
Jangan memberikan harapan. Jika akhirnya menorehkan luka yang dalam.
Complicated Bubble
"Selamat ya!" kata Syafa kepada Rendra, mereka berdua sedang berada di kantin smansa seusai berfoto-foto mengabadikan momen kemenangan mereka, pasukan paskibra putra-putri, mereka mendapatkan masing-masing 3 piala, yaitu Juara 1 LKBB Murni Putra, Juara 2 LKBB Murni Putri, Juara 3 Busana Putra,Juara 1 Busana Putri, Juara 1 Variasi Formasi Putra dan Juara 1 Variasi Putri. Dan yang pasti JUARA 1 SUPPORTER TERBAIK! Auto ALKP menjadi JUARA UMUM lagi! Alhamdulillah.
"Ini karena ada kamu," sahut Rendra.
"Aku gak ngapa-ngapain juga," aneh Syafa.
"Kalau gak ada kamu, nanti aku gak fokus, nanti ujungnya katot alias kalah total!" ucap Rendra.
"DASAR LEBAY!" teriak Syafa.
"Lebay, lelah bayim," dramatis Rendra, membuat Syafa tertawa keras, hingga semua mata tertuju kepada mereka, namun Syafa mengabaikannya, ia sudah mulai terbiasa dengan tatapan itu.
"Di kemang ada fetival, mau ke sana?" tanya Rendra, tangannya mengelus rambut Syafa, gemas dan bahagia melihat gadisnya tertawa, karenanya.
"MAU!" exited Syafa, matanya langsung berbinar kesenangan.
"Gemes banget sih!" tangan kiri Rendra mencubit pipi kanan Syafa, kali ini penuh perasaan, jadi Syafa membiarkan saja.
"Bacot, ayo cepetan ke sana!" ajak Syafa, menarik tangan kanan Rendra.
"Iya deh, tapi jangan ditarik tangannya, kayak gini aja," tangan Rendra menggengam jemari Syafa. Hal biasa memang, namum Syafa masih saja belum bisa mengontrol degup jantungnya.
"Ayo," kata Rendra.
Mereka berdua berjalan berdampingan dengan tangan yang saling menggengan menuju parkiran, Rendra tadi berangkat menggunakan motor bersama Faiq, namun Faiq sudah pulang bersama Hana, biasa PDKTan. Alhamdulillah, akhirnya Faiq PDKTan juga.
Ketika sudah sampai di parkiran, handphone Rendra berdering, Syafa bisa membaca sekilas "Kanaya is calling you".
"Aku angkat telpon dulu, ya," izin Rendra dan dibalas anggukan oleh Syafa.
"Kenapa?" tanya Rendra kepada orang di seberang sana.
"Temenin gue, badan gue lemas semua, mau minum, haus," jawab Kanaya dengan suara serak.
"Lo di rumah sendiri?" ucap Rendra, sedikit khawatir.
"Iya, please, ke sini, badan gue sakit semua," jawab Kanaya.
"Tapi Nay---" belum sempat Rendra melanjutkan kalimat yang akan ia lontarkan, ia mendengar suara pecahan kaca.
"Nay lo gak papa?" ucap Rendra khawatir, Syafa bisa mengetahui itu dari raut wajah Rendra yang berubah.
"Ren, gue butuh lo,"
"Iya, gue ke sana, lo baik-baik di rumah. Sepuluh menit gue udah sampai," kata Rendra mengakhiri panggilan itu.
"Sya, kita gak jadi ke festival ya, Kanaya sakit, aku harus nemenin dia," ucap Rendra.
__ADS_1
"Tapi kamu udah janji," kata Syafa, kecewa, hei hatinya juga sakit melihat pacarnya selalu dekat dan menghawatirkan perempuan lain!
"Kanaya sakit Sya."
"Tapi kamu udah janji Rendra."
"Aku gak janji!" ucap Rendra sedikit meninggikan suaranya, ia benar-benar harus ke rumah Kanaya, sekarang.
"Dengar aku, kita bisa ke festival tahun depan," ucap Rendra penuh penekanan, kedua tangannya memegang bahu Syafa.
"Tapi aku maunya sekarang," desak Syafa.
"Gak bisa Sya."
"Tadi kamu yang ngajak!" Rendra menurukan tangannya lalu mengusap wajahnya dengan kasar.
"Kanaya butuh aku sekarang, Sya."
"Aku juga butuh kamu."
"TERSERAH LO!" kata Rendra sebelum ia menaiki motornya dan meninggalkan Syafa.
Tuhan, salahkah Syafa jika kali ini dia ingin menangis lagi? Dia hanya butuh kebahagian malam ini, sebentar saja, apa salah?
