
Tatapan Adit begitu penuh ke arah Deana yang sedang menunduk dalam. Gadis itu terlihat saling merem*skan jari untuk menghilangkan kegugupannya.
"Apa maksudmu? Bicaralah yang jelas dan jangan membuatku salah paham." Adit mulai menaikkan nada bicaranya.
Ia merasa gelisah dan belum sepenuhnya percaya kalau Deana akan keluar dari pekerjaannya. Adit sungguh tidak mau hal itu terjadi.
"Mas, saya akan membayar hutang saya kepada Mas Adit. Yang buat melunasi hutang ibu saya waktu itu. Lalu saya akan meminta sertifikat rumah ibu dan setelah ini saya ingin keluar dari sini," terang Deana.
"Kamu jangan bercanda, De!" Adit membentak Deana tanpa sadar.
"Saya serius, Mas. Tunggu sebentar biar saya ambilkan uangnya." Deana pun berjalan masuk ke kamarnya dan mengambil uang pemberian Tiara.
Ia melihat segepok uang tersebut dengan lekat sembari menghirup napasnya dalam-dalam. Ia yakin, pasti bisa melakukan ini.
Ketika merasa hatinya telah siap, Deana pun segera menemui Adit yang masih menunggunya di tempat tadi. Masih di tempat yang sama di depan kamar Raffi. Namun, setelahnya Adit justru meminta berpindah ke ruang tengah agar lebih nyaman mengobrol.
__ADS_1
Selama duduk berhadapan, Deana justru makin menunduk dalam karena gugup harus berhadapan langsung dengan Adit. Ia tidak tahu harus memulai dari mana dulu. Sementara Adit, menatap amplop coklat berisi uang yang dipegang oleh Deana.
"Itu apa?" tanya Deana tidak bisa lagi menahan rasa penasaran.
"U-Uang sebelas juta, Mas."
"Dari mana kamu dapat uang sebanyak itu?" tanya Adit tidak sabar sendiri. Suaranya membuat tubuh wanita itu beringsut takut.
"Sa-Saya ...."
Menyadari bahwa tubuh Deana gemetar ketakutan, Adit pun langsung mengembuskan napas secara kasar dan meminta maaf kepada wanita itu. Ia sungguh merasa bersalah karena tidak bisa mengontrol emosi.
Semua itu, Adit lakukan semata-mata karena tidak ingin jika harus kehilangan Deana.
"Katakan padaku dengan jujur, siapa yang memberimu uang sebanyak itu, De?" Suara Adit terdengar lembut. Tidak semengerikan tadi.
__ADS_1
"Mas Adit tidak perlu tahu itu. Saya hanya ingin keluar dari sini." Deana sengaja menjawab seperlunya karena ia menahan diri agar tidak keceplosan.
"Kenapa? Kamu tidak betah? Apa gaji yang kuberikan kurang? Kalau memang kamu ingin naik gaji, bilang saja. Aku akan menaikkan sesuai permintaanmu, tapi kamu harus kembalikan uang itu kepada yang memberi tadi," kata Adit tegas.
Namun, Deana menggeleng dengan cepat. "Tidak, Mas. Saya tidak ingin naik gaji. Bayaran dari Mas Adit sudah lebih dari cukup. Saya ingin kembali ke kampung karena hutang ibu sudah lunas, Mas."
"Lalu siapa yang memberimu uang sebanyak ini?" Adit masih terus bertanya karena belum dapat jawaban dari tadi. Deana tidak menyahut. Ia justru menggeleng dengan cepat. "De, apa kamu menjadi simpanan Sugar Daddy?"
"Sugar Daddy itu apa, Mas?" tanya Deana dengan polosnya karena memang ia tidak tahu apa itu 'Sugar Daddy'.
Adit menghela napas panjang. "Kamu menjadi simpanan om-om. Melakukan apa pun yang om itu mau termasuk berhubungan badan dan kamu akan mendapat uang sebanyak apa pun yang kamu mau."
Deg!
Jantung Deana terasa berhenti sesaat. Menyalurkan rasa nyeri yang begitu terasa sampai ke relung hati paling dalam. Ia tidak menyangka jika Adit akan berpikir buruk sejauh itu kepadanya.
__ADS_1