
"Aku selalu mencintaimu, disetiap detak jantungku."
Complicated Bubble
"Sya!!!" teriak Raina.
"Apa?" jawab Syafa.
"Lo keren banget gila! Ah gua yakin pasti lo yang menang kayak tahun kemarin," yakin Raina.
"Berharap jangan berlebihan curut!"
"Yee... dido'ain bukannya aamiinin! Ucapan itu do'a tau Sya!" kesal Raina.
"Iya aamiin, makasih orang edan."
"***** lo ***! Alasyu!"
"I hate u gugug."
"Najis lo tukang galau!"
"Kalau lo tukang galon."
"STOP!" suara cempreng Fiza membuat mereka berdua menoleh menunjukkan muka heran bin pelongonya.
"KALIAN LIAT SENDAL SWALLAW BIRU GUA YANG ADA UKIRAN DARI MY HONEY BUNNY SWEETY TIDAK!?"
'prang tes gug meong'
Malangnya nasib kepala Fiza yang tak berdosa, teraniaya dan terdzalimi. Astagifirullah, tolongin kepala Fiza yang sudah stadium akhir karena mendapatkan doorprok 2 kali yaitu jitakan maut dari Syafa dan Raina.
"ASTAGFIRULLAH AL'ADZIM ENONG! PALA GUE ATID TAK TERTAHAN!"
"LAGU LAMA ENONG MAH!" balas Syafa dan Raina dengan kompak.
"Heh! Enong mah gaya! Keluarin tasbih keroncongnya!" kata Fiza.
"LAGI GAK NGANTUK BU!" teriak Raina.
"AIH GAYA ENONG MAH, LAGU LAMA AJA KAMU MAH!" sahut Syafa.
"Eh udah udah drama bu Enongnya!" lerai Raina, pasalnya dari tadi mereka berkata ala bu Enong. Guru Sejarah terempong sepanjang masa, tapi bu Enong baik kok, suka ngasih coklat, hehe.
"Aduh beda aja anakan bu Enong mah," ledek Fiza
"He... jaga ya!" sahut Raina.
"Hahaha,"
"Oh iya, kalian gak nonton futsal?" tanya Raina.
"Hah? Futsal udah main?" sahut Syafa.
"Udah. Dari tadi Sya!" jawab Fiza.
"Gue ke sana dulu ya, mau liat futsal," kata Syafa.
"Tumben?" tanya Fiza.
"Udah janji sama Zaldi, gue duluan." Ya, kemarin Syafa sudah berjanji akan menonton Zaldi bertanding futsal. Janji itu harua ditepati bukan?
"IKUT!" teriak Fiza dan Raina bersamaan, refleks tangan Syafa melindungi telinganya. Oh Tuhan, kuatkanlah gendang telinga Syafa yang suci dan tak berdosa ini!
Sesampainya di lapangan, Syafa berusaha keras menyalip hingga akhirnya ia dapat berdiri di barisan paling depan. Terlihat jelas Zaldi yang berbinar menatapnya, sepertinya ia sudah menunggu kehadirannya, pasalnya ini sudah babak kedua dan Syafa baru datang menepati janjinya.
Syafa tersenyum ke arah Zaldi. "Jangan kasih senyum doang, kasih support dong pake suara cempreng lo!" tantang Fiza. Di mana Raina? Raina tadi dipanggil ketua OC ya karena Raina adalah salah satu panitia.
"KASIH SEMANGAT!"
"YOO SEMANGAT ZALDI AYE!" teriak Syafa ketika komandon support dipimpin oleh Fiza.
Zaldi tersenyum ke arah Syafa. Ia terlihat begitu semangat bermain. Hingga akhirnya ia dapat mencetak Gol di menit terakhir.
__ADS_1
"DISALUTIN!"
"SALUT SALUTIN!"
"DISALUTIN!"
"SALUT SALUTIN MANTUL!"
Suara penonton menyuruak begitu hebat. Karena pertandingan telah usai, dan dimenangkan oleh tim Zaldi dengan skors 1-2. Zaldi meminum Aqua botol dengan habis tanpa sisa lalu berlari menuju tempat Syafa berdiri.
"Thanks ya udah datang."
"Selaw."
"Gue kira, lu gak bakal datang."
"Hahaha. Yakali, gue akan nepatin janji kok."
"Iya iya, btw suara lo cempreng abis!"
"Bodo!"
"Itu suara atau toa!? Atau mercon?! Atau bom?!"
"TOA CANDI!"
"Ih gemes banget sih dugong," kata Zaldi seraya mencubit kedia pipi Syafa.
"Dari pada lo kalajengking kejengking!" balas Syafa seraya menjewer telinga mulus milik Zaldi.
Tiba tiba saja hujan turun dengan derasnya, ah musim hujan sudah mulai. Zaldi mengajak Syafa masuk ke kelas, Syafa awalnya menolak tapi dengan sogokan es krim glico dia jadi menuruti apa kata Zaldi.
Di dalam kelas, sudah ada Raina dan Fiza, tentunya jika ada mereka bertemu, terjadi perbincangan gila yang sangat panjang untuk dijelaskan. Hujan mulai reda. Syafa membuka handphone dan menyalakan data seluler guna mengupload foto di instagramnya.
Baru saja menyalakan data, terdapat whatsApp dari Rendra. Langsung saja Syafa membacanya, sekian detik kemudian Syafa membelalakan matanya. Ia lupa dengan janjinya ke taman dengan Rendra!
