DEANA

DEANA
Deana-31


__ADS_3

Tidak ada hal yang membuat Deana kecewa kepada Adit selain lelaki itu yang menemui Bagyo tanpa meminta izin padanya. Deana sungguh merasa kecewa dan langsung meninggalkan Adit begitu saja. Bahkan, Deana sampai melupakan satu hal kalau Adit adalah majikannya. 


"De, dengarkan aku dulu." Adit mencekal tangan Deana. Meminta wanita itu agar tetap berdiri di tempatnya. 


Deana pun menyingkirkan tangan Adit dari lengannya. "Maafkan saya, Mas. Saya harus pulang karena Den Raffi juga sudah tidur." 


"Tidak! Aku tidak mengizinkanmu pulang sekarang. Masih ada hal yang akan aku bicarakan denganmu!" Adit mulai meninggikan nada bicaranya hingga membuat Deana pun langsung menghela napas panjang. 


Tidak ada yang bisa dilakukan oleh wanita itu selain menurut dengan sang majikan. Ia pun langsung duduk di karpet, sedangkan Adit duduk di sofa. 


"De, kenapa kamu tidak mau memaafkan bapakmu? Beliau ingin sekali kamu menemuinya," ujar Adit. 


Hal itu justru membuat Deana berdecak kesal. "Itu bukan urusan saya, Mas Adit. Lagi pula, seharusnya Mas Adit tidak menemui bapak saya tanpa meminta izin." 


"Memangnya kenapa? Aku bebas melakukan apa pun. Aku juga merasa penasaran kenapa kamu tidak menemui Bapakmu. De, aku tahu bapakmu salah, tapi seharusnya kamu masih memberinya satu kesempatan." Adit mulai berbicara panjang lebar dan Deana hanya diam. Sama sekali tidak menjawab. 

__ADS_1


Hal itu pun sontak membuat Adit bingung sendiri. Sungguh, lelaki itu ingin hubungan Deana dengan ayahnya membaik. Bukan tanpa alasan, sebenci apa pun Deana terhadap ayahnya, suatu saat pasti Deana akan membutuhkan lelaki itu. 


"De, aku tahu kalau kamu ini sedang merasa sangat kecewa dengan bapakmu. Tapi bagiku tidak ada salahnya kalau kamu menjenguknya di penjara dan mendengarkan apa pun yang diceritakan oleh beliau. De, bapakmu itu adalah orang yang sangat tulus, ia hanya terdesak oleh keadaan." Adit masih berusaha merayu. 


"Itu bagi Mas Adit, bukan bagi saya." Deana benar-benar sedang keras kepala. 


"De, aku tahu. Yang terpenting aku sudah bilang padamu. Aku sudah menawarkan pada Pak Bagyo untuk membantu mendapatkan kata maaf darimu, tapi Pak Bagyo justru menolak. Beliau sama sekali tidak mau. Yang beliau mau adalah kamu memaafkan dengan tulus. Dari dasar hati kamu sendiri." Adit pun berbicara dengan nada biasa walaupun sebenarnya sedang merasa gemas. 


Namun, di sisi lain Adit berusaha mengerti bagaimana posisi Deana saat ini. Ia tidak menyalahkan betapa kecewanya Deana sekarang ini. 


Deana benar-benar tidak bisa berbicara apa pun. Banyak sekali pikiran yang berkecamuk hingga membuatnya seperti orang bingung. Tidak mau semakin pusing, Deana pun akhirnya berpamitan pulang. Ia harus menenangkan diri dan memikirkan semua perkataan Adit. 


Sementara Adit tidak lagi melarang Deana ketika berpamitan. Sudah waktunya gadis itu memikirkan semuanya. 


***

__ADS_1


"Kamu baru pulang, De?" tanya Tinah saat melihat Deana masuk rumah. 


Deana mengangguk cepat lalu mendekati sang ibu yang sedang sibuk memasukkan sajadah ke dalam tas.


"Mau dibawa ke mana, Bu?" tanya Deana penasaran. 


"Ke tempat Bapak, waktu itu Bapak sempat pesan kalau Ibu datang menjenguk lagi, suruh bawa sajadah dan sarung," sahut Tinah. Tanpa peduli pada Deana yang termangu saat itu juga. 


"I-Ibu mau menjenguk Bapak?" tanya Deana tidak sabar. Tinah hanya mengangguk cepat sebagai jawaban. "Kenapa?" 


"Kenapa?" Tinah justru balik bertanya sambil mengerutkan keningnya dalam. "Maksudnya kenapa?" 


"Ya, kenapa Ibu masih mau menemui lelaki itu? Ingat, Bu. Dia sudah buat kita kecewa." 


"Astaghfirullah, De. Nyebut. Istighfar. Tidak boleh berbicara itu. Dia itu bapakmu." 

__ADS_1


__ADS_2