Complicated Bubble

Complicated Bubble
13. Lari


__ADS_3

"Kamu hilang tanpa kabar. Membuatku khawatir tak karuan."


Complicated Bubble


Syafa berjalan cepat menuju kelas Rendra, untuk memberi pesanannya, seperti kemarin. Membawa roti keju, susu full cream, milkita dan bubble gum. Hari ini dia agak telat, pasti Rendra sudah menunggu pesenannya, tetapi dugaannya salah, saat ia memasuki kelas 12 IPA 1 dan tentunya, sambil mengucapkan salam. Ia tak melihat Rendra di dalam kelas .


'Rendra kemana?' batin Syafa. Akhirnya Syafa memberanikan diri bertanya kepada teman sekelas Rendra yang tak ia kenal.


"Permisi Kak," ucap Syafa.


"Ada apa ya?" tanya kakak kelas itu sambil memandang Syafa dengan alis yang menyatu, penuh tanda tanya.


"Hm, liat kak Rendra gak, Kak?"


"Rendra?"


"Iya."


"Tadi dia sudah datang, lalu pergi ke luar kelas."


"Dia pergi kemana?"


"Kurang tau," ucapnya sambil mengangkat kedua bahunya, pertanda tidak tahu.


"Oh yasudah, terima kasih ya, kak."


"Iya, sama-sama."


Setelah bertanya kepada kakak kelas itu, Syafa kembali menuju kelasnya dengan penuh tanda tanya, Rendra kemana? Kenapa tidak menunggu pesanannya? Apa Rendra marah karena dirinya telat? Ah, Syafa frustasi dibuatnya.


Syafa berjalan dengan menunduk menatap pesanan Rendra, dengan fikirannya yang terus beradu argumen tentang Rendra yang tidak berada di kelas.


Tiba-tiba ada tangan yang menutup matanya, Syafa pun shock, dan mengira itu tangan Rendra, karena memang Rendra sangat jahil, fikirnya. Ya fikirannya sedang di booking oleh nama Rendra, rupanya.


"Ih, lepasin Rendra."


"Rendra?" heran seseorang yang menutup mata Syafa dengan tangannya, lalu detik itu juga melepaskan tangannya yang sengaja menutup mata Syafa.


"Gue Gary woi, bukan kak Rendra."


Sultan Gary Maulana, teman sekelas Syafa sejak kelas 10, dulu saat kelas 10 Gary menjabat sebagai ketua kelas, sekarang, ia turun jabatan, menjadi wakil ketua kelas. Oh, jangan salah, dia juga menjabat sebagai ketua osis tahun ini. Gary juga dekat dengan 3 brother, terlebih Rendra.


"Eh, Gary gue kira Rendra."


"Kenapa lo ngira gue kak Rendra?"


"Hm, tumben lo baru dateng? Biasanya pagi banget datangnya," ucap Syafa, mengalihkan topik.


"Kata siapa? Gue pagi kok datangnya, tadi habis dari ruang Osis."


"Pak ketos sibuk banget ya, pagi-pagi langsung ke ruang Osis."


"Hahaha namanya juga ketua, ya harus mengontrol semuanya."


"Eh itu makanan sama minuman buat siapa?" tanya Gary.


"Kepo lo."


"Emangnya gak boleh kepo?"


"Gak boleh!"


"Awas ya lo! Kalau lo nanya-nanya gak bakal gue jawab."


"Ge-er banget, siapa juga yang mau nanya ke lo."


"Lo lah."


"Dih, biasanya juga lo yang nanya ke gue."


"Lo juga nanya ke gue Syafa dodol."


"Gue bukan dodol ya Gary biskuit."


"Lo dodol basi!"


"Udah ah, males gue berdebat sama lo, gak kelar-kelar! Bye!" ujar Syafa seraya berlari meninggalkan Gary.


"WOI SYAFA DODOL!"


Syafa membalikan badannya sebentar sambil memeletkan lidahnya, lalu menambah kecepatan larinya, meninggalkan Gary yang mengejarnya.


Saat sudah sampai di kelas, Syafa langsung duduk di bangkunya dengan keadaan berkeringat, yang mengundang tanda tanya Raina.


"Kenapa Sya?"


"Dikejar orang gila."


"Hahaha emang ada orang gila di sekolah?"


"Ada."


"Siapa?"


"Ketua osis sedeng."


"Gary?"


"Iya Gary biskuit."

__ADS_1


"Hahaha kalian itu dari dulu selalu aja berdebat."


"Ganti topik ah, Rai, males gue ngomongin orang gila."


"Lho, ini belum dikasih ke kak Rendra?" kata Raina sambil menunjuk pesanan Rendra. Mendengar pertanyaan Raina, Syafa kembali teringat sosok Rendra yang tadi tidak ada di kelasnya.


"Gak ada di kelasnya."


"Kemana?"


"Gak tau."


***


"Mencintai dalam diam itu menyenangkan dan juga menyakitkan. Menyenangkan bisa bersamamu tanpa beban. Menyakitkan ketika, mengetahui kamu mencintai orang lain."


Complicated Bubble


Saat jam istirahat berbunyi, kelas 11 IPA 2 bersorak gembira layaknya telah mendapat kebahagiaan yang hakiki. Ya begitulah, anak - anak sekolah zaman sekarang, senang dan segar mendengar bel istirahat, kembali mengantuk mendengar bel masuk pelajaran.


