
Lo nggak tau rasanya pergi, meninggalkan sesuatu yang belum tersentuh sama sekali. Lo harus tau seberapa besar gue menahan diri untuk nggak peduli lagi sama lo.
Lo sama sekali nggak ngerti kalau gue lagi belajar ngelupain lo! Lo seenak jidat dateng, bikin gue seneng, dan ujung-ujungnya lo cuma jadiin gue pelarian doang.
Complicated Bubble
Hari ini, sepulang sekolah. Syafa berniat menjenguk Rendra di rumah sakit. Sesampainya di sana. Tubuhnya lemas. Sangat.
Ia melihat Rendra mencium pipi seorang gadis, yang tak lain adalah Kanaya. "Rendra..." lirih Syafa. Rendra dan Kanaya langsung menatap Syafa.
Syafa tersenyum kecut, ia meletakkan keranjang buah di meja. "Cepet sembuh, Rendra. Dan selamat berbahagia."
Syafa berlari keluar dari ruangan. "Sya!" teriak Rendra. Ia mencabut infus dan berniat mengejar Syafa. Namun langkahnya di hentikan oleh Kanaya. Rendra menepisnya lalu berlari mencari Syafa.
"Sya!" teriak Rendra.
Syafa tidak menoleh sama sekali, membuat Rendra mau tak mau mencekal tangan Syafa, agar gadisnya itu berhenti.
"Apa lagi?" Syafa berusaha untuk tidak menangis saat ini.
"Aku ada alasan kenapa aku cium Kanaya, Sya."
"Apa alasannya? Bikin aku nyadar kalau aku emang harus berhenti mencintai kamu?"
"Nggak gitu Sya. Jangan pernah berhenti mencintaiku. Karena, aku hanya mencintaimu. Hanya dirimu."
"Omong kosong. Kalau hanya aku. Kenapa kamu ngelakuin hal tadi?"
"Jawab, Ren." pekik Syafa.
"Kamu nggak bisa jawab kan?"
"Emang dasarnya juga kamu nggak cinta sama aku, kan?"
"Enggak Sya! Aku cinta sama kamu!"
"Bohong! Kamu bohong! Kamu pinokio!"
"Aku bodoh banget, ya. Masih percaya aja sama cowok yang udah bohongin aku berkali kali. Hahaha." Syafa tertawa pahit, ia tak bisa lagi membendung tangisnya. Kenapa mencintai orang harus sampai sesakit ini?
Rendra menarik Syafa ke dalam dekapannya. Syafa memberontak minta dilepaskan namun justru Rendra malah mengeratkan pelukannya.
"Lepas."
"Aku nggak mau ngelepas orang yang sangat berarti di hidup aku."
"Orang itu kamu, Sya."
"Aku nggak percaya. Kamu bohong, Rendra. Kamu bohong!" Syafa makin menangis sekarang. Ia begitu jatuh cinta dengan cowok brengsek yang membuatnya benar benar jatuh karena cinta.
"Maafin aku yang terlalu sering nyakitin kamu."
"Kamu tau kamu sering nyakitin aku. Terus kenapa dengan seenak hati, kamu ngelakuin itu terus?! Karena tahu aku bakal maafin kamu lagi? Iya?!"
"Jawab! Jangan diam aja!"
"Aku butuh jawaban Rendra. Aku capek."
"Jangan pernah capek mencintai aku, Sya. Aku minta maaf. Terserah kamu mau percaya atau nggak, aku cinta sama kamu."
__ADS_1
"Harus berapa maaf lagi, Rendra? Harus berapa kali lagi aku dengar kata maaf yang sama sekali nggak ada pembuktian."
"Kamu itu pintar ngomong. Saking pintarnya bikin aku cinta sama kamu!"
"Tapi sayangnya, kamu cuma pintar ngomong, nggak ada pembuktian. Untuk apa, Ren, untuk apa?"
"Harusnya pas itu, kita nggak break. Tapi kita harusnya putus!" Syafa mendorong dada bidang Rendra agar Rendra melepas pelukannya.
"Nggak! Kita nggak boleh putus!"
"Kamu sayang nggak sih sama aku?"
"Kalau sayang, biarin kita sekarang jalan masing-masing, Ren."
"Aku nggak mau, Sya. Aku nggak mau kehilangan kamu."
"Kamu nggak sayang sama aku Rendra. Jadi untuk apa semua ini dipertahankan?"
"Aku sayang sama kamu Syafa Sabila Amaradinka!! Aku sangat sangat mencintaimu!"
"Kamu bohong!"
"Aku serius. Aku nggak mau kehilangan kamu!"
"Kalau nggak mau kehilangan, kenapa kamu selalu bikin aku ngerasa harus pergi dari kamu?!"
"Aku mau kita putus! Aku berhenti sampai sini."
Syafa berlari lagi, namun, Rendra memeluknya dari belakang. Membuatnya berhenti. Ia merasakan bahunya basah. Rendra menangis?
