Complicated Bubble

Complicated Bubble
27. Hujan


__ADS_3

Janji. Semudah itu kamu mengikrarkannya dan semudah itu juga kamu mengingkarinya.


Complicated Bubble


Tak terasa, kini malam telah tiba, matahari tenggelam tanpa meninggalkan cahaya. Langit gelap tanpa pernak pernik bintang dan bulan.


Setelah selesai makan, awalnya Rendra mengajak Syafa untuk pergi ke monas, namun Syafa menolak karena ini sudah malam. Jadi mereka memutuskan untuk pulang. Tetapi perjalanan pulang mereka terhambat oleh hujan yang deras, awalnya Syafa ingin tetap melanjutkan perjalanan, namun Rendra menolak, takut Syafanya sakit. Akhirnya, mereka duduk di halte berdua, menunggu hujan reda.


Hujan kali ini sangat deras dilengkapi dengan angin yang sangat kencang, dingin, Syafa akui itu. Disaat ia merasa kedinginan, tiba-tiba saja jaket menempel di tubuhnya. Jaket Rendra, ia bisa mengetahuinya dari wangi khas jaket itu, wangi Rendra banget.


"Thanks," ucap Syafa melempar senyum kepada Rendra yang juga membalas senyuman itu.


Tak jauh dari tempat mereka, mata Rendra melihat seorang gadis sedang berjalan menuju halte, ia sedang menangis. Mata Rendra tak lepas dari gadis itu, seperti tak asing, fikirnya.


"Naya?" ucap Rendra ketika gadis itu sampai di halte. Gadis yang dipanggil naya itu menoleh ke arah Rendra.


"Rendra?" gadis bernama Naya itu sedikit terkejut melihat Rendra di sana.


"Lo ngapain malam malam keliaran?"


"Biasa, lah. Toh, lo sekarang gak bakal peduli sama gue."


"Kanaya!" Rendra berdiri di depan Kanaya.


"Apa!"


"Lo bisa sakit hujan-hujanan kayak gitu."


"Apa peduli lo Rendra! Apa! Gue sakit juga gak ada yang peduli! Semua orang gak sayang sama gue! Gak ada satu pun manusia di muka bumi ini yang sayang sama gue! Gue benci! Benci!"


"Dengerin gue." Kedua angan Rendra memegang bahu Kanaya, mata mereka beradu pandangan, pandangan kerinduan. Syafa pun bisa melihat itu, dua orang yang saling merindukan satu sama lain. Dia siapa? tanya Syafa dalam hatinya. Syafa tidak bisa menanyakan hal itu, bibirnya membeku.


"Dengan cara lo kabur dari rumah, nangis tengah malam, itu semua gak bakal nyelesaiin masalah lo."


"Terus gue harus apa! Bilang sama gue, gue harus apa Rendra!" Kanaya mengoyang-goyangkan bahu Rendra sebelum akhirnya Rendra membawa kanaya dalam pelukannya.


Rendra membisikkan sesuatu kepada Kanaya, yang tak bisa Syafa dengar. Ingin sekali Syafa lari dari tempat ini, tetapi kakinya ikut membeku seperti mulutnya. Saraf sarafnya seperti mati, tak berfungsi, hatinya sakit melihat Rendra yang sedang mengelus rambut gadis yang  Syafa ketahui bernama Kanaya itu. Dia tersenyum getir melihat betapa manisnya Rendra menenangkan Kanaya.


"Lo pulang ya, gue anter," kata Rendra, seraya melepas pelukan itu. Kanaya hanya menggangguk, mengiyakan tawaran Rendra.


Rendra berjalan meghampiri Syafa. "Sya, aku nganter dia dulu ya, rumahnya dekat kok, kamu tunggu di sini ya, jangan kemana-mana," ujar Rendra.


"Ren," ucap Syafa pada akhirnya. "Kenapa?" tanya Rendra bingung. Syafa melepas jaket Rendra yang berada pada tubuhnya lalu menyerahkannya kepada Rendra.


"Buat Kanaya, dia kehujanan, kasihan kedinginan," kata Syafa, senyumnya mengembang, walau sebenarnya itu adalah fake smile. Rendra menerima jaket itu lalu mengacak-acak rambut Syafa sejenak.


