
Bahagiaku menjadi sederhana kalau sedang bersamamu.
Complicated Bubble
Syafa mengerjapkan matanya berkali-kali lalu melihat jam dinding di kamarnya.
05.30
Sakit perut dan sesak nafasnya sudah hilang, namun kini kepalanya terasa pusing.
Syafa berjalan menuju kamar mandi, setelah itu ia bersegera untuk berangkat sekolah.
Syada berdiri di depan cermin. Ia melihat wajahnya yang sangat pucat.
"Nambah putih aja gua haha," ia terkekeh dengan hikmah dibalik pucat di wajah, membuat wajah nampak putih.
Syafa mengambil liptint lalu memoleskannya sedikit di bibir, guna menyembunyikan bibirnya yang pucat. Sudah liptint saja, ia tak berniat memakai bedak bayi kesukaannya.
Syafa tahu jam segini, pasti Mama dan Adeknya sudah pergi ke sekolah dan hanya menyisakan makanan di meja makan, yang selalu Syafa jadikan bekal dan akan di makan ketika sudah siang. Karena, setiap Syafa makan pagi, selalu keluar lagi ke lubang sepiteng.
Syafa sudah siap berangkat sekolah!
Ketika Syafa membuka pintu rumahnya. Ia terkejut melihat Rendra yang duduk di motornya.
"Rendra ngapain?"
"Jemput."
"Siapa?"
"Lo."
"Gue"
"Iya."
"Yaudah berangkat."
"Sekarang?"
"Iya lah masa besok sih!"
"Yaudah besok aja, biar seharian gue d isini mandang wajah lo."
"Gausah mulai, ayok berangkat."
"Hahaha, iya bentar," Rendra mengambil helm di jok motornya lalu ia memakaikannya di kepala Syafa. Setelah itu ia memandang wajah Syafa lalu menekan kedua pipi Syafa dengan satu tangan.
"Selamat pagi Syafa, lo cantik," Syafa hanya diam memandang Rendra. Kesambet apaan ini orang!?
"Naik, kita berangkat sekarang."
Selama di perjalanan, Syafa tak bisa menahan senyumnya pagi ini. Ia melihat mentari di langit yang sedang tersenyum ke arahnya.
Tanpa Syafa sadari, Rendra sekali-kali melihat Syafa dari kaca spion.
"Seneng banget dijemput sama pangeran?" goda Rendra. Senyum jailnya tertampang jelas di wajahnya.
"Pangeran dari mana! Alien iya,"
"Hahaha,"
"Kok lo ketawa!?"
"Lagi seneng."
"Kenapa?"
"Berangkat sama tuan putri."
"Bahagia gue menjadi sederhana kalau sedang bersama lo."
***
Kamu tahu satu hal terindah yang pernah aku lakukan? Mengukir kenangan bersamamu.
Complicated Bubble
Rendra dan Syafa berjalan beriringan melewati koridor. Semua mata menatap mereka. Bagaimana tidak? Rendra yang most wanted di sekolah dengan paras yang sudah sangat sempurna merangkul Syafa yang juga sangat cantik.
"Ren..."
"Hm?"
"Tangannya jangan di situ."
"Kenapa?"
"Diliatin, gue malu."
"Hahaha, lo tahu kenapa gue rangkul lo?"
"Kenapa?"
"Biar bidadari Rendra gak diambil orang."
"Lagi serius tau."
"Gue serius," tiba-tiba Rendra berhenti, membuat Syafa yang dirangkulnya ikut berhenti.
__ADS_1
"Sya, tatap mata gue," Syafa menatap mata Rendra, lalu Rendra menggengam kedua tangan Syafa.
"Izinkan gue menjadi malaikat penjagamu mulai detik ini."
"Malaikat penjaga?"
"Iya."
"Gue gak ngerti."
