Complicated Bubble

Complicated Bubble
34. Kotak Biru


__ADS_3

Yang pergi tanpa peduli, berarti hanya berniat mempermainkan dan menyakiti.


Complicated Bubble


Hari ini hari pertama PAT (Penilaian Akhir Tahun) di awali dengan pelajaran Matematika wajib dan Bahasa Indonesia. Syafa berjalan di koridor untuk menuju ruangan 6. Kelas 10 IPA 6. Hari ini ia tak bersemagat, karena masalahnya dengan Rendra Sabtu lalu. Hingga kini Rendra tak pernah menghubungi Syafa sama sekali. Syafa rindu, namun ia juga kecewa.


Ketika Syafa hendak memasuki kelas, ia melihat Rendra berjalan menujunya. Namun salah, Rendra justru melewatinya. Syafa tertegun akan hal itu. Katakan dunia! Bahwa itu bukan Rendra!


Ah namun sayang, itu benar-benar Rendra.


"Apa gue salah?" tanya Syafa pada diri sendiri. Apakah Rendra kecewa padanya? Apakah Rendra marah padanya? Hey... seharusnya ia yang  marah dan kecewa dengan Rendra.


"Ngapain lo berdiri depan pintu? Muka lo kayak orang minta sembako tau Sya," Raina menepuk pundak Syafa dan terkekeh puas setelah melihat perubahan mimik wajah Syafa, lucu menurutnya.


"Gak usah sok imut lo! Ujung-ujungnya ga bakal jadi imut," Raina tertawa, tangannya memukul punggung Syafa, lumayan keras, kebiasaan!


"Sakit Rai!" sahut Syafa, ia membalas pukulan itu lebih keras. Mantap!


"Sakit ****!" adu Raina.


"Muka lo kayak abis di perkosa."


"***** Syafa laknat!"


"Udah ah gue mau masuk dan duduk cantik. Bye!"


Setelah upacara, siswa/i memasuki ruangan masing-masing. Di dalam ruangan 6 keadaannya sangat bising. Matematika COY! Banyak orang berkeliaran membentuk bulatan di lantai untuk belajar matematik bersama. Dengan tergesa-gesa karena 15 menit lagi ulangan akan dimulai.


Syafa yang baru duduk langsung mendapatkan serbuan maut. "Sya ini gimana caranya?"


"Syafa rumus ini gimana cara ngitungnya?"


"Sya ajarin dong tentang ini."


Syafa hampir kewalahan dengan teman-temannya yang saling beradu bicara. "Satu-satu uwong!" ucap Syafa dan pada akhirnya Syafa mulai tenang dan mulai mengajari orang-orang yang bertanya kepadanya.


Pak Gus berjalan menuju kelas 10 IPA 6. Semua siswa yang berada di kelas langsung menutup bukunya, memasukan kedalam tas, menaruh tas di depan papan tulis kelas. Kenapa? Kalau ketahuan mencontek maka otomatis tidak mendapatkan nilai disemua mata pelajaran dan dinyatakan tidak naik jika itu PAS. Mantap kan?


"Tarik napas dulu Pak!" celetuk salah satu murid dari kelas 10.


"Halah kamu ini saae," canda pak Gus.


"Assalamu'alaikum," ucap Rio, anak kelas 11 IPS 1 datang mememasuki ruangan ini.


"Wa'alaikumussalam."


"Ada apa?" tanya Pak Gus.


"Ada titipan special untuk Syafa dari someone," katanya, ia berjalan menuju Syafa dan pergi ke luar ruangan tanpa salim ke pak Gus. Dasar!


"Apa itu Syafa?" tanya pak Gus.


"Gak tahu Pak." Jawab Syafa jujur ia melihat kotak mini berwarna biru. Menaruhnya di meja tanpa minat membuka.


"Oke lah. Diawali dengan matematika ya?"


"ISTIGFAR!" perintah Pak Gus

__ADS_1


"ASTAGFIRULLAH ALADZIM!"


"BASMALLAH"


"BISMILLAH!"


"TAKBIR"


"ALLAHU AKBAR!"


"SELAMAT MENIKMATI!" histeris pak Gus, dan dijawab sorakan dari para murid.


Pak Gus mulai membagikan LJK dan soal, lalu para siswa/i mengerjakan soal itu hingga tak terasa waktu sudah terlewat 1 setengah jam.


"Kumpulkan!" perintah Pak Gus, membuat histeris para siswa. "PAK NANTI PAK BELUM SELESAI"


"PAK GUS KAN BAIK JADI 5 MENIT LAGI YA PAK!"


"TIDAK ADA NEGOSIASI. KUMPULKAN SEKARANG ATAU TIDAK DI MASUKKAN NILAI!" jawab pak Gus mwmbuat siswa mendesah berat.


Bel istirahat, Raina memutuskan untuk membeli minuman bersama Syafa ke kantin. Hanya untuk minum.


"Sya lo mau apa?" tanya Raina.


"Teh botol kotak."


"Anjay udah botol kotak kayak adudu."


"Kayak lo Rai bukan kayak adudu."


"Lo tuh ngeselin banget sih, dede marah ya sama kamyu."


