
Deana menunduk dalam satu menyadari tatapan sang ibu begitu lekat ke arahnya. Ia tahu dengan pasti hal apa yang akan dibicarakan oleh ibunya setelah kepergian Adit dan Raffi tadi. Sesuai dengan yang diucapkan Adit kalau lelaki tersebut akan menginap di hotel dan baru besok sore mereka akan kembali ke kota.
"Kamu yakin kalau di kota bekerja dengan baik, De?" Pertanyaan Tinah penuh kecurigaan.
"Iya, Bu. Kalau tidak percaya, Ibu bisa tanya sama Lik Marni. Dulu Deana satu tempat kerja, tapi Mas Adit minta Deana buat ngurus Raffi. Kasihan, Bu. Mas Adit dan istrinya sudah bercerai." Deana menjelaskan karena tidak ingin ada kesalahpahaman di antara mereka.
"Lalu?"
"Ya, awalnya Dea mau minjem sama Tuan Akbar, tapi Lik Marni tidak janji Tuan Akbar mau ngasih pinjem karena Dea baru mulai kerja. Terus Mas Adit nawarin gitu, Bu. Bakal bantu Dea asal Dea mau ngurus Raffi."
Pada akhirnya Tinah percaya pada ucapan Deana. Ia percaya kalau apa yang diucapkan Deana memanglah sebuah kebenaran apalagi selama ini Deana tidak pernah berbohong padanya. Tinah pun memberi nasehat kepada anak gadisnya agar bisa menjaga diri. Jangan sampai ikut terbawa hal yang negatif karena dari yang diketahui oleh Tinah, pergaulan di kota itu sangat bebas.
Untuk malam ini, Deana akan tidur bersama dengan Tinah dan Rangga untuk melepas rindu sebelum besok kembali ke kota.
"Bu," ucap Deana.
"Kenapa, De?" tanya Tinah sambil memeluk Deana. Rasanya sudah lama sekali ia tidak memeluk putrinya seperti ini.
"Apa Ibu tahu di mana alamat bapak? Apa ibu masih menyimpan catatannya? Sepertinya dulu bapak pernah ninggalin catatan alamat," tanya Deana hati-hati.
Tinah terdiam. Bahkan gerakan tangannya yang sedang mengusap puncak kepala Deana pun seketika terhenti. Des*han napas kasar dari sang ibu seketika membuat Deana pun melakukan hal yang sama.
"Mau apa kamu cari alamat bapak? Bapak pasti sudah lupa sama kita." Suara Tinah terdengar berat dan menyiratkan luka.
Deana pun tidak tega, tetapi ia tetap akan meminta alamat tersebut untuk mencari rumah di mana bapaknya kerja dulu. Ia harus bisa menemukan di mana lelaki itu tinggal. Apakah masih hidup atau tidak karena suatu saat nanti, Deana pasti membutuhkan lelaki tersebut.
"Mungkin bapak belum punya cukup uang, Bu. Makanya belum pulang." Deana berusaha menenangkan hati sang ibu meskipun ia sendiri tidak yakin.
Mana mungkin berpuluh-puluh tahun merantau, tetapi bapaknya belum dapat uang juga. Batinnya sendiri membantah.
__ADS_1
"Entahlah, De. Ibu sudah tidak mampu memikirkan lagi. Yang terpenting sekarang, kamu sudah bekerja yang halal dan Rangga bisa sekolah sampai setinggi mungkin. Lebih baik sekarang kamu tidur karena besok harus bangun pagi." Tinah menina-bobo kan Deana seperti saat gadis itu sedang kecil dulu.
Hampir setengah jam berlalu, terdengar dengkuran halus dari Deana. Dengan perlahan, Tinah turun dari ranjang dan segera masuk kamar. Ia membuka lemari lusuh yang berisi beberapa baju pun, baju tersebut sudah banyak yang memudar warnanya.
Tangannya yang sudah mulai keriput pun meraba bawah tumpukan baju itu. Lebih tepatnya di bawah koran yang digunakan sebagai alasan tumpukan. Setelah menemukan apa yang dicarinya, Tinah pun menarik keluar.
