
"Kata Rendra, kalau pacaran takut putus, dia kan takut kehilangan gue." Mendengar jawaban Kanaya membuat Syafa bungkam dan tersenyum menanggapi Kanaya.
Mereka akan segera istirahat, Syafa tahu karena pelatihnya tadi berbicara untuk mereka beristirahat sejenak. Langsung saja saat Rendra berjalan ke arahnya dan Kanaya, Syafa menyodorkan aqua yang tadi ia beli, hal itu pun sama dilakukan oleh Kanaya dalam waktu yang bersamaan.
Rendra memilik minuman dari Kanaya!
"Thanks Nay," kata Rendra sembari tersenyum kepada Kanaya. Sedangkan Syafa menarik uluran tangannya itu dan berjalan ke arah Raina.
__ADS_1
"Rai, nih aqua buat lo sama Bella."