
Tony :"Aku mulai sadar sejak ada Ryan dalam hubungan persahabatan kita. Aku mulai takut kehilangan kamu, takut kalau perasaanmu lebih ke Ryan dari pada ke aku yang sudah kenal kamu dari kecil. Disaat itu aku sadar, kalau aku nggak bisa jauh dari kamu, lepasin kamu itu aku benar-benar nggak sanggup."
Setelah mengatakan kalimat panjang itu mereka kembali terdiam. Hanya dua pasang mata mereka yang saling bertatapan.
Lama terdiam dan saling hanyut dalam posisi serta pandangan masing-masing, mencari harapan dari perasaan terdalam mereka.
Tony :"meskipun kamu belum ngasi aku jawaban dari perasaan aku yang aku ucap barusan, boleh aku cium bibir kamu,?"
Lia hanya terdiam mendengar perkataan Tony, hanya bola matanya yang bergerak mencari rasa cinta serta kesungguhan kalimat yang ia lontarkan dalam mata Tony.
Tanpa menunggu jawaban dari Lia, tangan Tony yang awalnya dipinggang mulai memegang pipi Lia. Tangan yang satunya masih berada di pinggang Lia. Menarik pinggangnya sambil meraba punggung dan naik ke leher Lia dan mendekatkan dirinya ke wajah Lia.
Lia yang merasakan rabaan di punggung dan lehernya yang di sentuh spontan saja ia menutup matanya. Menerima sentuhan apa pun di berikan oleh Tony.
Melihat Lia menutupkan matanya, Tony pun langsung mengecup bibir mungil Lia. Hanya kecupan dengan menempelkan bibir, tanpa nafsu.
Semenit.....Dua menit......
Lama bibir mereka saling mengecup. Merasa tak cukup dengan merasakan kecupan, entah rasa dari mana tiba-tiba saja Lia menempelkan dadanya ke dada Tony dan mengarahkan tangannya yang semula di bahu menjadi memeluk erat leher Tony.
Merasakan perubahan dari Lia tanpa terasa Tony pun merubah kecupan itu menjadi lumatan. Ia pun menarik pinggang serta leher Lia.
"ya ampun...rasa menggelitik apa ini...kenapa aku jadi kayak gini.." batin Lia ketika ia merasakan lumatan dari Tony.
"aaaaahhhhhh......baru sama bibir kecilmu ini aja aku bisa nggak sadar diri, gimana kalo aku udah jadiin kamu istri aku..." batin Tony sambil mulai ******* bibir Lia dengan menuntut sesuatu yang lebih.
Karna bibir Lia tertutup saat di *****, Tony pun meraba punggung Lia dan tanpa terasa Lia membuka mulutnya. Merasakan mulut Lia terbuka langsung saja Tony memasukkan lidahnya kedalam mulut Lia. Menjelajah bagian dalam mulut Lia. Menarik lidahnya dan bermain di dalam sana. Menyalurkan hasrat terpendam yang selama mereka pendam dalam hati.
Mereka berciuman sampai akhirnya listrik menyala. Dua sejoli ini masih menikmati rasa bibir pasangannya masing-masing. Selang beberapa menit setelah lampu menyala mereka menghentikan ciuman dengan gelora gairah yang merekah. Sambil menghirup nafas dalam-dalam akibat permainan lidah yang dilancarkan Tony ke dalam mulut Lia.
Masih saling pandang.
__ADS_1
Lia :"udah cium bibir berapa cewek sampe jadi pro kayak gini,!" ucap Lia sambil menatap Tony dengan nafas yang terengah-engah dan berusaha mengatur nafasnya.
Tony :"kamu yang pertama, dan aku harap kamu yang terakhir....!" sambil kembali ******* bibir kecil Lia.
Lia pun menjadi kaget.
"ya ampun...dicipok lagi...ini namanya ciuman, aku baru tau ciuman bisa seenak ini...aaahhh....Tony....kamu buat aku bisa jadi gila..."batin Lia sambil menerima lumatan dari Tony.
Masih dengan lumatan-lumatan nikmat diantara kedua insan ini. Tanpa disadari bahwa mereka kini menjadi tontonan dari dua pasang mata yang melihatnya.