"Sya, ada yang ingin aku sampaikan mengenai hati dan perasaan, hatiku telah diluluhkan oleh mentari didepanku, perasaanku telah dipenuhi oleh peri cantik yang tangannya sedang ku genggam. Aku sayang kamu, aku cin---,"
"RENDRAAAAAA!"
"LO DIPANGGIL PAK REY WOE!"
"PENTING KATANYA!"
"RENDRA KOK LO DIEM AJA SIH!"
"Ck ganggu aja," batin Rendra mengutuki Faiq yang datang menganggu semuanya~
"Iya nanti gue ke ruangan pak Rey."
"Sekarang kambing!"
"Bilangin, gue mau nganter Syafa ke kelas, nanti gue ke sana."
Rendra kembali merangkul Syafa, dan berjalan menuju kelas Syafa. Namun, Syafa berhenti mengentikan langkah Rendra.
"Lo ke ruangan pak Rey aja, gue bisa ke kelas sendiri kok."
"Tapi Sya..."
"Udah, lo sama Faiq ke ruangan pak Rey aja, gue gak mau lo dimarahin sama pak Rey."
"Nah betul tuh betul Sya! Udahlah Ren, Syafa akan selamat sampai kelas kok, iya gak Sya?"
"Iya."
"Beneran?"
"Iya Rendra."
"Nanti gue ke kelas lo."
"Iya, udah sana, kasian cacing comberan udah karatan,"
"***** LO---" ucapan Faiq terhenti melihat tatapan tajam dari Rendra yang---cukup mengerikan.
"Untung gebetan Rendra."
"Iya hati-hati," setelah itu mereka berdua berjalan berlawanan arah. Syafa ke kelasnya, Rendra ke ruangan pak Rey.
Baru beberapa langkah Syafa berjalan, ia kembali berhenti ketika mendenger suara Raina yang meneriaki namanya.
"SYAFA TUNGGUIN GUE!" setelah Raina sudah sejajar dengan Syafa, ia merangkul Syafa.
"Selamat pagi Sya!"
"Udah gak usah banyak bacot, mau ke kantin kan?" ucapan Syafa mampu membuat Raina terkekeh pelan.
"Tau aja lo, mari kita ke kantin!"
"Eh tapi sambil nyanyi dong Sya."
"Nyanyi apa?"
"Sayur kol, tapi makan daging mageb yak Sya."
"Najis abis diphpin mah beda aja."
"Yaudahlah yang lagi PDKT mah beda aja."
"Hahaha ules lo gak biasa sumpah Rai."
"MAKAN DAGING MAGEB DENGAN SAYUR KOL."
"SAYUR KOOOL SAYUR KOOOL MAKIN DAGING MAGEB DENGAN SAYUR KOL."
"WOI KAMPRET KOK GUE DITINGGAL SIH!"
...
Percayalah, diam-diam aku selalu menjagamu lewat do'a-ku.
...
"Rai, traktir basreng yak."
"Gratisan mulu otak lo."
"Kan, membudayakan hemat."
"Lo hemat gue melarat!"
Raina segera ke stand Bude Jiji untuk memesan nasi goreng dan basreng pesanan Syafa. Sedangkan Syafa tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Raina.
"Seneng banget yak pagi pagi udah ketawa," perkataan seseorang membuat tawa Syafa terhenti.
__ADS_1
"Iya lah Don, kan dia habis diantar mantan lo."
"Anak kayak dia dibanding lo masih cantikan lo, mata Rendra katarak kayaknya."
"Ada apa ya?" Syafa memberanikan diri menanyakan hal tersebut kepada Dona, Keisha dan Kayra.
"Gak salah denger kan kuping gue? LO NANYA ADA APA? LO GAK NYADAR KESALAHAN LO APA?" teriakan Dona, mampu menarik perhatian semua orang, termasuk Raina. Raina segera berlari keluar dari kantin, mencari Rendra.
