
Kini, angin berkelok menyulam langit. Pelangi tersenyum indah. Mentari mengobati luka. Langit membisikan kata. Membuatku bangkit dari lubang penuh derita.
Complicated Bubble
"SYA!" teriak Rendra ketika melihat tubuh gadis itu tumbang, beruntung ia dengan cepat menangkap tubuh mungil itu sebelum jatuh ke aspal yang basah.
Dengan gerakan cepat, Rendra menggedong Syafa dan berlari menuju rumah sakit terdekat, ia tahu di sini jarang sekali ada penggendra roda dua, tiga, empat, enam, bakan sampe seratus dijamin tidak akan ada.
Ditambah, ketika ia mencari Syafa, karena panik ia menaruh tasnya di parkiran, lebih tepatnya melempar, dan sialnya, handphonenya berada di dalam tasnya yang malang. terbuang.
Beruntung, lumayan dekat dari sana terdapat rumah sakit. Dengan sedikit berlari, Rendra akhirnya sampai di rumah sakit Krakatau Steel. Kakinya sangat jemper - what the meaning jemper ?- tetapi kejemperan itu dapat di kalahkan dengan rasa kekhawatirannya pada Syafa.
Rendra langsung memasuki ruang UGD di depan rumah sakit tanpa di suruh, kelamaan; menurutnya.
"Dok tolongin dia!" ucap Rendra pada salah satu dokter.
"Tapi Mas, banyak yang harus saya tangani."
"Saya gak mau tahu, tolong dia dulu!" ucap Rendra dengan nada mengancam. Akhirnya mau tidak mau, dokter itu menuruti permintaan Rendra.
"Suster, tolong pasien ini dulu."
"Lah kok? Dia kan baru dateng Dok."
"Gawat darurat buangeds. Yang gawat double, cewe ini sama hati cowonya." ucap dokter itu sambil terkekeh. Suster pun tertawa pelan, mengingat tempat.
"Ada pasien lagi sakit kok ketawa, tolongin!"
"Taruh dia di ranjang," suruh Dokter pada akhirnya
"Biar saya aja Dok," Rendra segera membaringkan tubuh mungil Syafa di atas ranjang UGD. Setelah itu keluar dari dalam ruangan.
"Maaf Sya, maaf gue gak bisa jagain lo," lirih Rendra, ia menyenderkan tubuhnya di tembok UGD.
Bayangan Syafa ketika bersamanya tiba-tiba berputar bak film yang ditayangkan, membuat Rendra meringis pelan.
***
Rendra menatap tubuh gadis itu dengan lekat, lalu ia duduk di kursi samping Syafa yang tengah berbaring lemas, ia memegang kedua tangan dingin itu.
"Sya," ucap Rendra dengan suara serak mengingat perkataan dokter tadi. Ia menatap wajah Syafa yang sangat pucat, tak ada senyuman di sana, tak terdengar suara nyaring yang kini ia rindukan.
"Bangun, buat gue."
"Gue kangen."
"Maafin gue yang gak bisa jaga lo, Sya," setelah mengatakan hal itu, ia mengecup tangan Syafa yang berada di genggamannya, lama.
Ia bersumpah akan mencari orang yang tega meracuni gadisnya, bahkan akan menghabisi!
"Ren," suara gadis membuat Rendra melepaskan genggamannya, dan menoleh ke sumber suara.
"Syafa kenapa?"
"Keracunan Rai."
"WHAT?!"
"Dia habis makan apa?"
"Terakhir dia makan kari ayamnya Mbak Jued di kantin, deh," pikir Raina.
"Oh iya gua baru inget! Karinya di antar sama anak kelas 10!"
Diam-diam Rendra mengepalkan kedua tangannya. Ia tahu siapa pelakunya.
"Jaga Syafa, gue pergi,"
"Kemana?"
Bukannya menjawab pertanyaan Raina, Rendra justru mencium kening Syafa agak lama, lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Syafa.
__ADS_1
"Bangun, demi gue, yang sedang merindukan lo. Bangun, demi gue, Si pencinta dan pecandu wajah cantik lo. Bangun, demi gue, lelaki yang mencintai lo," bisik Rendra. Setelah itu, ia keluar dari dalam ruangan.
Ia berjalan ke suatu tempat, di sepanjang perjalanannya ia menggepalkan kedua tangannya, menahan emosi.
Ketika ia sampai di sebuah basecamp, sebuah tangan merangkul lengannya, dan langsung ia tepis dengan kasar.
"Kok kamu tiba-tiba kasar sih? Aku kan kangen sama kamu."
"Puas?" ucapan Rendra kali ini sangat dingin, hingga sangat menusuk. Membuat gadis tadi ketakutan.
"Puas apa sih sayang? Kamu aja gak pernah peluk atau cium aku, ya belum puas lah,"
"Syafa keracunan," pernyataan Rendra membuat gadis itu menengang.
"Terus apa hubungannya sama aku?"
"Jelas ada."
"Aku aja baru tau."
