
Semenjak perbincangan kala itu, Adit mulai menjaga jarak dengan sang mama. Apalagi sekarang ini Tiara sedang dekat lagi dengan Sonia, membuat Adit merasa kesal. Adit bisa menebak kalau Sonia pasti akan memengaruhi mamanya agar semakin membenci Deana.
Untuk sementara ini, Adit memang sengaja memberi waktu untuknya dan sang mama agar bisa saling menenangkan diri. Saling meredam ego masing-masing. Walaupun merasa kesal pada sang mama yang menilai buruk Deana tanpa mengenal gadis itu lebih jauh, tetapi Adit pun tidak ingin jika ada pertengkaran di antara mereka.
Selain itu, Adit juga akan fokus untuk membantu ayah Deana keluar dari penjara, dan di sinilah dirinya sekarang. Adit datang berkunjung ke penjara untuk mengobrol dengan ayahnya Deana. Tentu saja tanpa sepengetahuan gadis tersebut. Jika Deana mengetahuinya, sudah pasti gadis itu akan menolak dan langsung meminta pulang.
Melihat Adit, seketika Bagyo mengerutkan kening dalam. Ini pertemuan pertama mereka dan Bagyo sama sekali tidak mengenal Adit. Awalnya Bagyo menolak karena merasa khawatir kalau Adit adalah orang jahat, tetapi ketika Adit menyebut nama Deana dan Tinah, akhirnya Bagyo pun setuju untuk mengobrol.
"Jadi, Mas ini adalah majikan Dea?" tanya Bagyo belum percaya setelah Adit memperkenalkan dirinya.
"Iya, Pak." Adit menjawab sopan sembari tersenyum simpul. "Pak, maaf. Bukannya saya mau ikut campur, tapi bolehkah saya tahu apa alasan Bapak menjadi seorang pencopet. Yang saya rasa, Bapak itu bukan orang jahat."
Bagyo menghirup napasnya dalam. Ia merasa bimbang haruskah bercerita kepada Adit atau tidak. Namun, melihat sorot mata Adit yang begitu tulus, Bagyo pun akhirnya menceritakan semuanya. Sama persis seperti apa yang ia ceritakan kepada Tinah.
Ia tidak menambahkan ataupun mengurangi. Bagyo bercerita dengan sejujur-jujurnya. Sungguh, lelaki itu merasa sangat menyesal karena pernah terjebak di lubang dosa. Namun, ia tidak bisa melakukan apa pun lagi selain berusaha memperbaiki semuanya.
__ADS_1
"Mas Adit ...." Bagyo menghentikan ucapannya dan terlihat ragu-ragu. Sementara Adit masih setia menunggu lelaki itu. "Bisakah saya minta tolong pada Mas Adit untuk menjaga Dea?"
"Memangnya Bapak mau ke mana?" tanya Adit bingung.
"Saya tidak mau ke mana-mana, Mas. Jujur, saya merasa sedih dan malu." Bagyo menghirup napas dalam. "Saya sedih karena Deana tidak mau menjenguk saya. Ya, saya tahu itu semua karena kesalahan saya yang sudah membuatnya kecewa. Jujur, saya sangat menyesal walaupun semuanya sudah menjadi bubur."
"Pak, saya yakin lambat laun Deana akan memaafkan Bapak. Untuk saat ini, dia hanya belum menyangka saja dan belum sepenuhnya percaya. Apalagi, kalian sudah lama sekali tidak bertemu. Saya janji, akan membantu hubungan kalian agar Deana mau memaafkan Bapak." Adit berbicara dengan yakin.
"Terima kasih banyak, Nak. Terima kasih atas kebaikannya, tapi saya ingin Deana memaafkan saya dari dalam hatinya secara tulus. Bukan karena paksaan," tolak Bagyo secara lembut.
Setelah puas mengobrol, Adit pun berpamitan untuk pulang. Apalagi sejak tadi Deana mengirim pesan padanya kalau Raffi sudah menanyakan kepulangan lelaki itu.
***
"Kamu dari mana, Mas?" tanya Deana saat Adit baru saja sampai di rumah. Ia lebih terlihat seperti seorang istri yang menanyakan kepulangan suaminya karena terlambat.
__ADS_1
"Aku habis menjenguk bapakmu," ujar Adit jujur. Hal itu pun sontak membuat Deana terdiam dalam waktu yang cukup lama.
*
*
*
Mohon maaf untuk semuanya. Othor akhir-akhir ini sedang sibuk di dunia nyata dan juga sedang masuk angin, alias meriang atau merindukan kasih sayang
Wkwkwk
Jadi, bakal slow update untuk beberapa waktu ke depan. Terima kasih untuk yang selalu support Othor selama ini.
Love you guys, jangan lupa selalu jaga kesehatan 😘
__ADS_1