DEANA

DEANA
Deana-17


__ADS_3

"Alhamdulillah. Akhirnya, kita sampai rumah lagi." Adit tersenyum senang ketika mobilnya sudah terparkir di depan rumah. Ia bergegas turun dan membuka pintu samping untuk menggedong Raffi yang tertidur. Deana mengambil koper, tetapi langsung diambil alih oleh lelaki itu. 


"Biar saya aja yang bawa, Mas. Kalau Mas Adit semua pasti susah. Atau Den Raffi saja yang saya gendong," tawar Deana merasa tidak enak hati. Namun, Adit justru tidak mengacuhkan ucapan wanita itu. Ia berjalan santai begitu saja. Dengan terpaksa, Deana pun mengekor di belakang. 


Ini bukan seperti majikan dan pembantu yang habis pergi jalan-jalan, tetapi lebih tepatnya seperti sepasang suami-istri. 


Setelah menidurkan Raffi di kasur, Adit pun meminta Deana agar segera tidur karena sudah malam dan juga mereka baru selesai melakukan perjalanan panjang. Pasti sangat melelahkan. Apalagi Deana yang terus menerus memangku Raffi selama dalam perjalanan. Belum lagi saat bocah itu rewel. 


"Mas Adit," panggil Deana. Menghentikan langkah Adit yang hampir keluar dari kamar Raffi. Lelaki itu berbalik dan menatap Deana dengan begitu menelisik. "Em, saya mau tanya sekaligus minta tolong kepada Mas Adit." 


"Minta tolong apa, De?" tanyanya. Ia hanya diam saat melihat Deana sedang mengambil sesuatu dari saku celana. Ternyata gadis itu mengambil sebuah kertas dan langsung menyerahkan pada Adit. 


Kening Adit mengerut dalam saat membaca tulisan yang menunjukkan sebuah alamat. "Ini alamat siapa?" 


"Bos bapak saya, Mas." 


"Bos bapak kamu? Maksudnya?" Adit masih belum paham. 

__ADS_1


"Dulu bapak saya pergi ke kota untuk bekerja lalu ninggalin alamat itu, Mas. Tapi udah bertahun-tahun bapak belum pulang bahkan sampai sekarang tidak ada kabar, Mas." Deana menjawab dengan sedih saat teringat ayahnya. 


Ia sungguh sangat merindukan lelaki tersebut dan ingin sekali bertemu dengannya karena dirinya sekarang berada di kota. Ia sungguh sangat berharap ada sebuah keajaiban yang membuat Deana bisa bertemu dengan sang ayah.


"Oh begitu, nanti aku coba cari tahu. Sekarang kau tidur saja. Sudah malam. Sudah waktunya istirahat," perintah Adit. 


Deana membungkuk hormat. "Terima kasih banyak, Mas. Terima kasih selalu menolong saya sampai-sampai saya tidak tahu harus membalas apa kepada Mas Adit." 


Kamu bisa membalas dengan menjadi ibu untuk anakku.


Arrgghh!! Adit menggeram karena batinnya seringkali tidak terkontrol seperti itu. 


Berbahaya sekali sekarang ini jika mengobrol apalagi berdekatan dengan Deana. Jika tidak bisa menahan diri, rasanya ia ingin merayu gadis itu terus-menerus. Ia harus ingat bahwa Deana hanyalah pengasuh Raffi. Tidak lebih. 


Sesampainya di kamar, Adit langsung merebahkan diri di atas ranjang. Rasanya malas sekali untuk membersihkan diri padahal ia merasa tubuhnya sudah sangat lengket. 


Adit mengamati tulisan alamat di kertas tersebut lalu menghubungi temannya yang kebetulan tinggal di daerah situ. Adit meminta bantuannya agar mencari informasi apakah ayahnya Deana masih berkerja di situ atau tidak. 

__ADS_1


"Aku tunggu informasi darimu," pungkas Adit. Ia pun mematikan panggilan tersebut dan segera menghirup napasnya dalam-dalam. 


***


Hari ini Deana kembali sibuk mengurus Raffi yang sudah masuk sekolah dan Adit yang mulai bekerja lagi. Ia bangun shubuh-shubuh sekali. Setelah menunaikan kewajibannya, Deana pun segera memasak untuk sarapan dan mengurus Raffi setelahnya. Gadis itu benar-benar telaten hingga membuat Adit merasa sangat senang. 


Padahal dulu, saat bersama Sonia, wanita itu tidak pernah membuatkan sarapan untuknya. Jangankan sarapan, ketika meminta dibuatkan kopi saja, Sonia selalu menolak dan mengatakan bahwa ia tidak tahu takaran yang pas hingga akhirnya Adit selalu membuat sendiri. 


Sebelum berangkat ke kantor, Adit mengantar Raffi terlebih dahulu. Ia memberi pesan bahwa nanti akan ada sopir pribadi yang menjemput mereka karena Adit tidak yakin bisa menjemput sendiri. Deana hanya mengiyakan saja. 


Jam sudah menunjuk pukul sebelas dan Raffi baru saja pulang sekolah. Deana pun mengajak Raffi untuk menunggu di depan pintu gerbang karena mobil jemputan belum datang. Di saat sedang asyik menunggu, ada sebuah mobil berwarna merah menyala yang berhenti tepat di depan mereka. 


Hati Deana merasa was-was karenanya. Ia bahkan sudah menggenggam tangan Raffi dengan sangat erat. Takut jika pemilik mobil itu adalah orang jahat. 


Selang beberapa saat, seorang wanita cantik keluar dari sana. Bajunya terlihat cukup seksi dan memakai kacamata hitam. Wajahnya pun dipoles make-up yang membuatnya semakin terlihat cantik. 


"Mama!" pekik Raffi keras. Ia memaksa Deana untuk melepaskan tangannya. "Lepasin aku, Mbak Dea. Aku mau meluk Mama." 

__ADS_1


Namun, Deana hanya diam dan merasa khawatir sendiri. Takut wanita itu akan berbuat yang tidak-tidak kepada Raffi.


"Arrggh!" Deana meringis kesakitan ketika Raffi sudah menggigit tangannya hingga genggaman itu terlepas. Bocah itu pun langsung berlari memeluk sang mama dengan erat.


__ADS_2