
Tony hanya bergerak mengubah arah kursi rodanya menuju kamarnya tanpa berbicara pada Ifan. Setelah sampai kamar Tony, Ifan menutup pintu kamar dan mendekat ke arah Tony. Mengambil sebuah kursi dan duduk di dekatnya.
Tony :"Apa yang ingin kau bicarakan,?"
Ifan :"Apa kau sangat membenciku,?"
Tony :"Apa kau berbicara berdua denganku hanya untuk menanyakan bagaimana perasaanku pada sifatmu ini,?"
Ifan :"Santailah, karna aku ingin memberikan sesuatu padamu yang tergantung bagaimana jawabanmu,!"
Tony :"Jika aku bisa berjalan, maka sudah aku layangkan pisau di jantungmu dan membuang jasadmu ke hutan."
Ifan :"Waaaahhhh.....ternyata dendammu sangat dalam. Justru itu yang aku inginkan.!"
Tony :"Sebenarnya apa yang mau kau bicarakan. Aku mulai muak melihatmu."
Ifan :"Aku rasa, aku sudah mendapatkan karma ku.!"
Tony :"Apa maksudmu,?" tanya Tony yang bingung dengan apa yang dibicarakan oleh Ifan.
Ifan :"Aku kanker otak stadium akhir. Mungkin tak banyak waktu yang aku dapat. Aku ingin kau menikah dengan Lia secepatnya."
Tony :"Apa yang kamu bicarain ini. Aku memang ingin menemui Lia saat aku sadar. Tapi saat itu aku sadar pada kondisi ku. Yang ada aku akan menyusahkan Lia dengan kondisiku yang cacat seperti ini."
Ifan :"Jadi, kamu akan menyerah tentang Lia.?"
Tony hanya terdiam, tak tau harus menjawab apa dan bagaimana karena kondisinya saat ini. Ifan pun bangkit dari duduknya dan pergi. Sesampainya di depan pintu sebelum keluar, Ifan berhenti sejenak.
Ifan :"Kalo kamu memang sudah tidak perduli sama Lia lagi. Maka jangan salahin aku kalo aku akan menelantarkan Lia dan anakmu. Aku bisa membuatnya tidak akan diterima dimana pun dan mengeluarkan kedua orangtuanya dari rumah sakit tempat mereka kerja."
Mendengar ancaman Ifan, Tony pun menjadi panik.
__ADS_1
Tony :"Lia... Jangan pernah kau buat hidup Lia sengsara, jika kau membuatnya menderita maka aku yang akan mencabut nyawamu sebelum penyakitmu itu...." teriak Tony.
Ifan :"X, bisakah kau ikut dengan ku ke rumah sakit saat kau luang,? Ada berkas yang harus kau setujui dan melakukan pemeriksaan."
Si X :"Baiklah bos. Saya ada kontrol ulang lagi bulan depan."
Ifan :"Baiklah. Kita bertemu bulan depan di rumah sakit. Kau istirahatlah, jaga diri dan Tony. Aku pergi dulu."
Ifan pun pergi dan melanjutkan perjalanan ke rumah sakit. Setelah selesai dari rumah sakit ia kembali ke apartemennya mengambil beberapa pakaian. Dan pergi ke rumah Lia untuk menemui Lia dan Al. Sesampainya di rumah, mama dan papa Lia menyambut Ifan dan menyuruhnya makan malam terlebih dahulu.
Setelah selesai makan, Ifan pun ke kamar Lia menemui Lia dan Al. Sesampainya di kamar ia mendapati Lia yang sedang menyusui Al.
Ifan :"Ah maaf, mas nggak tau kalo kamu sedang nyusuin Al,!" kaget Ifan yang langsung membelakangi Lia ketika ia melihat payudara Lia saat menyusui Al.
Lia :"Nggak apa koq mas. Mas bisa masuk. Lagi pula Al sudah tidur koq. Apa mas bisa bantu bawa Al ke boxnya,?"
Ifan :"Baiklah...!" berjalan mendekat ke arah Lia dan mengambil Al lalu meletakkannya di dalam box. Ifan menyelimutinya dan mencium pipi Al, kemudian mendekat ke arah Lia.
Ifan :"Nanti aja. Ada yang ingin mas tanyain ke kamu.!"
Lia :"Mas mau tanya apa,??"
Ifan :"Jika, ini jika saja. Jika suatu saat Tony kembali apa kamu akan kembali padanya,?"
Lia terdiam mendengar pertanyaan Ifan. Berusaha mencerna sesuai dengan kondisinya saat ini.
Lia :"Lia memang masih mencintai Tony mas. Tapi saat ini, yang ada di depan aku adalah mas. Aku tau aku salah, tapi aku harap mas bisa nunggu aku sebentar saja lagi. Aku akan berusaha untuk bisa mencintai mas."
Tanpa terasa Ifan pun menangis dan langsung memeluk Lia.
Ifan :"Maafkan mas, karena mas kamu harus memaksa hatimu untuk bisa nerima mas,!"
__ADS_1
Lia :"Nggak mas, mas nggak salah koq. Akunya aja yang masih belum bisa lepas dari kenangan ku sama Tony."
"Aku akan membuatmu Tony kembali padamu, aku berjanji. Sebelum aku pergi, aku akan mastiin Tony kembali padamu sebelum rasa cintamu hilang sepenuhnya untuk Tony...!" batin Ifan sambil tetap menangis dan memeluk Lia. Lia pun hanya bisa mengelus lembut punggung Ifan.
1 bulan kemudian, Ifan bertemu dengan Si X dirumah sakit. Melakukan beberapa pemeriksaan dan kecocokan ginjal, karena Ifan akan menyerahkan ginjalnya kepada X setelah ia meninggal nanti. Dan hasilnya pun Ifan bisa melakukan donor ginjal untuk X.
Si X :"Bos, aku tidak bisa nerima ini bos. Aku yakin bos akan berumur panjang."
Ifan :"Kamu jangan ngeledek terus. Aku ini banyak dosa, aku mau lesein semua masalah yang sudah aku buat selama ini. Sekarang aku mau pulang dulu. Aku mulai pusing lagi."
Si X :"Perlu aku yang anter bos,?"
Ifan :"Nggak...."
BRUK
Tiba-tiba saja Ifan jatuh pingsan dan membuat Si X kaget dan berteriak memanggil beberapa perawat. Setelah beberapa perawat datang, Ifan langsung di bawa ke ruang gawat darurat. Di saat Ifan sedang diberikan tindakan, Si X menghubungi Tony dan Lia.
Tony :"Ada apa,?"
Si X :"Saya mohon, datanglah kerumah sakit, bos Ifan tiba-tiba pingsan dan saat ini sedang di beri tindakan oleh para dokter. Saya sudah mengirimkan taksi online 10 menit yang lalu."
Tony :"Apa,? Baiklah, aku kesana sekarang."
Si X :"Halo nyonya Lia. Saya anak buah tuang Ifan. Saat ini tuan berada di rumah sakit dalam keadaan pingsan dan sedang diberikan tindakan oleh para dokter."
Lia :"Apa,? Tapi kenapa,? Di rumah sakit mana,?"
Si X :"Dirumah sakit tempat tuan kerja,!"
Lia :"Baiklah..."
__ADS_1
Lia pun langsung keluar kamar dan menitipkan Al kepada Mamanya dan memberitahukan apa yang terjadi yang membuatnya harus segera pergi menemui Ifan di rumah sakit.