DEANA

DEANA
Deana-19


__ADS_3

Baru saja selesai menata masakan di meja makan, terdengar suara bel berbunyi. Dengan gegas Deana pun berjalan menuju ke pintu utama, sedangkan Adit duduk di kursinya. Ketika membuka pintu, Deana tersentak saat melihat Sonia sedang berdiri sambil menggendong Raffi yang tertidur. Gadis itu akan mengambil alih Raffi, tetapi Sonia justru berjalan maju tanpa peduli pada gadis di depannya.


Sesampainya di ruang makan, Raffi langsung membuka mata ketika Sonia hendak  menurunkan bocah itu. Adit pun mengajak mereka untuk makan bersama, tetapi Sonia menolak. Ia bahkan menghina bahwa masakan itu tidak enak dan bukanlah seleranya. Tanpa peduli pada perasaan Deana yang berdiri di samping wanita itu. 


Tidak ingin sakit hati, Deana memilih untuk menulikan telinga. Menyibukkan diri dengan mengambilkan nasi dan sayur untuk Raffi. Yang membuat Sonia geram di sini adalah Raffi sangat antusias memakan nasi tersebut beserta sayurannya. Bocah itu terlihat begitu lahap seperti anak yang kelaparan. Padahal saat ia memasak dulu, Raffi susah sekali untuk makan. 


"Den Raffi tidak makan ayam goreng?" tanya Deana heran karena sejak tadi bocah itu terus mengambil tempe goreng. 


"Ini lebih enak, Mbak." Raffi mengambil satu potong tempe dan kembali memakannya tanpa nasi. 


"Itu tempe garam bawang," ucap Deana. Raffi mengerutkan keningnya dalam. 


"Di mana garam dan bawangnya? Kenapa tidak kelihatan?" tanya Raffi polos.


Deana terkekeh lalu menjelaskan prosesnya. Lalu mereka kembali makan, sedangkan Sonia sama sekali tidak mau mengambil nasi. Hanya menatap mereka secara bergantian. Apalagi saat melihat Deana, Sonia seolah merasa risih kepada wanita tersebut. 


***


"Kamu belum mau pulang? Aku sudah ingin beristirahat." Adit setengah mengusir Sonia karena wanita itu belum juga berpamitan sejak tadi. Padahal Raffi sudah masuk kamar bersama Deana. 

__ADS_1


"Kamu tidak merindukanku, Dit?" Sonia mendekati Adit dan hendak menyentuh lelaki itu, tetapi Adit langsung menyingkir. 


"Kamu mau apa! Ingat, kita sudah bercerai. Kamu bukan lagi istriku dan kita tidak boleh bersentuhan lagi!" gertak Adit geram. 


"Dit, apa kamu tidak ingin kembali denganku. Kalau kita kembali, anggap saja bukan demi hubungan kita, tapi demi Raffi," rayu Sonia. 


Ia duduk di kursi dan menyingkap roknya sampai hampir terbuka semua pangkal paha wanita itu. Adit yang merasa geram pun langsung memanggil security dan meminta untuk memaksa Sonia keluar. Jika wanita itu tetap bersikukuh di dalam maka Adit menyuruh untuk menyeretnya tanpa ampun. 


Sonia benar-benar marah kepada mantan suaminya. Ia berjanji akan membalas semua ini. 


***


Ketika berada di dalam mobil milik Tiara, suasana terasa canggung bagi Deana. Ia merasa tidak enak hati dan tidak tahu harus melakukan apa, sedangkan Tiara tampak sibuk bermain dengan Raffi. 


"Eyang, tunggu di sini." Raffi berpamitan masuk. Setelah memastikan Raffi aman di dalam bersama guru. Tiara pun mengajak Deana untuk duduk di sebuah taman yang tidak jauh untuk membicarakan sesuatu hal. 


Deana pun hanya bisa mengangguk dan menuruti perintah wanita paruh baya itu. Jika menolak, sudah pasti ia akan mendapat omelan atau bisa saja dipecat dari pekerjaannya. 


"Ada apa, Nyonya?" tanya Deana sopan. Ia terus saja menunduk tanpa berani mengangkat kepala sama sekali. 

__ADS_1


"Katakan padaku, apa kamu tidak ada niatan untuk mendekati putraku?" tukasnya. Melayangkan tatapan tajam ke arah Deana yang masih menunduk sejak tadi. 


"Tidak, Nyonya. Saya memang berniat untuk kerja dan tidak ada maksud lainnya. Saya berani bersumpah." Deana menunjukkan dua jarinya tanda bahwa ucapannya memang sungguh-sungguh. 


"Kalau begitu jika sekarang ini aku meminta kamu untuk berhenti bekerja di rumah Adit maka kamu tidak akan keberatan dong?" Tiara tersenyum sinis. Berbeda dengan Deana yang terlihat bimbang. 


"Untuk waktu sekarang ini saya belum bisa, Nyonya. Saya akan berhenti jika hutang saya kepada Mas Adit sudah lunas," sahut Deana gugup. 


Ia tidak bisa berbohong apalagi menutupi semuanya. 


"Hutang? Kamu berhutang kepada Adit?" tanya Tiara menuntut jawaban. Deana pun mengangguk cepat. "Hutang apa!" 


Dengan suara yang terdengar gemetar, Deana pun menceritakan semuanya. Tentang Adit yang menolongnya juga membantu membayar lunas hutang ibunya. Bahkan, perihal sertifikat rumah milik ibunya pun tak luput diceritakan oleh Deana kepada Tiara. 


Namun, Deana dibuat tersentak oleh Tiara yang memberikan segepok uang seratus ribuan. Tepat di tangan gadis tersebut. 


"Nyo-Nyonya. Ini apa?" tanya Deana gugup.


"Ini uang sebelas juta, kamu berikan kepada Adit untuk membayar hutangmu. Lalu pergilah dari putraku sejauh mungkin. Aku tidak mau jika putraku jatuh cinta pada orang rendahan sepertimu. Adit harus mendapat pengganti yang selevel dengannya," kata Tiara. 

__ADS_1


Lidah Deana mendadak kelu karena tidak bisa berkata-kata lagi. 


__ADS_2