Dengan tergesa-gesa dan tanpa pamit, Syafa berlari menuju taman. Bahkan ia mengabaikan teriakan Zaldi.
"Ren..." lirih Syafa, ketika sudah sampai di taman berhias rintikan hujan. Tampak Rendra dengan menampakan sedikit senyuman dengan keadaan basah kuyup.
"Kamu kenapa nunggu aku? Kamu kehujanan, nanti kamu sakit."
"Karena aku ingin bertemu kamu di sini."
"Tapi kamu bisa sakit."
"Kamu peduli? Aku kira kamu hanya peduli pada Zaldi, hingga lupa dengan janji."
"Maaf."
"Aku pergi," kata Rendra seraya berjalan menjauh, namun langkahnya terhenti ketika Syafa memeluknya dari belakang.
"Jangan pergi," lirih Syafa.
Rendra melepaskan kaitakan tangan Syafa, namun Syafa dengan cepat kembali memeluknya.
"Maaf," mohon Syafa. Namun tenaga Syada kalah dengan tenaga Rendra, Rendra mampu melepaskan pelukan Syafa lalu kembali berjalan menjauh. Syafa menatap punggung Rendra yang kian menjauh, dadanya sesak, ia kecewa dengan diri sendiri. Ia bodoh, sangat.
Syafa berlari menghampiri Rendra. Ia harus minta maaf! Syafa berhasil menghalangi jalan Rendra tepat di koridor laci penyimpanan barang eskul band.
"Ren, maafin aku."
"Aku tau aku salah."
"Aku tau aku ingkar janji."
"Aku salah, aku minta maaf."
"Kamu marah?" tanya Syafa karena sedari tadi Rendra tak merespon ucapannya.
"Maaf."
"Udah berapa kali kamu minta maaf?"
__ADS_1
"Gatau."
"Aku gak butuh kata maaf, aku butuhnya kamu." Setelah mengucapkan kalimat itu, Rendra kembali berjalan. Syafa awalnya ingin mengejar Rendra, tapi langkahnya dihalangi oleh sekumpulan lelaki badung yang Syafa ketahui.
"Eh Syafa, tumben ke sini?"
"Kok diem aja?"
"Mulutnya bisulan ya?"
"Hahaha."
"Syafa, main yuk."
"Gak mau, gue mau pergi!"
"Galak bener!"
"Jangan galak galak Sya nanti tambah cantik."
"Kalau tambah cantik, abang makin cinta."
Rendra memberhentikan langkahnya mendengar percakapan mereka. Ia membalikkan badannya dan berjalan menuju mereka.
"Gak usah genit jadi cowo!" kata Rendra.
"Ketika mantan beraksi."
"Hahahaha."
"Sekali lagi gue liat lo kurang aja sama Syafa, habis lo!" ancam Rendra menunjuk Lana, ketua mereka yang sedari tadi menggoda Syafa.
"Wah. Berani juga lo! Sikat!" komando Lana, seketika ke 3 temannya langsung mengkroyok Rendra, namun dengan gagahnya Rendra menangkis satu persatu dari mereka, sedangkan Lana mencoba menarik Syafa untuk ikut bersamanya.
"Ikut gue!" suruh Lana.
"Gue gak mau!"
"Ikut gak!"
"Gak!"
"Ikut!"
"Aw...," lirih Syafa ketika Lana mengencangkan cengkraman tangannya. Rendra yang melihat Syafa ditarik oleh Lana, pun menghampirinya.
"LANA!" teriak Rendra, bari saja ia melangkah, salah satu teman Lana memukul kepala belakang Rendra dengan kayu, hingga membuat Rendra tersungkur.
"RENDRA!" teriak Syafa.
"Rendra gak akan menang lawan gue!"
"Lo banci tau gak! Mainnya kroyokan!"
Rendra kembali bangkit dan langsung menghajar orang yang memukulnya tadi tanpa ampun. Setelah itu langsung melepaskan tangan Lana yang mencengkram tangan Syafa.
"LEPAS!" kata Rendra, ia menonjok Lana hingga lana tersungkur.
"PERGI LO! GAK USAH GANGGU SYAFA LAGI!" teriak Rendra mampu membiat Lana dkk. pergi, wajahnya yang putih kini tampak merah. Ia benar benar marah. Bagaimana tidak? Lana sidah keterlaluan, memaksa Syafa dengan mencengkram tangan Syafa hingga Syafa meringis kesakitan.
Syafa memeluk Rendra, pelukan Syafa mampu menenangkan amarah Rendra
"Kamu gak papa?" tanya Rendra dengan sangat lembut.
"Harusnya aku yang nanya, kamu gak papa?" tanya Syafa disertai isakan kecil.
"Aku gak papa," jawab Rendra. Syafa tak menyahut, yang terdengar hanyalah isak tangis kecilnya yang mampu ditangkap oleh indra pendengaran Rendra.
"Hey... kenapa?" tanya Rendra, Syafa hanya menggeleng, Syafa mengeratkan pelukannya, seperti tidak ingin kehilangan seorang Rendra.
"Jangan nangis." Rendra melepaskan pelukannya, ia menangkup wajah cantik Syafa dan jarinya menyapu air mata yang membasahi pipi itu.
"Kamu gak papa? Tadi keras banget pukulannya," cemas Syafa.
__ADS_1
"Selama aku bisa liat kamu, selama itu aku bertahan untuk melindungimu."