Syafa yang menyadari keadaan langsung memasang headset. Ia malas meladeni kakak kelas caper kayak Dona.
"Gue tanya sama lo, punya mulut gak sih!"
"Wah, merasa sok cakep ini anak!"
"Udah sikat aja Don."
Dona yang melihat kecuekan Syafa, langsung menggebrak meja.
"LO GAK TULI KAN!?"
"Maaf kak, masih pagi, gak baik marah-marah."
Mendengar perkataan Syafa, Dona langsung menjambak rambut Syafa dengan sekuat tenaga, sedangkan Syafa menutup matanya, menahan nyeri di kepalanya. Setelah itu, Dona langsung mendorong Syafa hingga tubuh Syafa jatuh ke lantai bersamaan dengan meja yang ambruk.
"BANGUN LO!"
Syafa dengan sekuat tenaga yang ia punya, berusaha untuk berdiri.
"Kei, Kay!" perintah Dona, Keisha dan Kayra langsung memegang kedua tangan Syafa.
Setelah itu, Dona memegang dua es jeruk dan dituangkannya tepat di kepala Syafa.
"Gimana? Dingin?"
"Gue peringatin, jangan pernah deketin Rendra!"
"Lo cuma mantan, bukan pacar."
Ucapan Syafa, membuat Dina naik pitam ia segera menampar Syafa. Belum sempat tangannya itu mendarat di pipi Syafa, tangannya sudah lebih dahulu ditangkap seseorang.
"Rendra?"
"Tangan lo yang busuk ini ga cocok nyetuh pipi Syafa,"
"Lepasin tangan dia," suara dingin Rendra mampu membuat Kayra dan Keisha melepaskan tangannya.
Rendra segera membuka jaketnya lalu ia memasangkannya di tubuh Syafa.
"Pergi lo, gak usah ganggu dia lagi. Kalian yang sudah seperti bangkai gak cocok ngebully, kelihatannya makin kayak bangkai."
Rendra yang melihat Syafa menunduk langsung menarik halus tangan Syafa, membawanya entah kemana.
"Maaf," ucap Syafa.
"Duduk," perintah Rendra ketika mereka sudah sampai di taman belakang.
"Pakai jaket yang bener," Suara dingin Rendra, membuat Syafa lagsung menuruti perintah Rendra.
Tanpa disuruh, Rendra membenarkan rambut Syafa yang acak-acakan dengan tangannya. Sedangkan Syafa? Menatap Rendra dengan jarak dekat seperti ini membuatnya dag-dig-dug-ser senang bercampur takut.
Setelah rambut Syafa kembali rapi, ia menggosokan kedua tangannya, lalu ia menangkup pipi dingin Syafa. Berulang ulang ia melakukannya.
"Masih dingin?"
"Udah lumayan gak kok."
Rendra memegang tangan Syafa, dingin, itulah yang ia rasakan.
"Tangan lo dingin."
"Efek grogi."
"Tumben ngaku?"
"Tapi serius, gue gugup tau, jadi tangannya dingin, suer deh!"
Rendra lega ketika melihat Syafa yang sudah banyak bicara, ia terkekeh pelan. Tanpa aba-aba, Rendra memeluk Syafa, erat.
"Lo gak marah sama gue lagi kan? Maaf."
"Gue gak marah sama lo."
"Tapi lo galak sama Sgue tadi," Rendra tak bisa menahan tawanya, ia tertawa membuat Syafa mendecak sebal.
"Lo udah ke ruangan pak Rey nya?"
"Baru sebentar, Raina langsung nyamperin, gue langsung ke kantin."
"Maaf."
"Gak papa, gue lebih seneng sama lo daripada sama pak Rey."
"Apasih, jayus!"
"Emang jayus, kan gue serius."
"Aku boleh jadi malaikat penjagamu?"
deg.
__ADS_1
"Aku? Tumben Rendra pakai kosa kata aku-kamu?" batin Syafa, heran.