
Tatapan Deana begitu lekat ke arah Raffi dan Sonia yang sedang berpelukan erat. Seolah sedang meluapkan rasa rindu yang menggebu karena sudah lama tidak bertemu. Tanpa terasa, cairan bening hendak memaksa keluar dari kedua sudut mata wanita itu.
Andai ia diizinkan untuk bertemu sang ayah, sudah pasti Deana akan melakukan hal sama. Saling berpelukan erat untuk melepas rindu. Namun, ia tidak tahu kapan hal itu akan terjadi atau bisa saja hal tersebut menjadi hal yang tidak mungkin terjadi untuknya.
"Dia siapa?" tanya Sonia saat baru saja menurunkan Raffi.
"Mbak Deana. Yang nemenin Raffi, Ma," sahut Raffi tanpa melepaskan tangannya dari lengan Sonia.
Tatapan Sonia begitu lekat dari ujung kepala sampai ujung kaki Deana hingga membuat gadis itu merasa tidak enak hati. Deana pun menunduk dalam dan memikirkan apakah ada hal yang salah dalam dirinya. Kenapa Sonia menatapnya sampai seperti itu.
"Ma, Raffi mau makan sama mama," rengek bocah itu.
"Kalau begitu, sekarang kita jalan-jalan." Sonia menyanggupi tanpa memikirkannya. Memang ini alasan ia datang menemui Raffi, ingin bermain dengan putranya tersebut. Sudah lama sekali ia tidak mengunjungi Raffi karena kesibukannya.
"Maaf, tunggu dulu, Nyonya. Saya tidak bisa membiarkan Den Raffi pergi secara sembarangan. Saya harus izin dulu dengan Mas Adit," ujar Deana menghentikan langkah Sonia yang hampir masuk ke mobil.
Sonia tersenyum sinis. "Kau harus tahu kalau aku lebih berhak atas Raffi karena dia anak kandungku. Aku yang mengandungnya selama sembilan bulan!"
"Iya, Nyonya. Tapi, selama ini Den Raffi tinggal sama Mas Adit dan sekarang saya yang bertanggung jawab atas Den Raffi sebagai seorang pengasuh." Deana tidak mau kalah. Ia merasa memiliki tanggung jawab yang besar atas keselamatan Raffi. Walaupun ia yakin Sonia tidak akan berbuat jahat kepada Raffi, tetapi tidak ada salahnya ia berjaga-jaga.
"Kau ini hanya pembantu! Pengasuh anak! Jangan belagu! Miskin aja belagu!" Umpatan Sonia sungguh sangat menyakiti hati Deana.
"Saya tahu, Nona. Tapi, saya tetap yang bertanggung jawab atas Den Raffi. Saya akan menghubungi Mas Adit dulu, kalau Mas Adit sudah memberi izin, barulah Anda bisa membawa Den Raffi pergi makan." Deana mengambil ponsel yang diberikan Adit untuknya.
Ponsel tersebut sengaja diberikan agar Deana mudah menghubunginya jika ada apa-apa. Contohnya seperti sekarang ini.
"Hallo, Mas Adit. Maaf mengganggu waktunya. Saya mau ...." Ucapan Deana terhenti karena Sonia sudah merebut ponsel tersebut. Gadis itu tersentak. Sementara Sonia sudah memasang wajah tidak bersahabat.
__ADS_1
"Adit, aku hanya ingin mengajak Raffi jalan dan makan. Aku janji tidak akan melakukan apa pun. Jadi, kuharap kau tidak akan pernah melarang!" ujar Sonia penuh ketegasan. Wanita itu diam sesaat dan sepertinya sedang mendengarkan Adit berbicara dari seberang sana. "Baiklah."
Sonia menyerahkan kembali ponsel tersebut kepada Deana dengan gerakan yang cukup kasar. "Adit bilang tidak apa aku membawa Raffi pergi. Jadi, kamu jangan berlebihan!"
Deana hanya mengagguk. Sonia pun mengajak Raffi untuk masuk, sedangkan Deana hendak membuka pintu belakang.
"Kamu mau apa!" sentak Sonia membuat Deana terkejut.
"Saya mau ikut, Nyonya. Saya harus mengawal Den Raffi," sahut Deana gugup.
"Tidak perlu!" bentak Sonia. Menarik tangan Deana cukup kasar. "Aku sudah bilang pada Adit kalau aku tidak akan membawamu. Jadi, lebih baik kamu pulang saja. Aku ingin menikmati waktu bersama putraku tanpa ada gangguan dari siapa pun!"
