
"Jangan, Bu." Deana menolak dengan cepat. "Rumah itu peninggalan kakek dan hanya harta satu-satunya yang kita miliki. Nanti biar Dea pinjam sama Lik Marni, barangkali ada."
"Marni uangnya pasti dipakai untuk anaknya yang sekolah dan ibunya yang saat ini sedang sakit-sakitan. Kamu jangan meminjam padanya. Ibu justru tidak tega kalau sampai kita meminjam pada Marni, De."
"Iya, Bu. Nanti coba Dea bilang dulu, Bu. Kalau tidak nanti Dea minta bantuan Lik Marni biar pinjam sama Tuan Akbar. Barangkali boleh nanti Dea akan melunasi memotong gaji. Siapa tahu boleh karena majikan Dea itu orangnya baik, Bu. Alhamdulillah."
"De...." Tinah menggantung ucapannya karena ragu. Suasana mendadak hening untuk beberapa saat dan Deana bisa mendengar isakan tangis lirih yang berusaha ditahan dari seberang sana. "Maafkan ibu sudah menjadi beban untukmu."
"Tidak, Bu. Justru selama ini Dea yang menjadi beban untuk Ibu. Kalau bukan karena menghidupi Dea dan Rangga, ibu tidak akan berhutang pada Bang Togar. Sekarang waktunya Dea membalas semua pengorbanan Ibu yang sudah membesarkan Dea, Bu."
"Dea!"
Sebuah teriakan dari ruang tamu membuat Deana tersentak kaget. Dengan gegas dia mematikan panggilan itu bahkan tanpa berpamitan. Langkahnya begitu tergesa dan ketika sudah sampai di ruang tamu, Deana terkejut melihat Raffi yang sedang menangis dalam gendongan Tiara. Hati Deana pun mendadak cemas karenanya.
"Apa kamu tidak bisa mengepel sampai bersih dan kering! Lihatlah, lantai itu masih sangat licin sampai-sampai membuat Raffi terjatuh!" seru Tiara yang membuat tubuh Deana meringsut seketika.
__ADS_1
Tubuh gadis itu terlihat gemetar ketakutan karena mendapat bentakan dan tatapan Tiara yang sangat tajam.
"Ma-maafkan saya, Nyonya."
Adit menuruni tangga dengan cepat saat mendengar teriakan ibunya yang sedang marah-marah, bahkan sangat menggelegar dan terdengar sampai lantai atas. Dia segera mengambil alih Raffi dan berusaha menenangkan bocah kecil itu. Sementara Deana semakin menunduk dalam. Hatinya merasa semakin takut hingga keringat dingin keluar dari tubuhnya. Ia pun tidak berani mengangkat kepala dan terus merem*s ujung baju yang dikenakan untuk sekadar mengurangi ketakutannya walaupun semua itu percuma.
"Kalau sampai terjadi cidera serius dengan cucuku maka kamu harus bertanggung jawab!" Tiara menunjuk wajah Deana dengan kesal. Adit menghela napas panjangnya. Dia sudah paham jika berkaitan dengan Raffi maka Tiara akan menjadi begitu possesif.
"Sudahlah, Ma. Raffi baik-baik saja. Dia hanya terkejut." Adit menatap putranya yang sudah mulai berhenti menangis. "De, kembalilah ke kamarmu. Sudah waktunya kamu istriahat."
"Ma-maafkan saya, Tuan." Deana masih menjawab takut, sedangkan Marni hanya melihat dari pintu dapur karena dia sama sekali tidak berani mendekat. Ia takut akan ikut terkena marahan majikannya yang mungkin saja menyalahkan dirinya karena sudah mengajak Deana berkerja di rumah tersebut.
Selepas kepergiaan Deana, Tiara menatap putranya dengan penuh selidik. Namun, Adit justru bersikap tidak acuh dan memilih pergi membawa Raffi ke kamarnya. Dia tidak ingin berdebat dengan ibunya untuk saat ini. Tiara pun akhirnya memilih kembali ke kamarnya dengan membawa amarah yang terasa membuncah di dada.
***
__ADS_1
"De, kamu baik-baik saja?" tanya Marni khawatir.
Bibir Deana tersenyum saat mendengar pertanyaan Marni apalagi saat melihat raut wajah wanita itu terlihat sangat cemas. Setidaknya Deana merasakan perhatian dari wanita tersebut.
"Dea tidak apa-apa, Lik. Semua memang salah Dea yang sudah ceroboh." Gadis itu sedikit menunduk. Namun, tubuh yang masih gemetar tidak bisa membohongi kalau gadis itu masih ketakutan saat ini.
"Tidurlah, De. Aku temani kamu di sini. Jangan terlalu dipikirkan karena Nyonya Tiara memang seperti itu. Akan sangat cemas jika menyangkut soal Den Raffi. Besok juga akan baik lagi." Marni mengusap bahu Deana dengan perlahan untuk menenangkan gadis itu.
"Iya, Lik. Bolehkah Dea berbicara sedikit serius?" tanya Deana ragu. Marni menatap gadis itu dengan sangat lekat. Melihat raut wajah Deana yang tampak ragu membuat Marni menjadi begitu curiga.
"Berbicara apa?" tanya Marni penuh selidik.
"Jadi, Dea butuh uang buat bayar hutang ibu kepada Bang Togar. Jangka waktunya sampai bulan depan. Kalau bisa Dea mau pinjam uang nanti bisa potong gaji Dea aja buat ngelunasin," ucap Deana penuh keraguan.
Marni pun mengerutkan kening karenanya. "Memangnya berapa hutang yang harus kamu bayar, De? Kalau cuma dua juta, aku ada. Kamu bisa memakainya dulu."
__ADS_1
"Terima kasih banyak, Lik. Tapi utang ibu itu sepuluh juta."
"Apa! Astaghfirullah." Marni mengusap dada dan terus beristighfar karena terkejut mendengar jumlah utang itu.