DEANA

DEANA
Deana-20


__ADS_3

Cukup lama kedua wanita itu saling diam. Tiara menunggu Deana membuka suara, sedangkan Deana masih saja bungkam karena belum bisa mempercayai semua ini. Ia masih berusaha mencernanya. 


"Aku memberimu waktu satu minggu. Kalau kamu belum pergi juga dari rumah Adit, maka jangan salahkan aku kalau ibu dan adikmu berada dalam bahaya," ucap Tiara disertai senyuman licik. 


"Tapi, Nyonya ... uang ini—"


"Kamu tidak perlu memikirkan uang ini. Aku memberikan padamu secara cuma-cuma jadi kamu tidak perlu mengembalikannya. Bagiku yang paling penting adalah kamu pergi dari kehidupan Adit. Aku mau Adit bersama dengan wanita yang pantas," ucap Tiara penuh dengan ketegasan. 


Pada akhirnya, Deana tidak bisa lagi menolak uang tersebut karena Tiara terus saja memberikan ancaman-ancaman kepadanya. Deana sungguh berada dalam kebimbangan yang teramat besar karena tidak tahu lagi apa yang akan dilakukan setelah ini. Jika ia mengundurkan diri, Deana merasa tidak yakin kalau Adit akan langsung mengiyakan. 


Namun, Deana akan memberanikan diri dan terus mencoba karena ia tidak mau jika terjadi hal buruk kepada ibu ataupun Rangga. 


***


"Kamu sudah menemukan lelaki yang bernama Bagyo itu?" tanya Adit kepada Hanan—temannya. 

__ADS_1


Hanan adalah orang yang disuruh oleh Adit untuk mencari informasi tentang Bagyo—ayahnya Deana—karena kebetulan, tempat tinggal Hanan berada di sekitar alamat yang diberikan oleh Deana waktu itu. 


"Tidak, Dit. Aku sudah bertanya kepada pemilik rumah, Pak Ihsan, tapi kata beliau Pak Bagyo ini sudah berhenti bekerja di rumahnya, sudah lama sekali. Sekitar sepuluh tahunan," sahut Hanan. 


Adit mengusap dagu. "Lalu, ke mana ya sekarang beliau. Apa Pak Ihsan itu tidak tahu juga?" 


Hanan menggeleng cepat. "Tidak. Menurut cerita Pak Ihsan kemarin, Pak Bagyo ini minta izin untuk pulang kampung waktu mau lebaran, tapi sampai sekarang tidak balik juga. Pak Ihsan sudah berusaha menghubungi, tapi tidak bisa tersambung sama sekali." 


"Oh, begitu. Baiklah, nanti aku akan mencarinya lagi. Mungkin masih di kota saja soalnya dia tidak pulang ke kampung selama berpuluh-puluh tahun," kata Adit. 


Kening Hanan seketika mengerut dalam. "Kalau boleh tahu, memang Pak Bagyo ini siapa, Dit? Sekian lama kita berteman, baru kali ini aku mendengar soal Pak Bagyo." 


"Dia itu ayah dari pengasuh Raffi sekarang ini. Katanya Pak Bagyo tidak pulang selama berpuluh-puluh tahun dan aku sudah berjanji akan membantunya mencari keberadaan Pak Bagyo." 


"Ehem!" Hanan berdeham keras sampai membuat Adit terkejut. Ia pun melayangkan tatapan tajam, tetapi Hanan justru menaik-turunkan alisnya seolah sedang menggoda lelaki tersebut. "Bilang saja kalau kamu suka sama pengasuh Raffi. Ciee ... pasti cantik. Aduh!" 

__ADS_1


Hanan mengusap kening karena Adit melemparkan sebuah pulpen kepadanya dan mendarat tepat di sana. Bukannya meminta maaf, tetapi Adit justru tetap menatap tajam hingga akhirnya Hanan menangkup kedua tangan dan meminta maaf. Ya, walaupun lelaki itu masih saja menggoda saat berpamitan dari ruangan Adit. 


Selepas kepergian Hanan, Adit mengembuskan napas kasar berkali-kali. Ia harus memikirkan cara lagi agar bisa menemukan keberadaan ayahnya Deana. Untuk memenuhi janjinya kepada wanita itu. 


Ketika jam sudah menunjukkan pukul lima sore, Adit bergegas pulang karena ia sudah merasa rindu kepada Raffi. 


Raffi atau Deana. Adit sendiri tidak tahu jelasnya. Yang pasti, ia masih merasa gengsi. 


Setibanya di rumah, ia langsung disambut oleh Raffi dan mereka pun melakukan kegiatan seperti biasa. Duduk mengobrol bersama dan makan malam. Namun, ada hal yang mengusik pikiran Adit. 


Ia merasa Deana terlihat berbeda. Tidak seperti biasanya. Wanita itu terus saja diam dan hanya menanggapi dengan senyuman. Itu saja hanya sesekali. Adit merasa bahwa ada hal yang sedang dipikirkan oleh wanita itu.


"Raffi sudah tidur?" tanya Adit mengejutkan Deana yang baru keluar dari kamar Raffi. 


"Su-sudah, Mas." Deana menjawab gugup. Jantungnya berdebar sangat kencang saat mengingat ia akan membicarakan hal penting itu sekarang ini. Deana memang tidak ingin menundanya lagi. 

__ADS_1


"Kamu kenapa, De? Sepertinya ada hal yang sedang kamu pikirkan," tanya Adit penasaran


Deana menghirup napas dalam. "Mas, maaf kalau selama ini saya banyak salah sama Mas Adit. Saya cuma mau bilang kalau dalam waktu dekat ini saya akan keluar dari sini." 


__ADS_2