"Ehm...ehm...!" terdengar suara dehaman. Tapi masih tak di gubris oleh dua sejoli yang sedang di mabuk cinta.
Tanpa mereka sadari seseorang mendekat ke arah mereka kemudian berbicara
Papa :"Segitu enaknya ya...!"
Sontak mereka berdua kaget dan menoleh ke arah sumber suara.
Papa yang hanya melihat dan mendengar keterkejutan mereka melipat tangan di depan dadanya. Sedangkan mereka berdua hanya bisa menunduk dengan wajah merah padam karena malu yang tak bisa ditutupi lagi oleh apa pun dan pastinya sudah tidak bisa mengeluarkan suara sepatah kata pun.
Papa :"bisa papa sama Mama ngomong ke kalian berdua,?" tanya papa kepada Tony dan Lia, sambil mengikuti ke arah papa dan mamanya duduk.
Sesampainya diruang tamu yang ruangannya saat ini udah kayak ruang ujian akhir, yang mencekam, dengan pandangan tajam nan menusuk yang setajam silet. Dengan posisi mama dan papa Lia duduk di sofa, sedangkan Lia dan Tony duduk di bawah menghadap ke arah para sesepuh duduk.
Papa :"siapa yang bisa menjelaskan yang barusan jadi tontonan,?" tanya papa Lia pertama kali memberi pertanyaan.
Tony :"pa, ma maafin Tony, bukannya Tony ambil kesempatan dalam kesempitan. Hari ini Tony menyampaikan semua isi hatinya Tony ke Lia... Bukan juga mau nggak sopan ke Lia....cuma tadi ada sedikit kecelakaan yang bikin posisi kita jadi kayak yang papa sama mama lihat,!" jawab Tony.
Papa :"gimana ni ma,?" tanya papa ke mama.
Mama :"entahlah pa, mama jadi nggak yakin kalo harus milih Tony buat jadi mantu kita,"
__ADS_1
Deg
Lia :"ma pa ini bukan salah Tony, Lia yang salah ma, Lia mohon....pa....Lia cinta ma Tony, Lia mohon ma...pa...!!" rengek Lia sambil menangis memegang kaki mama dan papanya.
Tony :"bukan salah Lia, ini salah Tony karna nggak bisa tahan diri terus ambil kesempatan buat cium Lia..!" bela Tony yang tak ingin melihat malaikat hatinya menangis. "Papa mama boleh hukum Tony, tapi jangan hukum Lia, Lia nggak salah apa-apa. Apapun hukumannya Tony terima, selama Tony bisa buat memperistri Lia, Tony akan terima itu semua."
Papa :"Bagus. Kalau begitu kalian berdua harus berpisah.!"
"Apa,!!!" kaget Lia dan Tony mendengar perkataan dari sang ayah untuk berpisah.
Tony :"Tapi pa,!!!"
Papa :"Kamu kan sudah janji buat tanggung jawab juga terima hukumannya. Ya pisah itu hukumannya." Tony pun hanya bisa terdiam menerimanya
Lia :"Pa....Ma...." sambil menahan isak tangisnya agar tak meluap.
Lama kedua orang tua itu melihat anak dan calon mantunya. Tak tahan melihat akhirnya suara tawa pun pecah.
Papa :"hahahahahaha....akhirnya ngaku juga kalo kamu cinta ma Tony, kamu juga Ton, akhirnya goyah juga tu iman.... nggak usah pake lama dah, 2 Minggu lagi kalian siap-siap...!!" perintah papa
Lia dan Tony pun saling pandang, mendengar tawa dan perintah dari lelaki tua ini. Terheran juga melihat mama yang tersenyum tiada henti, seakan sedang menonton sebuah opera dengan tingkat humoris yang level akut.
---------&&&&&-------
Ada apakah 2 Minggu lagi. Mari kita saksikan bersama 2 Minggu kemudian.......
Tapi tenang para pembaca yang Budiman...bukan berati updatenya 2 Minggu lagi ya....
Aku usahain buat update setiap hari
😍😍😘😘😍😍
__ADS_1