
Brak!
Adit menggebrak meja hingga membuat tubuh Sonia terjengkit karena terkejut. Tatapan Adit kini terlihat dipenuhi oleh kilatan amarah. Sementara Sonia sudah beringsut takut dan dalam hati terus saja mengumpati dirinya sendiri yang sudah sangat bodoh.
"Katakan, dari mana kamu dapat foto ini, Sonia!" Suara Adit meninggi.
"A-aku ... ada orang yang mengirimi foto ini padaku," sahut Sonia gugup.
"Siapa?" tanya Adit lagi.
"Aku tidak tahu. Nomor baru. Dia bilang, kalau Deana adalah calon istri dari mantan suamiku. Mereka pikir aku akan marah, padahal itu biasa saja menurutku." Sonia sudah tidak segugup tadi walaupun ia masih menghindari tatapan Adit.
"Awas saja kalau sampai aku tahu ternyata kamu adalah dalang di balik semua ini. Maka aku tidak akan segan-segan membuat hidupmu seperti di neraka!" Telunjuk Adit mengarah tepat di depan wajah Sonia. Sorot matanya masih dipenuhi dengan kilatan amarah hingga membuat Sonia terus berpaling karena takut.
__ADS_1
"Kamu mau ke mana, Dit?" tanya Sonia saat Adit sudah bangkit berdiri.
"Bukan urusanmu!" jawab Adit ketus. Sambil terus berjalan hendak keluar dari ruangan itu.
"Dit! Seharusnya kamu jauhi wanita kampungan itu. Dia tidak baik untukmu! Aku yang paling baik untukmu!" Suara Sonia meninggi. Menghentikan gerakan Adit yang hendak membuka pintu.
"Apa? Kamu wanita paling baik? Cih! Seharusnya kamu ngaca seberapa kotornya dirimu!" Adit mencemooh lalu bergegas pergi meninggalkan Sonia begitu saja.
Selepas kepergian Adit, Sonia berteriak kesal bahkan sampai membanting gelas. Ini sungguh tidak baik untuknya. Semua yang sudah ia susun hancur berantakan karena kebodohannya sendiri. Namun, Sonia tidak akan menyerah apalagi sampai kalah. Ia akan memikirkan cara lagi untuk membuat Deana menyingkir dari kehidupan Adit.
Deana merasa sangat gugup ketika Tiara memanggilnya untuk datang ke rumah utama. Sebenarnya ia hendak menolak karena tidak ingin ada masalah baru. Memikirkan satu masalah saja sudah membuat kepala Deana mendadak pening. Apalagi jika banyak masalah. Namun, perintah Tiara tetap harus ia laksanakan.
Di sinilah gadis itu sekarang. Berdiri di ruang tamu tepat di depan Tiara. Sejak tadi Deana hanya bisa menunduk dalam tanpa berani mengangkat kepala sama sekali. Bahkan, ia tidak tahu kalau Marni pun ada di dekat sana. Bersama mereka, Marni seolah sedang ikut dihakimi oleh Tiara.
__ADS_1
"Satu kesalahanmu, Marni. Kamu sudah membawa wanita kampung ini ke sini dan merusak kehidupan putraku. Jika saja aku tahu dia adalah wanita murahan, sudah pasti aku akan menolaknya sejak awal," ucap Tiara kepada Marni. Menyindir Deana.
"Maafkan saya, Nyonya. Saya sungguh-sungguh minta maaf. Setahu saya, Dea ini anak yang baik dan polos. Tidak seperti apa yang Nyonya tuduhkan." Dengan berani Marni menjawab untuk membela Deana. Hal itu pun sontak membuat Tiara makin merasa geram.
"Kamu bilang apa? Baik dan polos? Kamu sama bodohnya seperti dia!" hardik Tiara penuh kekesalan. Marni pun hanya diam dan tidak berani menjawab lagi. Ia tidak mau menanggung resiko yang besar karena ia sudah paham bagaimana Tiara jika sedang marah.
"Ma-maaf, Nyonya. Tapi saya sungguh tidak melakukan hal keji itu." Deana pun memberanikan diri membuka suara. Ia yakin, semua ini hanyalah kesalahpahaman saja.
"Tidak mungkin ada maling yang mau ngaku asal kamu tahu!" Suara Tiara masih tetap tinggi. Wanita itu pun mengambil segepok uang dan menyerahkan kepada Deana. "Ambil uang ini dan segeralah pergi dari kehidupan putraku. Aku tidak sudi kalau kau dekat-dekat dengan putraku!"
Deana hanya terdiam dan menatap segepok uang di tangan. Ini sudah kedua kali Tiara memberi uang padanya agar menjauhi Adit. Sepertinya wanita itu memang benar-benar tidak suka akan kehadirannya.
"Nyonya ...."
__ADS_1
"Ini ada apa?"
Kedatangan Adit sontak membuat ketiga wanita itu sama-sama saling diam.