"Cih, pura-pura gak tau."
"Gue udah jauhun dia! Gue udah bikin hati dia sakit! Gue udah nahan diri gue untuk gak ngobrol sama dia! Gue udah pacaran sama lo! KENAPA LO BERANI NGERACUNIN DIA!" emosi Rendra akhirnya terlepas, ia menatap Atika sengit. Terlihat Atika yang sangat ketakutan. Membuat emosinya tertahan, ia harus ingat bahwa yang di depannya adalah seorang perempuan.
"Jawab."
"GUE BENCI SAMA DIA! DIA SELALU DAPAT PERHATIAN LEBIH DARI TEMAN-TEMAN, DIA SELALU MENDAPATKAN HATI PARA GURU! DIA DEKET SAMA LO YANG NOTABENYA ORANG YANG GUE SUKA!"
"Lo sahahat dia atau bukan sih? Ngakak gue."
"Hati lo terbuat dari apa? Kotoran hewan?"
"Segitu cintanya lo sama gue?"
"IYA GUE CINTA SAMA LO RENDRAZHA FAUZAN! GUE CEMBURU SYAFA DEKET SAMA LO!"
"Cih, apa hak lo."
"Bk dan polisi menunggu Anda."
"Jangan pernah sakitin Syafa lagi, thanks,"
***
"Rai..."
"Akhirnya lo sadar juga."
"Gue kok bisa di sini?"
"Bisa lah, kan di gendong sama pangeran," ah, iya, Syafa ingat kejadian malam itu, Rendra membawanya ke rumah sakit? Tapi di mana Rendra sekarang?
"Rendra pulang sebentar."
"Gananya."
"Munafik lo ***."
"*****, baru bangun udah dibully gue."
"Sakit aja masih alay."
"Alay segi mananyanya *****. Gue aja gak cekrek cekrek ini inpusan."
"OH MY---."
"Gausah teriak, nih HP lo."
"Pengertian banget sih mbak, makin sayang tak tertahan gue."
"Jijik *****"
__ADS_1
"Gua bukan **** yang menjijikan kampreto kamparito."
"Udah sana istirahat lagi, kasian sakit lo gak berpahala cuma karena mulut lo."
Syafa meringis ngilu, karena ucapan Raina yang tumbenan banget bener, kesurupan apa ini bocah jin? Ia melihat ke arah sofa, terdapat bunga di sana.
"Rai, itu bunga setan?"
"Oh iya lupa gue!" Raina mengambil bunga di sofa dan memberikannya pada Syafa.
"Oh romantis sekali kamu anak jin dan iprit."
"Bukan dari gue, gini-gini masih normal."
"Lah dari siapa?"
"Rendra atuh sistah," gemas Raina mencubit pipi chubby Syafa.
"Raina! Gue kan gasuka di cubit-cubit. Kue cubit aja ga dicubit masa gue dicubit."
"Apa urusannya sama kue cubit pekok."
"Gue kan suka kue cubit setengah mateng."
"Pantesan lo setengah manusia setengah iblis."
"Ya Allah ampuni dosa hamba ya Allah, salah Syafa apa punya temen ifrit kek Raina ya Allah. Hamba insap ya Allah."
"Untung sakit, kalau ga, gue udah tampol bolak balik."
"Alhamdulillah, ada upil di balik hidung, ada hikmah di balik sakit."
"Lo kok nambah gila sih, efek habis di cium sama Rendra?"
"Rendra nyium gue?"
"Iya baru tau gue Rendra bisa nyium cewe, kirain dia doyan nyium kak Wahyu."
"Syafa," suara Rendra mengalihkan para ciwiciwi cantik bagaikan Mileanya Dilan, Melodynya Dylan, Achanya Iqbal, Salmanya Nathan, ya sebelas duabelas lah kecantikannya kek mereka haha.
"Aduh pangerannya udah dateng, gue pergi dulu deh, takut ganggu dan gak mau jadi lalet sampah,"
"Sial," umpat Syafa.
Rendra berjalan menuju Syafa yang terlihat gugup. Mereka saling tatap, tak ada yabg membuka suara.
"Suka bunganya?" tanya Rendra memecah keheningan.
"Suka, makasih, tapi..."
"Tapi apa?"
"Bunganya bukan dapet metik dari kuburan kan?"
"Enggak snowhite," kekeh Rendra mengacak-acak rambut Syafa, gemas.
"Jangan pegang rambut gue."
"Kenapa?"
"Gue belum shampoan, rambut Syafa kusut udah kayak kawat, bau pula, nanti Rendra pergi."
"Semua yang ada di diri lo, gue suka."
Suara Rendra mengalajkan kelembutan kain sutra!
"Gue gak akan pergi, gue akan selalu di samping lo, gue akan jagain lo, biar bidadari gue gak berubah jadi snow white."
"Lo lebih cocok jadi bidadari gue daripada snow white."
"Dengan lo, gue temukan cahaya di ujung hari."
__ADS_1