DEANA

DEANA
Deana-27


__ADS_3

..."Ayah adalah cinta pertama anak perempuan. Aku menyayangi ayahku, menganggapnya sebagai pahlawan dan segalanya. Namun, kini semua itu dipatahkan oleh kenyataan bahwa ayahku ... menorehkan luka di hatiku dengan sangat dalam." ...


...~Deana~...


...****************...


Sungguh, Deana merasa sakit hati ketika mengingat tentang ayahnya. Lelaki yang selalu ia nanti kehadirannya, ternyata menorehkan luka yang teramat dalam. Menciptakan lara yang membuat Deana tidak sanggup lagi berkata-kata. 


Ia kecewa. 


Ia terluka melihat apa yang dilakukan oleh sang ayah dengan mata kepalanya sendiri. Padahal, selama ini Deana selalu menunggu kepulangan lelaki itu. Mengira masih menjadi lelaki yang baik-baik saja. 


"De ...." 


Deana menoleh ketika mendengar panggilan dari sang ibu yang saat ini sudah berada di ambang pintu. Jam sudah menunjuk pukul delapan malam, tetapi Deana sama sekali belum mau makan. Beruntung, Raffi sudah pulang sejak tadi karena ada acara makan malam bersama orang tua Adit. Sehingga Tinah bebas berbicara dengan putrinya. 


"Kenapa kamu sangat murung seperti itu? Kamu yakin tidak mau makan?" tanya Tinah. Duduk di samping putrinya dan mengusap puncak kepala gadis tersebut dengan lembut. 


"Dea tidak lapar, Bu." Deana menjawab lirih. 


"Kamu harus makan. Jangan sampai telat, nanti sakit. Kalau kamu sampai sakit, kasihan Raffi." Tinah masih berusaha merayu. Sekarang ia menggunakan Raffi karena wanita itu tahu betapa sayangnya Deana kepada Raffi. 


"Nanti, Bu." Deana mendes*hkan napas ke udara secara kasar. Seolah sedang melepaskan beban berat yang terasa menghimpit dada. "Bu, bagaimana lelaki itu? Apa dia mati karena dipukuli warga?" 


"Lelaki itu? Maksudnya?" Tinah berpura-pura bingung, padahal ia tahu siapa yang dimaksud oleh Deana. 


"Bapak." Deana menjawab singkat. Kembali mendes*hkan napasnya. Hati gadis tersebut masih merasa sakit dan lidahnya pun merasa enggan jika harus menyebut nama  atau sekadar memanggil lelaki itu. Rasanya masih sangat terluka dan kecewa. 


"Bapak sudah dibawa ke kantor polisi. Kenapa? Kamu ingin menemuinya?" tanya Tinah pelan. 

__ADS_1


Deana langsung menggeleng cepat. "Tidak, Bu. Aku sudah tidak mau lagi menganggap dia bapakku." 


"Kenapa?" 


"Karena bapakku itu orang baik bukan seorang pencopet." Bola mata Deana basah. Rasa sakit itu benar-benar membuatnya tidak berdaya. Ia masih belum menyangka dan percaya kalau ayahnya menjadi seorang yang jahat seperti itu. 


"De, lebih baik kamu temui bapakmu dan bicaralah. Tanyakan kenapa dia bisa menjadi seorang pencopet." Tinah berbicara sangat lembut. 


"Dea tidak mau, Bu. Lebih baik Dea tidur dan bekerja saja. Dea tidak mau menemuinya sama sekali." Deana pun merebahkan tubuhnya di ranjang lalu memeluk guling dengan sangat erat. Memberi kode pada Tinah bahwa ia tidak mau membahas lagi tentang ayahnya. 


Tinah pun tidak mau memaksa. Biarlah waktu yang akan perlahan menyembuhkan hati Deana. Sama seperti dirinya yang berusaha ikhlas meski sebenarnya hati Tinah pun porak poranda. Namun, ia tidak mau terlihat lemah di depan orang lain terutama kedua anaknya.