Sebuah kertas yang dulunya putih kini terlihat kecoklatan. Tulisannya pun mulai memudar karena dibiarkan begitu saja di lemari sampai beberapa tahun lamanya. Dulu, Tinah sering bertanya kepada Marni tentang alamat itu. Marni bilang, tempatnya sangat jauh bahkan hampir tiga jam jika menggunakan mobil.
Sampai akhirnya Tinah merasa lelah untuk terus mencari suaminya lagi. Ia hanya bisa pasrah dan ikhlas. Mendoakan suaminya agar segera pulang. Namun, sampai bertahun-tahun lamanya, lelaki itu belum juga datang meski hanya sekadar menengok putra-putri mereka.
Tinah sudah lelah menunggu sampai selama itu.
***
Sebelum pulang ke kota, Adit meminta Deana agar mengajaknya bermain ke sawah. Sepertinya sangat seru apalagi Raffi yang tidak pernah main ke sawah. Pasti bocah tersebut akan merasa sangat senang.
Kotor, lumpur, panas terik. Belum kalau hewan berbahaya seperti ular, ulat, dan lainnya.
"Tidak papa, De. Berani kotor itu baik," timpal Adit santai.
"Ya ampun, Mas. Udah kayak iklan aja." Deana tersenyum simpul dan hal tersebut mampu membuat jantung Adit kembali berdebar kencang.
Adit sungguh merasa ada yang salah dengan dirinya. Mungkinkah jantungnya bermasalah jika melihat senyum Deana. Ini pertama kali ia alami karena saat bersama Sonia dulu, ia tidak pernah merasakan hal ini.
"Papa, apa nanti Raffi boleh bermain lumpur?" tanya Raffi penuh harap.
"Tentu saja. Jadi, sekarang kita berangkat karena nanti sore kita harus pulang ke kota." Adit pun bangkit berdiri tanpa peduli pada Deana yang seperti akan menolak.
Selama berjalan ke sawah, mereka menjadi pusat perhatian. Deana merasa tidak enak hati, sedangkan Adit tetap santai. Yang menjadi heran di sini adalah, Raffi baru pertama bertemu Rangga, tetapi sudah langsung menempel pada pemuda tersebut.
__ADS_1
"Di sini segar. Tidak seperti di kota yang penuh polusi," kata Adit.
Saat ini mereka duduk di sebuah gubuk. Sambil meminum es kelapa muda yang dibeli Adit tadi dari tetangga Deana yang kebetulan sedang berada di sawah.
"Iya, Mas. Bikin betah, dan kangen kalau kelamaan ninggalin kampung," sahut Deana. Sembari tersenyum.
Adit pun menghirup napas dalam. Ini sungguh tidak baik jika Deana tersenyum seperti ini.
Bukan hanya pemandangan ini yang bikin betah, tapi kamu juga bikin betah, betah banget malah, De.
Eh!
Adit merutuki dirinya sendiri. Beruntung ia hanya mengucapkan kalimat itu di dalam hati kalau sampai Deana benar-benar mendengarnya, sudah pasti ia tidak akan tahu akan menaruh mukanya di mana lagi.
Tidak mau semakin lama berada dalam situasi canggung, Adit pun mengajak mereka untuk pulang karena masih harus bersiap-siap.
"Kalau liburan, Raffi mau main sini lagi, Pa!"
Bocah itu bersidekap dan tidak mau pulang. Adit pun harus mengerahkan berbagai rayuan untuk membuat bocah tersebut bersedia kembali ke kota.
"Dea pamit ya, Bu." Deana menyalami Tinah terlebih dahulu barulah Rangga.
"Hati-hati ya, De. kalau sudah sampai sana kamu telepon ibu. Jangan lupa jaga diri," nasehat Tinah sebelum putrinya pergi.
"Iya, Bu. Dea pasti akan menjaga diri dan semoga bisa menemukan keberadaan bapak."
Tinah hanya mengulas senyum paksa ketika mendengar ucapan putrinya tersebut.
Ia tidak mau berharap lebih.
__ADS_1