"Ma-maaf, Nyonya." Deana menangkup kedua tangan di depan dada. Tubuh wanita itu gemetaran karena takut mendengar bentakan demi bentakan dari Sonia.
Pada akhirnya, yang bisa dilakukan oleh Deana hanya bergeming di tempatnya sembari menatap mobil Sonia yang perlahan menjauh dari padangan.
Jam sudah menunjuk pukul empat sore, tetapi Raffi belum juga pulang. Deana sejak tadi terus saja menunggu dengan gelisah di depan pintu utama. Ingin sekali ia mengatakan pada Adit, tetapi ia tidak ingin sampai mengganggu pekerjaan lelaki itu. Ingin menghubungi Sonia, tetapi ia tidak memiliki nomornya. Akhirnya, yang bisa dilakukan oleh Deana hanyalah menunggu dan menunggu saja.
"Ya Tuhan, kenapa Den Raffi belum pulang juga." Deana benar-benar seperti orang yang frustrasi. Ia terus saja mondar-mandir dan sering menatap ke arah pintu gerbang.
Selang beberapa saat, mobil Adit pun memasuki halaman rumah. Dengan gegas, Deana berlari mendekati lelaki itu.
"Tuan," sapa Deana sembari membungkuk hormat.
"Kenapa, De?" tanya Adit heran. Apalagi setelah ia melihat raut wajah Deana yang penuh dengan kekhawatiran.
"Mas, Den Raffi belum pulang juga. Apa dia akan baik-baik saja. Apa nanti dia akan pulang ke sini. Saya ingin menghubungi Nyonya Sonia, tapi saya tidak punya nomornya," sahut Deana beruntun.
__ADS_1
Adit menggeleng sambil tersenyum tipis. Ia tidak menyangka kalau Deana akan sekhawatir itu pada putranya. "Kamu tenang saja. Raffi juga sebentar lagi akan pulang. Sonia tidak akan pernah membawa Raffi pergi jauh."
"Oh, begitu ya. Syukurlah." Deana mengembuskan napas lega.
Adit pun mengajak wanita itu agar masuk. Mumpung tidak ada Raffi, Adit meminta Deana untuk memasak makan malam untuknya. Rasanya, ia ingin sekali memakan masakan wanita itu. Ia makan saat di kampung dan rasanya sangat enak.
Ketika Deana sedang berkutat di dapur, Adit pun pergi membersihkan diri terlebih dahulu karena tubuhnya sudah terasa lengket. Setelah selesai dan menuju ke meja makan, ternyata Deana masih berada di dapur dan belum selesai masak.
"Kamu masak apa, De?" tanya Adit mendekati Deana untuk melihat apa yang sedang dilakukan oleh wanita itu.
"Sayur bening bayam sama jagung manis, Mas. Ayam goreng dan sambal terasi," sahut Deana.
"Sepertinya enak." Adit menelan ludahnya membayangkan masakan itu. Jarang sekali ia makan sayur selama ini yang ada daging-dagingan.
"Semoga saja, Mas. Itu cuma masakan sederhana, Mas. Jujur, saya tidak bisa bikin masakan yang aneh-aneh apalagi masakan orang kota." Deana tersenyum simpul.
Hati Adit meleleh-meleleh, deh.
"Terus kenapa kamu goreng tempe juga? Katanya ada ayam goreng." Adit merasa heran.
"Oh, ini buat saya, Mas. Kalau daging buat Mas Adit dan Den Raffi," jelas Deana. Meniriskan tempe goreng yang hanya dikasih garam dan bawang putih.
Tanpa dikomando, Adit langsung mengambilnya. "Sepertinya ini enak." Adit memasukkan tempe tersebut ke dalam mulut, tetapi ia mengeluarkan lagi karena masih panas.
Deana pun tak kuasa menahan gelakan tawa. Gadis itu tersenyum puas apalagi saat melihat raut wajah Adit yang terlihat sangat lucu menurutnya. Adit yang merasa malu karena ditertawai pun langsung mencubit pipi Deana karena gemas.
Namun, sepersekian detik selanjutnya. Kedua orang itu sama-sama diam dan salah tingkah sendiri. Adit pun meminta maaf dan berlalu pergi karena ia merasa malu kepada Deana.
__ADS_1
Oh, Ya Tuhan. Kamu bodoh, Dit! Bisa-bisanya kamu tidak bisa mengendalikan diri.