DEANA

DEANA
Deana-22


__ADS_3

Adit justru diam dan merasa bersalah sendiri. Ia menyesal karena sadar diri bahwa sudah berbicara dan menuduh Deana dengan keterlaluan. Padahal dalam hati Adit merasa yakin kalau Deana tidak akan mungkin melakukan itu. 


"Maaf, Mas. Saya tidak bisa mengatakan siapa orang itu. Jadi, ini uangnya untuk Mas Adit dan saya meminta sertifikat rumah saya agar dikembalikan karena saya akan pulang kampung dengan segera," ucap Deana lirih. 


Ia sama sekali tidak menatap Adit. Antara takut hatinya akan luluh atau khawatir dirinya akan kembali merasakan sakit karena teringat tuduhan Adit barusan.


"De ...." Adit menggantungkan ucapannya dan menatap Deana dengan sangat lekat lalu menghirup napas secara dalam-dalam. "Kumohon jangan keluar dari sini. Aku tidak tahu lagi pada siapa harus meminta tolong untuk menjaga Raffi. Aku merasa senang karena dengan kehadiranmu, aku menjadi terbantu bahkan kamu bisa mengasuh Raffi dengan sangat baik." 


"Saya hanya melakukan tugas sebisa saya, Mas. Maaf, saya yakin kalau nantinya akan ada pengganti saya yang lebih baik, Mas." Deana tetap bersikukuh terhadap keputusannya. 


Jujur, dalam hati Deana merasa kasihan jika harus pergi dari sana. Sudah pasti Adit akan pontang-panting lagi mengurus pekerjaan dan Raffi. Begitu pun dengan Raffi yang akan kekurangan kasih sayang. Deana mengerti karena posisi Raffi tidak jauh berbeda dengan posisinya sendiri. 


"Baiklah. Kalau kamu memang mau pergi dari sini pun, aku tidak akan melarang karena itu hak kamu. Aku sangat berterima kasih karena kamu sudah bekerja dengan baik selama ini." Adit pun hanya bisa pasrah dan tidak mau lagi memaksa Deana agar tetap tinggal bersamanya.

__ADS_1


"Terima kasih banyak, Mas. Ini uangnya." Deana menyerahkan amplop coklat yang sejak tadi dipegangnya kepada Adit. "Dihitung dulu, Mas." 


"Tidak. Aku tidak perlu lagi menghitungnya." Adit menimpali dengan cepat. Tatapannya ke arah Deana pun masih sangat lekat hingga membuat gadis tersebut menjadi salah tingkah sendiri. "Lalu kapan kamu akan keluar dari rumah ini?" 


Deana tidak langsung menjawab. Bibirnya masih bungkam karena sebenarnya dalam hati Deana masih berat harus pergi dari rumah tersebut. Ia sudah terlanjur nyaman di sana. Namun, apa boleh buat. Ia sendiri yang membuat keputusan tersebut.


"Mungkin besok, Mas." 


"Kalau begitu, baiklah. Kebetulan ada hal yang aku katakan padamu juga. Aku sudah mendapat informasi kalau bapak kamu itu sudah tidak bekerja di tempatnya yang dulu lebih dari sepuluh tahun. Entah sekarang berada di mana dan aku sedang menyuruh seseorang untuk mencarinya, tapi karena kamu berhenti bekerja di sini maka aku akan menyuruh orang itu untuk berhenti mencari juga," ucap Adit disertai senyuman licik.


"Kalau memang kamu ingin aku tetap membantumu mencarinya." Adit sedikit memajukan wajahnya hingga berjarak dekat dengan Deana. Dengan gaya cool, Adit mengusap dagu sembari menunggingkan senyum. "Maka tetaplah di sini." 


Deana terdiam. Raut wajahnya dipenuhi dengan kebimbangan. Ini sungguh pilihan yang sulit untuknya. Ingin sekali ia menemukan keberadaan sang ayah, tetapi jika mencarinya sendiri adalah hal yang tidak mungkin. Kota itu luas, bukan seperti di kampung. Sementara itu, jika tetap bertahan di rumah Adit maka Deana tidak berani membayangkan hal apa yang dilakukan oleh Tiara untuk menyakiti ibu dan adiknya di kampung.

__ADS_1


"Mas, jangan memberikan pilihan yang sulit pada saya." Deana memasang wajah memelas. 


"Aku tidak memberi pilihan yang sulit. Aku hanya mengikuti kemauanmu saja. Sekarang, katakan apa alasan paling dasar kenapa kamu mau menjauh dariku?" Adit rasanya tetap belum puas.


Menghirup napas dalam-dalam dilakukan oleh Deana agar dadanya tidak terlalu terasa berat. "Mas, saya hanya khawatir kalau kita terus bersama, maka saya akan menaruh rasa yang lebih dari seorang pengasuh Raffi kepada kamu. Saya tidak mau ditampar oleh keadaan karena itu pasti sangat menyakitkan. Saya seharusnya sadar diri kalau kita itu jauh berbeda dan tidak pantas untuk bersama. Orang tua Mas Adit pasti mengharapkan menantu yang pantas untuk bersanding dengan kamu, Mas." 


"Kamu mencintaiku?" Pertanyaan Adit justru membuat Deana menggeleng dengan cepat. 


"Saya tidak berani, Mas. Baru membayangkan saja saya merasa tidak akan pantas. Saya sadar diri kalau kita itu jauh berbeda. Kamu langit, sementara saya hanyalah bumi yang dipijak." Deana bangkit berdiri. Ia tidak mau pembicaraan mereka makin jauh lagi. Namun, baru satu langkah berjalan, Adit sudah langsung mencekal tangannya.


"Sepertinya aku tahu siapa orang yang sudah menyuruhmu untuk meninggalkanku," ucap Adit membuat Deana seketika membalik badan dan menatap penuh selidik ke arahnya.


"Si-siapa?" tanya Deana gugup. Ia sungguh tidak bisa jika harus bertatapan dengan Adit seperti itu. 

__ADS_1


"Mamaku." 


__ADS_2