DEANA

DEANA
Deana-39


__ADS_3

Tidak mendapat jawaban dari mereka bertiga, Adit pun langsung mengambil uang dari tangan Deana dan memberikan kepada Tiara lagi. Tatapannya terlihat sangat kesal begitupun dengan Tiara. 


"Kenapa?" tanya Tiara. Terlihat jelas kalau wanita itu sedang menahan emosinya. 


"Ma, aku tidak suka dengan cara mama." Adit membalas dengan berani. "Sudah dua kali Mama melakukan ini. Mama terlalu percaya pada mantan anak menantu Mama itu." 


"Adit! Kamu berani melawan mama?" Tiara tidak terima. Ia pun menunjuk wajah Deana yang sejak tadi hanya menunduk dalam. "Hanya karena wanita ini, kamu berani melawan mama?"


Adit hendak mendebat lagi, tetapi Deana justru menahan lelaki itu dan memberi kode dengan kedipan mata. Meminta agar Adit tidak lagi membuka suara apalagi mendebat Tiara. Adit pun mengangguk dan menuruti Deana. 


"Maafkan saya, Nyonya. Kalau kehadiran saya membuat Anda dan keluarga menjadi tidak nyaman. Saya memang hanya gadis kampung yang tidak pantas menginjakkan kaki di sini. Tapi, asal Anda tahu, Nyonya. Saya tidak pernah melakukan hal seburuk yang Anda kira itu." Deana mulai berani membuka suara. Sudah cukup selama ini kesabarannya diuji dengan ditindas oleh Tiara. 


"Alah! Masih sok suci," cibir Tiara. Masih menatap Deana dengan sinis. 

__ADS_1


Tangan Deana pun terkepal erat. "Kalau Anda tidak percaya pun tidak apa, Nyonya. Saya tidak akan memaksa. Tuhan yang lebih tahu segalanya. Lik Marni, makasih udah ngajak Dea kerja di sini, Lik." 


"Sama-sama, De. Maafkan Lik juga. Lik percaya kalau kamu tidak melakukan hal itu." Marni dengan berani masih membela Deana. 


"Makasih, Lik. Mas Adit ...." Deana menggantungkan ucapannya. Menatap Adit dengan sangat lekat. Hal itu justru membuat Adit merasa gelisah dan tidak karuan apalagi saat melihat sorot mata Deana yang begitu susah untuk dijelaskan. "Maaf, saya mengundurkan diri berkerja dengan Mas Adit. Mungkin setelah ini, saya akan kembali ke kampung." 


Adit membelalakkan mata mendengar ucapan Deana. "Kamu yang benar saja, De! Aku tidak setuju!" bantah Adit. Ia berusaha meraih tangan Deana, tetapi langsung ditepis oleh gadis itu. 


Adit bimbang. Ia tidak mungkin membiarkan Deana pergi, tetapi jika menahan pun, ia belum memiliki hak sepenuhnya. Hubungan mereka hanyalah sebatas majikan dan pengasuh. Tidak lebih dari itu. Lagi pula, mungkin untuk sekarang ini apa yang dilakukan Deana adalah jalan terbaik sampai ia bisa menemukan bukti yang valid. Setidaknya, Adit merasa kalau di kampung Deana akan lebih aman. 


"De ... baiklah. Aku setuju kamu pulang kampung, tapi jika kamu ingin kembali. Maka datanglah ke sini lagi. Aku akan selalu menyambut kedatanganmu lagi," balas Adit. 


Deana mengembuskan napas lega. Ia pikir akan susah jika mengundurkan diri, tapi ternyata Adit langsung setuju begitu saja. 

__ADS_1


***


"Kamu serius, De?" tanya Tinah tidak percaya saat Deana mengatakan akan pulang kampung. 


"Iya, Bu. Mas Adit juga sudah setuju." Deana terlihat sibuk menata bajunya dan memasukkan ke dalam koper. "Ibu mau ikut pulang atau di sini saja? Rangga 'kan sudah sekolah di sini." 


"Ibu juga ingin pulang ke kampung. Lebih nyaman. Kalaupun ibu ikut pulang, Rangga bisa berpindah sekolah ke kampung saja daripada harus jauh sama kita. Tapi ...." 


Deana menatap sang ibu yang menggantungkan ucapannya. Raut wajah wanita itu terlihat ragu-ragu. 


"Tapi apa, Bu?" Deana mulai tidak sabar sendiri. 


Tinah pun menghirup napasnya dalam. "Tapi, bagaimana dengan Bapak?" 

__ADS_1


__ADS_2