
Tiara merasa kagum melihat Deana yang sedang sibuk memilih baju untuk ibunya. Ketika sudah selesai, entah mengapa Tiara bisa ikut tersenyum ketika Deana bercerita dengan sangat antusias. Gadis itu berceloteh merasa beruntung bisa mendapatkan diskon dan terus mengucapkan terima kasih karena Tiara sudah memberi izin berbelanja.
Tiara merasa dirinya seperti melihat anaknya yang sedang mengadu dengan antusias. Setelahnya, Deana pun mengantar Tiara untuk mencari gaun panjang warna putih. Ketika ditanya untuk siapa, Tiara hanya menjawab untuk seseorang. Deana pun tidak bertanya lebih lanjut karena tidak mau kepo.
"Kita juga ke sini, Nyonya?" tanya Deana saat Tiara mengajaknya masuk ke sebuah toko perhiasan.
"Ya, aku akan mencari cincin juga kalung," sahutnya.
Deana mengangguk mengiyakan lalu menuruti permintaan Tiara agar mencoba salah satu cincin yang dipilihnya. Tiara mengatakan bahwa wanita yang akan memakai cincin itu, hampir seperti Deana. Kemungkinan ukuran jarinya pun sama. Hati gadis itu pun mendadak curiga dan entah mengapa ia merasa tidak enak hati. Namun, Deana mencoba untuk mengusir perasaan tersebut.
Setelah mendapatkan semua dimau, Tiara pun mengajak Deana untuk pulang.
***
"Apa Mama masih bersikap ketus padamu?" tanya Adit cemas.
Deana tersenyum simpul. Pertanyaan tersebut selalu dilontarkan oleh Adit setiap pulang bekerja. Walaupun Deana sudah menjawab bahwa Tiara memperlakukan dirinya dengan baik, Adit tetap saja merasa cemas dan tidak percaya.
__ADS_1
"Berapa kali saya sudah bilang sama Mas Adit. Nyonya itu sekarang baik sama saya," sahut Deana.
Senyumnya yang menawan membuat hati Adit bergetar tak karuan. Ah, Adit rasanya tidak sabar ingin memeluk dan menciumi gadis itu. Adit langsung menggeleng cepat untuk mengusir bayangan yang mulai ngawur menurutnya.
"Kamu kenapa, Mas?" tanya Deana heran.
"Em ... tidak papa."
Adit pun mengajak Deana mengobrol hal lain agar mereka tidak terus berada di situasi canggung. Ketika sedang asyik mengobrol, Tiara datang dan ikut bergabung bersama mereka. Membuat kedua orang itu sama-sama diam.
"Tidak papa, Ma. Tumben sekali Mama belum tidur." Adit mendekati sang mama lalu berjongkok di depan wanita itu.
"Mama belum ngantuk," sahut Tiara. "Dit, ada yang akan mama bicarakan denganmu."
"Apa, Ma?" Adit penasaran. Namun, ketika melihat sorot mata sang mama yang terlihat bimbang, seketika membuat perasaan Adit tidak nyaman.
"Mama mau menjodohkan kamu dengan seseorang," ucap Tiara. Adit tertegun beberapa saat.
__ADS_1
"Siapa, Ma? Adit tidak mau dijodohkan, Ma. Ini bukan lagi zaman Siti Nurbaya!" tolak Adit tegas. Tanpa berpikir sama sekali.
"Dit, Mama yakin kali ini wanita yang akan mama jodohin ke kamu itu, wanita baik-baik. Mama bisa menjamin itu," rayu Tiara.
Adit berdecih, sedangkan Deana hanya menunduk karena ada perasaan lain yang ia rasakan ketika Tiara mengatakan akan menjodohkan Adit. "Ma, jangan menjamin sesuatu hal yang belum pasti. Apa yang menurut Mama itu baik, belum tentu baik buat aku. Mama tidak perlu repot-repot mencari wanita untuk Adit."
"Dit, apa Mama salah? Mama yakin wanita ini yang terbaik untuk kamu." Tiara memasang wajah memelas agar bisa menarik simpati Adit. Namun, hal tersebut tidak mempan.
"Ma, buat apa Mama repot-repot mencari istri untuk Adit. Sudah pasti Adit akan menolaknya. Adit tidak mau kalau mendapatkan wanita seperti Sonia. Sudah cukup, Ma." Adit berbicara penuh ketegasan.
"Tapi, Dit. Mama yakin wanita ini sudah pasti baik untukmu. Mama juga yakin kamu pasti akan menerimanya," kata Tiara tak mau kalah.
"Tidak, Ma! Sekali Adit bilang tidak, maka tidak! Adit tidak mau dengan wanita pilihan Mama itu."
"Kamu yakin akan menolaknya? Bagaimana kalau wanita itu ternyata adalah ... Deana."
"Ma-Maksud Mama?"
__ADS_1