DEANA

DEANA
Deana-46


__ADS_3

Lidah Deana mendadak kelu hingga tak mampu lagi mengucap sepatah kata pun. Ia hanya diam menatap lelaki paruh baya yang sedang berdiri tepat di depannya. Dari kedua mata lelaki itu terlihat basah bahkan cairan bening mulai memaksa keluar. Hal itu membuat hati Deana berdenyut sakit.


"De ... maafin bapak, Nak."


Deana tidak tahu lagi harus berbicara apa. Hanya air mata yang mengalir dari kedua sudut matanya ketika melihat lelaki itu mengucapkan maaf. Membuat hati Deana bergetar hebat.


Rindu?


Ya, dia merindukan sosok lelaki itu. Cinta pertama yang sudah berhasil membuatnya kecewa. Namun, Deana berusaha membuka hati. Tidak ingin kembali mengingat rasa sakit yang pernah ditorehkan oleh lelaki itu.


Entah mendapat dorongan dari mana, Deana memeluk lelaki itu dengan erat. Bahkan sangat erat. Seolah sedang mencurahkan segala rasa rindu yang selama ini bersemayam dalam dada.


Bukan hanya Deana yang menangis, tetapi Bagyo pun sama. Lelaki itu mengeratkan pelukan mereka bahkan entah berapa kali Bagyo meminta maaf pada putrinya sambil menciumi puncak kepala gadis tersebut. 


"Maafkan bapak, De. Selama ini bapak sudah sangat salah," kata Bagyo. Suaranya serak dibarengi isakan.


"Dea juga minta maaf sama Bapak."


"Kamu tidak perlu minta maaf karena kamu tidak salah di sini. Bapak yang sangat bersalah pada kalian." Bagyo mengusap punggung putrinya.

__ADS_1


Hal yang sejak dulu sangat ingin ia lakukan. Betapa ia sangat merindukan Deana, putri kecilnya dulu yang kini telah beranjak dewasa. Rasa sesal kian Bagyo rasakan karena sudah menorehkan rasa kecewa yang sangat dalam.


Lelaki itu berjanji akan menebus semua yang pernah ia lakukan. Mulai detik ini, Bagyo akan membahagiakan keluarganya. Istri dan kedua anaknya.


Setelah sekian lama saling berpelukan, Deana mengajak Bagyo untuk masuk. Hal yang sama Bagyo lakukan kepada Rangga. Bagyo pun tidak menyangka, Rangga yang ia tinggal saat masih bayi, kini sudah besar bahkan tingginya melebihi dirinya.


Di tengah kebahagiaan tersebut, Deana justru celingukan mencari keberadaan Adit. Ia pikir, ayahnya datang bersama Adit, tetapi tidak ada sedikit pun batang hidungnya terlihat. Deana pun mengembuskan napas kasar. Merutuki dirinya sendiri karena sudah sangat mengharapkan lelaki itu. 


Ingin sekali Deana bertanya tentang Adit kepada Bagyo. Ia yakin sang ayah pasti tahu karena yang membebaskan lelaki tersebut adalah Adit. Namun, Deana khawatir jika akan ada salah paham di antara mereka nantinya dan menganggap bahwa Deana sangat mengharapkan Adit. 


Ditengah keraguan Deana, terdengarlah pintu diketuk dan suara orang memanggil. Deana beranjak bangun karena sangat paham suara siapakah itu. Ketika sudah sampai di ambang pintu, bibir Deana tersenyum lebar saat manik matanya melihat dua orang yang diam-diam sangat ia rindukan. 


Adit dan Raffi. 


Senyumnya mengembang sempurna saat bisa melihat wanita itu lagi. Wanita yang sudah mampu mencuri hatinya sejak pertama kali bertemu. 


Adit tersadar dari lamunan saat Deana mengajak bersalaman sambil bertukar kabar. Lalu mereka masuk dan berkumpul menjadi satu. Hal yang begitu membahagiakan. 


"Bagaimana keadaan Nyonya Tiara, Mas?" tanya Deana. 

__ADS_1


"Tadi, papa bilang mama sudah sadar. Tapi aku belum ke sana. Mungkin setelah ini," sahut Adit tanpa mengalihkan pandangannya dari Deana. 


"Kalau begitu, saya mau ikut, Mas." Deana memohon. "Tapi ... apa Nyonya Tiara mau dijenguk saya." Deana mendadak ragu. 


Adit pun mengeluarkan ponsel dan menunjukkan rekaman percakapan Sonia. Awalnya Deana mengerutkan kening karena bingung, tetapi setelahnya gadis itu membulatkan mana penuh. Menoleh ke arah Adit dan menatapnya tidak percaya. 


"Astaghfirullah, jadi?" 


Adit mengangguk cepat karena Deana tidak mengatakan apa pun lagi. 


"Sonia sudah ditangkap dan aku akan membuatnya dihukum seberat mungkin karena sudah mencelakai mama dan memfitnahmu." 


"Alhamdulillah, akhirnya kebenaran terungkap juga." Deana mengucak syukur berkali-kali. Bahkan, ia memeluk Adit dengan tidak sadar. "Terima kasih, Mas Adit. Selama ini Mas Adit sangat baik sama saya." 


"I-iya." Adit sangat gugup. Merasakan hangat pelukan tersebut. 


"De ...." Tinah menyadarkan Deana. 


"Astaghfirullah. Aku lupa." Deana langsung melepaskan pelukan tersebut sambil cengengesan. Berbeda dengan Adit yang sedang berusaha menetralkan jantungnya karena berdetak cepat tak terkendali. "Ma-Maaf, Mas."

__ADS_1


"Tidak papa, santai saja."


Peluk lagi juga boleh kok. Batin Adit, ngelunjak.


__ADS_2