Tak jauh dari hadapan Syafa, Rendra sedang tertawa bersama seorang gadis yang Syafa ketahui bernama Kaira, adek kelas yang mengikuti eskul olimpiade fisika, dan pernah satu tim bersamanya. Rendra melihat Syafa sekilas lalu kembali tertawa dengan Kaira. Ada hubungan apa antara mereka?


"Lo liatin apa sih?" Raina mengarah ke depan mengikut arah pandang Syafa.


"Aw atit ya mbak nya. Aduh sampe nangis darah gitu." hibur Raina.


"Hiperbola lo mah najis. Gue fine-fine aja. Udah yuk lah ke kelas."


"Bentar woi belum bayar!"


Setelah membayar Raina mengajak Syafa untuk kembali ke kelas. Bersamaan itu, Rendra melewati mereka tanpa sepatah kata, senyuman dan sapaan sedikit pun. Kayak orang gak dikenal. Kayak gaya london dalam kimia sumpah.


"Lo lagi ada masalah sama Rendra?" tanya Raina yang heran dengan sikap mereka berdua yang tidak seperti biasanya.


"B aja, baperan amat."


"Kampret lagi serius gue Sya."


"Masih bocah udah serius aja lo, mau kawin sama om-om?"


"NAJIS!"


***


Biru merindukan ungu. Meskipun ungu menciptakan warna memar pada tubuh biru

__ADS_1


Complicated Bubble


Pulang sekolah! Finally PAT hari pertama selesai! Syafa berjalan ke luar gerbang untuk menaiki angkot bersama Raina. Penghematan, soalnya nanti kan mau holiday. Azek.


"Yakin naik angkot Sya?" tanya Zaldi yang sedari tadi mengintitil dua sejoli.


"Gak ada pertanyaan lain apa? Lo udah lima kali nanya kayak gitu Zal."


"Yaudah, yakin gak mau pulang bareng gue?"


"EKHEM MODUS BAT LO KAMBING," teriak Raina.


"Gue gak ngomong sama lo," datar Zaldi.


"Ish. Bodoah, gue pergi males ada cengcorang!"


"EH RAI!" Syafa awalnya ingin berlari, untuk naik angkot bersama Raina namun tangannya dicekal Zaldi. Syafa menghela nafas sebelum akhirnya membuka suara.


"LO---" belum sempat Syafa melanjutkan ucapannya, segerombolan Cewek kelas 12 berlari ke arah gerbang, hingga tak sengaja mendorong Syafa. Zaldi dengan cekatan memeluk Syafa erat. Modus dasar emang!


Syafa tertegun sejenak. Ia pernah merasakan pelukan hangat ini, tapi di mana? Rasa kaget semakin bertambah melihat Rendra dengan muka datarnya menatap Syafa yang sedang berada dalam pelukan Zaldi. Dengan cekatan, Syafa mendorong Zaldi dan melepaskan pelukannya.


"Gimana enakan pelukan gue?"


"Ada cenat cenutnya gak Sya?" goda Zaldi. Syafa tak menanggapi Zaldi, ia berlari ke arah Rendra yang sudah menaiki motor dan meninggalkan Zaldi begitu saja.


Rendra menatap Syafa yang berlari lumayan dekat, ia menjalankan motornya tak menghiraukan Syafa yang tetap mengejarnya.


"RENDRA TUNGGU!"


Syafa semakin gelisah melihat Rendra yang mengendrai motornya ke luar gerbang. Namun Syafa tetap mengejarnya. Belum jauh dari sekolah, di pinggir Syafa berlari dengan cepat, mengejar Rendra yang mengendarai motor dengan santai.


Hingga di pertengahan jalan, Syafa mulai sempoyongan namun ia tetap berlari hingga akhirnya ia tersandung batu. Syafa mengaduh pelan. Ia menatap Rendra yang semakin menjauh dan menghilang bersama pengendara jalan. Lututnya linu, ia membuka roknya singkat dan benar lututnya berdarah sedikit ditemani gesekan-gesekan halus di sana.


"Lo ngapain kejar-kejar dia? Bikin capek lo doang," sahut Zaldi yang turun dari motornya.


"Bukan urusan lo!"


"Kata siapa? Lo itu urusan gue."


"Lo teman baru gue, tahu apa lo tentang urusan gue!"


"Segalanya," jawab Zaldi tersenyum.


"Sok tau!" ucap Syafa sebelum akhirnya menaiki angkot yang berhenti di pinggir jalan.


"OM ANGKOT TITIP BOCAH CENGENG YA!" teriak Zaldi kepada om-om angkot. Syafa mendesah geram. Untung teman.


"Pacarnya Neng?" tanya om  angkot.


"Bukan. Dia cuma teman."


"Teman atau teman?" goda om nya, namun tak dihiraukan oleh Syafa. Pikiran Syafa dipenuhi oleh Rendra Rendra dan Rendra. Apakah ini yang dinamakan Rindu?


"Apa Rendra cemburu?" batin Syafa.


Syafa teringat dengan kotak biru, ia membuka tas dan mengambil benda itu. Apa ini dari Rendra? Pikirnya. Ia membuka kotak itu dan ternyata berisi surat.

__ADS_1


"Biarkan Rendra pergi dan menjauhimu, karena yang pergi tanpa peduli hanya berniat mempermainkan dan menyakiti. Tenang, ada aku yang selalu menjagamu dari sini agar kau tak terlalu tersakiti.


-D"


__ADS_2