"Jangan pergi..."
"Aku harus pergi, Ren."
"Enggak. Kamu nggak boleh pergi!"
"Lepasin aku Rendra."
***
Kayaknya gue ditakdirin untuk terus merelakan cinta gue. Terus kapan gue bahagianya?
Complicated Bubble
Hari ini Rendra sudah kembali bersekolah. Banyak para cewek yang memberinya surat maupun makanan padanya, namun ia tolak mentah-mentah.
Rendra dan Syafa tak sengaja berpapasan di koridor. Sempat bertatapan tak membuat benteng pertahanan Syafa runtuh. Ia membalikkan badan dan meninggalkan Rendra yang mematung, menatap kepergian Syafa. Syafanya telah pergi.
Syafa berlari, menuju ke kelasnya dengan memutar, memilih jalan yang lebih jauh, karena tidak ingin bertemu dengan Rendra. Ia bersyukur Rendra sudah sembuh dan mulai bersekolah kembali. Hati kecilnya juga senang melihat Rendra.
Setibanya di kelas, Syafa langsung duduk dan membaca novel "My Ice Girl" karya Pitsansi. Novel yang ia baca berkali-kali tanpa bosan.
"Sya! Rendra udah sekolah!!!" heboh Fiza. Syafa hanya menatap Fiza sekilas lalu kembali membaca novel di genggamannya itu.
"Lo nggak mau ke kelas Rendra?" tanya Raina. Syafa menggeleng. "Tumben?"
"Gue udah putus."
"KOK BISA!?" teriak Raina dan Fiza bersamaan. Syafa mengendikkan bahunya acuh, tak peduli dengan teriakan kedua temannya.
__ADS_1
"Lo harus cerita sama kita!" paksa Raina.
"Males."
Fiza mendengus kesal. "Gak ada penolakan. Sekarang lo harus cerita!"
Bel bunyi berdering, diikut suara guru uang berasal dari speaker kelas yang menyurus agar seluruh siswa/i mengambil air wudhu dan berkumpul di masjid untuk melaksanakan sholat dhuha bersama, karena ini hari Jum'at.
"Nanti gue ceritain. Sekarang, sholat dulu."
Mereka bertiga memang sudah wudhu dari rumah, jadi tak perlu mengantri lagi di sekolah.
Saat mereka hendak berjalan menuju masjid, mereka pasti melewati pintu ruangan tempat wudhu cowok. Dan tepat, ketika Syafa melewati temoat wudhu cowok, Rendra baru saja keluar dari ruangan tersebut.
Syafa mengalihkan pandangan saat matanya tak sengaja melihat Rendra yang menatapnya. Raina dan Fiza sempat histeris melihat tatapan Rendra yang begitu dalam menatap Syafa.
"Sya! Rendra liatin lo terus masa!" pekik Raina.
Syafa hanya tersenyum mendengarnya. Ia hanya ingin belajar tak peduli.
"Dia punya mata."
Selesai sholat dhuha, saat Syafa, Raina dan Fiza keluar dari pintu masjid putri, terlihat Rendra yang sudah stay di depan masjid.
Tatapannya masih sama, hanya satu objek. Syafa.
"Sya!! Liat tuh, lo dari tadi diliatin Rendfa mulu *****!" kata Fiza.
Raina mengangguk setuju. "Iya Sya!!! Gilaa! Lo yang diliatin gue yang baper!"
"Diem lo kadal. Gue panggilin Rangga baru diem lo! Dan lo curut Afrika, kalo lo gak bosa diem, gue bakar sendal lo!"
"Ellah ngancem mulu singanjing!"
Saat mereka berdebat, tiba tiba saja Rendra menarik tangan Syafa. Dan langsung ditepis olehnya.
"Aku minta maaf, Sya."
"Aku maafin."
"Yaudah. Gak jadi putus."
"Teori dari mana? Putus ya putus! Gue gak punya teori putus nyambung. Sekali putus, ya putus!"
"Tapi aku nggak mau putus, Sya."
"Terus mau lo apa? Bikin sakit hati gue?!"
"Aku mau jadi malaikat penjaga kamu. Dari dulu sampai nanti."
"Omongan lo itu basi tau nggak!" bentak Syafa. "Dan, gue minta sama lo. Gak usah pake kosa kata aku-kamu. Jijik tau nggak!"
"Sya, gue mohon dengerin gue dulu."
"Apa lagi, sih, Ren?"
"Jangan bikin hati gue susah lupain lo dengan sikap lo yang kayak gini ke gue. Lo gatau seberapa besar benteng yang gue bangun untuk bisa lupain lo," lirih Syafa. Ia menunduk.
Rendra menangkup kedua pipi Syafa, memaksa Syafa agar menatapnya. "Lo harus tau, Sya. Seberapa besar cinta gue untuk lo."
__ADS_1