***


"Pa," panggil Raffi saat bocah itu sedang dalam perjalanan  pulang bersama sang papa. 


"Tadi siang Mbak Dea menangis," adu Raffi. Adit pun langsung menghentikan mobilnya dengan segera. Lalu membalik tubuhnya ke samping dan menatap putranya dengan lekat.


"Menangis? Kenapa Mbak Dea menangis? Apa kamu nakal?" tebak Adit. Bocah itu pun menggeleng cepat. 


"Tidak," sahutnya cepat. "Mbak Dea bilang kelilipan." 


"Oh, memang kalau mata kelilipan itu bikin nangis. Bukankah kamu juga sering menangis saat sedang kelilipan?" ucap Adit. Raffi pun mengangguk cepat. 


Setelahnya, Adit kembali melajukan mobilnya. Ia bersikap seolah tidak apa-apa padahal batinnya merasa cemas. Khawatir ada sesuatu yang terjadi pada Deana. Adit pun mempercepat laju mobilnya agar segera tiba di rumah karena ia tidak sabar ingin segera menghubungi Deana. 


Setibanya di rumah, Adit langsung menyuruh Raffi untuk tidur, sedangkan dirinya menghubungi Deana untuk memastikan. Walaupun ia tahu bahwa tidak sepatutnya ikut campur urusan Deana, tetapi Adit pun tidak bisa menahan rasa penasaran. 


"Hallo, Mas Adit." 

__ADS_1


Baru mendengar suara Deana dari seberang telepon saja sudah membuat hati Adit bergetar. 


"Kamu sudah tidur, ya. Maaf, kalau aku menganggu." Adit basa-basi. Padahal ia sengaja meneleponnya. 


"Belum kok, Mas. Ada apa? Tumben sekali telepon malam-malam?" tanya Deana penasaran karena ini tidak seperti Adit yang biasanya. 


"Em ... sebenarnya tidak ada apa-apa, sih. Aku cuma mau memastikan saja. Tadi, Raffi bilang kalau tadi siang kamu menangis? Apa itu benar?" Akhirnya, Adit pun melontarkan pertanyaan tersebut. 


Cukup lama hanya keheningan yang tercipta di antara mereka karena Deana tidak menjawab sama sekali, sedangkan Adit masih menunggu gadis tersebut membuka suara. 


"De ...." 


"Saya tidak menangis, Mas." Deana menyela cepat. "Hanya kelilipan." 


"Kamu yakin hanya kelilipan? Syukurlah. Kupikir, Raffi sangat nakal sampai membuatmu menangis," kata Adit berusaha tenang padahal batinnya cemas dan menerka kalau ada sesuatu yang disembunyikan oleh Deana darinya. 


Mereka tidak lagi mengobrol lama karena Adit ingin gadis di seberang sana beristirahat. Setelah panggilan itu terputus, Adit pun menatap layar ponselnya sembari menghirup napas dalam. 


"Aku yakin ada sesuatu yang kamu sembunyikan, De. Aku akan mencari tahu hal apa itu." 


***


Deana menaruh ponselnya di kasur. Lalu kembali menghirup napas dalam sebelum akhirnya membenamkan wajah di bantal. Isakannya mulai kembali terdengar saat teringat tentang sang ayah yang sudah menorehkan luka untuknya. 


Ingin sekali ia berbicara kepada Adit tadi, tetapi tidak jadi. Deana lebih memilih untuk memendamnya saja. Ia tidak mau Adit akan salah paham padanya. 


"Ya Tuhan, apa yan harus aku lakukan." 


Deana memejamkan mata dan memaksa dirinya untuk tidur. Ia sangat berharap bahwa kenyataan yang ia terima hari ini hanyalah sebatas mimpi buruk. Yang akan hilang saat aku terbangun nanti. 

__ADS_1


__ADS_2