Complicated Bubble

Complicated Bubble
17. Move On


__ADS_3

Mencintaimu itu seperti terbang dalam sebuah khayalan. Indah memang, namun lambat laun, keindahan itu pudar. Indah yang terasa dahulu, hanyalah sebuah imaji yang tak mungkin terjadi.


Complicated Bubble


Hari ini, Syafa kembali menjalankan rutinitasnya, membawakan makanan untuk Rendra. Namun ketika sampai di depan kelas Rendra, mata Syafa memanas, hatinya seperti terkena petir, jantungnya dilanda gempa. Lebay memang, namun itulah faktanya. Bagaimana tidak? Mata Syafa melihat Rendra yang sedang berpelukan dengan Atika.


Rendra yang menyadari keberadaan Syafa, langsung melepaskan pelukan itu. Namun, Atika langsung memegang erat tangan Rendra.


"Ini pesanannya," setelah mengucapkan 2 kata, Syafa langsung pergi meninggalkan Rendra yang menatap nanar punggung Syafa.


Syafa pergi menuju roftop sekolah, dan duduk di kursi, seorang diri. Hanya ada angin disertai kegelapan yang menyelimuti keadaannya saat ini.


Menangis, sudah keduakalinya Syafa menangisi seorang Rendra, lelaki pertama yang berhasil membuat sungai di pipinya. Lelaki pertama yang berhasil membuat hatinya dilema, lelaki pertama yang berhasil membuatnya jatuh cinta.


"Harusnya, waktu itu, gue sadar, gue gak pantes cinta sama dia! Harusnya gue gak nyimpen perasaan ini untuk dia, biar hati gue gak sakit kek gini!" lirih Syafa.


"Memilih antara berhenti dan tetap bertahan itu sulit


Otak memilih untuk berhenti, karena sudah terlampau sering tersakiti


Namun kepingan hati ini memilih untuk tetap bertahan


Mencintai lo haruskah serumit ini?" bermonolog dengan batin sendiri.


"Cewe gak pantes nangisin cowo ****," celetuk seseorang dengan suara bassnya.


Syafa langsung menengok ke sumber suara, dilihatnya seorang lelaki dengan wajah yang tak asing duduk di sampingnya, sedikit jauh, lelaki itu sedang duduk sambil menatapnya. Ah yang benar saja, lelaki itu tak lain ialah Zaldi.


"Jadi cewek gak boleh lemah, gak guna nangisin orang yang gak pernah ngertiin perasaan lo," ucap Zaldi sambil menatap kosong kearah depan.


"Gue gak nangisin cowo!" elak Syafa.


"Gak usah ngibul deh, gue tau kok, lo nangisin Rendra kan?" ucapan yang keluar dari mulut Zaldi tepat, bagaikan memanah tepat mendarat di titik tengah.


Hening.


Syafa menatap Zaldi dengan tatapan yang dalam sedangkan Zaldi masih menatap kosong ke arah depan.


"Jujur aja Sya, gue tau kok," ucapan Zaldi melembut, menenangkan hati orang yang mendengarnya.


"Iya," ucap Syafa pasrah untuk mengakui hal tersebut.


"Iya apa?" tanya Zaldi dengan muka flatnya.


"Gak jadi!" kesal Syafa.


"Gausah sok-sok ngambek, urusin tuh muka, merah semua layaknya tomat beler," ledekan Zaldi benar, wajah Syafa jika menangis memang akan menjadi merah.


"Bodoamat, muka gue tetep imut," dengan PD Syafa berkata seperti itu, ya memang dari dulu PD sidah melekat pada diri Syafa.

__ADS_1


"B aja."


"Jahat ih."


"Lo yang jahat, gak inget kenangan kita dulu."


"Kenangan apa?"


"Jangan nangis lagi, bentar lagi bel, cuci muka sana, gue pergi, nanti istirahat jangan nangis lagi," ucap Zaldi sambil melangkahkan kaki. Baru 3 langkah, Zaldi berbicara kembali.


"Gak usah pikirin kata-kata gue, gak penting buat lo," setelah mengatakan kalimat itu, Zaldi langsung menuruni tangga. Sedangkan Syafa dibuat bingung dengan perkataan Zaldi.


"Aneh," umpat Syafa. Syafa langsung menapaki lantai yang dipijakinya dan menuju toilet untuk mencuci mukanya, agar menjadi fresh kembali. Biasanya, kan, kalau habis nangis bawaannya ngantuk. Right?


***


Mungkin ini waktu yang tepat untuk melupakanmu. Rintangan terbesar, yaitu melupakan kenangannya. Akan aku coba, do'akan saja.


Complicated Bubble


Saat pelajaran berlangsung, Syafa justru memikirkan bagaimana caranya agar berhenti mencintai Rendra, Syafa pun telah menyiapkan berbagai macam trik move on di otaknya, niat sekali bukan?