Hati Syafa terluka melihat Rendra yang lebih mengkhawairkan gadis lain daripada dirinya, Rendra rela meninggalkan dirinya malam-malam begini hanya untuk bertemu gadis lain, Rendra membentaknya karena gadis lain. Apa tidak cukup selama ini dia mengalah? Apa salah jika dia ingin bahagia malam ini?
Syafa berjalan ke depan, untuk menaiki angkutan umum. Itu cara agar bisa pulang kan? Syafa berjalan dengan sedikit menunduk, kecewa dengan kekasihnya, Rendra.
"Kok sendiri? Rendra mana?" suara itu, suara Zaldi! Syafa mendongkakkan kepalanya, tebakannya benar, dia Zaldi, lelaki aneh yang selalu datang ketika dia sedang bersedih. Siapa dia sebenarnya!?
"Lo pulang sama gue," ucap Zaldi.
"Gue naik angkot, makasih," tolak Syafa.
"Udah malam Sya," kata Zaldi.
"Gue tahu."
"Kalau tahu, gak ada alasan untuk lo nolak pulang bareng sama gue," atur Zaldi.
"Gue gak suka diatur, sorry," balas Syafa.
"Yaudah, kalo gitu gue paksa, naik!" paksa Zaldi.
"Gue gak mau."
"Naik atau gue kasih lo ulet bulu!" ancam Zaldi, membuat Syafa bergedik mengeri mendengarnya, dengan gerakan cepat ia menaiki motor Zaldi, hal itu mampu mencetak senyuman di wajah tampan Zaldi. Lalu Zaldi menjalankan motornya.
"Lo kok tahu sih gue takut ulet bulu, stalkerin gue ya? Ngaku lo!" tuduh Syafa.
"Ngapain gue stalkerin lo, kalau mulut lo bisa ngasih tahu hal itu," jawab Zaldi.
__ADS_1
"Gue gak pernah cerita ke lo!"
"Tuh tadi cerita," sahir Zaldi santai.
"Ih gue serius Zaldi *** ayam," kesal Syafa, namun anehnya Zaldi justru tertawa.
"Gak usah ketawa lo," ucap Syafa menengulkan kepala Zaldi.
"Lo kenapa sih marah-marah mulu?" tanya Zaldi.
"Oh gue tahu, mood lu lagi ancur," ucap Zaldi, menjawab pertanyaannya sendiri.
"Lo sinting ya, nanya sendiri jawab sendiri?"
"Gue gak sinting tapi suka aja gitu sama Ayu Ting-Ting sama permen Ting-Ting," jayus Zaldi.
"Terserah lo."
"Oke kita jalan dulu," ucap Zaldi melajukan motornya lurus, bukan belok kanan menuju rumah Syafa.
"Eh dugong! Gue mau pulang bukan mau jalan sama alien kayak lo!"
"Tadi katanya terserah gue, jadi suka-suka orang tampan lah."
"ZALDI! GUE MAU PULANG!
"TOLONG SAYA EPERI BADEH!"
"SAYA DICULIK! TOLONG!"
"Bisa diem gak lo? Kalau gak bisa, gak jadi gue ngasih lo boneka olaf."
"Boneka olaf!? Serius?"
"Iya, mangkanya diem."
Syafa tiba-tiba mendadak tidak bersuara, diam benar-benar diam. Ayolah, dia sangat menyukai karakter Olaf dalam film Frozen.
Motor Zaldi terparkir di depan toko boneka. Syafa langsung ngacir ke dalam, sedangkan Zaldi menggelengkan kepalanya melihat tingkah Syafa.
Zaldi menyusul Syafa yang sedang memilih boneka olaf yang berbagai macam gaya. Zaldi memperhatikan tingkah Syafa sembari tersenyum simpul, gemas.
"Yang ini lucu banget, liat!" histeris Syafa menunjukkan boneka olaf.
"Ambil aja, gue bayarin," sahut Zaldi mengalihkan pandangannya, untuk menahan diri agar tidak mencubit pipi chubby gadis ini.
"Yaudah ayo ke kasir," kata Syafa berjalan mendahului Zaldi dengan memegang boneka olaf yang cukip besar, ya tingginya hampir sedirinya lah.
Seteleh membayar, mereka berdua keluar dari toko. "Makasih ya, lo baik banget!" puji Syafa, tangannya masih setia memeluk boneka.
"Gue kangen lo," lontar Zaldi, membuat Syafa menyeritkan alisnya.
__ADS_1
"Hah?" heran Syafa.
"Yuk pulang udah malam," ajak Zaldi.