"Sya, kantin kuy!"


"Kuy!"


"Lo ada yang lupa Sya."


"Apaan?"


"Pesenan Rendra belum lo bawa, siapa tau nanti ketemu Rendra."


"Ah iya juga ya, thanks sarannya Rai," ucap Syafa sambil mengambil peseanan Rendra di lokernya.


Mereka, Raina, Syafa, Fiza berjalan menuju kearah kantin, tentunya melewati lapangan. Disana ramai orang-orang sedang melihat ke arah lapangan, sambil tersenyum, ah seperti ada artis saja.


"Eh itu bukannya kak Rendra, ya Sya?" tanya Raina sambil menuju ke arah lapangan.


"Iya Rendra."


"Samperin sana!"


"Malu, Rai."


"Jangan malu, nanti kalau malu keciri suka, bahaya lho,"


"Terus gue gak jadi ke kantin gitu?"


"Lo nyusul aja bareng Rendra."


"Yaudah gue tinggal ya, yuk, Ja," ucap Raina sambil menarik tangan Fiza (Pija) dan meninggalkan Syafa seorang diri.


Syafa pun melangkahkan kakinya menuju arah Rendra yang sedang berlari memutari lapangan, entah sudah berapa putaran, Syafa tidak tahu.


"Rendra."


"Syafa?" ucap Rendra berhenti berlari.


"Lo dihukum?"


"Menurut lo?"


"Kenapa?"


"Apanya?"


"Kenapa dihukum?"


"Telat."


"Berapa putaran?"


"Duapuluh."


"Berapa putaran lagi?"


"Tiga lagi."


"Nih pesanannya," ucap Syafa menyodorkan plastik dengan tulisan indomart itu.


"Ikut lari bareng gue," sahut Rendra, menarik tangan Syafa lembut, mengajaknya berlari.


"Eh, eh, gausah pegang-pegang,  dilihat orang."


"Emangnya kenapa?"


"Gak jadi."


'Dasar cowo gak peka, udah tau gue malu masih ditanya!" batin Syafa menggerutu.


"Lo tadi pagi kemana? Kok gak ada di kelas."


"Di sekolah, lah."


"Sekolah kan luas, dimananya."


"Ciee nyariin ya?"


"Siapa juga yang nyariin."


"Tuh buktinya nanya-nanya tadi pagi gue kemana."

__ADS_1


"Kan lo gak ada di kelas pas gue ke kelas lo."


"Oh, khawatir toh, pangerannya gak ada di kelas."


"Sok tau."


"Fakta kan? Liat tuh muka, muka muka kecyduk, hahaha."


"Ih apaan, sih!"


Baru dua putaran mereka berlari mengelilingi lapangan disertai suara teriakan siswi yang mengangumi ketampanan Rendra. Ada juga teriakan siswi yang cemburu dengan kedekatan Syafa dan Rendra. Tiba tiba Syafa berhenti.


"Capek Ren."


"Satu putaran lagi, Sya." 


"Gak ah gak mau, nanti gue pingsan."


"Kan ada gue yang gendong lo ke UKS."


"Tapi gue gak mau pingsan, Rendra."


"Yaudah kalau gitu gue gendong deh, naik," suruh Rendra yang tengah berjongkok di depan Syafa.


"Kalau gak mau, nanti gue gendong paksa!" ancam Rendra. Syafa lalu menaiki punggung Rendra dengan tangannya berpegangan di bahu Rendra.


"Siap lari?"


"Siap!"


"Satu dua tiga." 


Rendra  berlari mengelilingi lapangan sambil mengendong Syafa yang tengah bersorak gembira.


"Tambah cepat dong! Ayo Rendra tambah cepat!" 


"Memangnya kenapa?"


"Seru!"


Rendra menambah kecepatan larinya sambil tersenyum disertai Syafa yang masih bersorak gembira. Setelah menyelesaikan hukuman Rendra, mereka pun duduk di pinggir lapangan.


"Maaf ya."


"Untuk?"


"Ngajak lo lari."


"Gapapa."


"Sya, suapin roti dong."


"Iya," sahut Syafa, membuka kemasan sari roti itu dan langsung menyuapi Rendra, sama seperti kemarin, Rendra memegang tangan Syafa yang menyuapinya.


"Maaf Sya."


"Hah?"


"Lo keringetan," ucap Rendra mengelap keringat Syafa dengan tisu yang selalu ia bawa kemana pun. Tisu seribuan itu, lho.


"Makasih."


"Untuk?"


"Gak jadi."


"Itu punya siapa Ren?" tanya Syafa menujuk sekumpulan minuman dan makanan.


"Punya gue."


"Dari?"


"Orang-orang."


"Kenapa gak dimakan?"


"Maunya susu sama roti keju yang dibeliin lo."


"Itu ada coklat sama kue keju, buat gue ya?"


"Jangan!"


"Lho, kenapa?"


"Itu bukan dari gue, gak boleh."


"Itu kan udah jadi hak milik lo."


"Tapi bukan gue yang beli coklat sama yang bikin kue nya."


"Gak papa kali."


"Gak boleh. Lo bolehnya makan coklat yang gue beli dan makan kue yang gue bikin."


"Emang bisa gitu bikin kue?"


"Eits, bisa dong."


"Kok gak percaya ya?"

__ADS_1


"Nanti pulang sekolah, gue buktiin. Kita bikin kue keju dirumah gue."


__ADS_2