
Sungguh, Deana bingung dan penasaran atas syarat apa yang akan diajukan oleh Adit. Ia takut tidak bisa melakukannya. Seandainya itu terjadi maka Deana tidak tahu lagi harus mencari pinjaman ke mana lagi, sedangkan ia tidak punya kenalan di sini. Kalaupun baru mengenal, tidak mungkin ia langsung meminjam uang begitu saja dalam jumlah yang banyak pula. Ia masih punya harga diri.
"Me-memang apa syaratnya, Mas?" Deana kembali bertanya setelah cukup lama ada jeda waktu saling diam di antara mereka.
"Jadi gini, karena aku yang meminjami kamu uang maka setelah ini kamu harus bekerja denganku. Bukan di sini, tapi di rumah pribadiku karena besok aku dan Raffi sudah kembali ke rumah. Aku akan memintamu untuk menjaga Raffi selama aku bekerja," kata Adit. Menghentikan ucapannya sesaat.
Deana menoleh ke arah Marni karena tidak tahu harus menjawab apa.
"Bagaimana dengan Tuan dan Nyonya? Apa mereka akan setuju, Mas?" Marni membuka suara untuk membantu Deana.
"Itu akan menjadi urusanku nanti. Aku yang akan bilang ke mama. Kalian tenang saja," sahut Adit santai.
"Lalu syarat kedua?" tanya Deana yang tidak sabar.
"Sertifikat rumahmu akan menjadi jaminan. Aku tidak mau kalau setelah mendapat uang dariku, kamu langsung kabur. Jadi, anggap saja sertifikat itu sebagai jaminan dan aku akan mengembalikan saat utangmu sudah lunas. Bagaimana?" Adit menyunggingkan senyum apalagi saat melihat wajah Deana yang tampak ragu-ragu.
"Tapi, Mas. Sertifikat itu ada di rumah. Jadi, tidak mungkin saya mengambilnya ke sana." Deana mendes*hkan napas ke udara secara kasar.
__ADS_1
Jika memang itu syarat dari Adit maka ia tidak akan keberatan. Itu artinya ia masih memiliki rumahnya meskipun sertifikat digadaikan, kurang lebih seperti itu. Namun, yang membuat Deana bingung adalah bagaimana cara mengambil sertifikat tersebut. Tidak mungkin ia pulang menggunakan bus sendirian, selain ia belum lama berangkat, ia juga takut jika pulang sendirian.
Adit pun seolah tahu apa yang membuat Deana sedang berpikir keras.
"Kamu tenang saja. Aku akan mengantarmu pulang ke kampung minggu depan. Selain untuk membayar hutang kepada rentenir itu dan mengambil sertifikat rumahmu. Aku juga akan ...."
"Papa," panggil Raffi. Menghentikan pembicaraan di antara ketiga orang itu.
Adit mengangkat tubuh Raffi dan mendudukkan di atas pangkuannya, sedangkan Tiara dan Akbar duduk di samping cucunya. Mereka menatap Marni dan Deana penuh curiga apalagi Tiara.
"Ma, aku lagi bilang sama Mbak Marni. Bagaimana kalau Deana berkerja di rumahku." Adit yang menjawab.
"Tidak boleh!" Tiara menoleh ke arah putranya. Menatapnya dengan penuh selidik. Wanita itu seolah tahu kalau Adit memiliki hal rahasia dan tujuan tertentu.
"Ma, aku butuh tenaga seperti Deana. Untuk mengurus semua keperluanku dan Raffi. Bukankan mama tahu selama ini aku mengurusnya sendiri." Adit mulai menunjukkan kekesalan.
"Salah siapa kau bercerai dari ...."
__ADS_1
"Jangan sebut nama wanita itu, Ma! Dia bahkan tidak bisa mengurus aku dan Raffi dengan baik. Dia tidak pantas disebut sebagai seorang istri dan ibu." Adit memotong ucapan Tiara. Ada penekanan dari setiap kalimat yang terucap dari lelaki tersebut. Seolah menjadi tanda betapa besar rasa kecewa yang dirasakan oleh lelaki tersebut.
Tiara pun hanya bungkam karena tidak mau jika harus berdebat dengan putranya.
"Ma, sudahlah. Biarkan saja Deana bekerja dengan Adit. Aku yakin kalau Deana bisa mengasuh Raffi dengan baik. Aku bisa melihat dia yang memiliki sikap keibuan." Akbar yang sejak tadi diam pun, kini ikut bicara.
"Tapi, Pa. Bagaimana kalau wanita ini justru merayu Adit dan memiliki niat jelek yaitu menguras harta anak kita," tukas Tiara. Tanpa peduli meskipun ucapannya mungkin saja menyakiti hati Deana.
"Ma, jangan berbicara seperti itu. Aku yakin kalau Deana bukan orang seperti yang dikatakan Mama tadi. Sudahlah, Ma. Keputusanku tidak bisa diganggu gugat. Aku mau Deana bekerja di rumahku," pungkas Adit.
Membuat semuanya terdiam. Tiara menyimpan kekesalan yang teramat dalam karena semua seolah membela Deana. Padahal Deana baru sebentar di rumah tersebut. Wanita paruh baya itu bangkit berdiri dan meninggalkan mereka. Membawa rasa kesal yang terasa membuncah di dada.
"Mbak, bagaimana ini?" bisik Deana takut.
"Kamu jangan bingung. Apakah kamu tidak dengar kalau keputusanku sudah bulat. Lebih baik sekarang kamu beres-beres karena besok kamu akan ikut pulang denganku." Adit yang mendengar bisikan tadi, langsung membuat Deana terdiam saat itu juga.
"Papa ... aku tidak mau dia pulang sama kita, Pa. Bagaimana kalau dia merebut Papa dariku. Aku tidak mau," rengek Raffi.
__ADS_1