
"Deana tidak suka disamakan dengan Bapak, Bu! Dea benci!" Suara Deana meninggi. Jika menyebut atau membahas tentang ayahnya, seketika amarah Deana akan naik sampai ke ubun-ubun. Ia masih sangat kecewa kepada lelaki itu.
"Kenapa? Bapak mencopet untuk bertahan hidup. Kita tidak akan pernah tahu alasan apa yang ada dibalik perbuatannya. De, Bapak sudah menyesal dan berjanji tidak akan melakukannya lagi, lantas kenapa kita tidak memberinya kesempatan. Ibu kecewa sama Bapak, tapi Ibu juga sangat kecewa sama kamu." Tinah menahan air matanya agar tidak mengalir. Ia tidak mau menangis di depan putrinya.
"Bu, Dea bersumpah kalau Deana tidak melakukan hal itu. Sumpah, Bu." Deana mengusap air mata yang sudah mulai mengalir dari setiap sudutnya. Ia bingung bagaimana caranya agar sang ibu mau percaya padanya.
"Carilah bukti kalau memang bukan kamu yang melakukan itu. Carilah sampai ibu percaya padamu lagi," pungkas Tinah.
Wanita paruh baya itu pun memilih untuk pergi. Ia tahu, ini salah. Tidak sepatutnya ia menghakimi putrinya seperti itu, tetapi Tinah tidak tahu kenapa sikapnya bisa seperti itu. Dibuat kecewa oleh dua orang yang paling disayangi membuat Tinah pun memilih untuk menenangkan diri sementara waktu.
***
Sonia tersenyum senang karena Adit menghubungi dirinya untuk mengajak bertemu. Dalam sebuah private room pula. Ia yakin kalau Adit akan memintanya kembali jika tidak, Sonia akan menggunakan kesempatan itu untuk menjebak Adit. Apa pun akan ia lakukan agar Adit bersedia kembali padanya.
Dengan sengaja, Sonia berdandan sangat cantik juga memakai pakaian seksi. Gaun pendek dengan belahan dada rendah juga warna merah menyala. Seketika mampu membuat pria lain terpesona. Sonia sangat berharap Adit pun akan sangat terpikat padanya nanti.
__ADS_1
Sesampainya di kafe, ia langsung menuju ke private room, senyumnya sejak tadi mengembang karena sudah melihat mobil Adit di parkiran. Langkahnya begitu bersemangat.
Ketika membuka pintu ruangan, senyum wanita itu kian merekah saat melihat Adit yang sedang duduk sendiri dan memainkan ponselnya. Sonia pun langsung mendekat dan duduk menempel di samping lelaki itu.
Adit tidak menyingkir bahkan membiarkan tangan Sonia melingkar di lengannya. Lelaki itu hanya melirik sekilas lalu kembali pura-pura fokus pada ponselnya.
"Maafkan aku terlambat, Dit. Kupikir kau bercanda mengajakku bertemu." Sonia berbicara seseksi mungkin untuk memikat Adit.
"Tidak apa. Kau pesan minuman dan makanan dulu, aku selesaikan urusanku sebentar." Adit berusaha mengalihkan perhatian Sonia.
Sonia pun segera memesan makanan seperlunya saja. Ia tidak mau terlalu banyak makan karena menjaga bentuk tubuhnya. Ia tidak mau gemuk atau hal itu akan membuatnya tidak menarik lagi.
Setelahnya, kedua orang itu pun saling menyantap makanan masing-masing. Adit terlihat menikmati kunyahannya dan sama sekali tidak membuka suara. Sementara Sonia makan dengan kesal.
Bukan seperti ini keadaan yang diinginkan wanita itu. Ia ingin makan malam yang romantis dan bercumbu mesra setelahnya. Namun, semua hanyalah angan yang sangat tinggi karena Adit justru bersikap tidak acuh.
__ADS_1
"Aku terima telepon dulu." Adit bangkit berdiri dan bergegas menjauh dari Sonia sekitar lima menitan.
Sekembalinya lelaki itu, Sonia langsung menatapnya penuh selidik.
"Dit, siapa yang kamu kabari?" tanya Sonia menuntut jawaban.
"Deana." Adit menjawab singkat.
"Dit! Kenapa kamu tidak jauhi wanita itu? Dia itu wanita murahan. Kamu tahu, dia itu memiliki pekerjaan sampingan sebagai simpanan dari om-om."
"Dari mana kamu tahu?" tanya Adit curiga.
Sonia diam sesaat lalu menunjukkan foto Deana yang sama persis seperti apa yang didapatkan oleh Adit. Di dalam ponsel wanita itu.
"Kamu dapat foto ini dari mana?" tanya Adit dengan nada tinggi karena terkejut melihat apa yang ditunjukkan oleh Sonia.
__ADS_1
Sementara itu, Sonia mendadak gugup apalagi saat melihat sorot mata Adit yang begitu menuntut.