Rendra memakaikan Kanaya jaket sampai jaketnya benar-benar terpasang sempurna di tubuh Kanaya. Rendra menaiki motor, disusul oleh Kanaya, lalu motor itu melaju, meninggalkan Syafa seorang diri.


Syafa baik baik saja, benar, Syafa akan baik baik saja. Batin Syafa meyakinkan diri sendiri.


Rendra peduli sama temannya, iya sekadar peduli. Fikir Syafa.


***


Kalian tahu? Hujan itu butuh teman. Karena dia sedang bersedih dalam kesepian.


Complicated Bubble

__ADS_1


Sudah 1 jam Syafa menunggu di halte. Tubuhnya mulai menggigil mengingat hujan deras dan angin yang terus berhembus dengan kencang menusuk kulit Syafa. Syafa membuka handphonenya lagi lalu menelpon Rendra kesekian kalinya, namun lagi lagi tak diangkat. Handphonenya sedang tidak aktif.


Rendra... kamu di mana?


Setelah berfikir, akhirnya Syafa memutuskan untuk pulang sendiri, berjalan kaki, bermain dengan temannya, hujan. Mungkin itu lebih baik. Sepanjang perjalanan, Syafa mengingat paras gadis bernama Kanaya itu. Cantik. Lebih cantik darinya. Lebih tinggi dari dirinya. Dia siapa Rendra? Pertanyaan itu lagi lagi muncul di kepalanya.


Apa Rendra masih menemani gadis itu?


Syafa terkekeh dengan pertanyaan konyol yang ia fikirkan. Mungkin saja Rendra sedang menemani gadis itu, Kanaya. Sepertinya Kanaya sedang ada masalah, jadi Rendra menemani gadis itu sampai lupa dengannya.


Iya, Rendra hanya sekedar menemani.


Rendra hanya sekadar ada untuk temannya saat temannya membutuhkannya.


Rendra hanya sekadar mengantarkannya ke rumah agar Kanaya tidak sakit karena hujan-hujanan di tengah malam.


Iya, pasti Rendra hanya sekadar berniat baik.


Lalu bagaimana dengan dirinya? Apa Rendra tak peduli dengannya?


Apa Rendra tak menemaninya disaat malam biru penuh dengan hujan ini?


Apa Rendra tak khawatir jika dirinya sakit setelah hujan-hujanan?


Ah tidak, Rendra menemani Kanaya karena Kanaya sedang dalam masalah dan membutuhkan Rendra saat ini. Rendra baik.


Malam itu, dipenuhi dengan fikiran Syafa tentang Rendra.


Sesampainya di rumah. Ia melewati ruang tamu. Terdengar suara tawa di sana. Ia melihat ke arah anggota keluarganya. Lengkap. Papa, Mama, Rifa, Syira, bahkan Shila, kembarannya yang pulang dari Australia.


Shila Kinara Amaradinka. Saudara kembar Syafa Sabila Amaradinka. Shila adalah kakak Syafa, lahir 5 menit lebih dulu darinya. Kembar mereka tidak identik. Terlihat kontras. Syafa berkulit putih, agak pendek. Sedangkan Shila berkulit sawo matang dan tinggi. Mereka kembar dalam hal kepintaran. Sama-sama pintar. Namun, keluarganya selalu membanding-bandingkan kepintaran mereka. Shila yang unggul karena adanya insiden.


"Gak sengaja Pa," sahut Syafa seadanya. Papanya berjalan ke arah Syafa. Lalu kembali mengeluarkan suaranya. "Papa sudah bilang kan, jangan hujan-hujanan! Kalau kamu sakit, nanti rangking kamu turun!" ucap Rian -papa Syafa- penuh penekanan.


"Lihat Shila! Dia sudah mendapatkan beasiswa sekolah di luar negeri. Sedangkan kamu? Bertahan di rangking 1 paralel saja sulit."


"Aku capek Pa, mau istirahat," sahut Syafa malas.


"Papa belum selesai bicara."


"Apalagi sih Pa?"


"Bisa gak sih kamu mendengarkan ucapan papa seperti Shila?!"


"Kenapa sih Papa banding-bandingin aku sama Shila terus?"


"Papa selalu bangga-banggain Shila. Banggain aja anak kesayangan Papa."