Tak terasa, bel istirahat berbunyi, Syafa langsung memasukan buku-bukunya ke dalam tas. Lalu ia bersama Raina berjalan menuju kantin. Di tengah perjalanan, Syafa melihat Rendra yang sedang berjalan menuju dirinya.


"Rai, lo duluan aja ke kantin, nanti gue nyusul, ada barang yang ketinggalan di kelas, bye Raina!" detik itu juga, Syafa berjalan cepat menuju kelasnya. Yap, trik move on pertama adalah, menjauhi Rendra. Siapa sangka jika Rendra mengejarnya? Dengan sekuat tenaga, Syafa berlari dengan kencang.


"KUCING KAWIN!" latah Syafa yang badannya sudah jatuh ke lantai, karena tadi ia berlari kencang, ia pun terpeleset.


"Gue bisa bangun sendiri! Gak usah nolongin kalau ngeledekin!"


"Terserah deh! Duduk sana!" Rendra memerintahkan Syafa untuk duduk di kursi, lumayan jauh sih.


"Apa hak lo, nyuruh-nyuruh gue?"


"Cerewet! Tinggal duduk doang," akhirnya, Rendra menggendong Syafa sampai depan kursi lalu menuruninya.


"Duduk!"


"Mau apa sih!"


"Bawel!" Rendra langsung jongkok dan mengurut kaki Syafa yang terkilir.


"Pelan-pelan woi!"


Setelah selesai mengurut kaki Syafa, Rendra duduk di samping Syafa dan menatap Syafa dengan tatapan heran.


"Lo berubah," ucap Rendra.


"Gue mau ke kelas."

__ADS_1


"Gak boleh!" cegah Rendra dengan memegang kedua tangan Syafa.


"Lo cemburu gue pelukan sama Atika?"


"Gak usah GR!"


"Terus kenapa lo berubah, kenapa lo ngindarin gue?"


"Tanya ke diri lo sendiri, kenapa gue jauhin lo!"


"Sya, gue ada alasan kenapa gue---," ucapan Rendra terpotong dengan kehadiran Atika yang tiba-tiba datang. Melihat Atika, Rendra langsung melepaskan genggaman tangannya yang tadi memegang tangan Syafa.


"Ren, yuk ke kantin!"


"Eh, iya, yuk!" ucap Rendra dengan tersenyum paksa.


"Duluan ya Sya!" ucap Atika dan dibalas senyuman oleh Syafa.


"Kalau hati bisa dikendaliin, mungkin gue gak bakal suka sama lo. Gue tau, gue bukan perempuan sempurna, tapi gue berhak untuk bahagia kan? Salah gue apa sampai lo tega nyakitin gue?" batin Syafa, ia ingin menangis, tetapi ia teringat pesan Zaldi untuk tidak menangis lagi.


***


Bintang tak terlihat, sama halnya dengan cintaku. Cintaku yang tak pernah nampak, tetapi selalu ada. Namun bedanya, bintang yang tersenyembunyi itu indah seperti bintang-bintang yang lainnya. Sedangkan cintaku yang sembunyi, amatlah menyakitkan."


Complicated Bubble


Sepulang sekolah, Syafa langsung berjalan menuju parkiran, ia pulang bersama Raina. Ditengah perjalanan menuju parkiran, ada seorang wanita, sepertinya anak kelas IPS memanggilnya.


"SYAFA!"


"Eh iya, kenapa ya?"


"Ini, ada titipan," ucap wanita itu sambil menyodorkan surat yang beramplop biru.


"Dari siapa?"


"Maaf Sya, gue gak boleh nyebutin namanya, gua pupang dulu ya."


"Oh iya, makasih ya!"


Setibanya di rumah, Syafa langsung membuka surat tadi.


"Konichiwa Syafa


Gue kangen lo.


Ini gue kasih coklat kesukaan lo, semoga nanti lo inget gue."


Itu lah isi surat beramplop biru itu, hanya berisi 14 kata beserta coklat. Rindu? Siap yang sedang merindukan dirinya? Ah, tambah bingung saja jadinya. Tadi masalah Rendra sekarang ditambah bingung sama surat. Capek, deh.

__ADS_1


Karena lelah, akhirnya Syafa menulis, menulis sebuah kata yang terpenjara dalam hati adalah hal yang menyenangkan dan dapat meringankan beban dalam hati Syafa.


Setelah menulis, Syafa memutuskan untuk bernyanyi dan bersholawat sejenak untuk menetralkan hati fan menyejukkan fikiran. Setelah itu, barulah ia merajut mimpi, sejenak ia meninggalkan dunia yang amat rumit.


__ADS_2