DEANA

DEANA
Deana-50


__ADS_3

"De, apa pun jawabanmu. Aku akan terima asal itu dari dasar hatimu. Jangan menjawab iya kalau hatimu tidak ingin. Jujur, aku mencintaimu dengan tulus. Yang kumau adalah tinggal bersama sebagai suami istri bukan majikan dan pengasuh. Aku sangat bahagia melihat kamu yang memperlakukan Raffi dengan baik. Kamu juga memperlakukan mama dengan baik padahal selama ini mama sudah menyakitimu. Aku sungguh tidak pernah salah memilihmu. Walaupun aku sangat ingin memilikimu, tapi aku juga ingin kamu menjawab berlandaskan hati. Bukan karena rasa tidak enak hati." Adit berbicara panjang lebar.


Deana pun menghela napas panjangnya. Bimbang. Hatinya masih belum sepenuhnya yakin. Banyak kekhawatiran yang ia rasakan. Namun, jika dipikir-pikir, Deana juga salah bila menggantungkan jawaban terlalu lama.


"Mas .... " Deana menghentikan ucapannya. Kembali terlihat sedang berpikir keras. "Jika saya menerima kamu dan suatu saat kamu melihat keburukan saya, apakah kamu akan tetap menerima saya? Saya ini hanyalah manusia biasa yang penuh kekurangan, Mas."


"Tentu saja. Aku juga sama seperti kamu. De, tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Aku pun memiliki kekurangan. Ketika dua orang dipasangkan, bukankah mereka akan saling menutupi kekurangan pasangannya?" tanya Adit balik.


Deana mengangguk lemah. "Iya, Mas. Kalau begitu, saya menerima pinanganmu, Mas. Kita jalani semua bersama," ujarnya.


Wajah Adit yang barusan tegang pun kini tampak berbinar bahagia. Bahkan, tanpa sadar ia sudah memegang tangan Deana erat.


"Kamu serius, De?" tanya Adit memastikan. Deana mengangguk cepat.


"Alhamdulillah, terima kasih, Tuhan."


***


Dua bulan berlalu.

__ADS_1


Setelah Deana menerima lamarannya, Adit pun langsung bergerak cepat. Tidak ingin menunggu terlalu lama lagi. Segala persiapan pesta pernikahan pun, langsung diurus oleh Adit. Hal lain yang membahagiakan selain pernikahan yang sudah di depan mata, adalah Tiara yang sudah bisa mulai berjalan normal lagi. Semua berkat Deana yang sangat telaten mengurus Tiara. Juga Tiara yang sangat bersemangat untuk sembuh.


Hari ini adalah hari yang sangat dinanti oleh Deana maupun Adit. Kedua orang itu sudah memakai gaun pengantin dan tuksedo bahkan Adit sudah bersiap untuk mengucapkan ijab kabul. Suasana yang tadinya riuh, kini terasa tegang saat Adit sudah berjabat tangan dengan Bagyo.


Ruangan itu hening saat ijab kabul sedang berlangsung.


"Bagaimana saksi, sah?"


"Sah!"


"Alhamdulillah."


Setelah acara ijab kabul dan resepsi pernikahan selesai digelar, mereka pun berpesta bahkan hampir tengah malam. Adit yang kasihan melihat Deana tampak kelelahan pun, langsung mengajak untuk masuk ke kamar yang sudah dihias sedemikian rupa.


Deana sungguh tidak percaya, akan mendapat kejutan seluar biasa ini. Air matanya sejak tadi hendak memaksa keluar karena terharu atas apa yang dilakukan oleh Adit.


"De, kamu mau mandi sekarang?" tanya Adit saat ia baru saja selesai mandi.


"I-iya, Mas." Deana menjawab gugup. Ini adalah pertama kali mereka hanya berdua di kamar tanpa ada Raffi. Rasanya sangat menegangkan menurut gadis tersebut.

__ADS_1


"Em, tapi menurutku lebih baik kamu tidak perlu mandi." Adit tersenyum licik. Deana yang melihat itu pun hanya bisa menelan ludahnya kasar. "Kamu tidak perlu mandi karena setelah ini juga akan berkeringat."


"Tapi saya masih bau, Mas. Seharian ini berkeringat." Deana berusaha menolak.


Namun, Adit dengan lihai menangkup wajah Deana dan mencium kening gadis itu dengan sangat dalam.


"Tidak apa. Aku suka." Adit berbicara dengan nada sensual.


Gerakannya sangat lembut dan mampu membuat Deana mabuk kepayang. Akhirnya, hal yang sudah lama ingin dilakukan oleh Adit pun, bisa terlaksana. Ia bisa kembali menikmati mandi keringat bersama Deana bukan Sonia.


Tidak ada harapan yang lebih tinggi digantungkan oleh Adit selain ia dan Deana bisa hidup bahagia selamanya. Sampai ajal memisahkan mereka berdua.


"Terima kasih, De. Aku mencintaimu." Adit berbicara lirih dan penuh cinta setelah mereka melakukan malam pertama.


"Sama-sama, Mas. Aku juga mencintaimu," balas Deana.


Adit pun tersenyum simpul. Lalu menghujami wajah Deana dengan penuh cinta. Akhirnya, ronde kedua pun terlaksana.


Mereka pun hidup bahagia mulai sekarang. Hidup bersama mengarungi bahtera rumah tangga. Saling berjanji, apa pun keadaannya, mereka akan selalu hidup bersama dan saling menyayangi.

__ADS_1


_TAMAT_


__ADS_2