"SYAFA!" Tangan Rian menampar anak gadisnya itu, Syafa. Sedangkan Syafa meringis, tangannya memegang pipinya yang keram itu. Tamparannya cukup keras. Syafa sudah terbiasa dengan bentakan Papanya tanpa belaan dari keluarganya seorang pun. Mereka hanya melihat tanpa peduli.


"Pokoknya papa mau, kamu harus dapat beasiswa kuliah di luar negeri." ucapan itu terdengar seperti ancaman dan paksaan di telinga Syafa. Syafa ingin menangis kali ini, namun ia menahannya.


"Dan Syafa mau, Papa atau  mama yang ngambil raport Syafa nanti."


Selama ini, Papanya selalu mengambil raport Shila, sedangkan Mamanya selalu mengambil raport Rifa dan Syira. Sedangkan dirinya? Mengambil sendiri, sejak insiden itu.


"Gak bisa, Papa mengambil raport Shila." Syafa tahu, papanya akan menjawab itu, setiap Syafa ingin papanya pergi ke sekolah untuk menghadiri pengambilan raport, namun papanya selalu menolak karena ia harus pergi ke Australia, mengambil raport Shila. Padahal, sudah jelas tanggal pembagian raport di Australia lebih dahulu dibanding Indonesia.

__ADS_1


"Untuk malam ini udahan dulu ya Pa, aku ngantuk, selamat malam semua." Syafa tersenyum lalu pergi ke kamarnya.


Syafa mengunci pintu kamarnya lalu tubuhnya luruh di balik pintu ia terduduk, tangannya memeluk kakinya yang ia tekuk. Tubuhnya bergetar. Air matanya bercucuran keluar.


"Eyang... Sya kangen Eyang."


"Kak... Sya juga kangen kakak."


"Syafa sendiri di sini, Sya kesepian."


Tak jauh dari tempatnya menangis, Syafa mengulurkan tangannya guna mengambil bingkai foto. Tangannya mengelus-elus foto itu. Fotonya bersama Eyang dan kalaknya beberapa tahun silam. Sebelum mereka pergi meninggalkan dia sendiri.


"Ca, jangan nangis, hey... adik kakak paling cantik gak boleh nangis, nanti cantiknya luntur." Seorang anak laki-laki memeluk anak perempuan yang lebih muda darinya, ia sedang menangis.


"Kenapa sih Kak, Aci mulu yang disayang Papa Mama?"


"Sstt jangan ngomong gitu, Papa sama Mama sayang Aca kok."


"Enggak, mereka gak sayang Aca..."


"Mereka selalu marahin Caca tapi gak pernah tuh marahin Aci."


"Orang nunjukin rasa sayang itu beda-beda Ca, ada yang dengan kelembutan ada yang dengan cara kasar seperi merahi contonhnya."


"Jadi mereka sayang Aca?"


"Iya, mereka sayang Aca. Apalagi Eyang sama Kakak."


"Tapi Eyang ninggalin kita Kak, Eyang pergi," tangis gadis kecil itu makin kencang ketika menyebut kata 'eyang'.


"Eyang gak pergi, Eyang ada di hati kita Ca."


"Tapi aku ngerasa sepi kalo gak ada Eyang."


"Kan ada Kakak."


"Iya untung ada Kakak. Kakak itu Kakak terbaik dan terganteng sedunia!"


"Bisa aja kamu goda-goda Kakak."


"Bisa dong Adeknya siapa dulu."


"Hahaha. Udah gak sedih nih?"


"Enggak dong."


"Bagus."


"Kakak janji ya, jangan tinggalin Aca?"


"Iya janji."


"Cantelan dulu!" Anak perempuan yang bernama Aca itu menyodorkan jari kelingkingnya, lalu anak lelaki yang dipanggil Kakak menyambut jari kelingking itu dengan jari kelingkingnya.


"Main ayunan yuk, kakak yang dorong deh!"


"Ayo!"

__ADS_1


"Kak... Aca kangen Kakak sama Eyang," tangis tanpa suara lah yang saat ini Syafa lakukan, air matanya makin deras mengingat Kakaknya itu.


"Aca sendiri Kak, Aca butuh Kakak. Kakak janji gak bakal ninggalin Aca, tapi sekarang Kakak pergi, gak nemenin Aca lagi, Aca kangen Kak."


__ADS_2